Kenyataan, Saya Bukan Superhero…

Barusan, saat melintas di jalan A.H. Nasution, dari salah satu gang di sekitar Pasir Impun, saya melihat seorang pria muda berlari tergesa, mendekap sebuah tas wanita…yang-tak lama kemudian dikejar oleh seorang wanita (eh, iya gituuuuhhh). Si pria dengan sigap langsung dibonceng sepeda motor yang sudah menunggu di pinggir jalan, dan langsung melesat. Tanpa lampu, tanpa pelat nomor. Sementara, si wanita, (eh kayaknya waria) samar berteriak lemah dan mengumpat….

Keadaannya begitu cepat, dan terjadi di depan mata saat pikiran saya berada disebuah lamunan. Tidak tau apa yang bisa dilakukan…. dan saya pun seolah membiarkan jambret itu pergi dengan penuh kemenangan. Benar, saya bukan Unsung Hero, yang bisa membantu saat orang lain saat terjadi hal seperti ini. Saya juga bukan super hero yang-seperti dalam film-langsung mengejar dan menghajar pelaku hingga babak belur, lalu mengembalikan tas…

Tapi, sampai sekarang pun saya masih menduga2…kejadian itu. Apakah memang jambret, atau motif dendam, tidak pernah tau. Kalo memang menjambret, kenapa munculnya harus dari sebuah gang… lagi pula, berapa sih uang yang ada dalam tas seorang waria yang sudah mangkal sebelum jam 9 malam…

Krik…krik…krik…

LCN ala Bazzar tingkat RW yang Mati Listrik

image

Kota Bandung, sedang giat2nya melakukan berbagai kegiatan pesta rakyat, dalam rangka memfasilitasi keinginan warga. Setelah menggelelar Braga Culinary Night yang bernuansa vintage dengan dekorasi payung2, kemudian Cibadak Culinary Night yang bernuansa oriental dengan dekorasi lampion-lampion, kini Walikota Bandung Ridwan Kamil memilih Lengkong sebagai tempat pesta rakyat atau disebut Lengkong Culinary Night.

Acara dibuka dengan tarian khas sunda, dilanjut dengan rajah bubuka dari STSI Bandung. Setelah memberikan sambutan, Ridwan Kamil pun resmi membuka acara dengan memukul kendang secara simbolis. Tak lama kemudian, walikota berpenampilan gaul ini berkeliling menyisir stand2 peserta Lengkong Culinary Night.

image

Acara yang digelar sepanjang Jl. Lengkong Kecil ini sepertinya kurang persiapan. Dekorasinya menggunakan layang-layang dari pelastik kemasan bekas. Tapi itu juga tidak banyak, tidak sepanjang arena Lengkong Culinary Night ini, hanya beberapa puluh meter di sekitar panggung kesenian. Yang lebih dramatis adalah : sepanjang stand2 penjual makanan itu gelap! Yap, beneeeer gelap gak pake listrik. Bagaikan di sebuah bazzar tingkat RW yang sedang mati lampu.

Beruntung bila stand makanan itu berada di dekat lampu jalan atau rumah atau toko berpenerangan cukup baik. Masih kebagian sedikit terangnya. Nah, bagi yang kurang beruntung, harus puas menggunakan emergency lamp atau lilin. Pengunjung pun kesulitan melihat ‘judul2’ aneka ragam makanan yang dijajakan. Harus mendekat dan memicingkan mata dengan pertanyaan yang sama : ini jualan apa… kalo itu jualan apa… 😦
image

Sepanjang berkeliling di Lengkong Culinary Naight ini, saya menemukan banyaaaakk sekali stand makanan dan minuman yang menarik. Dari mulai batagor, serabi, ceker ayam, cireng, cilok, mochi ice cream, colenak, berbagai makanan berat khas sunda, seperti ayam goreng dan seperangkat hidangan khas sunda seperti di Punclut ada disini. Ada juga bubur ayam, sop buah dan seabreg makanan dan minuman unik lainnya. Tapi seperti disebutkan di awal, tempatnya gelap dan kalo mau makan, duduk dimana? Saya sudah tergoda, pengen serabi oncom hangat, kebayang duduk2 sambil ditemani minuman hangat. Tapi tdk ada 1 pun kursi disana. Saya juga tertarik siomay, tapi ya itu tadi, harus di bungkus dan dimakan sambil jalan berdesakan. Tidak nyaman….

Saya berkeliling, masih menentukan pilihan ‘mau makan apa dan dimana’, ketika seorang bapak dengan ramah mencegat saya untuk masuk ke ‘tendanya’. Beliau menawarkan bubur ayam yang konon ayamnya enak karena dibumbui seperti ayam suwir. Tertarik dengan “usahanya” menawarkan bubur, akhirnya saya dan pasangan sepakat mencoba bubur tersebut. Namanya BMW alias Bubur Mang Wawan. Ternyata, BMW ini hidangan yang pas dikala dingin-di malam sesudah hujan. Buburnya benar2 enak, dan langsung menghangatkan perut. Harganyapun cukup murah menurut saya. Saya hanya membayar 18ribu rupiah untuk 2 bubur dan 2 aqua gelas. Menyenangkan sekali….

image

Alhasil, saya melihat…restoran steak berkonsep warung yang kebetulan bertepatan di pusat LCN ini sangat ramai dikunjungi. Selain tempatnya presentatif, terang benderang, juga cukup nyaman dengan meja dan kursi. Begitu pun dengan beberapa kedai ayam goreng di Jl. Lengkong ini, ramai dikunjungi. Patut disayangkan, pesta kuliner yang 80% pesertanya adalah warga sekitar lengkong, seharusnya mendapat perhatian penerangan yang cukup. Mudah2an kedepannya kalo dibuat acara serupa, panitia bisa lebih siap mempersiapkan kemasan acara lebih baik dan glamour dengan cahaya. Sehingga selain menyedot para wisata kuliner, dan menjadi sebuah ‘arena tempat nongkrong malem mingguan’. Acara culinary night ini bisa menjadi perputaran roda ekonomi yang potensial dan ikon khusus kota bandung di setiap akhir pekan.

Berteduh di Tempat yang Tepat

Sore ini, dalam perjalanan menuju pulang…saya kehujanan di sekitar Cikadut. Awalnya sih cuma gerimis, tapi semakin ke timur, hujan semakin deras. Jadilah saya menepi dan berteduh di daerah Sukaasih di sebuah bengkel yang sudah tutup. Disampingnya tampak penjual kue balok. Yap, penjual kue balok ini sepertinya belum terlalu lama, karena setiap hari lewat jalan ini, baru beberapa hari saja saya lewat.

image

Ada dua pembeli yang sedang duduk sambil menikmati kue sambil mengobrol. Tampak dua orang lain hanya berdiri saja menunggu pesanannya dibungkus. Saya mulai tertarik dengan kue vintage khas parahyangan ini. Saya mulai mendekat dan pesan untuk dimakan ditempat. Si bapak penjualnya dengan ramah menunjukan kue balok yang berjejer pada sebuah kotak anyaman, untuk diambil saja langsung jika mau dimakan di tempat. Saya mengambil 2, dialasi kertas nasi. Wooowww, masih hangat…dan aromanya haruuummm. Pantas saja, kue balok dimasaknya menggunakan arang…

image

Menikmati kue balok, cocoknya dengan teh tawar panas. Benar saja, Bapak penjualnya langsung membuatkan segelas teh panas agak pahit, sambil berujar bahwa kue balok cocoknya dengan ini. Waaaahh, rezekiii…kehujanan, kedinginan, berteduh…disuguhi segelas teh tawar panas-agak pahit-lengkap dengan kue baloknya. Helllaaawww… Alhamdulillah bangeeett… Kue balok nan lezat ini harganya seribu rupiah. Kalo beli yang setengah mateng, pemukaan bagiannya masih leleh gitu, enaaaakk… cobain deh…!

image

(Beneran kaaaan, kue Balok…bukan kue cubiiit… :p )

Iklan Televisi Thailand

Entah apa narasi dari video ini… tanpa saya mengerti artinya, saya hanya menangkap visualnya. Pesan moral yang disampaikan di iklan ini sangat jelas, mengasihi sesama, peduli pada orang lain, bersyukur dengan apa yang kita miliki serta tidak lupa sedekah. Berharap saya bisa seperti itu, memperbaiki diri melakukan hal-hal positif buat orang lain. Jadi ingat pesan Aa Gym, bahwa jadikan apa yang ada disekitar kita menjadi ladang amal.

Dasar, Bangkoooong….!!!

Maksudnya sih mau pake sepatu yang sudah agak lama gak dipakai. Ternyata, di dlm sepatu tangan tangan meraba sesuatu yang enyoy2, kasaaarrr dan agak dingin. Sontak saya menarik tangan dari dalam sepatu. Trus si sepatu di ketruk2… pluukk! Ternyata bangkong badaaagg!! Deuuhh, ngaget2in si bangkong teh… #SsyyuuuhhSshhyyyuuhhh #GebahBangkong

*) Bangkong = Kodok (bahasa Sunda)

View on Path

Parkiran Baltos, Menyebalkan…

Suatu pagi, saya parkir di Baltos (Balubur Town Square). Gak lama sih, gak nyampe 30 menit. Pas mau keluar dari parkiran, saya menyodorkan uang 5ribu. Si petugas parkir bilang, gak ada kembalian dan minta uang kecil. Saya tidak ada uang lain. Si petugas pun  hanya bisa diam, tidak ada inisiatif. Pintu palang belum mau ngangkat dan terbuka sebelum menekan ‘enter’ di komputer. Akhirnya si Mbak petugas itu teriak2 sama petugas lain minta tolong tuker uang ke warung. Alhasil, saya menunggu agak lama sampai ada kembalian. Menyebalkan…

Di lain waktu, masih ditempat yang sama, yaitu di parkiran Baltos. Saya parkir sebentar, dan saya memberi uang 2ribu. Saya melihat uang 1ribuan yang sangat banyak dan 500an juga banyak. Tapi petugas parkir memberi uang kembalian dengan uang kion 100rupiah yang ditumpuk. Belum sampe uang seribu itu di tangan saya, uang itu sdh mawur berhamburan. Belegug! Sa’aya-aya duit rebuan, kembalian pake uang kion, kayak gak ikhlas aja ngembalian. Akhirnya, saya harus puas dengan bilang ‘sudahlah’.
*Enter, dan palang pintu pun terbuka*

Hadeuuhh…

Bandung, Malam Hari Pun Berkilau…

Beberapa waktu lalu, saya memposting artikel tentang beberapa taman kota di Bandung. Upaya pemerintah kota dalam membenahi dan mempercantik Kota Bandung, terlihat sangat serius dan sedikit demi sedikit mulai terlihat hasilnya. Selain taman kota, yang terlihat cantik di siang hari, Pemerintah Kota Bandung juga mempercantik Jalan Layang Pasupati dan Gedong Sate, dengan lampu sorot berwarna.

Lampu sorot berwarna-warni ‘ditembakkan’ pada pilar utama dan tiang2 penyangga-yang selama ini menjadi ikon Jalan Layang Pasupati. Hasilnya, pilar dan tiang-tiang yang membentuk segitiga itu tampak indah dan glamour. Perpaduan warna-warna yang dimunculkan sungguh menarik. Dilihat dari jarak jauh ataupun dari jarak dekat, tetap saja indah…

image

Saat berwarna merah…dan beberapa detik kemudian berubah warna menjadi hijau, biru dan perpaduan harmoninya sungguh indah menawan…

image

image

Semoga kota Bandung bisa semakin meningkatkan keindahan kotanya. Alhamdulillah, sekarang di sepanjang jalan layang Pasupati ini, ada beberapa petugas polisi yang berjaga. Diharapkan ini dapat memberikan rasa aman kepada pengguna jalan (terutama malam hari) dan menghindari penggunaan jalan layang sebagai sarana kebut2an. Semoga kedepannya bisa semakin baik lagi.

#LatePost #MateriYangTertunda

Berkunjung ke Dusun Bambu – Lembang

Beberapa minggu lalu, saya dan teman2 berkesempatan mengunjungi tempat yang lagi nge-hits banget di Bandung. Nama tempatnya Dusun Bambu Family Leisure Park. Hampir setiap akhir pekan, lini masa di jejaring sosial selalu di penuhi dengan postingan foto di tempat ini. Bertempat di Jl. Kolonel Masturi, kami mengambil jalur melalui jl. Cihanjuang. Tinggal lurus terus, sampe mentok (Advent School), trus belok ke kiri…lurus… Nyampe deeehh…

image
Pemandangan dari Parkiran Motor

Masuk ke tempat ini membayar tiket seharga 10ribu per kepala. Jika kita bawa kendaraan roda 2, maka dikenakan tarif parkir 5ribu. Tempat parkirnya (khusunya buat motor) masih ala kadarnya. Hanya lahan kosong yang masih ditumbuhi rerumput disana-sini. Mungkin karena masih soft opening. Saya berharap untuk kedepannya tempat parkir sepeda motor bisa lebih layak.

image
Menara Bambu
Dari parkiran, kami langsung menuju satu spot khusus. Tempat dimana kita menunggu kendaraan yang akan mengantarkan kita ke kawasan Purbasari, Purbararang, dan Lutung Kasarung. Disini, ada menara Bambu yang disusun sedemikian rupa, cukup menarik perhatian. (Buat saya sangat menarik perhatian kamera :p). Dari sini pun, sebenarnya kita bisa jalan kaki menuju kawasan yang saya sebut di atas. Tapi, karena pengen mencoba pake mobil wisata (semacam mobil pick up yang dihiasi dengan tudung dan kain berwarna-warni-layaknya di tempat wisata) maka, kami tetap menunggu giliran jemput.

image

Sambil menunggu giliran jemput, kita disuguhkan pemandangan yang bikin adem. Sawah yang terhampar dengan pancuran kecil, bebek2 yang berenang dan berlari kesana kemari. Rumah saung atau gubuk2 kayu, nampak dari kejauhan menjadi ornamen yang cantik. Bahkan, ada sapi yang sedang merumput… Landscape yang sangat pas, cukup indah di pandang mata. By the way, jemputan sudah datang. Yuk, kita naik… cuuuuzzz, meluncuuurrr….

image

image

image

Pemandangan dari kawasan Purbasari

Beneeer kaaan, jaraknya cukup dekat, tapi memang agak sedikit menanjak. Hmm…begitu tiba, kami langsung bergegas ke Danau. Dari kejauhan pun, danau ini memperlihatkan kecantikannya. Ada semacam cottage ditepi danau…beberapa pengunjung ada menyewa sampan, melintas dipermukaan danau membuat airnya beriak-riak. Whuuu..tongsis mana tongsis… tak sabar ingin segera tampil eksis 😀 😀

image

image

Kami beringsut ke tempat lain. Ada taman dengan bunga2 berwarna warni, sungai kecil dengan batu2 alam yang asri. Naaah, air sungai yang meluncur dari bukit2 itu nantinya bermuara ke danau tadi. Yuk, kita lihat sekitar sungai dan taman…

***foto***

Hmm…setelah berfoto2, kami melihat ada semacam dermaga kayu berbentuk bundar di tepian sungai bagian yang lain. Ada beberapa yang sedang berfoto disana. Ternyata, dari tempat bundar ini pemandangannya sangat indah. Kami pun menunggu giliran untuk dapat berfoto. Bersyukur, kami datang lebih pagi, jadi bisa bebas bergaya dan berekspresi tanpa banyak orang yang mengamati… tongsis mana tongsis… #Teuteup!

image

Whuuu, beneran deh disini kita bergaya abis2an, sampe pooolll. Bahkan, temen saya yang berpose sambil tiduran. Ada yang terlentang…ada juga yang tetap malu2 bergaya alhasil malah mirip ikan pesut yang terdampar di danau tropis… upss!!

image

Selesai berfoto-foto di sekitar tepian danau, kami menuju bukit, dan menyusuri sungai berbatu yang meliuk berkelok. Sebenarnya, saya ingin terus ke bukit (sekedar pengen tau, ada ada disana, dan pemandangan dari atas seperti apa). Tapi teman-teman lebih memilih berbelok ke tempat makan. Baiklah. Sambil menuju tempat makan, kami melintasi permainan ketangkasan yang disediakan buat pengunjung, seperti sepeda, memanah, paint ball dan lain-lain.

Memasuki tempat makan yang seperti foodcourt, benar-benar membingungkan. Bingung memilih! Sangat banyak sekali pilihan makanannya dari mulai soto, bubur, roti bakar, hot dog, burger, gulali, dan seabreg makanan camilan lain seperti mpek-mpek, batagor dan gado-gado. Saya memilih seporsi gado-gado seharga 32 ribu dengan porsi mentuuuung Eduuunn. Cara transaksi di sini menggunakan voucher, seperti uang kertas di permainan monopoli. Tapi jangan khawatir, kalo sisa, uang tersebut bisa di refund di pos yang sudah disediakan.

image

Dari tempat makan, saya sempat mengitari sebentar sebelum melanjutkan ke wilayah Lutung Kasarung. Ada ayunan, prosotan dan cungkedang-cungkeding yang semuanya terbuat dari kayu. ada juga kayu yang disusun membundar, cocok buat difoto. Sayang, saat saya berfoto disana, teman saya kurang pandai ambil objeknya, cuma asal jepret doang…

Kami melanjutkan ke Lutung kasarung. Disini ada tempat buat leyeh2, atau duduk2 santai. Yang unik, tempat ini ditutupi dengan ranting-ranting hingga membentuk bulat telur seperti sarang burung. Wilayah ini rupanya cukup menarik perhatian pengunjung. Jembatan satu-satunya akses menjadi penuh sesak, berhimpitan, bersenggolan dengan pengunjung dari arah berlawanan. Bahkan terjadi “kemacetan” saat ada yang berfoto sekedar mengabadikan moment berlatar belakang sarang burung. Sayang sekali, semua sarang burung itu penuuuhh, sudah terisi. Dan tampaknya, orang2 di dalam sarang burung itu masih betah berlama-lama. Jadi percuma saja kita menunggu dapat giliran bersantai disana…

image

Akhirnya, kami memutuskan pulang. Bebeda dengan pergi, saat pulang kami tidak menungu jemputan-tapi memilih berjalan kaki saja menyusuri jalan. Melewati sawah dan menyusuri ‘galengan’ sambil melihat-lihat. Yaaaa, sempat befoto2 juga sebentar (walaupun panaaaasss), sebelum akhirnya kamipun pulang…

image

Sopir Taksi Langka di Jakarta

Beberapa hari lalu, teman saya yang yang tinggal Yogyakarta dinas ke Jakarta. Dalam perjalanan di Jakarta, teman saya ini menggunakan Taksi Express dengan sopir anak muda, dengan logat jawa yang medok dan tidak tau arah. Alih-alih beristirahat dan tidur di taksi, teman saya malah sibuk menunjukkan arah kemana tujuan yang dimaksud. Setelah teman saya kembali ke Jogja, barulah ingat bahwa BBnya tertinggal di Taksi Express yang di Jakarta itu…

BB itu ada di tangan sopir taksi-yang belakangan diketahui namanya Mas Ajib. Dia mengamankan dan menyimpan BB tersebut. Menurut Mas Ajib, suatu saat yang punya BB pasti akan menghubungi dan mengambil kembali BBnya, dan Mas Ajib bermaksud mengembalikan. Jadilah teman saya yang di Jogja itu janjian dengan Mas Ajib. Agak susah, harus via SMS karena hape-nya Mas Ajib adalah hape jadul yang sdh tidak bisa berfungsi, sudah tidak bisa dipake nelpon, cuma smsan aja.

Jadilah saya dan teman saya Yayatz, berada di Lobby FX Plaza ini untuk menemui Mas Ajib, Sopir Taksi Express yang bermaksud mengembalikan BB. Agak lama saya menunggu di FX Plaza, karena Mas Ajib sedang mengantarkan penumpang…baru sekitar jam 2 siang kami bisa bertemu, itu pun dengan janjian yang alot via sms, karena kedua belah pihak tidak bisa merinci dgn detail posisinya masing. Yaaa, agak susah kalo via sms hehehe…

Ternyata, Mas Ajib itu masih muda sekali. Kelahiran tahun 1990, asal dari Jepara. Bekerja di Taksi Express baru 3 minggu (panteeeess) Sangaaat lugu, dan belum hapal jalan2 di Jakarta. Saat kami bertemu-dan kami mau sedikit mengobrol dulu sebentar-kami membawanya ke salah satu tempat makan di FX. Dia kikuk bukan main. Sambil malu2, Mas Ajib bilang dengan logat jawa ‘saya mbelum pernah masuk ke tempat-tempat kayak giniiii’. Pun saat saya persilahkan pesan makanan, dia manut saja. Minta kami yang pesankan, karena dia gak tau menu2 yang ada dalam daftar… Benar2 lugu…

image

Ponsel BBnya diserahkan sambil dipersilahkan diperiksa dulu, bahwa katanya dia tidak mengutak atik BB tersebut, kecuali menerima panggilan dari pemiliknya (dari teman saya yang Jogja, yg menghubungi kemrin). Kami tidak memeriksa dengan detail. Dengan tampilan dan kenyataan seperti Mas Ajib, saya yakin dan percaya bahwa BB pasti cuma disimpan doang sampe baterenya abis… Sebelum kami berpisah pulang, kami menyampaikan ‘titipan’ dari teman saya pemilik BB. Mas Ajib hanya bengong, terus meneriman titipan kami tanpa menghitungnya, dan langsung memasukan kedalam saku sambil membungkuk mengucapkan terima kasih. Salah, kami yang berterima kasih karena Mas Ajib mengembalikan BB yang maha penting ini. Semoga bisa buat beli hape baru yang bisa buat nelpon, jadi nanti gak  cuma smsan aja ya Mas Ajib…

Kami minta diantar ke pool travel citiTrans terdekat yaitu di SCBD Square (yang sesuai dugaan, pasti Mas Ajib gak tau alamat yang di maksud). Tapi dengan sopan, Mas Ajib mau mangantarkan dan ‘ayo kita cari saja alamat itu’. Dan begitu di nyampe di basement FX, Mas Ajib lupa, dimana memarkir taksinya. Kami menyasar setiap dinding parkiran, naik turun lantai basement, yang tampakanya malah makin membingungkan Mas Ajib. Hadeuuuhh. Akhirnya kami ke luar gedung FX, dan melakukan napak tilas…dari mana awalnya Mas Ajib masuk ke gedung ini, trus menyusuri… alhamdulillah, akhirnya ketemu… ck ck ck..hadeuh… Mas Ajib….memang Ajib! Sepertinya, Mas Ajib adalah sedikit dari manusia langka yang ada di Jakarta…

image