Prosesi Akad Nikah Keponakan

Hari ini, sabtu 5 April 2014…hari dimana saya duduk bersimpuh…menunduk dengan khidmat. Keponakan saya, tampak cantik dan anggun dengan kebaya brokat kebaya berwarna putih bersanding dengan seorang lelaki yang siap melaksanakan sumpah ijab kabul. Ayat suci berkumandang menjadi pembuka prosesi akad nikah. Mata saya mulai menghangat…. Saya memalingkan wajah, dan berusaha fokus, bahwa kehadiran saya duduk disana adalah untuk menjadi saksi mement penting ini.

image

Bola mata saya menyapu pandangan, di samping kanan saya, ada Pak Didin-tetangga sebelah rumah yang sudah kami anggap orang tua kami sendiri. Beliaulah yang berperan sangat “luar biasa” hingga bisa terlaksananya akad nikah yang sederhana ini. Disamping Pak Didin, tampak Ceuceu-kakak saya, Ibu dari keponakan saya, Yulissa. Sementara di samping kiri saya, Pak penghulu bersiap dengan kelengkapan administrasi yang terhampar di meja, di hadapan kami. Disamping kiri Pak Penghulu, duduk bersila keponakan saya yang laki-laki Akang Hari-dialah yang menjadi wali nikah pagi ini, mewakili almarum ayahandanya-Pak Yusmanar, yang telah meninggalkan kami setahun lalu.

Suasana heniiiing dan khidmat. Saya menyaksikan, bagaimana Akang Hari dibimbing membaca niat, pelan dan tidak dimenggunakan microphone. Begitupun ijab kabul disampaikan dengan khidmat, pelan tanpa microphone -mungkin maksudnya untuk menghindari rasa gugup yang berelebihan…hingga akhirnya saya sebagai dan saksi yang lain mengucapkan kata ‘sah!’ dengan mantap.

Akhirnyaaa…pernihkahan itu terlaksana juga… Pernikahan keponakan saya yang pertama- dimana proses untuk bisa menuju akad nikah ini sangat panjang, melelahkan berliku. Saya menyapu pandangan kepada mempelai pengantin. Ayahanda mempelai pria, tdk bisa hadir ke Bandung karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan. Sementara ayah Yulissa sudah meninggal setahun yang lalu karena diabetes. Saya kembali menunduk. Sesaat setelah ijab kabul, ada pesan2 dan amanat2 singkat dari Pak Penghulu…. saya tidak terlalu menyimak, saya hanya bisa menahan keharuan… Almarhum Pak Iyus-kakak ipar saya membayang di pelupuk mata, seolah ada disana turut menyaksikan. Saya tidak bisa lagi menahan air mata, saya sudah menahan untuk tidak menangis. Namun akhirnya saya terisak-isak juga saya tahu ini memalukan, dan dilihat oleh semua tamu yang hadir, tapi saya benar2 tidak bisa menguasai sisi sentimentil ini

Sebagai orang tua tunggal, beban Ceuceu sudah berkurang satu. Minimal, tanggung jawab sebagai orang tua, membesarkan hingga menikahkan, sudah terlaksana. Drama kehidupan dua anak manusia, baru saja dimulai. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan rahmah. Selamat menempuh hidup baru, Yulissa – Fredy Goneszales, semoga Alloh memberikan jalan, dan kemudahan bagi perjalanan hidup kalian. Salam dan doa dari Mang Iwan….

image

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s