Menyusun, Menata, Memotret

Saya sering membentuk dan menata benda-benda yang ada disekitar kita, trus memotretnya. Memang sih, seperti gak ada kerjaan… Tapi ada kepuasan tersendiri saat melihat komposisi dan kombinasi yang tepat menghasilkan gambar yang ‘wah’ atau tidak terduga.

Memang betul, kata ‘wah’ yang saya maksud akan berbeda pada setiap orang. Tapi minimal, hasil foto yang ‘wah’ menurut saya berarti sesuatu yang ‘nyeni’. Lagi-lagi ini pun absurd, karena belum tentu menurut sudut pandang orang lain. Well, silahkan berbeda pendapat, berbeda opini, asalkan positif. Inilah photo-photo yang saya maksud….

image

Mangkuk dan Sendok
Disekitar tempat saya bekerja, ada tukang bubur ayam. Mangkuk, sendok, dan motif meja-nya yang seperti papan catur menginspirasi saya untuk memotretnya. Sambil duduk-duduk mengobrol, saya mulai menyusun sendok dan mangkoknya. Hasilnya…. Voillaa..!!
image

Garpu Pelastik
Kita sering menjumpai garpu pelastik kecil, yang biasa digunakan untuk puding atau kue. Naahh dibenak saya, garpu-garpu itu yang tersimpan dalam gelas pelastik itu tampak menarik loh…. 🙂

image

Menyusun cangkir-cangkir kecil sedemikian rupa, dan membentuk piramid atau bentuk lain, adalah iseng yang ‘sangat iseng’. Berdalih karena ini adalah seni, maka saya pikir ini sah!

image

Ini adalah seperangkat alat yang biasa dipakai oleh penjual es pisang ijo. Semacam tupperware plastik sebagai tempat menyimpan vla dan 4 sendok sayur yang-entahlah-lagi-lagi-menurut menurut saya ini seni. Setujuuu??

Pernah juga, menemukan gelang pelastik, yang bentuknya ulir kayak kabel telepon. Saya pasangkan pada segelas air cup kemasan dengan posisi terbalik. Tambahkan sebuah tutup botol warna merah, diatasnya. Hasilnya, cukup membuat pangling juga….

image

Cricket pun, menurut saya bisa menjadi objek yang menarik. Warna-warna Cricket yang cerah-elektrik, saling bertabrakan, mencolok mata. Tapi, kalo disimpan dalam gelas kecil seperti ini, bagus juga….

image

Demikian sedikit pengalaman saya, yang iseng merancang bangun benda-benda disekitar, hanya untuk kepuasan memotret semata. Yihaa…!!

Kedai Ling-Ling : Nama China, Rasa Jepang!

Bagi sebagian warga Kota Bandung atau orang luar kota yang sering kuliner di Bandung mungkin sudah tidak asing lagi dengan tempat kuliner Kedai Ling-ling. Sebuah kedai yang menyajikan berbagai makanan khas Jepang seperti ramen atau takoyaki. Pada awalnya, Kedai Lingling benar-benar kedai di halaman sebuah distro di Jl. Sultan Agung. Tapi sekarang, Kedai Lingling hadir dengan suasana yang lebih nyaman, seperti resto pada umumnya.

image

Restoran baru KLL (Kedai LingLing) ada di Jl. Sukajadi. Kalo dari arah PvJ, naik sedikit ke arah utara, tepatnya di depan Taman Sukajadi, eks Restoran Ikan Bakar Pak Chi Met. Walaupun berbentuk resto, tapi tetapi tetap tidak meninggalkan ciri khas aslinya, yaitu ada Ramen Bar di halaman resto, yang berwarna merah terang, lengkap dengan lampion-lampionnya.

image

Berikut adalah menu yang pernah saya coba  di Kedai Ling-ling…
image

Takoyaki
Saya memilih takoyaki sebagai hidangan pembuka. Camilan khas jepang berbentuk bulat sebesar bola golf ini disajikan hangat dengan saus khusus dengan taburan daging kepiting. Rasanya gurih, lembut seperti bakwan setengah matang. Isiannya kita bisa pilih octopus, beef, atau keju. Takoyaki ini dibandrol 15ribu/porsi, isi 5 buah.

image

Crab Okonomiyaki
Makanan ini lebih mirip martabak ala jepang. Adonannya hampir sama dengan adonan Takoyaki, hanya saja bentuknya bundar pipih seperti martabak. Bagian atasnya diberi saus dan mayonaise dan ditaburi daging kepiting. Crab Okonomiyaki ini bisa dinikmati buat berdua, dengan bandrol 15ribu/porsi.

image

Ramen Spesial KLL
Ramen, merupakan menu andalan di Kedai LingLing. Masakan dari Cina yang dibuat ala Jepang-merupakan hidangan mie rebus, yang diberi kuah kaldu khusus, dicampur dengan sayuran khas jepang dan daging berbumbu. Ramen Spesial KLL memiliki cita rasa gurih dan segar. Daging berlumur bumbu yang disajikan diatasnya, membuat aroma dan rasa ramen ini menjadi pedas. Walaupun tingkat kepedasannya ‘sedang’, tetapi unttuk yang tidak suka jangan memilih ramen ini. Masih ada ramen lain yang tidak pedas, yang tidak kalah lezatnya.

image

Katsu Ramen
Nah, buat penggemar ramen yang tidak suka pedas, bisa mencoba menu ini : Katsu Ramen. Disajikan dengan ayam fillet yang digoreng dan sayur-sayuran khas jepang, katsu ramen tetap lezzat dan guriiihh.

image

Mango Dessert
Ini adalah hidangan penutupnya. Semacam jus mangga yang agak beku, disajikan dalam sebuah cup sedang, yang diatasnya diberi tambahan jelly beraneka bentuk berwarna warni. Rasanya manis segeerr, berpadu dgn asem mangga yang lembut dingiiiin, enyyyaakkk banget…. Juara, pokoknya! Banyak juga yang membeli untuk take away, sebagai oleh2.

Nah, itu sedikit liputan saya tentang kedai LingLing. Kalo penasaran, boleh dicoba looohh. Jangan lupa, ajak saya hehehe…

Kupu-kupu, Kemana Engkau Terbang…

Kupu-kupu merupakan bentuk akhir dari proses metamorfosa. Terbang kesana-kemari, seolah menari-nari dalam iringan hembus angin. Warna kupu-kupu sangat beragam, begitupun dengan motifnya yang indah. Tentu saja, tergantung jenis dan spesiesnya. Tapi rata-rata, sayap kupu-kupu memiliki warna dan motif yang memukau.

Sebagai orang yang bekerja di luar ruangan, saya lebih banyak kesempatan menemukan kupu-kupu. Saya merasa beruntung bisa membidik kupu-kupu, walau hanya dengan kamera ponsel. Saya membuat jurnal sederhana tentang pengalaman memotret kupu-kupu disekitar tempat saya bekerja-jalan Ganesha!

image

Kupu-kupu cantik ini hinggap di cooler box yang sewarna dengan sayapnya. Entah mungkin maksudnya penyamaran atau apa, tapi saya bisa dengan mudah membidik si cantik ‘rasa jeruk’ ini.

image

Kupu-kupu macam apa yang hinggap di kanebo, dan hinggap disana dalam waktu yang agak lama?? Mungkin kupu-kupu kecapean, atau kupu-kupu yang tidur tidak pada tempatnya. Hahaha….

image

Kupu-kupu kecil ini hinggap di semak. Saya agak mengendap-endap untuk memotretnya. Bergerak sedikit saja, kupu-kupu ini langsung kabuuurrr…. Untungnya detail dan motif sayapnya masih tertangkap dengan baik dan jelas.

image

Hinggap dibagian atas ranting, membuat saya sangat kesulitan membidik kupu-kupu ini. Saya naik ke atas kursi sambil jinjit dan menahan nafas. Untungnya tidak sampe gemetar, jadi hasilnya masih tetap fokus. Dan menurut saya, hasil fotonya cukup memukau!

image

Diantara rumput dan dedaunan kering, ada juga kupu-kupu hinggap, atau mungkin tersesat. Sebenarnya kupu-kupu ini cantik, tapi sayang sayapnya sudah terkoyak…

image

Pada saat terbang, kupu-kupu lincah ini memiliki warna biru-keunguan dibagian tengah sayapnya. Tetapi pada saat hinggap dan sayapnya menutup, yang tampak hanya warna coklat, dengan titik putih. Saat dibidik, kupu-kupu ini tampak mematung dengan anggun….

image

Tampaknya kupu-kupu jenis ini yang paling banyak hilir mudik di sekitar jalan ganesha. Kupu-kupu ini tidak takut mendekat, bahkan hinggap di cooler box, memamerkan sayapnya dengan congkak.

image

Demikian jurnal sederhana ini, semoga menjadi semangat tersendiri untuk menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Lakukan cara termudah dan sederhana untuk kelangsungan eksistensi kupu-kupu. 🙂

Kejar Asli Cabe Ijo

Mengikuti Kompetisi Menulis Blog : Kejar Asli Cabe Ijo yang diselenggarakan Indomie, sungguh luar biasa. Saya merasa tertantang untuk ikut meramaikan kompetisi. Tantangan pertama adalah membuat sebuah blog karena saya tidak memiliki akun blog sebelumnya. Tantangan kedua, bagaimana saya bisa menemukan kedai Indomie seperti yang tecantum pada petunjuk kompetisi. Tantangan ketiga adalah bisakah saya ‘melukis’ menu Indomie Goreng Cabe Ijo hanya menggunakan kamera ponsel??

Hari Minggu siang, saya mulai menyusuri jalan Setiabudi, salah satu spot kedai Indomie untuk wilayah Bandung. Mendekati perempatan Jl. Gegerkalong, saya pun mulai mencari-cari, hingga sampai Jl. Panorama, saya tidak menemukannya. Hingga akhirnya saya berbalik arah, dan menyusuri lagi dengan saksama.

Akhirnya….voilaaa… !! Ketemu juga tempat yang dimaksud. Tempatnya persis di belokan Gegerkalong. Pantas saja tadi tidak ketemu, karena spanduk banner cabe ijo-nya sedang tergulung.

image

ENJOY adalah nama kedai Indomie ini. Tempatnya lumayan bersih. Ini poin bagus, karena menurut hemat saya salah satu syarat kedai makanan adalah tempatnya harus bersih. Ada beberapa meja di bagian dalam kedai, tidak terlalu ramai. Diteras pun terdapat tiga meja dan sepertinya asyik kalo menikmati Indomie diteras sambil menikmati ramainya suasana jalan Setiabudi. Akhirnya saya pun memesan Mie Goreng Cabe Ijo. Sambil menunggu mie-nya matang, sesi photo-photo pun mulai. Karena belum punya kamera PRO, tak jadi soal, kamera ponsel pun beraksi. Yihaaa….!!

image

Saya berfoto di depan X-Banner, yang isinya syarat  dan ketentuan kompetisi. Trus, karena penasaran dengan spanduk yang tergulung, saya pun sengaja membuka gulungannya dan berfoto juga disana. Hmmm… pantas saja kedai ini tidak ketemu tadi… lha ‘petunjuk’ tergulung.

image

Tak lama kemudian, pesanan saya pun datang. Seporsi Indomie Goreng Cabe Ijo plus bakso-sosis. Agar tampilannya lebih menggugah selera dan tampak cantik dibidik kamera, saya menambahkan sedikit sambal cabe ijo-yang saya bawa sendiri-agar pedasnya lebih nendang. Karena memang sedang hobby banget fotografi, saya pun mulai menata posisi mie goreng dan mulai memotretnya. Jeprat-jepret, jeprat-jepret hingga bapak tua-tukang servis jam tangan-disebelah kedai sesekali melirik dan tersenyum.

image

Hmmm…luar biasa! Sudah tidak sabar untuk menyantapnya. Saat mie diaduk agar bumbu tercampur merata, aromanya lezzzaatt. Warna hijaunya, menggoda! Pas dicoba, wuuiihhh enak banget, berpadu dengan sosis dan bakso yang kenyal. Rasa gurih bercampur pedas yang lumer dimulut, benar-benar bikin nagiiihh!! Tanpa menunggu lama, kelezatan Indomie Goreng Cabe Ijo sudah berpindah ke perut yang sedang lapar. Segelas es jeruk, merupakan pilihan yang pas, menyempurnakan menu kali ini.

image

Selesai makan, saya masih duduk menikmati suasana. Inspirasi pun mulai bermunculan. Ide-ide untuk mengisi dan mengembangkan blog ini tiba2 meluncur begitu saja. Begitu juga dengan kalimat-kalimat yang akan dirangkai untuk mengikuti kompetisi ini, tiba-tiba datang, mengalir saja….. Muncul pula ide untuk sedikit mempercantik tampilan foto-fotonya. Alhamdulillah, seporsi Indomie Goreng Cabe Ijo telah menggiring saya menjadi lebih kreatif, inspiratif, dan memunculkan ide-ide segar.

image

Semoga, hal seperti ini terjadi juga pada peserta lain di seluruh Indonesia, dimana kehadiran Indomie bisa menginspirasi, bisa mengedukasi dan menggiring jadi lebih kreatif, seperti saya!

Melatih Mata Fotografi

Pernahkah kamu melihat sebuah benda biasa saja, tapi dimatamu benda itu sangat menarik. Dimana letak menariknya?? Pernahkah kamu, melihat sebuah benda yang biasa saja, tapi bila dipandang dari sudut yang berbeda, benda tersebut tampak menakjubkan. Naahh, kenapa tidak jika kamu mengabadikan ‘penemuan’ beda sudut pandang tersebut menjadi seni fotografi. Yuk, kita asah ‘mata fotografi’ kita, supaya lebih peka dengan bentuk2 abstrak tak sengaja, yang kadang menakjubkan 🙂

image

Seperti ini contohnya. Menurut saya, hasil fotonya menjadi multitafsir. Orang yang melihat bisa menafsirkan apapun, sesuai imajinasi dikepala masing-masing. Ini adalah gelas pelastik (cup)  yang biasa dipakai untuk kopi seduh. Umumnya orang menyebut aqua gelas. Setelah diisi dengan air panas, dan dilihat secara vertikal tegak lurus, maka bentuk yang dihasilkannya sungguh diluar dugaan. Cantiikk…. Kerreenn kan??

image

Begitupun mana kala saya melihat bayangan pada gelas beling, bayangannya membentuk sesuatu yang baru, unik dan saya juga tidak menyangka, bahwa penampakannya kadang ajaib.

image

Naaah, selain pada gelas beling dan bayangannya, hal unik yang tak sengaja saya dapatkan pada sedotan. Iya, sedotan. Tetiba saya merasa bahwa sedotan itu juga bisa unik. Dari mana uniknya?? Ini dia….

image

Bahkan, jika dilihat secara saksama, rokok yang biasa disimpan dlm gelas pun menjadi tampak ‘nyeni’ bila kita bisa menangkap objeknya dengan benar. Penglihatan ini pun saya dapatkan secara tak sengaja, ketika melirik dari sudut yang berbeda….
image

Mungkin memang betul bahwa sudut pandang ‘seni’ itu berbeda-beda setiap orangnya. Kita juga tidak bisa memaksakan untuk menyamakan persepsi bahwa yang menurut kita bagus, maka orang lain pun akan berkata sama. Minimal, kita mencoba saja dulu. Melatih ‘mata fotografi’ sehingga nantinya akan terbiasa. Dan disetiap satu objek foto yang bagus, terdapat sepuluh bidikan yang biasa saja, blur atau bahkan gagal. Jadi, teruslah berlatih. Selamat mencoba… 🙂

Bertandang ke Roemah Nenek

Lama tidak berkunjung, akhirnya kesampean juga untuk tandang ke Roemah Nenek. Bukan rumah nenek saya, atau nenek teman saya…. Tapi ini sebuah Resto atau Cafe di Kawasan Jl. Taman Cibeunying Bandung. Letaknya tidak jauh dari Gedung Sate, atau dari Pusdai, Bandung.

image

Berada disebuah kawasan yang dipenuhi pohon-pohon rindang, Roemah Nenek masih tampak asri. Memasuki sebuah Cafe, yang sudah lama tidak dikunjungi, saya memandang sekeliling halaman. Yah Roemah Nenek cenderung lebih sepi dari sebelumnya, banyak meja-meja yang masih kosong baik di dalam, maupun diteras yang dihiasi lampu2 temaram bernuansa vintage. Hmmmm, akhirnya saya memilih sebuah meja di teras agak pojok. Maksudnya agar bisa memandang ke semua bagian luar Cafe sambil menghirup udara segar.

image

Setelah duduk nyaman, barulah saya melihat-lihat buku menu. Yah, buku menu sudah berubah…kalo dulu bukunya agak besar dan bergambar menu, kalo sekarang lebih simpel, tanpa ada contoh foto menu. Tak masalah, yang penting, rasanya jangan ikut berubah. Itulah harapan saya. Inilah menu yang saya pesan semalam….

image

Sebagai pembuka, saya memesan Kulit Kentang ala Roemah Nenek. Kudapan yang satu ini dulunya merupakan menu andalan di cafe ini dan tidak terdapat ditempat lain (sekarang ada juga di Blackpepper dsb). Entah lidah saya yang salah, atau memang rasanya sudah berubah ya… Yang jelas, sepertinya agak kurang nendang. Enak, tapi tidak seeenak duluuu….hehehe.

image

Untuk menu utama, saya memesan Nasi Merah Bakar spesial. Teman saya yang lainnya ada yang memesan Nasi Bakar Spesial juga, tapi tdk nasi merah. Ada juga yang pesan Sop Buntut. Seperti halnya hidangan yang pembuka, hidangan utama ini pun rasanya biasa saja. Sop buntut misalnya, selain daging buntutnya sedikit, rasa kuahnya juga biasa.

Sedangkan untuk Nasi Merah Bakar tampilannya cukup cantik. Nasi merah berbentuk kerucut dibungkus dengan daun pisang. Disajikan dengan pepes ayam, lalap dan sambal. Lumayan lah, walaupun tidak enak2 amat. Yang namanya nasi merah kan hambar, gak pulen, jadi memang harus ada pendobrak yang rasanya kuat. Dihidangkan dgn pepes ayam sebenarnya kurang kerasa juga. Keberadaan sambalnya cukup menolong, membuat nasi merah bakar ini mendapat nilai ‘lumayan saja’

image

Sedangkan Nasi Bakar putih, disajikan dengan ayam goreng, ulukutek leunca, dan lalap sambal. Pada saat membuka pembungkus daunnya, aroma khas menguar dari nasi bakar. Sebutir pete ditemukan didalamnya, membuat aroma dan rasanya makin kuat. Hidangan ini lebih baik daripada dua hidangan lain, walaupun kalo dilihat dari ukuran porsi, tampaknya pelit. Ukuran ayam gorengnya, kecil banget.

image

Sebagai penutup, hidangan yang saya pesan adalah Banana Smoothies dan Yoghurt Snowy. Tidak ada yg istimewa dari hidangan penutup tersebut. Yah, sekarang saya tau, kenapa cafe atau resto ini tdk seramai dulu. Selain rasanya yang tidak terlalu cetar, tidak ada menu khas yang benar2 bisa diandalkan. Soal harga, relatif sebenarnya mah… Yah, rata2 lah. Tapi, kalo dengan harga yang relatif, bisa dpt yang maksimal…kenapa tidak? Mari kita lanjutkan mencoba yang lain.

Kios Alit

Kios Alit yang dimaksud adalah sebuah kios kecil atau gerobak dorong, yang biasanya mangkal di Jl. Ganesha, tepatnya di trotoar dpn No. 17 (Rumah F), dekat BNI’46. Kios Alit, berjualan minuman ringan, rokok, dan minuman hangat seperti kopi ataupun teh tarikk.

image

Kios Alit buka mulai pukul 7 pagi s.d pukul 17.30 sore, menjelang Maghrib. Kalo pagi, pelanggan2 yang biasa duduk-duduk sambil minum kopi disini adalah karyawan BNI. Ada yang sarapan, ada yang membaca koran, ada juga yang sekedar mengobrol hingga saatnya masuk kantor hingga pukul 8.

image

Walaupun berada di trotoar Jl. Ganesha, atau tepatnya di depan Gedung no 17 (Rumah F), Kios Alit cukup nyaman sebagai tempat mengobrol, menunggu atau sekedar janjian dengan teman.

Sebuah pohon Angsana yang umurnya tampak senior, menaungi Kios Alit. Cukup memberikan keteduhan dan kesegaran. Sebuah bangku taman yang terletak tepat dibawah pohon, bisa digunakan buat duduk2 nyaman sambil menikmati minuman dingin.

image

Sambil duduk2 santai, nikmati juga sepiring batagor, semangkuk bubur kacang atau seporsi es pisang ijo yang mengapit Kios Alit. Nikmati suasanannya. Santai ajaaa….