Kupu-kupu lagi!

Berhasil memotret kupu-kupu dari jarak dekat, adalah hal yang luar biasa menurut saya. Dalam beberapa percobaan memotret si mungil bersayap indah ini, tidaklah mudah. Ya, bisa jadi si kupu-kupu sudah terbang lagi – sebelum kita bisa mengambil posisi untuk motret. Atau mungkin yang lebih menyebalkan, kupu-kupu itu sudah langsung terbang dan berlari ketakutan ketika kita baru saja mau mendekat. Yang lebih parah, ada juga kupu-kupu yang sok pamer dengan sayap cantiknya seakan-akan dia sedang melakukan senam ritmis, meliuk-liuk, gak bisa diam! Nah, kalo begitu, pikiran extrem pun melintas, kupu-kupu harus ‘dikepraakk’ dulu, biar bisa dapat gambarnya. Dan sampe detik ini, ide liar itu hanya ada dalam genangan pikir. Kenyataanya, saya selalu membiarkan mereka menari dan membiarkan si kupu-kupu  melanjutkan senam ritmis walau di depan hidung sekalipun 🙂

Naaah, beberapa hari lalu, saya mendapati seekor kupu-kupu yang gagal bermetamorfosis. Jadi, sayapnya tidak membentang indah, tapi melingkar berbentuk sepiral. Dan tentu saja, akibat kegagalan ini, si kupu-kupu ini.tidak bisa terbang..

image

image

Masih kupu-kupu dari jenis yang sama bukan kupu-kupu langka juga sih, hinggap dengan cantiknya disebuah daun yang basah sesudah hujan. Entah memang kehujanan dan tidak bisa menyelamatkan diri, atau kupu-kupu ini pengen mencoba berenang sambil bergaya seperti perenang professional (gaya kupu-kupu).

image

image

Terakhir, kupu-kupu yang saya bidik adalah seekor kupu-kupu cantik berwarna coklat dengan sayap bermotif batik Mega Mendung. Emang, batik mega mendung gituh??  Beruntung, bisa memotret si kupu-kupu yang sedang ‘ngaso’ ini. Saya tidak yakin juga dia sedang ngaso. Mungkin memang sengaja, ingin memamerkan keindahan sayapnya, didepan saya.

image

image

Cantiiikk kaann?? Dan sedetik kemudian, kupu-kupu ini terbang lagi, dan entah kemana. Saya merasa beruntung. Hmmm, ternyata beruntung itu kadang tidak harus berupa materi ya…

🙂

Iklan

Gedung Warenhuis De Vries

image

Setiap kali saya melewati jalan Asia Afrika, selalu dibuat terpesona oleh bangunan-bangunan yang memiliki arsitektur bernilai seni tinggi. Coba deh perhatikan, dari mulai simpang lima, Hotel Preanger, Kilometer 0 (Nol), Savoy Homann, Gedung Merdeka, Kantor Pos, hingga  Gedung Warenhuis de Vries, selalu menarik perhatian. Yah, bangunan lain msh byk, tapi gak tau namanya, seperti samping kantor pos, bangunan yang ada jam-nya ituuuhh.

image

Dalam beberapa dasawarsa, bangunan bernilai historis ini tidak dimanfaatkan (lha, kok bisa ya??) sehingga terbengkalai.
Pada tahun 2009 bangunan ini direnovasi oleh sebuah bank swasta nasional yang peduli dengan cagar budaya. Bangunan ini direnovasi dengan pendekatan restorasi agar bangunan ini tetap tampak seperti di tahun 1955.

Warenhuis De Vries terletak di seberang Gedung Merdeka-tempat dilaksanakannya Konferensi Asia Afrika tahun 1955. De Vries juga berada di samping hotel bersejarah Savoy Homann yang berlokasi di KM-0 (nol) Kota Bandung.

image

Bangunan yang merupakan rumah dengan gaya arsitektur Indis yang dibangun pada abad ke 18 ini, dulunya berada di jalan Postwagon. Kemudian, pada tahun 1920 gedung tersebut dibangun kembali oleh Edward Cuypers Architech Hulswit dan menjadi “Werenhuis de Vries” atau “Supermarket de Vries”. Waah, hebat ya Bandung… Tahun 1920 sudah memiliki toserba yang-tentu saja-pada jaman itu khusus untuk kalangan Belanda dan petani2 priangan keturunan Belanda.

image

image