Jalan-jalan sore, menyusuri Kota Bandung

Sore ini, ingin jalan-jalan sekedar cari angin segar, bukan angin ribut atau angin topan. Sengaja, tutup jualan lebih awal, toh penjualan hari ini juga sepi, kurang memuaskan. Cuaca yang panas mentrang mentréng, memaksa otak menjadi buntu, hanya sekedar mengolah kata demi kata yang dirangkai menjadi konten blogs rutin pun, saya benar2 gak bisa. Mentok!

Alhasil, sore ini saya melaju sendiri ke arah Jl. Dipatiukur. Tidak jelas, kenapa saya kesana. Tapi, saya memang kangen dengan Monumen Perjuangan. Berharap dapat foto yang bagus, seperti sebelumnya tapi tak sengaja terhapus dari microSD walaupun langit agak berawan, tak sebiru yang diharapkan.

Memasuki pelataran MonJu, saya mulai mengitari, langkah-demi langkah, mengarahkan ponsel galaxy jadul-ku ke segala penjuru. Membatin dalam gumam pelan, ‘jangan sama dengan yang kemarin, jangan samaaa….’ Berharap mendapat angle yang berbeda, dari yang pernah saya bidik. Semakin masuk ke dalam, semakin membosankan. Setiap pojokan yang -sepertinya- enak buat motret, pasti  ada orang pacaran. Beuh…mana kotor….sampah dimana-mana.

Hingga akhirnya mata tertuju pada tiga gadis kecil, yang tampaknya terobsesi menjadi pengibar bendera. Seperti berlatih paskibra, salah satu gadis mungil itu memberi aba2 ‘satu dua tiga, satu dua tiga’. Sedangkan gadis yang tengah menengadahkan kedua lengan, seolah seolah sedang membawa bendera yang terlipat, siap dikibarkan. Saya memandangi mereka dengan geli teringat jaman sekolah, yang terkagum2 pada anak2 pramuka, pengibar bendera tiap senin. Saya membidikan galaxy, mulai mencari target. Tahu mau di potret, ketiga gadis bersendal jepit itu berlarian menghindar.

Terima kasih, Neng… Kalian sangat menginspirasi. Saya mulai mendapatkan objek foto. Yap, tiang bendera di depan Monju, dengan merah putih yang terkibar. Gadis2 kecil itu sedikit menjauh, saat saya terlihat berjongkok mengambil objek foto. Semoga tidak ada yang melihat, posisi saya yang seperti gajah depa. Dan, inilah hasil fotonya…

image

berkibarlah, merah putihku…

image

Shiluet diantara awan dan lampu taman

Yap, selesai. Saya melanjutkan perjalanan. Maksudnya, saya mau ke Gedong Sate, tapi apa daya, di Gasibu sedang ada acara, dan agak susah parkir. Saya melanjutkan ke Cilamaya-Cimandiri. Hmm, sepanjang jalan itu, Nasi bakar dan sop buah Mang Ewok masih menjadi primadona. Tapi, karena saya sudah makan sebelumnya, jadi tidak tertarik. Saya tertarik memotret puncak Gedung Sate, yang hanya terlihat sedikit…

image

Gedung Sate, dari balik pagar jl. Cimandiri :))

Jujur, agak susah motretnya. Saya meloncati selokan-samping trotoar-yang sejajaran dengan nasi bakar Cimandiri. Berdiri dipondasi miring, dan memegang pagar besi. Si tukang parkir udah memperhatikan dengan curiga. Sebodo amat. Well, Gedung Sate beres, kita lanjuuutt….

Mencoba mencoba mencari objek foto disekitar Jl. Citarum. Mengitari Masjid Istiqomah, tampak biasa saja. Yang ada,dan tampak menarik adalah pohon di sekelilingnya, meranggas tak berdaun, terutama yg didepan hotel Haris dan dekat SMAN 20.

image

Tidak mendapatkan objek diseputar jl. Citarum, saya melaju ke jalan yang cukup vintage, yaitu jalan Tjihapit. Menyusuri jalan ini, berharap menemukan ‘sesuatu’ yang berharga. Ternyata tidak. Pedagang loak nampak sedang beres2 dagangannya. Penjual Tape Mobil yang berjejer tampak masih sepiii. Meluncur ke arah pasar, juga sudah sepi. Surabi Tjihapit dan Kue Balok juga sudah tutup. Kupat Tahu Galunggung, Lotek, semua sudah tutup-atau mungkin belum buka-masih libur lebaran.

Saya melanjutkan ke arah GOR Saparua. Berharap menemukan club sepeda Free Style atau sekelompok anak skateboard sedang beraksi. Hmm, nampaknya gagal. GOR masih tampak sepi… Alih-alih dapat foto, yang ada lamunan ditarik ke jaman baheula, dimana saya berdesakan di Lapangan Saparua demi nonton konser Denada saat masih jadi rapper paling cantik se-indonesia (ya iyalaah, kalo pembandingnya dengan Iwa K)
🙂

Tapi, entah kenapa saya tertarik dengan Gedung Pos, jalan Banda, dekat Saparua ini yaaa

image

Gedung Pos dan Giro, Jl. Banda.

Karena sudah sore, saya langsung memutuskan untuk menuju Pusdai. Saya pikir, sesudah sholat ashar, ada yang bisa saya bidik disana. Minimal, interiornya yang indah itu. Sayapun segera meluncur….

image

Seperti biasa, saya mengitarinya, saya berkeliling Masjid, berharap dapat sesuatu. Aaahh, kebetulan, halaman masjid tampaknya sedang sepi. Saya bisa lebih leluasa mencari angle, lebih leluasa memotret.

image

Setelah mendapatkan beberapa objek photo, saya bermaksud menuju tempat berwudhu. Tapi bentar…. Bunga di samping halaman masjid ini tampak menariiikk…

image

Tanaman merambat pada besi taman yang sudah didesain khusus untuk bunga ini. Menjuntai ke berbagai arah… Bunga berwarna merah darah ini cantik sekali…

Setelah menunaikan sholat ashar, saya mulai ‘menunaikan’ tugas yang lain. Yap!! Memotret desain interior masjid paling kereeenn se Bandung. Karena, masjid sedang kosong, lagi-lagi saya sangat leluasa untuk bisa mengambil gambar dengan khusyu.

image

Keindahan interior, Pusdai. Dari tengah, memandang ke arah selatan.

image

Lampu dinding Pusdai

image

Keindahan interior Pusdai dari tengah, ke sebelah sudut yang lain

Hmm…, jalan-jalan sore-nya berhasil! Murah meriah, dan cukup menyenangkan. Yang pasti, bisa mencairkan mood yang membeku. Foto2 yang didapat pun berbeda dengan foto2 sebelumnya, meskipun tempatnya masih sama. Mari kita sudahi jalan-jalan sore ini, kita, pulaaang…

image

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s