Suramnya Museum Pos Indonesia

Sejak sabtu pagi, saya sudah bimbang antara pergi berikhtiar ke ganesha atau beres2 Pekarangan Alit yang kelihatannya sudah ‘merengek’ seakan minta dirapihkan. Alhasil, saya menyiangi rumput2 yang tumbuh gak penting dan tampak mengganggu. Waktu sudah melesat menuju jam 8. Saya bergegas mandi, dan membiarkan Pekarangan Alit yang belum selesai dibersihkan. Saya meluncur ke Ganesa dan hati saya tetap di Saung Alit.

Benar saja, di Ganesa ternyata sepiii dan terasa membosankan. Niat ‘melipir sebentar’ pun mulai bergaung di kepala. Hmm…hmmm….. Baiklah, daripada hati  gundah gundala, saya langsung meluncur ke Gedong sate-dan meninggalkan Kios Alit-dengan jawaban ‘kapayun sakedap’-ketika ditanya mau kemana. Tujuan saya sudah pasti : Museum Pos Indonesia Yeeeaayyy…!

image
Pintu Masuk Museum Pos

Memasuki museum, ternyata tidak dipungut biaya. Hanya mengisi buku tamu saja. Agak keder juga begitu tau akses masuknya melalui basement. Menuruni tangga terasa mengendap-endap, sambil celingukan, dan langsung dihadapkan pada koleksi peralatan pos seperti aneka bis surat dari berbagai zaman.

image
Benda-benda peralatan Pos, Bis Surat dll

Terdengar suara-suara, ada dua cewek pengunjung sedang mendiskusikan perangko. Agak plong juga ketika saya melihat banyak orang sedang mengerumuni sesuatu. Tapi…eeh, tunggu…tunggu…. Mereka berkerumun-tanpa bergerak-tanpa suara. Saya perhatikan dengan saksama. Astagfirullaaah… ternyata ‘mereka’ adalah patung diorama! Gubrakss!! Dan tetiba saya merindiiing….

image
Patung Diorama Pak Pos

Well, setelah otak sadar kembali berkumpul, saya sedikit mengabaikan patung-patung itu. Disamping patung diorama, ada sepeda2 kumbang jaman baheula, yang biasa digunakan untuk mengantarkan surat. Waaah, sepeda antiiikk…

image
Koleksi Sepeda, Pengantar Pos

Selanjutnya, saya memperhatikan koleksi perangko emas, dibuat khusus untuk memperingati Ibu Tien Soeharto dan 100 tahun Bung Hatta. Dan tetap mengabaikan patung2 diorama yang letaknya persis di belakang saya.

image

image

Selanjutnya saya memasuki wilayah perangko. Ada banyak perangko disini. Perangko2 langka, dari jaman Belanda, jaman kemerdekaan, hingga perangko2 edisi tertentu tahun 90an dari mulai edisi ruang angkasa, edisi tokoh2 nasional, satwa2 langka, jambore, dan lain-lain. Sayangnya, saya tidak melihat perangko dan kartu pos edisi Nike Ardilla, yang konon dikalangan kolektor, edisi perangko edisi Nike Ardilla merupakan edisi yang cukup populer.

image

Selanjutnya, saya meluncur ke area koleksi perangko dari berbagai negara. Perangko-perangko ini ditempatkan di dalam lemari-lemari dari kaca yang disebut vitrin. Susunan lemari ini berderet dari koleksi terkuno hingga koleksi terkini, dengan kategori perangko yang mengacu pada negara asal perangko tersebut.

image

image

image
Vitrin, Deretan Tempat Menyimpan Perangko Langka

Begitulah perangko disimpan. berderet seperti buku (sebesar pintu). Kita tinggal menarik pengaitnya, dan vitrin pun bergeser seperti layaknya pintu sorong. Terpampang disana, aneka jenis perangko dari berbagai negara yang jumlahnya ribuan hingga pusiiiing. Hanya saja, posisi vitrin itu sangat menyulitkan untuk melihatnya. Seandainya kita bawa adik kecil, atau bawa anak2-yang ingin memperkenalkan perangko2 luar negeri-kita mesti menggendongnya. Posisinya terlalu atas untuk bisa dilihat oleh anak2.

Saya berjalan mengitari ruangan lain, dan menjauh dari dua pengunjung cewek yang masih asik di deretan perangko kuno. Huft….ini sudah positif, bahwa tak ada pengunjung lain di museum ini. Agak ragu2, ketika saya hendak memasuki ruangan yang berisi berbagai peralatan pos pada jaman kuno seperti timbangan surat, timbangan paket, mesin tik kuno, seragam pos sejak jaman belanda dan sebagainya. Suasana di dalamnya tampak suram dan tidak menyenangkan.

image

Suasananya sangat heniiing, bahkan suara recok yang sedang diskusi tentang perangko kuno pun sudah tak terdengar. Yang menyebalkan adalah ketika menjumpai sebuah lorong yang-lagi-lagi disitu ada patung diorama. Saya sudah tidak peduli ‘sedang apa mereka’, bahkan saya ingin menjauh dari lorong itu.

image

Saya memasuki ruangan yang-sepertinya-ruangan paling akhir. Berisi naskah-naskah kuno atau Surat Emas – Golden Letters. Ada yang menggunakan bahasa melayu, arab, bahkan pada masa kerjaan2 termasuk madura. Merasa gerak gerik seperti sedang diawasi oleh-sesuatu yang saya pun tidak tau-saya sudah tidak konsen dengan surat2 emas yang terpajang itu. Sumpaaahh, saya pengen segera pergi dari ruangan itu-walaupun harus kembali melewati patung diorama.

image

Fiiuuhh, berharap mereka-patung diorama- tidak menoleh saat saya melewatinya. Yaahhh apes2nya mereka bukan cuma menoleh, tapi berkedip dan tersenyum menyeringai… #eeaaa…

Setelah berada di luar, rasanya legaaa…. menarik nafas dalam-dalam adalah hal paling mungkin. Suasana di luar lebih nyaman ketimbang di museum yang terletak di basement. Sangat beralasan, jika masyarakat pada umumnya, ogah-ogahan berkunjung ke Museum, sekalipun gratis. Banyak hal yang harus dikoreksi dan dibenahi atas penataan Museum Pos Indonesia ini. Tata letaknya, koleksinya, suasananya harus dibuat lebih hangat dan friendly.

Pesan saya, jangan pernah pergi ke museum, sendirian!

🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s