Melipir di Sabtu Pagi

image

Sabtu Pagi….
Ini adalah akhir pekan, tapi saya tetap bergegas pagi-pagi, seperti biasanya. Tidak ada rencana apapun yang terbingkai pagi ini. Tapi langit yang cerah begitu menggoda untuk melipir sebentar saja, sebelum ‘mangkal’ ditempat yang biasa ūüôā

Sepanjang laju sepeda motor, mood mulai terbangun. Gedong Sate, Taman Dago, Jalan Layang Pasupati, sepertinya menarik buat jadi ‘artikel fotografi’ edisi kali ini. Berbekal kamera henpon yang sudah low-batt, dan selalu mecolok ke power bank, semoga saya bisa menangkap objek dengan baik. Cuuuzz ah, bismillah….

Gedong Sate, Gasibu
Saya selalu tertarik dengan cagar budaya yang bernuansa vintage. Gedung Sate, adalah salah satunya. Sayangnya, sekarang ini sudah agak kesulitan jika kita ingin berfoto-atau memfoto gedung sate. Yep, PKL Tajiir-PKL yang jualan pake mobil-yang membuka lapaknya TEPAT di depan Gedong Sate (biasanya jualan Susu Murni, Busana, Sepatu dll), benar2 mengganggu pemandangan. Beruntuuung, sungguh beruntung… Pagi ini Gedong Sate sedang ada acara -entah acaranya apa-dan saya mendapati Gedung Sate bersiiiih dari PKL, bersiiih dari parkiran-dan saya sendiri bingung, dimana saya bisa parkir motor. Tampak satpol PP bersiaga di tepian jalan. Aaahh, betapa menyenangkan. Saya bisa sangat leluasa mengambil foto ‘tepat’ di depan Gedong Sate.¬† Yihaaa….
Setelah mendapat parkir agak jauh disebelah utara, saya mulai menikmati pemandangan sekitar Lapangan Gasibu. Sekelompok anak SMA PGII tampak sedang berolah raga adu lari, bersorak riuh rendah. Sementara seorang siswa diantaranya memegang stop watch dan berteriak ” duabelaaass”, dan saya melintasi gerombolan tersebut dengan tatapan ‘saya ikutan dooong’.

image

Kemudian saya berdiri tepat di bawah tiang bendera yang ada di lapangan Gasibu, tak ada apapun yang menghalangi pandangan ke arah Gedong Sate yang tetap anggun dan megah seperti tak lekang olah zaman. Hal sederhana tersebut (berdiri dibawah tiang bendera menatap Gedong Sate) ternyata membahagiakan. Apalagi kalo menatap sate segede gedong ya #Preeett!

image

Tampak pula segerombol orang  sedang melakukan sesi pemotretan pre-wedding di tangga Gasibu sebelah selatan, dengan background Gedong Sate. Kru-nya tampak sibuk, ada yang mengarahkan gaya, ada juga yang memegang-buat aku mirip nyiru atau nampan besar mengilap-dihadapkan pada sepasang calon pengantin berbaju putih-putih berwajah wajah kikuk.

image

Saya menyebrangi jalan yang mulai padat kendaraan, berdiri didepan pagar yang dihalangi orange cone dan mulai mencari angle yang pas dalam membuat mahakarya ‘artikel’ ini dan membiarkan satpam yang mengawasi dari jauh dengan pandangan curiga….

image

Taman Cikapayang  D  A G O
Selanjutnya, sepeda motor mengarah ke Taman Cikapayang. Ruang terbuka hijau yang didesain oleh Ridwan Kamil-sekarang menjadi Walikota Bandung-adalah salah satu RTH favorit di Bandung.

image

Taman dengan huruf-huruf besar berwarna warni D A G O, serasi menghias sekaligus identitas taman ini. Pada saat saya kesana sudah ada beberapa orang dari komunitas gowes yang sedang ngaso disana. Biasanya kalo sore, banyak  orang sekedar nongkrong, atau foto-foto di huruf D-A-G-O-nya. Biasanya ada juga komunitas skateboard yang berlatih-beraksi disini.

image

Jalan Layang Pasupati
Oke, selesai dari Taman Cikapayang, saya meluncur ke jalan layang Pasupati. Tak jelas, apa yang saya mau disini. Hanya sekedar ingin memandang ke arah selatan jembatan dan melongokan kepala kebawahnya untuk melihat kepadatan rumah-rumah penduduk yang tampak pabalatak dan tampak rapat nyaris tanpa celah. Wowow….

image

Dari kejauhan, tampak Hotel Novotel, Gedung BRI Alun-alun dan ‘Two Tower’ menara Masjid Raya Bandung. Sebenarnya, saya masih ingin melanjutkan ke Braga atau Jl. Asia-Afrika (yang kalo sabtu pagi, jalannya lowong dan enak buat motret bangunan vintage). Tapi sepertinya, waktu tidak memungkinkan dan saya harus segera bekerja. Petualangan membuat ‘artikel fotografi’ nya, dilanjutkan¬† esok, atau lain waktu kali yaaa….

***

Iklan

Jalan-jalan sore, menyusuri Kota Bandung

Sore ini, ingin jalan-jalan sekedar cari angin segar, bukan angin ribut atau angin topan. Sengaja, tutup jualan lebih awal, toh penjualan hari ini juga sepi, kurang memuaskan. Cuaca yang panas mentrang mentréng, memaksa otak menjadi buntu, hanya sekedar mengolah kata demi kata yang dirangkai menjadi konten blogs rutin pun, saya benar2 gak bisa. Mentok!

Alhasil, sore ini saya melaju sendiri ke arah Jl. Dipatiukur. Tidak jelas, kenapa saya kesana. Tapi, saya memang kangen dengan Monumen Perjuangan. Berharap dapat foto yang bagus, seperti sebelumnya tapi tak sengaja terhapus dari microSD walaupun langit agak berawan, tak sebiru yang diharapkan.

Memasuki pelataran MonJu, saya mulai mengitari, langkah-demi langkah, mengarahkan ponsel galaxy jadul-ku ke segala penjuru. Membatin dalam gumam pelan, ‘jangan sama dengan yang kemarin, jangan samaaa….’ Berharap mendapat angle yang berbeda, dari yang pernah saya bidik. Semakin masuk ke dalam, semakin membosankan. Setiap pojokan yang -sepertinya- enak buat motret, pasti¬† ada orang pacaran. Beuh…mana kotor….sampah dimana-mana.

Hingga akhirnya mata tertuju pada tiga gadis kecil, yang tampaknya terobsesi menjadi pengibar bendera. Seperti berlatih paskibra, salah satu gadis mungil itu memberi aba2 ‘satu dua tiga, satu dua tiga’. Sedangkan gadis yang tengah menengadahkan kedua lengan, seolah seolah sedang membawa bendera yang terlipat, siap dikibarkan. Saya memandangi mereka dengan geli teringat jaman sekolah, yang terkagum2 pada anak2 pramuka, pengibar bendera tiap senin. Saya membidikan galaxy, mulai mencari target. Tahu mau di potret, ketiga gadis bersendal jepit itu berlarian menghindar.

Terima kasih, Neng… Kalian sangat menginspirasi. Saya mulai mendapatkan objek foto. Yap, tiang bendera di depan Monju, dengan merah putih yang terkibar. Gadis2 kecil itu sedikit menjauh, saat saya terlihat berjongkok mengambil objek foto. Semoga tidak ada yang melihat, posisi saya yang seperti gajah depa. Dan, inilah hasil fotonya…

image

berkibarlah, merah putihku…

image

Shiluet diantara awan dan lampu taman

Yap, selesai. Saya melanjutkan perjalanan. Maksudnya, saya mau ke Gedong Sate, tapi apa daya, di Gasibu sedang ada acara, dan agak susah parkir. Saya melanjutkan ke Cilamaya-Cimandiri. Hmm, sepanjang jalan itu, Nasi bakar dan sop buah Mang Ewok masih menjadi primadona. Tapi, karena saya sudah makan sebelumnya, jadi tidak tertarik. Saya tertarik memotret puncak Gedung Sate, yang hanya terlihat sedikit…

image

Gedung Sate, dari balik pagar jl. Cimandiri :))

Jujur, agak susah motretnya. Saya meloncati selokan-samping trotoar-yang sejajaran dengan nasi bakar Cimandiri. Berdiri dipondasi miring, dan memegang pagar besi. Si tukang parkir udah memperhatikan dengan curiga. Sebodo amat. Well, Gedung Sate beres, kita lanjuuutt….

Mencoba mencoba mencari objek foto disekitar Jl. Citarum. Mengitari Masjid Istiqomah, tampak biasa saja. Yang ada,dan tampak menarik adalah pohon di sekelilingnya, meranggas tak berdaun, terutama yg didepan hotel Haris dan dekat SMAN 20.

image

Tidak mendapatkan objek diseputar jl. Citarum, saya melaju ke jalan yang cukup vintage, yaitu jalan Tjihapit. Menyusuri jalan ini, berharap menemukan ‘sesuatu’ yang berharga. Ternyata tidak. Pedagang loak nampak sedang beres2 dagangannya. Penjual Tape Mobil yang berjejer tampak masih sepiii. Meluncur ke arah pasar, juga sudah sepi. Surabi Tjihapit dan Kue Balok juga sudah tutup. Kupat Tahu Galunggung, Lotek, semua sudah tutup-atau mungkin belum buka-masih libur lebaran.

Saya melanjutkan ke arah GOR Saparua. Berharap menemukan club sepeda Free Style atau sekelompok anak skateboard sedang beraksi. Hmm, nampaknya gagal. GOR masih tampak sepi… Alih-alih dapat foto, yang ada lamunan ditarik ke jaman baheula, dimana saya berdesakan di Lapangan Saparua demi nonton konser Denada saat masih jadi rapper paling cantik se-indonesia (ya iyalaah, kalo pembandingnya dengan Iwa K)
ūüôā

Tapi, entah kenapa saya tertarik dengan Gedung Pos, jalan Banda, dekat Saparua ini yaaa

image

Gedung Pos dan Giro, Jl. Banda.

Karena sudah sore, saya langsung memutuskan untuk menuju Pusdai. Saya pikir, sesudah sholat ashar, ada yang bisa saya bidik disana. Minimal, interiornya yang indah itu. Sayapun segera meluncur….

image

Seperti biasa, saya mengitarinya, saya berkeliling Masjid, berharap dapat sesuatu. Aaahh, kebetulan, halaman masjid tampaknya sedang sepi. Saya bisa lebih leluasa mencari angle, lebih leluasa memotret.

image

Setelah mendapatkan beberapa objek photo, saya bermaksud menuju tempat berwudhu. Tapi bentar…. Bunga di samping halaman masjid ini tampak menariiikk…

image

Tanaman merambat pada besi taman yang sudah didesain khusus untuk bunga ini. Menjuntai ke berbagai arah… Bunga berwarna merah darah ini cantik sekali…

Setelah menunaikan sholat ashar, saya mulai ‘menunaikan’ tugas yang lain. Yap!! Memotret desain interior masjid paling kereeenn se Bandung. Karena, masjid sedang kosong, lagi-lagi saya sangat leluasa untuk bisa mengambil gambar dengan khusyu.

image

Keindahan interior, Pusdai. Dari tengah, memandang ke arah selatan.

image

Lampu dinding Pusdai

image

Keindahan interior Pusdai dari tengah, ke sebelah sudut yang lain

Hmm…, jalan-jalan sore-nya berhasil! Murah meriah, dan cukup menyenangkan. Yang pasti, bisa mencairkan mood yang membeku. Foto2 yang didapat pun berbeda dengan foto2 sebelumnya, meskipun tempatnya masih sama. Mari kita sudahi jalan-jalan sore ini, kita, pulaaang…

image

Museum Nike Ardilla, bersinarlah…!

image

Suatu sore, seorang sahabat mengajak saya untuk berkunjung ke Museum Nike Ardilla di kawasan Jl. Soekarno Hatta Bandung. Kebetulan, sahabat saya merupakan salah satu pengurus NAFC (Nike Ardilla Fans Club), dan sore itu ada jadwal meeting di Museum. Awalnya saya agak ragu, tetapi setelah diyakinkan oleh sahabat saya bahwa kedatangan saya-yang merupakan tamu tak diundang-tidak akan menganggu meetingnya-maka, saya pun ikut.

Saya sudah tidak bisa menulis banyak tentang Nike Ardilla. Sudah terlalu banyak website, artikel dan blogs yang mengupas si Bintang Kehidupan dari berbagai sisi, bisa di klik DISINI. Saya hanya berbagi pengalaman kunjungan ke museumnya saja.

Museum Nike Ardilla adalah sebuah rumah tinggal yang ditempati oleh ibunda Nike, Ny. Ningsirat (atau biasa dipanggil Mamih). Bila penasaran, bagaimana prakarsa dan inisiatif tentang Museum ini didirikan, bisa di klik DISINI

Museum Nike Ardilla, berada di lantai atas. Begitu masuk kedalam, tampak sebuah ruangan dengan ukuran yang tidak terlalu besar, berisi memorabilia sang mega bintang. Pandangan saya mulai menyapu setiap jengkal ruangan dan dinding museum. Tetiba muncul rasa gairah dan antusias yang tidak bisa didefinisikan.

Dinding museum pun mulai bercerita. Foto-foto Nike Ardilla sejak masih kecil dan remaja  dalam berbagai even tarik suara. Tabloid-tabloid yang memajang Nike menjadi covernya dibingkai dengan baik. Berbagai piagam penghargaan atas penjualan album-albumnya yang selalu best seller terpampang di dinding yang lain. Kostum-kostum panggung menempel di dinding dengan tempat khusus, disertai foto, atau cuplikan, kapan Nike menggunakan busana tersebut. Berbagai poster dan lukisan, dalam berbagai gaya dan ukuran sebagian diantaranya adalah sumbangan dari fans terpajang dengan rapi.

image

image

Disisi lain, berjejer rak-rak kaca, berisi aksesoris yang konon dipakai Nike Ardilla. Ada kalung, giwang, anting, kacamata dan sebagainya. Boleh jadi, semuanya tampak lawas, tapi 20 tahun lalu, aksesoris tersebut mungkin udah paling kece.

Ada juga rak kaca yang lain, didalamnya ada passport atas nama Nike Ratnadilla dan buku tabungan BNI atas nama Nike Ardilla. Ada juga pernak-pernik koleksi pribadi Nike Ardilla, bernuansa Marlyn Monroe dari mulai dasi, mug, t-shirt, dan masih banyak lagi.

Satu rak lain, berisi seluruh koleksi album Nike dalam berbagai versi, baik versi dalam negeri, maupun luar negeri. Sebagai contoh, cover album yang beredar di Indonesia, sedikit berbeda dengan yang beredar di negara tetangga, seperti Malaysia atau Singapura. Puluhan album kompilasi, album The Best of dan album karaoke, terpajang lengkap, banyak sekali versinya. Takjub, betapa banyak distributor kaset/CD yang mengedarkan album Nike beraneka ragam. Dalam rentang 17 tahun kepergiannya, album-album itu mencapai ratusan jenis dalam berbagai judul cover dan kompilasi yang berbeda.

Yang paling menarik buat saya sebenarnya adalah sebuah rak kaca berbentuk heksagonal. Rak setinggi kurang lebih 150cm itu berisi puluhan award yang diraih Nike Ardilla sepanjang 5 tahun karirnya dikancah musik hingga sesudah kepergiannya. Saya mengelilingi rak kaca tersebut. Sejenak terpana antara kagum dan bangga dengan banyaknya penghargaan BASF Award yang sangat fenomenal dan prestisius di era 90an. Trophy BASF Award, berbentuk limas, terbuat dari kaca, didalamnya terpajang sebuah kaset. Mengingat kembali BASF Award bisa diklik Disini Selain BASF Award, ada juga trophy HDX Award (berbentuk kaset Emas) beberapa trophy dari negara tetangga Malaysia dan Singapura atas penjualan albumnya yang mencapai ribuan copies. (Sedikit info tentang HDX Award coba klik Disini Agak lama saya di rak kaca hexagonal tersebut. Seperti mesin waktu yang menarik saya ke masa 20 tahun lalu, betapa hebatnya seorang Nike Ardilla. Gadis belia asal Bandung yang tutup usia 19 tahun, berhasil meraih penjualan yang fantastis di setiap albumnya. Wikipedia, mencatat banyak sekali prestasi dan rekor Nike Ardilla pada zaman itu, bisa di klik di Disini salah satunya adalah Album Bintang Kehidupan yang saat itu terjual 2 juta keping, dan usia Nike Ardilla saat itu adalah 14 tahun lebih 2 bulan.

image

Setengah tak percaya, saya mulai menghitung dan mencari tau kebenarannya. Nike lahir Desember 1975. Album Bintang Kehidupan, beredar di awal tahun 1990. Yap, betul. Berarti, saat itu Nike Ardilla berumur 14 tahunan dan sudah menghasilkan 2 album rekaman album pertamanya berjudul Seberkas Sinar dan terjual hingga jutaan copies.

Pastinya kita tidak bisa membandingan karir Nike Ardilla, dengan penyanyi jaman sekarang, yang meroket melalui ajang pencarian bakat. Penyanyi berjilbab berusia 16 tahun, Fatin- memiliki faktor X yang luar biasa. Padahal, 20 tahun silam Bintang Kehidupan sudah lebih dulu bersinar dan melesat di rentang usia 14 tahun. Cheesse!

Agak disayangkan memang, museum yang sudah berusia 15 tahun lalu ini, nampak kurang terawat. Tata letaknya pun kurang pas. Misalnya untuk melihat dengan detil foto2 Nike Ardilla semasa kecil, saya harus naik ke kursi, atau bangku kecil karena foto2 tersebut letaknya terlalu atas. Begitupun dengan lighting, saya tidak menjumpai ada tata cahaya khusus, yang membuat membuat museum lebih artistik.

Bahkan, untuk trophy2 yang sangat prestisius itu, malah tampak jadi pajangan usang. Tidak terlihat glamour pada Trophy HDX Award, yang berbentuk kaset emas. Sebagian trophy itu nampak memudar dan berbintik dimakan usia. Pun BASF Award, VMI Award dan trophy dari negara tetangga, yang mana trophy2 berbahan dasar kaca itu tidak tampak berkilau. Bahkan, tata letaknya nampak sembarang, bercampur aduk dengan CD dan kaset, tanpa lampu sorot apapun. Patut disayangkan….

image

Hal ini juga saya maklumi, mungkin karena keterbatasan tempat, berbenturan dengan biaya perawatan, biaya operasional, maka museum ini tampak ‘terabaikan’. Entah mungkin karena usia museum ini sudah belasan tahun, sehingga kondisinya tampak kurang greget.

Padahal, bila dikelola dengan baik-menurut saya-seharusnya museum ini bisa menjadi daya tarik wisata. Entah, bagaimana mekanismenya, tapi saya yakin, Nike Ardilla adalah legenda yang- bahkan masih bisa menghasilkan devisa, walaupun sudah 18 tahun kepergiannya. Museum Nike Ardilla masih bisa menjadi magnet, untuk menarik minat pengunjung, baik fans maupun orang awam yang sekedar ingin tahu saja. Kemasannya harus dibuat menarik, didukung dengan promosi yang baik juga, dan bekerja sama dengan berbagai pihak.

Obrolan Pagi Hari….

Tadi pagi, seorang bapak2 bertanya “Ini tukang bubur-nya kemana?? Saya hanya menjawab sekenanya aja “blm datang, Pak” Saya sedang asik dengan Path, jadi sedikit mengabaikan. “Biasa datang jam berapa?” Si Bapak melanjutkan bertanya. Saya pun menjelaskan bahwa Pak Raswan itu jualannya gak tentu. Kadang pagi, kadang agak siang. Bahkan kadang kesiangan sampe jam 10an. Padahal sarapan bubur itu enaknya pagi.

Sambil memesan kopi, obrolan pun berlanjut. Akhirnya saya ceritakan bahwa Tukang Bubur itu mungkin tidak bisa memanage waktu. Dikerjakan tidak tepat waktu, lamban dan agak lelet, jadi mungkin kesiangan. Cerita pun bergulir, saya ceritakan bahwa dulu waktu bersama istrinya usahanya sempat maju, dan pelanggan2 mahasiswa lebih dekat ke Ibu daripada ke si Bapaknya. “Lha, sekarang si Ibunya kemana?” Lanjut si Bapak. Saya pun menjelaslan bahwa mereka kan sudah bercerai, sudah lebih dari dua tahun lalu. “Ooohh, saya baru tahu” si Bapak manggut-manggut.

Obrolan pun berlanjut. Saya bercerita bahwa dulu, setelah berpisah dengan istrinya usahanya sempat kacau. Rasa lontong karinya dan bubur jadi tidak enak dan waktu jualannya juga gak pernah rutin, kadang pagi, kadang siang…. Tapi sekarang, udah mulai berkembang lagi. Apalagi sejak usahanya dipegang menantunya, udah mulai maju lagi.

Si Bapak mulai berceramah bahwa seharusnya ada mediasi, istri itu membawa berkah bla bla bla…. Saya mendengarkan, dan kenyataanya mediasi tidak berhasil.

Sampai akhirnya, tak lama kemudian Pak Raswan datang terseok-seok mendorong gerobaknya. “Naaah, itu dia…. Pak Raswan-nya datang…!” Menunjuk Pak Raswan dengan gembira. Bapak mau pesan bubur kaaan? “Oh, enggak! Maksud saya Pak Torik, Tukang Bubur Kacang….!”

Krik…krik…krikkkk!

Keindahan Situ Patengaan Ciwidey

image

Libur lebaran kali ini, saya berwisata ke Situ Patengaan, atau biasa disebut Situ Patenggang. Situ dalam bahasa Sunda artinya danau. Sedangkan patengaan artinya pemandangan. Danau dengan pemandangan yang sangat indah ini, terletak di Ciwidey, Kabupaten Bandung atau sekitar 50km kearah selatan Kota Bandung.

Saya berangkat pukul 8.30 pagi, dengan menggunakan sepeda motor. Cuaca sangat cerah, membuat perjalanan semakin menyenangkan. Lalu lintas diperjalanan cukup lancar alhamdulillah, gak ada macet2nya. Saya memilih rute jalan Kopo (melewati Lanud Sulaeman), trus menuju Soreang. Selebihnya, tinggal melihat petunjuk jalan ke arah Ciwidey.

image

Memasuki wilayah Soreang-Ciwidey, pemandangan sudah mulai bagus. Bukit dan gunung serasa dekat di depan mata. Sepanjang jalan¬† Ciwidey, kita akan melewati banyak sekali wisata kebun stroberi ‘petik sendiri’, rumah makan khas¬† Sunda dan penginapan. Tapi, rupanya itu belum¬† seberapa. Begitu memasuki gapura Kawasan Patuha, maka disini¬† kita disambut dengan suasana¬† sejuk ‘nyeeesss’. Di beberapa tempat, kita melewati jalan agak gelap karena hutan begitu rapat, sehingga menutup sinar matahari.
Jalan yang dilalui menuju lokasi cukup bagus, medannya berkelok-kelok menanjak-menurun, melewati lereng-lereng perkebunan teh yang indah menawan. Bukit-bukit kecil, dengan ornamen batu alam, sangat cantik, bertebaran selama perjalanan menuju Situ Patengaan ini. Saya pun menghentikan laju sepeda motor untuk turun dibeberapa tempat, karena tidak tahan ingin memotret kecantikan kebun teh yang menggoda disepanjang jalan kenangan.

Sebelum tiba di Situ Patengaan, kita, melewati beberapa objek wisata yang ada di sekitar Ciwidey, dantaranya Bumi Perkemahan Ranca Upas, Kawah Putih, Pemandian Air Panas Cimanggu dan Ciwalini. Akhirnya sampailah kita di gerbang pembelian tiket ke Situ Patengaan. Harga tiketnya 6ribu, tapi karena bawa kendaran roda 2, biaya masuknya 9 ribu (padahal, nanti kita bayar parkir lagi loh, 2rebu). Tanpa diberi tiket, langsung dipersilahkan masuk (waduuuhh, kebiasaan orang Indonesia!) Dari sini, ke lokasi danaunya masih beberapa ratus meter. Walaupun begitu, dari kejauhan danaunya sudah kelihatan, menghampar cantik, berkilau keperakan diterpa  sinar matahari.

image

Indahnya Situ Patengaan, tampak dari kejahuhan.

Danaunya manghampar diantara bukit-bukit kebun teh dan pohon-pohon pinus. Lukisan alam maha karya Sang Pencipta. Bagaikan danau yang ada dalam film animasi, atau film dinosaurus. Tapi ini nyata. Asli! Saya memandang danau dengan khidmat. Sebuah perahu kecil berwarna terang melintas pelan, tampak seperti perahu mainan. Oooh indaahhnyaa, Indonesiaku!

Rasanya tidak sabar untuk segera bergegas ke lokasi. Ah, sayang sekali, tempat parkirnya tidak nyaman. Sebuah tempat lapang agak miring dengan dengan hamparan berbatu sebesar kelapa. Licin! Tapi ya sudahlah, saya sudah tidak sabar untuk segera menuju danau…

Masih seperti kunjungan beberapa tahun silam, disekitar tepi danau, banyak pedagang cindera mata, dan pedagang makanan yang berjejer rapih. Pengunjung yang datang biasanya duduk bersantai diatas tikar sewaan yang banyak dijumpai disana. Ada juga yang memilih berkumpul di gazebo yang sudah tersedia. Beberapa muda-mudi tampak lebih memilih area yang lebih sepi seperti duduk dibawah pohon pinus di tepi danau, kebayang kalo mereka pada berantem, saling dorong, byuuuur deh!

image

Saya menyusuri hutan pinus dan mulai menikmati pemandangan. Perahu-perahu tertambat berjejer siap mengantarkan pengunjung ke sebuah perbukitan yang biasa disebut Pulau Batu Cinta di seberang danau. Saya pun mengunjunginya. Dengan membayar 15ribu per orang, kita akan diantar menuju pulau. Perahu didayung dengan pelan, seakan tahu bahwa kami-yang ada dalam perahu-sedang khidmat menikmati suasana alam hingga percikan air yang terdengar dari setiap dayung mengayuh, semua terasa indah.

image

Di Bukit Batu Cinta, kita hanya diberi waktu 15 menit. Saya tak perlu menyia-nyiakan waktu hanya untuk antri berfoto di¬† sebuah prasasti ‘batu cinta’ yang biasa saja-dengan keterangan seadanya¬† tertutup kaca yang sudah pecah. Ada banyak spot menarik lain yang lebih menakjubkan, dari sekedar berfoto disitu. Saya lebih memilih naik perbukitan kebun teh. Terus, naik sedikit lagi hingga dekat bebatuan yang menjorok tinggi. Memandangi panorama sekelilingnya, hmm luar biasa!!

Terbayarlah, perasaan lelah menuju tempat ini. 2 jam berkendara sepeda motor, terbayar lunas dengan keindahan panorama di atas Bukit Batu Cinta. Saya merasa puuaass dengan perjalanan kali ini. Saya bangga sebagai warga Jawa Barat, yang didalamnya tersimpan keindahan panorama yang tak ternilai. Saya bersyukur pada Alloh, atas semua nikmat ini. Alhamdulillah….

image

Sedikit Tips Mengisi Libur Lebaran di Bandung

Lebaran sudah di depan mata, hanya tinggal menghitung hari. Naaah, buat kalian yang mudik,ke kota Bandung  tercinta, tentu kalian sudah punya segudang rencana dalam menghabiskan libur lebaran. Buat kalian  yang tidak mudik, alias orang Bandung asli, seperti saya tentunya Рjangan  habiskan waktu cuma buat tiduran di rumah, sesudah bersilaturahmi ke orang-orang tercinta atau berziarah ke makam keluarga.

Kota Bandung cukup kaya dengan tempat-tempat menarik, yang bisa di eksplore. Apalagi, jika kalian hobi foto-foto. Ada banyak spot yang bisa dijadikan tempat untuk berfoto. Dari mulai Gedong Sate,  menikmati suasana jalan Braga atau memotret bangunan-bangunan art deco di Jl. Asia Afrika.

Begitu juga dengan kuliner & jajanan, bisa dipuas-puasin di Bandung. Dari mulai jajanan pinggir jalan seperti batagor, lumpia basah, cireng  isi, hingga cilok goreng. Rumah makan dan restoran pun tidak kalah banyaknya, dari mulai restoran steak, ramen, sushi hingga restoran korea, banyak tersebar di Bandung.

Saya pikir, banyak orang luar kota yang datang ke Bandung saat liburan dan liburan mereka gagal. Ya, gagal! Mereka, tidak mendapatkan apa yang mereka mau, saat berkunjung ke Bandung. Belum  apa-apa sudah terjebak macet sejak pintu tol pasteur. Begitu keluar tol, disambut macet yang luar biasa panjang sejak dari Pasteur, Sukajadi, PvJ, Setiabudi, hingga Lembang. Alih-alih mendapatkan liburan yang menyenangakan, yang ada malah jengkel, kesal dan lelah saja.

Berikut adalah persiapan mengisi liburan di Bandung, versi saya :
1. Kendaraan, dalam hal ini sepeda motor. Ini adalah faktor utama yang sangat menentukan mobilitas kita selama mengisi liburan. Selain untuk menghindari macet, sepeda motor dirasa lebih efektif, lebih praktis, lebih cepat sampai lokasi walaupun kalo hujan, agak repot juga sih.

2. Tentukan destinasi yang kita inginkan, apakah mau wisata kuliner, mencari objek foto bangunan art deco yang bersejarah, belanja di distro ternama, taman kota atau meuseum dan lain sebagainya. Kalo perlu, cari tahu dulu informasinya via internet mengenai spot2 yang menurut kita menarik. Satu hal yang harus kita maklumi, kalo ternyata spot yang ingin kita datangi itu ternyata masih tutup (terutama kuliner), yaahh namanya juga lebaran, kaaan?

3. Persiapkan kamera, smartphone dan powerbank. Ajak teman atau sudara yang memiliki interest yang sama, ini sangat membantu jika kamu ingin difoto ditempat tertentu. Lumayan, ada yang fotoin ūüėÄ Jika kamu dari luar kota, kamu bisa ajak saudara atau kenalan kamu untuk membantu sebagai guide tour, dan sekalian meminjam motor atau mengantarkan ke tempat-tempat yang ingin dituju. Kamu harus tau diri juga dong, kalo kamu sudah pinjam motornya :p dan tentu saja bawa uang secukupnya.

Pengalaman saya berjalan-jalan di hari libur lebaran, cukup menyenangkan. Jalanan cenderung lengang, lancar jaya deh pokoknya. Hindari pusat-pusat kemacetan seperti pemakaman umum (terutama hari pertama lebaran) seperti Jl. Cikutra, Jl. Caringin, Jl. Baladewa (Pajajaran). Hindari tempat wisata massal, seperti Kebun Binatang Bandung (Jl. Tamansari, Ganesha, Jl. Siliwangi, dan sekitarnya).

Selamat mencoba!

Berbuka Puasa Bersama.

Beberapa hari lalu, saya diundang berbuka puasa bersama. Kebetulan, acara ini bertepatan dengan hari ulang tahun dua orang teman, yang dirayakan secara bersamaan. Saya diundang berbuka puasa di Hotel Aston Primera, Jl. Pasteur, Bandung.

Saya datang tepat waktu, yaitu sekitar jam 17.30. Masih ada jeda waktu untuk sapa sana sini, dan mengobrol sebentar sebelum datangnya beduk maghrib. Dan inilah makanan yang tersaji disana, yang saya sempat dokumentasikan.

image

Diawali dengan jajanan pasar. Saya mengambil sebuah kurma, sepotong kue dadar gulung benar-benar sepotong loh, krn pihak hotel memotongnya menjadi dua, sepotong kue ketan (yang entah namanya apa), sepotong cake dan sebuah strawberry iris sebagai hiasannya. Segelas kolak singkong, kolang kaling yang dicampur dengan nangka, tak luput saya sikaaatt.

Selanjutnya, saya mengambil sop buah. Standar sih sop buah seperti pada umumnya.

image

Masih merasa kurang, saya pun mengambil secangkir sup asparagus. Tampilan sup yang lebih menyerupai bubur, tapi pas dicicipi, waahh lezaatt. Sup ini sukses meluncur kedalam perut dan berhasil menghangatkan perut setelah seharian berpuasa.

image

Sambil mengobrol dan saling bertukar pendapat mengenai beberapa menu, saya rehat sebentar. Tapi, melihat seorang teman menyantap kupat tahu, akhirnya saya pun tergoda. Saya mengambil kupat tahu dalam porsi kecil saja. Dan sesudah itu,¬† saya langsung menuju menu utama, yaitu nasiiii…

image

Di menu  nasi, saya mengambil sepotong ayam berlumur santan kental-yang entah namanya apa, yang jelas lezat sekali. Saya juga mengambil mie goreng-yang lagi2 ini juga enak. Sepotong ikan  dimasak asam manis, dan tumis kacang panjang. Bleg! Sepiring mentuuunng tuung! Aaah, ini pasti mengenyangkan, bahkan mungkin sangat kenyang.
Setelah menyelesaikan hidangan paripurna, saya hanya bisa duduk2 sambil mengobrol. Beberapa teman masih tampak ngemil tempe mendoan dan secangkir teh  hangat manis. Ada juga yang masih ngemil cake atau kue2 manis.

image

Yaaahh, lumayanlah berbuka puasa disini. Dengan hanya membayar 78ribu nett. Walaupun makanannya tidak cetar membahana, tapi stoknya banyak, sehingga tidak sampai kehabisan. Petugasnya ramah, dan selalu mengisi kembali setelah terlihat makanannya berkurang atau terlihat akan habis. Buah potong, kue2 manis, tampak selalu menghiasi meja. Tempatnya juga nyaman.  Alhamdulillah. Terima kasih atas undangannya ya temanz!
image