Monumen Purwa Aswa Purba

image

Monumen Purwa Aswa Purba, Stasiun Hall, Kota Bandung

Iklan

Suramnya Museum Pos Indonesia

Sejak sabtu pagi, saya sudah bimbang antara pergi berikhtiar ke ganesha atau beres2 Pekarangan Alit yang kelihatannya sudah ‘merengek’ seakan minta dirapihkan. Alhasil, saya menyiangi rumput2 yang tumbuh gak penting dan tampak mengganggu. Waktu sudah melesat menuju jam 8. Saya bergegas mandi, dan membiarkan Pekarangan Alit yang belum selesai dibersihkan. Saya meluncur ke Ganesa dan hati saya tetap di Saung Alit.

Benar saja, di Ganesa ternyata sepiii dan terasa membosankan. Niat ‘melipir sebentar’ pun mulai bergaung di kepala. Hmm…hmmm….. Baiklah, daripada hati  gundah gundala, saya langsung meluncur ke Gedong sate-dan meninggalkan Kios Alit-dengan jawaban ‘kapayun sakedap’-ketika ditanya mau kemana. Tujuan saya sudah pasti : Museum Pos Indonesia Yeeeaayyy…!

image
Pintu Masuk Museum Pos

Memasuki museum, ternyata tidak dipungut biaya. Hanya mengisi buku tamu saja. Agak keder juga begitu tau akses masuknya melalui basement. Menuruni tangga terasa mengendap-endap, sambil celingukan, dan langsung dihadapkan pada koleksi peralatan pos seperti aneka bis surat dari berbagai zaman.

image
Benda-benda peralatan Pos, Bis Surat dll

Terdengar suara-suara, ada dua cewek pengunjung sedang mendiskusikan perangko. Agak plong juga ketika saya melihat banyak orang sedang mengerumuni sesuatu. Tapi…eeh, tunggu…tunggu…. Mereka berkerumun-tanpa bergerak-tanpa suara. Saya perhatikan dengan saksama. Astagfirullaaah… ternyata ‘mereka’ adalah patung diorama! Gubrakss!! Dan tetiba saya merindiiing….

image
Patung Diorama Pak Pos

Well, setelah otak sadar kembali berkumpul, saya sedikit mengabaikan patung-patung itu. Disamping patung diorama, ada sepeda2 kumbang jaman baheula, yang biasa digunakan untuk mengantarkan surat. Waaah, sepeda antiiikk…

image
Koleksi Sepeda, Pengantar Pos

Selanjutnya, saya memperhatikan koleksi perangko emas, dibuat khusus untuk memperingati Ibu Tien Soeharto dan 100 tahun Bung Hatta. Dan tetap mengabaikan patung2 diorama yang letaknya persis di belakang saya.

image

image

Selanjutnya saya memasuki wilayah perangko. Ada banyak perangko disini. Perangko2 langka, dari jaman Belanda, jaman kemerdekaan, hingga perangko2 edisi tertentu tahun 90an dari mulai edisi ruang angkasa, edisi tokoh2 nasional, satwa2 langka, jambore, dan lain-lain. Sayangnya, saya tidak melihat perangko dan kartu pos edisi Nike Ardilla, yang konon dikalangan kolektor, edisi perangko edisi Nike Ardilla merupakan edisi yang cukup populer.

image

Selanjutnya, saya meluncur ke area koleksi perangko dari berbagai negara. Perangko-perangko ini ditempatkan di dalam lemari-lemari dari kaca yang disebut vitrin. Susunan lemari ini berderet dari koleksi terkuno hingga koleksi terkini, dengan kategori perangko yang mengacu pada negara asal perangko tersebut.

image

image

image
Vitrin, Deretan Tempat Menyimpan Perangko Langka

Begitulah perangko disimpan. berderet seperti buku (sebesar pintu). Kita tinggal menarik pengaitnya, dan vitrin pun bergeser seperti layaknya pintu sorong. Terpampang disana, aneka jenis perangko dari berbagai negara yang jumlahnya ribuan hingga pusiiiing. Hanya saja, posisi vitrin itu sangat menyulitkan untuk melihatnya. Seandainya kita bawa adik kecil, atau bawa anak2-yang ingin memperkenalkan perangko2 luar negeri-kita mesti menggendongnya. Posisinya terlalu atas untuk bisa dilihat oleh anak2.

Saya berjalan mengitari ruangan lain, dan menjauh dari dua pengunjung cewek yang masih asik di deretan perangko kuno. Huft….ini sudah positif, bahwa tak ada pengunjung lain di museum ini. Agak ragu2, ketika saya hendak memasuki ruangan yang berisi berbagai peralatan pos pada jaman kuno seperti timbangan surat, timbangan paket, mesin tik kuno, seragam pos sejak jaman belanda dan sebagainya. Suasana di dalamnya tampak suram dan tidak menyenangkan.

image

Suasananya sangat heniiing, bahkan suara recok yang sedang diskusi tentang perangko kuno pun sudah tak terdengar. Yang menyebalkan adalah ketika menjumpai sebuah lorong yang-lagi-lagi disitu ada patung diorama. Saya sudah tidak peduli ‘sedang apa mereka’, bahkan saya ingin menjauh dari lorong itu.

image

Saya memasuki ruangan yang-sepertinya-ruangan paling akhir. Berisi naskah-naskah kuno atau Surat Emas – Golden Letters. Ada yang menggunakan bahasa melayu, arab, bahkan pada masa kerjaan2 termasuk madura. Merasa gerak gerik seperti sedang diawasi oleh-sesuatu yang saya pun tidak tau-saya sudah tidak konsen dengan surat2 emas yang terpajang itu. Sumpaaahh, saya pengen segera pergi dari ruangan itu-walaupun harus kembali melewati patung diorama.

image

Fiiuuhh, berharap mereka-patung diorama- tidak menoleh saat saya melewatinya. Yaahhh apes2nya mereka bukan cuma menoleh, tapi berkedip dan tersenyum menyeringai… #eeaaa…

Setelah berada di luar, rasanya legaaa…. menarik nafas dalam-dalam adalah hal paling mungkin. Suasana di luar lebih nyaman ketimbang di museum yang terletak di basement. Sangat beralasan, jika masyarakat pada umumnya, ogah-ogahan berkunjung ke Museum, sekalipun gratis. Banyak hal yang harus dikoreksi dan dibenahi atas penataan Museum Pos Indonesia ini. Tata letaknya, koleksinya, suasananya harus dibuat lebih hangat dan friendly.

Pesan saya, jangan pernah pergi ke museum, sendirian!

🙂

Menikmati Sajian Khas Makasar

Lama tidak menikmati hidangan khas Makasar, semalam saya ‘bertemu’ lagi dengan hidangan yang lekoh dengan bumbu rempah-rempah tersebut.

Adalah Konro Maranu, sebuah rumah makan di kawasan jalan Riau, Bandung. Tempatnya menurut saya biasa, tapi hidangannya luar biasa. Menyediakan hidangan khas Makasar seperi Sop Konro, Konro Bakar, Es Pisang Ijo, ataupun Es Palu Butung.

Satu porsi sop konro atau konro bakar disini, terdiri dari 2 ruas iga ukuran besaaarrr. Untuk konro bakar, tulang iga yang-tentu saja-berdaging di bagian pangkalnya, berlumur bumbu, dibakar lalu disiram dengan saus. Disajikan mencuat keatas pada piring ceper dengan kuah yang terpisah.

image

Rasanya, hmmm…. mammmia lezaattoz….. Bersanding dengan kuah pendampingnya-yang ternyata-sama dengan kuah sop konro. Aromanya haruuumm. Rasa rempah-rempahnya kuat banget. Kalo menurut orang sunda bilang, bumbuna lekoohh pisaaann.

Porsinya yang besar, cukup untuk 2orang, masing-masing satu ruas iga, itu cukup. Waktu belum tau, saya dan teman-teman memesan masing-masing satu porsi. Ternyata, ini sangat merepotkan, bagaimana kami menghabiskannya.

Kali ini, kami menikmatinya tidak dengan nasi. Tapi dengan buras dan ketupat. Buras itu panganan semacam lontong, rasanya agak asin-gurih. Sedangkan ketupatnya sih sama seperti ketupat pada umumnya

Jadi, saya tinggal minta piring tambahan kepada pegawainya, menyajikan sendiri buras dan ketupat dipiring, siram dengan kuah konro dan dimakan dengan iga bakarnya. Tambahan sedikit sambal membuat rasanya makin membakar, aaarrgghhh…. Hati-hati dengan sambalnya, karena sedikit saja sudah najong, efeknya jadi pedaaasss banget. Tapi segeerr…kening bisa sampe keringetan pokoknya.

Naah, sesudah itu…untuk mengusir rasa pedas-yang sebenarnya tak menunggu lama pedasnya hilang, kita nikmati Es Pisang Ijo. Konon, ini adalah Es Pisang Ijo original, asli seperti yang di Makasar sana.

image

Lagi-lagi, porsi es pisang ijo disini ukuran jumbo. Pisang yang digunakan sepertinya pisang nangka (yang biasa digunakan untuk kolak atau pisang kukus pendamping minum bajigur). Pisang yang terbungkus kulit berwarna hijau-dari tepung ketan, disajikan dengan bubur sumsum, es serut yang disiram syrup berwarna merah (syrup campolai-kah??), diberi sedikit susu kental manis. Rasanya, enaaaakkk dunia akhirat! Beneran… Jangan harap ada penambahan kacang atau meises-seperti pisang ijo di tempat lain yang sudah di modifikasi.

Soal harga, agak lumayan memang. Seporsi Konro Bakar Rp. 49.000,- (walaupun bisa dimakan berdua) sedangkan Es Pisang Ijo-nya Rp. 17.000,-. Buras dan ketupatnya Rp. 2000/biji. Untuk pengalaman kuliner, bolehlaaah. Harga berbanding lurus dengan kepuasan dan kelezatan. Harga masih masuk akal dengan porsi yang besar dan rasa yang lezat.

😉

Museum Geologi

Dari Stasiun Hall Bandung, motor saya melaju arah Jl. Diponogoro. Waktu menunjukan setengah sepuluhan-masih pagi, masih banyak waktu. Target saya berikutnya adalah Museum Geologi. Sudah lama sekali saya tidak berkunjung ke Museum Geologi. Seingat saya, terakhir kunjungan ke Museum adalah waktu sekolah, jaman masih SMA. Ya ampuuun, lama sekaliiii….

Sudah diperkirakan bahwa saya akan menemui kemacetan pasar minggu kagetan, di seputaran Gedong Sate-Gasibu. Saya harus memutar arah hingga ke Jl. Citarum. Tapi tetap, saya mentok di jalan Diponogoro, dan pasrah dengan pasar tumpah yang hanya seminggu sekali itu.

Memasuki Gedung Museum Geologi, ternyata sudah ramai pengunjung, terutama anak-anak sekolah. Saya tidak membuang waktu, langsung menuju loket penjualan tiket. Yap, ternyata tiketnya cuma Rp. 3000 saja. Tiket sudah di tangan, dan mari kita jelajahi museum ini….

image

Begitu melewati pemeriksaan karcis, saya langsung masuk dan  mengambil arah kanan. Sebuah ruangan besar seperti aula, dengan atap tinggi, yang dipenuhi dengan kerangka binatang purba. Kerangka tersebut telah menjadi fosil dan di rekontruksi seperti aslinya.

Sebuah kerangka dinosaurus, jenis T-Rex terlihat menjulang. Dengan background lukisan yang menggambarkan kehidupan dinosaurus pada masa itu, fosil tersebut ‘mengilustrasikan’ betapa mengerikan hewan purba pemakan daging tersebut.

image

Yang menarik lainnya adalah fosil dari kerangka  gajah purba. Ini mengingatkan saya pada Manny, tokoh gajah purba yang ada di film animasi Ice Age. Gadingnya yang mencuat, sangat mudah dikenali kalo itu adalah gajah. Ada pula fosil2 lain seperti kudanil dan banteng, dengan.keterangan cukup detail.

image

Pada bagian lain, terdapat informasi tentang sejarah awal kehidupan, gunung-gunung merapi di Indonesia, lempeng bumi dan sejarah Kota Bandung, yang mana pada masa purba merupakan lautan. Ini dibuktikan dengan temuan fosil-fosil binatang laut seperti kerang raksasa di pegunungan kapur Padalarang Kabupaten Bandung.

image

Fosil kerang sebesar jolang-bak air buat mandi bayi-dan fosil-fosil binatang laut lain yang berusia jutaan tahun, tertata rapi. Penataan lighting yang cukup baik membuat tampilan kerang ini terlihat menawan.

Di bagian ruangan lain, terdapat sejarah asal muasal manusia. Ada berbagai fosil-tengkorak manusia-baik yang ditemukan di Indonesia maupun di luar negeri. Fosil-fosil tersebut merupakan cikal bakal sejarah manusia pada masa sekarang.

image

Puas dengan benda purbakala, saya melanjutkan ke lantai atas. Yuuukk…ke atas….

Di ruangan ini diklasifikasi menjadi Pertambangan Mineral & Energi, Pemanfaatan Batuan & Mineral, Eksplorasi & Eksploitasi, Mineral dalam Kehidupan Sehari-hari, Bahan Galian Komoditas Nasional, Gempa Bumi & Gerakan Tanah, Bahaya & Manfaat Gunung Api, dan Air & Lingkungan.

Begitulah kira-kira, kalimat-kalimat ilmiah yang terpampang disana. Saya tidak peduli dengan itu-dengan nama-nama batuan yang sulit diucapkan dan sulit untuk diingat-ingat. Saya lebih tertarik mengamati bongkah-bongkah batuan dan mineral yang ada disana.

Ruangan disini sepertinya sengaja dibuat redup. Setiap pajangan batuan atau mineral,yang terlindung kaca, diperkuat dengan lighting yang mendukung. Hasilnya, memang luar biasa. Sebongkah bijih emas, berkilau tertempa lampu sorot. Saya terpaku disitu beberapa saat sambil bergumam dalam hati “Oooh, iniiii….tho bahan baku emas” terjebak antara terpana merasa kagum 🙂

image

Pada bagian lain pajangan, saya lagi2 terpesona dengan keindahan bongkahan batu2 mulia. Dipajang pada sebuah piringan bercahaya yang berputar pelan, sehingga kita bisa melihat seluruh permukaan batu-batu mulia itu. Sebongkah batu mineral mentah, disandingkan dengan butiran batu yang sudah diasah dalam berbagai ukuran. Lampu sorot menjadikan batuan tersebut benar2 terlihat mahal. Safir, ruby, dan giok adalah sedikit batuan mulia yang sempat saya ingat. Bagus sekalii…

image

Waktu sudah semakin siang, dan saya rasa ini cukup. Menjadi turis dan berwisata di kota sendiri, ternyata menyenangkan. Biaya yang dikeluarkan tidak mahal, tapi mendapat banyak inspirasi dan pencerahan.

image

Sebelum pulang, saya menyempatkan menginjakkan kaki di Taman Bebatuan. Taman ini berada di depan Museum, tepatnya sebelah timur. Tampaknya taman ini masih baru-perasaan dulu tidak ada. Taman ini kereeen. Setiap batu dibuat dengan formasi yang menarik diberi petunjuk : misalnya batu granit, batu konglomerat dan lainnya.

image

Tadinya masih mau duduk-duduk, atau sekedar melihat kolam ikan yang ada di taman itu. Tapi sepertinya tidak memungkinkan. Saya sudah konfirmasi kehadiran pada sebuah acara gathering di sebuah restoran ala Jepang-all you can eat- Asyik Dihari Minggu #3. Yihaaa….!!

#…dan sepeda motor pun melaju ke arah Dago….

***

Monumen Purwa Aswa Purba

Bila ada waktu luang, saya lebih suka keliling kota Bandung. Ngapain aja?? Tak jelas, tapi kadang saya hanya berputar2, menyusuri jalan, memperhatikan keadaan sekitar, atau mencari hal2 yang-menurutku-unik. Pernah ke pasar loak Cihapit, atau di Pasar barang bekas Astana Anyar, dan memperhatikan prilaku penjual-pembeli barang bekas yang ada disana.

Kali ini, saya tidak ingin ke pasar loak. Sebenarnya, di minggu pagi yang cerah ini, saya ingin ke Taman Hutan Raya Djuanda, atau biasa disebut Dago Pakar. Karena sepeda motor saya kondisinya tidak memungkinkan, saya pun mengurungkan niat, dan-seperti biasa-saya memutuskan berkeliling mengitari kota Bandung.

Tak perlu menunggu lama, tetiba saya ingin pergi ke jalan Pasirkaliki. Yaaa…benar, saya ingin berdiri di jembatan itu, memperhatikan dan menunggu kereta api yang lewat di bawahnya. Yuk, Berangkaaatt….

Menuju jalan Pasirkaliki, saya mampir di sebuah patung harimau yang terletak antara pertigaan jalan Wastukancana.Entah patung apa namanya, konon lambang Batalyon Siliwangi. Persisnya apa saya juga tidak tahu karena saya tidak menemukan keterangan apapun disana…..

image

Tiba di jalan Pasirkaliki, saya berdiri di jembatan-setelah memarkir sepeda motor di tempat aman. Memandang ke arah timur, tampak Stasiun Bandung. Terhampar rangkaian rel kereta api yang  begitu banyak dan njelimet. Gerbong-gerbong yang terparkir tampak.dari kejauhan. Sebuah kereta api panjang, nampak siap diberangkatkan, suara mesinnya menderu-pelan, terdengar sayup.

image

Walaupun yang melintas baru lokomotifnya saja, itu pun sudah membuat saya senang. Suara ‘klakson’nya yang memekak cukup menarik perhatian pengguna jalan. Beberapa sepeda motor yang membonceng anaknya tampak menepi, dan ikut turun dan melihat kereta melaju. Wajah anak-anak kecil itu tampak bergairah. Salah satunya menunjuk2 gerbong kereta.

image

Saya masih berdiri di jembatan itu, ketika kereta api panjang yang sejak tadi mesinnya dinyalakan tiba-tiba ‘berteriak nyaring’ dengan bunyi teeeet panjang. Bergerak perlahan menuju barat-arah Jakarta-itu berarti kereta api itu akan melintas tepat dibawah jembatan dimana saya sedang berdiri. Saya memperhatikan dengan sabar, dan tidak mau kehilangan momen saat kereta api tersebut melintas pelan, menembus bawah jembatan hingga menjauh, dan pergi menjauh hingga akhirnya hilang dari pandangan. Dan saya bahagia.

Puas melihat kereta api, saya langsung menuju Stasiun Hall kota Bandung. Saya hendak memotret lokomotif kereta api kuno yang terpajang di depan stasiun hall tersebut.

image

Lokomotif itu masih terpajang dengan gagah. Cat-nya nampak masih cerah, seperti baru dipoles menyambut hari lebaran. Di bagian bawah kereta tertera tulisan Monumen Purwa Aswa Purba. Harus mencari tahu, apa artinya ya….

image

Dimata saya, lokomotif merah-hitam itu masih menyimpan pesonanya. Masih mengagumkan, seperti saya sering melihatnya waktu kecil dulu. Semoga Lokomotif itu tetap terjaga, terawat dan bisa mempertahankan kegagahannya hingga generasi anak saya, atau bahkan cucu saya kelak. Mari kita lanjutkan jalan-jalan di minggu pagi ini….

#Menyalakan mesin sepeda motor, dan berlalu…

Saat Bidadari Turun ke Bumi

Saya sudah keluar dari komplek perumahan sejak jam 6.30 pagi. Memacu sepeda motor-pelan saja, karena sambil berencana ‘mau apa minggu pagi ini?’. Libur adalah jawabannya, tapi kalo memang libur, trus mau apa?

Sedikit agak bimbang, tercabik antara tetap memaksakan berjualan atau  memaksakan libur, saya menengadah ke langit sebelah barat. Hmm…langit  berawan agak gelap, mungkin mendung karena masih pagi. Sementara, di sebelah timur, matahari sudah mulai menghangati. Selarik lengkung berwarna-warni agak pucat tampak menggantung diujung antara tebalnya awan dan pegunungan yang mengarah agak ke utara. Yap, hanya sedikit saja bentuk pelangi itu, seperempat lingkaran pun sepertinya tidak. Tetapi semakin lama saya pandang, warnanya semakin tampak cemerlang.

image

Kadang teringat cerita jaman dulu, kalo kita lihat pelangi, maka bidadari dari khayangan sedang turun ke bumi, mandi di mata air yang ada di bumi ini. Seperti cerita Jaka Tarub kali yaaa. Tapi, ini tahun 2013, helllooo… Maudy Ayunda aja gak bakalan mau mandi di mata air, apalagi bidadariii…. Yang jelas, ini adalah fenomena alam yang biasa. Kebetulan, saya termasuk orang yang beruntung bisa menikmati pelangi di pagi hari, lebih beruntung lagi kalo menemukan tujuh bidadari mandi, wadaaww….

🙂

Jajanan di Bandung #1

Bandung pusat kuliner-semua orang tau itu, ada 1001 macam jajanan di Bandung, yang kalo disebutkan bisa menghabiskan waktu 7 hari, 7 malam. Banyak website dan blogspot yang membahas kuliner di Bandung, dari mulai kelas kaki lima, hingga kelas resto dan cafe.

Jajanan seperti gorengan (bala-bala, gehu, cireng), cilok, siomay, batagor, itu bisa dijumpai hampir disetiap pinggir jalan, dan rasanya rata2 enak. Sesuailah, misalnya dengan serebu perak, ya kita dapat sebongkah bala-bala, cireng atau combro 🙂

Naaah, mari kita kerucutkan spesifikasinya-biar tidak terlalu luas (saking banyaknya jajanan2 ituuuh) Jadi, yang saya maksud adalah jajanan yang sering saya jumpai di Jalan Ganesha. Yapp, betuuuulll…karena keseharian saya di Ganesha dan sekitarnya, jadi…yuk, kita ‘icip-icip’ ada apa saja yaaa….

Ketan Bakar
Yihaaa, tidak usah jauh2 ke Lembang untuk menikmati sepotong ketan bakar. Di Ganesha pun ada. Biasanya lewat sekitar jam 9 pagi.

image

Dengan harga Rp. 3000an, kita sudah bisa menikmati ketan bakar hangat berbumbu serundeng atau sambal oncom yang lezat.

Tahu Gejrot
Panganan asli khas Cirebon ini tersebar hampir  disetiap sudut kota Bandung. Tukang tahu gejrot bisa di temui di Gasibu, di Cihampelas, di Dago, di depan Unisba, di Taman Ganesa dan masih banyak lagi.

image

Biasanya, seporsi tahu gejrot harganya Rp. 5000. Tahu khusus-seperti tahu Sumedang-yang diiris-iris. Disiram dengan bumbu berupa bawang, cengek dan bumbu khusus yang diulek dadakan dari cobek mini. Rasanya segar, pedas, gurih agak manis.

Rujak Asinan
Ini niiiih….rujak yang asyiiiikk banget. Pokoknya, aku sukaaa banget dengan rujak ini. Jualannya kadang2 aja lewat Ganesa. Irisan buah2an dan ubi, yang disiram dengan rujak cuka berbumbu kacang tanah sangrai. Terus, diatasnya diberi kinca, alias gula merah yang sudah dimasak agak kental berkaramel. Disajikan dengan kerupuk mie, rujak seharga Rp. 6000 ini bikin nikmat dunia dan akhirat deeehhh…

image

Heup aaah, sudahi dulu informasi Jajanan Bandung part #1, besok lusa-kalau ada sumur diladang-saya review lagi jajanan2 lain yang ada disekitaran Ganesha, di part #2, part #3 dan seterusnya….

N.B : Kalo sumurnya gak ada, berarti gak dilanjutin, males banget jajan2 gak pake mandi dulu….

😉

Loved Me Back To Life, Berbeda!

Beberapa hari lalu, Celine Dion merelease single terbaru berjudul Loved Me Back to Life. Single ini di launching terlebih dulu di iTunes, sementara albumnya sendiri dengan titel sama akan beredar bulan November tahun ini.

image

Mengusung konsep musik yang tidak seperti biasanya, di single terbaru ini, Celine sepertinya ingin menyasar segmen penggemar masa kini, yang lebih muda. Perhatikan saja dari intro lagu, suara Celine Dion agak mirip Delores (vokalis The Cranberries). Pada bagian tengah lagu, hentakan irama musiknya lebih ngeband, dengan distorsi gitar yang mendominasi dibagian akhir lagu.

Tanpa kehilangan jatidirinya sebagai ‘Celine Dion’, diva asal Kanada ini berhasil menggiring single Loved Me Back to Life, menjadi sebuah lagu yang kaya harmoni, powerful dan terasa lebih modern. Ada sentuhan rock lembut dibeberapa bagian lagu, bahkan menurut saya lagu ini terasa lebih ‘dark’, terlebih bila mengingat materi isi dari lagu itu sendiri. Entah maksud kiasan atau arti sesungguhnya, tapi cukup mencekam dan seperti memuat pengalaman spiritual.

Ini adalah album berbahasa Inggris terbaru dari Celine, setelah album terakhirnya berjudul Taking Changes yang release tahun 2007. Kabarnya di album ini Celine bekerja sama dengan musisi muda, termasuk diantaranya berduet dengan Ne-Yo. Celine Dion seperti benar-benar ingin mempersembahkan sesuatu yang baru dan fresh. Kita tunggu saja, album baru Loved Me Back to Life, yang kabarnya berbeda dari album-album sebelumnya.

Rejeki Mata, Pagi Ini…

image

Saya yakin, tidak semua orang memiliki kesempatan melihat kupu-kupu yang indah dari jarak sangat dekat sesering saya. Tidak juga setiap orang berhasil mengabadikan momen itu-yang kadang sebentar-beberapa detik), sebelum akhirnya kupu2 itu terbang lagi. Apa mungkin karena saya penggemar diva Mariah Carey apa seeh, cuuiiihh!

Pagi ini, saya menjumpai seekor kupu-kupu cantik, berwarna cokelat-bermotif hijau apel, sangat cemerlang! Sempat terfikir, ulat macam apa yang menjadikanmu begitu indah, wahai kupu-kupu…

image

Hinggap pada sehelai daun palm pagar yang bahkan sudah mengering, kupu-kupu merentangkan sayap dan memamerkan motif hijau-nya yang kereeen.

Beringsut karena mencari angle yang pas untuk memotretnya-agak susah karena dekat selokan-kupu-kupu ini menghindar ke daun yang lain dan menutupkan sayapnya seolah tidak mau diganggu. Eeiiits, tunggu dulu…dalam posisi sayap yang menutup pun, kupu-kupu ini tetap memperlihatkan keanggunannya. Yeeaaayy…

image

Nah, ini mungkin yang disebut rejeki buat mata saya. Rejeki buat hati saya, dan rejeki atas kesempatan melihat keindahan yang orang lain belum tentu memiliki kesempatan ini. Alhamdulillah….

Cabai Habanero

Kemarin sore, saya berkunjung ke rumah kakak di Cikadut. Sambil ngobrol ngalor ngidul di  beranda, mata saya tertuju pada salah satu pot berbuah lebat-yang sepertinya tanaman cabe rawit atau orang sunda biasa bilang céngék. Tapi, céngék ini berbeda dengan céngék pada umumnya.

image

Cabe rawit ini memiliki bentuk agak bulat, hampir sebesar kelereng, kadang agak gepeng dengan ujung yang meruncing mirip stroberi. Céngék yang sudah tua, ada yang berwarna putih, ada yang berwarna kuning, tapi kebanyakan berwarna merah cerah, seperti cabai merah pada umumnya.

Searching di internet, ternyata namanya Cabai Gendol atau kata orang sunda mah Cabe Géndot eh, iya gituuuhh? (ini céngék, bukan cabeeee-keukeuh) Cabai Habanero bernama latin Capsicum Chinense, cabai Habanero konon merupakan cabai terpedas ketiga di dunia. Kalo kurang percaya, coba klik disini

image

Saya memetik empat buah, rencananya ingin ditanam dalam pot di teras rumah. Mudah-mudahan bisa tumbuh sesuai harapan-setelah sebelumnya gagal merawat bunga Telang. Yuk kita tunggu, apakah saya berhasil dengan Cabe Habanero ini…??
🙂