Bertandang ke Roemah Nenek

Lama tidak berkunjung, akhirnya kesampean juga untuk tandang ke Roemah Nenek. Bukan rumah nenek saya, atau nenek teman saya…. Tapi ini sebuah Resto atau Cafe di Kawasan Jl. Taman Cibeunying Bandung. Letaknya tidak jauh dari Gedung Sate, atau dari Pusdai, Bandung.

image

Berada disebuah kawasan yang dipenuhi pohon-pohon rindang, Roemah Nenek masih tampak asri. Memasuki sebuah Cafe, yang sudah lama tidak dikunjungi, saya memandang sekeliling halaman. Yah Roemah Nenek cenderung lebih sepi dari sebelumnya, banyak meja-meja yang masih kosong baik di dalam, maupun diteras yang dihiasi lampu2 temaram bernuansa vintage. Hmmmm, akhirnya saya memilih sebuah meja di teras agak pojok. Maksudnya agar bisa memandang ke semua bagian luar Cafe sambil menghirup udara segar.

image

Setelah duduk nyaman, barulah saya melihat-lihat buku menu. Yah, buku menu sudah berubah…kalo dulu bukunya agak besar dan bergambar menu, kalo sekarang lebih simpel, tanpa ada contoh foto menu. Tak masalah, yang penting, rasanya jangan ikut berubah. Itulah harapan saya. Inilah menu yang saya pesan semalam….

image

Sebagai pembuka, saya memesan Kulit Kentang ala Roemah Nenek. Kudapan yang satu ini dulunya merupakan menu andalan di cafe ini dan tidak terdapat ditempat lain (sekarang ada juga di Blackpepper dsb). Entah lidah saya yang salah, atau memang rasanya sudah berubah ya… Yang jelas, sepertinya agak kurang nendang. Enak, tapi tidak seeenak duluuu….hehehe.

image

Untuk menu utama, saya memesan Nasi Merah Bakar spesial. Teman saya yang lainnya ada yang memesan Nasi Bakar Spesial juga, tapi tdk nasi merah. Ada juga yang pesan Sop Buntut. Seperti halnya hidangan yang pembuka, hidangan utama ini pun rasanya biasa saja. Sop buntut misalnya, selain daging buntutnya sedikit, rasa kuahnya juga biasa.

Sedangkan untuk Nasi Merah Bakar tampilannya cukup cantik. Nasi merah berbentuk kerucut dibungkus dengan daun pisang. Disajikan dengan pepes ayam, lalap dan sambal. Lumayan lah, walaupun tidak enak2 amat. Yang namanya nasi merah kan hambar, gak pulen, jadi memang harus ada pendobrak yang rasanya kuat. Dihidangkan dgn pepes ayam sebenarnya kurang kerasa juga. Keberadaan sambalnya cukup menolong, membuat nasi merah bakar ini mendapat nilai ‘lumayan saja’

image

Sedangkan Nasi Bakar putih, disajikan dengan ayam goreng, ulukutek leunca, dan lalap sambal. Pada saat membuka pembungkus daunnya, aroma khas menguar dari nasi bakar. Sebutir pete ditemukan didalamnya, membuat aroma dan rasanya makin kuat. Hidangan ini lebih baik daripada dua hidangan lain, walaupun kalo dilihat dari ukuran porsi, tampaknya pelit. Ukuran ayam gorengnya, kecil banget.

image

Sebagai penutup, hidangan yang saya pesan adalah Banana Smoothies dan Yoghurt Snowy. Tidak ada yg istimewa dari hidangan penutup tersebut. Yah, sekarang saya tau, kenapa cafe atau resto ini tdk seramai dulu. Selain rasanya yang tidak terlalu cetar, tidak ada menu khas yang benar2 bisa diandalkan. Soal harga, relatif sebenarnya mah… Yah, rata2 lah. Tapi, kalo dengan harga yang relatif, bisa dpt yang maksimal…kenapa tidak? Mari kita lanjutkan mencoba yang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s