Obrolan (yang Terbungkam Hedonisme)

image

“Pendapatan beberapa minggu terakhir ini drop. Paraaah banget!” Saya membuka obrolan pada seorang sahabat, yang berjualan batagor. “Iya, bahkan bulan kemarin ogé, sayah keteteran bayar kontrakan, parah pisan euy” sahabat saya menimpali. Obrolan pagi itu pun berlanjut dengan curhat-curhat masalah ekonomi yang mendera kami beberapa bulan terakhir. Sesekali obrolan terpotong-karena ada yang beli batagor atau ada yang memesan kopi. Lalu, sambil menunggu pembeli berikutnya obrolan pun berlanjut.

Kami diskusi, dan saling menyemangati manakala semua jalan dan ikhtiar yang kami lakukan sudah maksimal, tapi rejekinya mentok segini-segini aja. Jangankan buat menabung agar nanti bulan puasa atau lebaran gak kelimpungan, lha untuk biaya hidup sehari2 pun mesti nombok sana sini. Mungkin nasib sedang tidak berpihak pada kita, atau kalau ini sebuah siklus kehidupan, kita benar-benar sedang dibawah. Sampai-sampai untuk bayar kontrakan atau cicilan rumah yang besarannya 600rb per bulan pun kami benar2 kerepotan.

Tak perlu dirisaukan kalau motor saya udah gak nyaman dikendarai. Masih ada esok lusa untuk berharap siapa tahu ada rejeki buat ganti olie. Abaikan motor yang sudah tidak balance karena kudu ganti rantai dan gear-nya, selama kita berhati2 dijalan dan rantai motor tidak sampai putus. Kalo dalam sebulan terakhir ini telat ke Ganesa karena ban kempes di jalan dan harus mendorong motor 500meter mencari tukang tambal ban, ya harap maklum juga…karena ban sepeda motor saya sudah gundul- yang kalau kena pasir tajam sedikit saja, bisa bocor…. Betapa sulitnya saya menyisihkan uang. Penghasilan beberapa bulan terakhir ini benar2 tidak mencukupi. Walaupun saya sudah jungkir balik pergi jam 5.45 pagi dan baru tutup jualan jam 17.45 sore. Hasilnya ya gitu deeehhh….

***

Seorang teman nampak naik pitam ketika ada yang menyebutnya cemen. Nampak berang dan menyangkal dengan semangat berapi-api saat obrolan   menyudutkannya. Saya menghentikan obrolan dengan sahabat saya dan mulai menyimak.

“Enak aja bilang gue dibilang cemen! Pake nyepet2 gue di depan umum bilang kalo gue gak berani, sembarangan! Gue mah, diajak karaoke hayuk2 aja, tapi bagian pembayarannya harus adil. Jangan mau enaknya aja!!” masih nyolot nampak berapi-api.

***

Saya teringat beberapa hari lalu, sahabat saya, anaknya sakit. Hal seperti ini memang kejadian tak terduga. Betapa kusutnya sahabat saya. Penghasilan pas2an yang sudah dianggarkan sesuai pos2 nya harus rombak untuk biaya dokter. Bahkan untuk modal jualan hari itu, ngebon dulu ke agen di Pasar Sederhana. Bayar kontrakan, cicilan ke koperasi, dan kewajiban bulanan lain jadi menunggak. Dengan kondisi jualan yang ‘tidak menentu’ cuaca yang tidak mendukung-kalo sore hujan-membuat usaha dipaksa jungkir balik.

Kalo saya, usaha dari jam 7 pagi sampe jam 6 sore, sahabat saya lebih ekstrem lagi. Jam 4 subuh harus sudah berangkat ke Pasar, untuk belanja kebutuhan batagor, menggiling ikan dan bumbu kacang dan sebagainya. Jam 6 sore manakala saya sudah beres-beres, sahabat saya masih juga berjualan hingga jam 7malam.  Hingga beres2 dan kelar semuanya, sampe rumah jam 8malam. Sungguh jam kerja yang sangat panjang, perjuangan yang tentu melelahkan.

image

Jadi ceritanya, beberapa waktu lalu kami karaoke” si Teman melanjutkan sambil duduk di bangku yang ada dihadapan kami.
“Si Anu pesan Civas. Si Itu pesan minuman, sampe mabok. Ganti PL-nya aja sampe dua kali. Naaah, pas mau bayar ternyata hampir 4juta, coy..!”
“Trus..trus…” saya nimpalin seolah-olah kepo.
“Si Anu cuma bayar 50rebu. Sedangakn si Itu nyumbang 200rebu. Yang ngajaknya memang bayar 1,3 juta. Gue, nombokin 1,4juta…”, masih tampak sewot….
“….dan tadi mereka ngajakin karaoke lagi, dan bilang cemen karena gue gak mau. Gue bukannya gak mau tapi bla…bla…bla……

Saya sudah tidak menyimak…saya hanya manggut2. Menunduk. Pandangan saya tertuju pada kaki-kaki kursi pelastik, yang jomplang nampak akan terguling kalo diduduki. Hmm….orang lain mengeluarkan 4 juta rupiah, dalam beberapa jam…. setiap orang menghabiskan ratusan ribu hingga jutaan rupiah untuk kesenangan semalam….

***

Saya dan sahabat saya berpandangan….

***

Si Teman masih mengomel. Dalam gumam pelan saya masih bisa mendengar yang-kalo tidak salah “mendingan aing beli m*m*k puguh-puguh….” desisnya sambil bersungut-sungut.

~~~~hening~~~~

*Duuuh Gustiii, tulungan abdi…..*

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s