Info : Jajan Baso Enak? Jl. Puter Depan Toko Eng Seng

Tau jalan Puter?? Pasti yang terbayang adalah jalan untuk memutar arah atau U turn. Tapi, bukan itu maksudnya. Jalan Puter yang saya maksud ada di sekitar belakang Gedung Telkom Surapati. Disekitarnya, ada jalan dengan nama burung-burungan. Ada Jl. Japati (Plaza Telkom) Jl. Merak (Warnet Blazt dan Cafe Eat), Jl. Gagak, Jl. Titimplik (Sari Bundo), Jl. Caladi (Pusat kaos C-59), Jl. Tekukur, Jl. Tilil (atau lebih populer di sebut Gang Tilil-ups…awaaass jangan sampe kepeleset nyebutinnya 😆). Nah, Jl. Puter, tidak jauh dari Jl. Merak. Kalo dari Gasibu arah Caheum, maka letaknya ditengah2 antara Jl. Merak dan Jl. Gagak sebelah kiri Jl. Surapati, sebelum mamasuki kawasan sentra pengusaha kaos, percetakan dan sablon.

Emang ada apa di Jl. Puter?? Ada tukang bakso enak! Weeekkss. Jadi, tidak jauh sekitar 100 meter setelah masuk ke Jl. Puter, ada persimpangan. Nah, sebelah kanan jalan, pas belokan banget ada Toko Eng Seng. Di depan Toko Eng Seng inilah mangkalnya tukang bakso enak yang saya maksud.

image

Seberapa enaknya?? Lumayan untuk ukuran harga 8ribu. Kita bisa numpang duduk di kursi-meja yang disediakan Toko Engseng, sambil beli minum atau camilan ke toko tersebut. Kalopun tidak–kalo Toko Engseng-nya tutup, kita bisa duduk di bangku pelastik yang di sediakan si Mas Baso. Tapi, seringnya sih gak kebagian kursi…

image

Porsi baso 8 ribu tuh yaaa….sudah termasuk mie campur, bakso urat sedang, 3 bakso kecil, tahu kering/basah yang dipotong2, siomay basah, gorengan (atau entahlah yang seperti gorengan/lumpia kering-juga dipotongin) dan 1 pangsit. Kuah basonya juga enak. Cobain deehhh….daripada makan bakso yang harganya belasan ribu, nunggu 1/2 jam duduk berdesakan. Mending oge, disini wade….(ala Haruka JKT 48) *baca : disini wae* 😆

image

Mengisi Akhir Pekan #5 : Mengitari Sisa-sisa Perayaan KAA

Tidak sempat berkunjung ke Perayaan KAA beberapa waktu lalu, saya mengajak adik, kakak, dan keponakan untuk mengitari jalan Asia Afrika, Jalan Cikapundung dan jalan Braga Pendek sebelum kami pulang. Cuaca benar2 bersahabat. Cerah, namun tidak panas. Hangat. Angin sepoi-sepoi, sejuuukk.

Konferensi Asia Afrika sudah berlalu satu bulan, tapi pengunjung jalan Asia Afrika masih saja ramai. Masih banyak yang masih berfoto-foto, atau sekedar jalan-jalan dan duduk di bangku taman yang berejer sepanjang jalan…..Bandungnyanmasih cantik walaupun KAA-nya sudah lewat….
image

Setelah mengitari jalan Cikapundung, kami menuju air mancur menari. Sayang, air mancur-nya lagi gak beroperasi. Mungkin karena masih siang (Air mancur dengan tata cahaya lampu LED sederhana, tapi tetap aja akan terlihat indah kalo dioperasikan malam hari). Kami lanjutkan berjalan kaki ke jalan Braga Pendek, di halaman gedung Bank BJB.

image

Disini, orang masih ramai berfoto-foto. Walaupun tidak seramai dulu. Kalo sekarang, antri di tiap huruf B-R-A-G-A, tidaklah lama, saling bergantian, namun cepat. Dulu, pada awal2 Taman Braga ini ada, mau di foto di satu huruf saja nunggu 1 orang bisa sampe 5 menit. Lha kalo antrian foto 3 orang, nunggu di huruf B aja biasa 15 menit untuk kebagian selfie disitu, hihihihi….

Masih di Jl. Braga Pendek, kami bergeser ke sebelah selatan (arah Gedung Merdeka) Dimana masih terpasang gambar2 yang mencerminkan identias Bandung. Ada gambar Bus Bandros, Mahanagari, Persib, Bandung Juara dan sebagainya. Nah, berfoto disini bisa lebih seru, karena gambarnya colorful…mau sambil gokil2an juga bisa.
image

Karena waktu semakin sore, maka kami memutuskan pulang. Piknik hari ini benar2 full day. Dari jam 7 pagi kami meluncur dari rumah, naik bis bandros, keliling taman kota, hingga mengitari sisa-sisa perayaan KAA.

Piknik murah meriah yang menyenangkaaannn…..

Mengisi Akhir Pekan #4 : Taman Sejuta Umat, Taman Alun-alun Kota Bandung

image

Saya menyebutnya taman sejuta umat. Sudah 3x saya datang Taman Alun2 Bandung, tapi selalu penuuuhh. Maksud hati mau ikut2 main stream, berfoto selfie di lapangan yang terkenal gara2 rumput sintetis-nya ini, ada daya belum terlaksana. Kali kedua, pernah juga datang ke taman ini, di perjalanan sih cerah. Tapi, di taman alun2 baru saja selesai hujan. Alhasil, rumputnya basah…boro-boro bisa dipake duduk-duduk, selfie atau main bola… gagal maniiiing…..

Nah, selepas dari Taman Cibeunying, maksudnya kami mau cari taman lain, untuk menyantap perbekalan kami, Nasi Timbel. Tujuannya adalah Taman Musik Centrum (sebelumnya pas liat dari Bandros-tadi pas melintas-taman ini sepi, gak banyak orang), maka meluncurlah kami kesana. Sayang, begitu sampe sana, sdh ada banyak orang yang hendak mendirikan tenda. Sepertinya akan ada acara di Taman Musik. Tanpa berpikir panjang, kami sepakat meluncur ke Taman Alun-Alun Bandung.

Setelah parkir di basement, kami langsung menuju lapangan berumput sintetis. Cuaca cerah, bahkan panas. Keponakan langsung melepas sendal dan langsung berlarian di rumput. Sekejap, langsung mereka menepi. Rumputnya PANAASSS! Oh ya?? Begitu saya coba, iya juga rumputnya panas, dan tidak nyaman. Tapi aneh, masih saja banyak anak-anak bermain bola dan orang tua menunggui di tepi taman. Saya memutuskan untuk berteduh dan menunggu cuaca rada iyuh dulu. Awalnya kami mencari tempat di pinggiran taman alun2, rindang di bawah pohon. Tapi, setelah sholat dzhuhur, kami memutuskan bersantai di teras masjid. Lebih adem dan nyaman. Kami juga melihat, banyak pengunjung taman alun2 ini yang membawa bekal dan menyantap perbekalannya di teras masjid. Yah, selama tertib dan bisa menjaga kebersihan, ya kenapa tidak? Maka kami pun ikut membuka perbekalan kami, dan botram nasi timbel di teras Masjid Agung.

Ternyata, bersantap di teras masjid agung itu nikmaaaaattt. Pantas saja banyak orang yang melakukan hal yang sama. Mungkin karena kami sedang lapar, jadi makanan apapun terasa nikmat. Tapi kami menganggap, ini berkah masjid umat heheheh. Selesai makan dan memastikan bahwa kami sudah merapikan dan membuang sampah pada tempat semestinya. Kami duduk2 saja mengobrol sambil menunggu cuaca sedikit bersahabat.

image

Menjelang ashar, cuaca sore sangat pas, hangat dan tidak panas. Kami orang2 sdh semakin banyak mengunjungi taman alun2. Kami mencari tempat nyaman…dan seperti kebanyakan pengunjung lain, kami membeli bola pada pedagang asongan yang menyamar menjadi pengunjung taman. Dan membiarkan keponakan2 kecil bermain bola. Di taman alun2 ini, semua harus tertib. Tidak diperbolehkan ada orang berjualan dan diawasi ketat oleh petugas Satpol PP. Ini untuk menghindari terjadinya hal2 yang tidak diinginkan. Jangan sampai, taman yang sdh cantik, berubah jadi pasar dan dikuasai lagi oleh para PKL.

Melalu thoa yaang dikeraskan suaranya, petugas Satpol PP kerap mengingatkan kepada pengunjung agar menjaga kebersihan terutama yang membawa perbekalan dan makanan. Mengingatkan untuk tetap waspada dengan barang2 bawaan dan menegur pengunjung yang menggunakan sendal atau sepatu. (Dan yang menyebalkan, pengunjung pura2 tidak mendengar dan terus melenggang dengan tidak tahu malu-yah, itulah Indonesia!)

Semakin sore, semakin ramai dan lapangan rumput mulai duk dek. Beginilah warga kota Bandung menikmati kotanya saat sore hari di akhir pekan. Kami, mengobrol panjang lebar dengan pengunjung lain yang sebelumnya tidak kami kenal, hanya karena kami sama2 membawa bayi dan menjejerkannya di lapangan rumput bagaikan sedang kontes. Sambil mengawasi keponakan2 yang bermain bola agar tidak terlampau jauh dari pantauan, kami menikmati sore dengan sisa perbekalan yaitu minuman dan snack yang kami bawa.

image

Selepas jam 4 sore, kami memutuskan pulang. Sebelumnya, kami bermaksud mengitari jalan Cikapundung dan jalan Braga Pendek terlebih dulu….

Foto :
SuaraMahasiswa.info

Mengisi Akhir Pekan #3 : Taman Super Hero, Taman Favorit di Bandung!

Kenapa saya sebut sebagai taman favorit?? Sepanjang hari senin sampai dengan hari sabtu, Taman Super Hero ini selalu penuh. Ramai. Hari Minggu, lebih ramai lagi. Penuuuhh bahkan untuk mendapatkan parkir motor saja susah.

Walikota Bandung, Ridwan Kamil berhasil membuat taman tematik yang sukses menjadi identitas kota Bandung. Dari sekian banyak taman kota ada, tercatat seperti Taman Kandaga Puspa, Pet Park, Cibeunying Park, Taman Lansia, Taman Film, Taman Jomblo, Taman Fotografi, Taman Musik, Taman Fitnes, dan masih banyak lagi. Sebagian taman-taman itu ramai saat tertentu atau manakala saat baru peresmian, ada even atau saat akhir pekan. Tapi, berbeda dengan Taman Super Hero (dan Taman Alun2 Kota Bandung, yang terkenal dengan rumput sintetisnya). Sejak diresmikan beberapa waktu lalu, taman ini selalu penuh dikunjungi warga yang ingin menikmati kesejukan kota sambil mengasuh anak2nya.
image

Apa yang membuat Taman Superhero ini menarik masyarkat?? Yap, sesuai namanya SUPER HERO, maka di taman ini ada patung2 super hero terkenal seperti Superman, Batman, Spiderman, Flash, bahkan Robot Gatot Kaca! Dan seperti taman-taman khususnya untuk anak-anak, di taman ini ada ayunan, prosotan dan permainan khas untuk anak-anak. Kalo dulu, warga harus ke taman bermain untuk bisa main ayunan dan prosotan, dikenakan tarif tiket. Nah, di Taman Super Hero, Pak Walikota memberikan semuanya untuk warga Bandung, gratiiiisss.

image

Dibandingkan dengan tokoh Superman, Batman atau The Flash, Spiderman, merupakan tokoh paling favorit anak. Hampir setiap anak, pasti berfoto dengan tokoh manusia laba-laba tersebut.

image

Bahkan, tempat ini menjadi kreaifitas yang menghasilkan uang. Ada seorang yang berkostum robot dan kostum Spiderman. Saya jadi kepikiran untuk mengisi hari libur dengan berkostum super hero lain, dan ikut mendulang rejeki disana…kira2 tokoh super hero apa yaaa…..wkwkwkw

image

Hahahaha, baik Spriderman maupun si robot memberikan 3 gaya pose potret. Kalo si Robot Hijau, memberikan foto yang naratif. Diawali dengan persahabatan, lalu pertarungan, dan diakhiri dengan kekalahan sang Robot. Sedangkan Spiderman memilih memberikan pose-pose khas Spiderman. Dan untuk berpose dengan orang berkostum tersebut, tarifnya adalah kencleng se-ikhlasnya.

image

image

Berbeda dengan anak-anak perempuan. Mereka lebih suka main ayunan dan prosotan. Ayunan disini cukup banyak. Begitupun tempat duduk yang disediakan di taman ini, cukup banyak. Saya mendapati beberapa orang tua, yang tampak botram, membuka bekal dan timbel-nya ditaman ini. Duh jadi kabita untuk botram juga…
image

Tapi, seperti biasa. Untuk urusan kebersihan, warga kita memang belum bisa disamakan dengan negara lain. Negera kita lebih primitif kalo masalah kebersihan. Saya mendapati sampah berserakan. Kebiasaan buruk yang susah diubah. Bahkan, hanya untuk membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan pun masih tidak bisa. Bagaimana jika tidak disediakan tempat sampah…
image

Tuh kan, hanya tinggal membuka tutup tempat sampah saja, dan memasukan sampah bekas sendiri ke dalamnya, warga kita masih tidak mau. Tidak disiplin. Itu sebabnya, untuk urusan “penampilan wajah kota” negara kita tidak akan bisa bersaing, baik dengan negara tetangga seperti Malaysia maupun negara lain yang lebih maju.

Lalu, saya pun meninggalkan taman ini….dan melanjutkan piknik ini ke Taman Alun2 Bandung, yang terkenal dengan rumput sintetisnya….

*Meluncur ke Alun-alun Kota Bandung*

Mengisi Akhir Pekan #2 : Menikmati pagi, di Taman Cibeunying

Selesai naik Bis Bandros, kami masih ingin duduk2 di taman kota. Sambil saling berkisah-tentang antusias-bagaimana kami tadi berada Bis Bandros. Lalu, kami memilih sarapan bala-bala hangat dan segelas kopi di sebuah kios yang ada di pinggiran taman, dan duduk di bangku tembok yang kebetulan kosong. Di tempat yang teduh, kami ngariung mengerubuti bala sambil saling bercerita.

image

Waktu belum terlalu siang, tapi track batu yang biasa dipenuhi orang tua dan sepuh-sudah mulai sepi. Mungkin karena cuaca cerah, jadi sudah terasa terik walaupun masih jam setengah 10 pagi.

image

Sempat berfoto-foto dan membiarkan keponakan bermain sepuasnya. Menyenangkan berada di sebuah taman kota, rileks, menghirup udara segar, rekreasi murah meriah. Menerapkan dan melatih keponakan saya yang masih kecil2 untuk membuang sampah pada tempatnya.
image

Setelah berbenah, memastikan bahwa kami tidak nyampah di taman kota kebanggaan kami, lalu kami pun meluncur ke Taman Super Hero….

Mengisi Akhir Pekan #1 : Keliling Bandung Naik Bandros!

Sudah pernah naik Bandros??
image

Yeepp!! Ini bukan bandros makanan khas sunda, yang rasanya asin-gurih dengan campuran kelapa parut dan taburan kelapa muda serut yang dimasak dengan cetakan khusus. Tapi, BANDROS yang saya maksud disini adalah bis pariwisata bertingkat dua, untuk berkeliling kota dengan rute khusus. Nama BANDROS atau Bandung Tour On The Bus terpilih menjadi pilihan paling favorit saat menjadi nominasi pada sayembara khusus–penamaan yang cocok untuk bis pariwisata ini. Melengkapi gagasan-gagasan kreatif Walikota Bandung, Ridwan Kamil, Bandros kini menjadi salah satu ikon kota dengan tagline #BandungJuara.

Bagaimana cara naik Bandros?? Apakah Bandros hanya untuk perayaan khusus atau even tertentu? Seperti pernah dipakai untuk mengarak pemain PERSIB saat tim kebanggan kota Bandung ini menjadi juara?? Tidak, setiap orang bisa menikmati bis bertingkat 2 ini, baik grup, sekolah maupun perorangan. Pada awal beroperasinya untuk umum, Bis ini merapat di depan pintu Taman Pustaka Bunga atau Jl. Citarum. Calon penumpang berkerumun dan bergerombol, untuk antri maupun sekedar berfoto dengan bis berwarna merah ini. Tidak sedikit rombongan anak-anak dari TK hingga Sekolah Menengah Umum, antusias berkerumun di pinggiran jalan-yang tentu saja berbahaya. Akhirnya, stasiun atau tempat henti Bandros dipindahkan ke sekitar Taman Cibeunying-tak jauh dari tempat sebelumnya-hanya saja disini lebih aman, karena jalan lebih luas, tetapi debit kendaraan yang melintas tidak terlalu ramai.

Cara pemesanan tiket Bandros adalah dengan cara online. Kita tinggal follow akun twitternya @BusBandros dan simak lini masa. Pin BBM dan No Telepon yang bisa dihubungi tertera di profil akun tersebut. Jadwal akan diumumkan secara berkala, tanggal dan jam kosong yang bisa dipesan untuk umum. Bila tanggal dan jam lain sudah tidak bisa dipesan, bisa jadi waktu yang dimaksud sudah di booking oleh orang lain baik pelajar ataupun korporasi umum. Harga tiket untuk umum adalah 25rb per orang, sedangkan untuk grup pelajar atau anak sekolah dikenakan tarif 700rb, sedangkan untuk grup umum (non pelajar) dikenakan tarif 800rb. Cara pembayaran adalah melalui transfer ke nomor rekening yang sudah ditentukan, bukti transfer tinggal diperlihatkan untuk mendapatkan e-tiket. Bila sudah mendapatkan e-tiket, tinggal menunggu keberangkatan, dan siap-siap berkeliling kota sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan Gampang, kaaann??

Nah, kali ini saya memesan tiket untuk hari sabtu, tanggal 23 Mei 2015, jam 8 pagi. Menurut saya ini waktu yang sangat ideal untuk naik Bandros. Kalo masih kebagian ditingkat 2, maka jam 8 tidaklah terlalu panas, apalagi saya membawa 2 keponakan yang masih kecil-kecil. Sejak pukul 7 pagi, saya dan keponakan sudah bersiap-siap meluncur ke Taman Cibeunying. Keponakan tampak antusias. Wajahnya tampak bersemangat dan girang. Sepanjang perjalanan, mereka mengoceh tentang Bus Bandros. Melenceng 15 menit lebih dari yang dijadwalkan, pukul 8.15 Bus Bandros tampak merapat ke Taman Cibeunying. Calon penumpang yang hendak naik, mengejar dan berebut naik untuk mendapatkan tempat duduk diatas, di tingkat 2. Sangat tidak tertib dan ya gitu deh…namanya juga Indonesia.

Begitu naik ke tingkat 2, sebenarnya masih banyak kursi kosong. Begitu mau duduk, langsung di halangi : Eeehh, ini sudah ada penumpang, mereka masih di bawah kata salah seorang penumpang di bangku lain dan langsung dihalangi oleh tas! Di kursi berikutnya pun begitu, saya sempat jengkel juga, karena seharusnya siapa cepat dia dapat, tapi warga Bandung banyak sekali yang SERAKAH, seperti itu. Akhirnya saya menuju kursi paling depan. Alhamdulillah dpt 1 kursi bisa untuk 2 orang (bisa untuk adik dan kakakku – sementara keponakan ku, dipangku atau berdiri saja di sela2 kami dan itu space-nya cukup) Saya, berdiri saja diantara 2 kursi jajaran kiri dan kanan, tepat paling depan. Menghalangi pemandangan yang dibelakang?? Sengaja! Dan saya sih sudah tidak peduli, toh mereka juga memperlakukan saya curang…lagian ini kan bukan nonton pertunjukan musik atau film, pandangan masih luas bisa lihat kiri kanan kalo males liat pantat dan punggung saya..😆

Pada saat Bis Bandros mulai melaju, tour guide mendampingi perjalanan. Menjelaskan apa yang kita lewati di sepanjang sisi kiri dan kanan, informasi bangunan bersejarah di Kota Bandung. Kerap kali, saya (yang berdiri) harus merundukan badan karena kabel2 yang melintang atau ranting pohon yang terlalu rendah. Tour guide selalun mengingatkan dengan thoa : awas kabel, merunduuuukkk…. Awas rantiiiiiingg..? merunduuuuuukkk dibarengi jeritan “aaawwww” penumpang yang lain, dilanjut dengan tertawa terkekeh…. saya, keponakan, dan penumpang dibangku paling depan lain seru2 aja merunduk seolah nyumput dari serangan musuh…. (dan ternyata itu adalah bagian paling menyenangkan saat naik bis Bandros ini).

Sepertinya, bis Bandros ini sedikit miring ke kiri, tapi entahlah. Tapi dari hasil foto yang saya bidik, memang sepertinya bis ini miring. Tapi selama aman2 saja, hal tersebut tidak menghalangi kepuasan penumpang. Berdiri paling dengan view yang luas, memandang jalan-jalan membentang. Sabtu pagi, belum terlalu panas, jalanan pun masih relatif sepi… dan tidak menemukan kemacetan. Ada banyak kesempatan memotret di sepanjang jalan seperti Jl. Diponegoro, Jl. Dago, Jl. Merdeka, Jl. Asia Afrika, Jl. Braga, adalah istimewa bila kita bisa meng-capture gambar dengan pas. Ada beberapa bangunan bersejarah atau taman kota yang jadi cantik karena dibidik dari ketinggian Bis Bandros, dan bisa menjadi angle yang tidak umum. Wisata keliling kota di akhir pekan ini terbilang lancar saja, menghabiskan waktu sekitar 1 jam dan bis Bandros kembali ke Taman Cibeunying.

image

Selesai berkeliling kota, kami masih sempat berfoto2 di depan Bis Bandros, sebelum Bis Bandros berangkat kembali untuk sesi berikutnya. Kami, melanjutkan akhir pekan ini dengan piknik selanjutnya, yaitu sarapan dan duduk2 santai di Taman Cibeunying lalu Taman Super Hero….

Foto Bandros : Hasil Googling Internet 😆

Wisata Sendiri : Menelusuri Cigending sampe Ke Lembang (Bag 2 Selesai)

Jalanan berbatu yang saya tempuh sangat sepi dan berkelok-kelok sekitar 1 kilometer cukup membuat saya cemas. Bahagia rasanya saat berpapasan dengan pengendara sepeda motor lain. Lebih bahagia lagi saat melihat beberapa orang penduduk sedang merapikan hasil kebun seperti sayuran dan kol. Itu pertanda, ada perkampungan di sekitar sini. Saya tidak sendiri, ada makhluk lain di sekitar sini 😆.

Sampailah saya di sebuah jalan turunan yang menikung membentuk huruf U. Kebetulan ada petunjuk arah di tikungan tersebut.

image

Ujungberung ke kanan 11km sedangkan ke kiri arah lembang 18km. Yessss, agak sedikit lega, walaupun masih harus menempuh18km. Kebayang kan, Cigending sampe sini saja, yang jalannya bagus beraspal mulus, ternyata 11km, dan itu sudah terasa jauh. Nah ke Lembang masih 18km lagi, oh my God! Kalo jalannya bagus, jarak segitu sebetulnya itu bukanlah masalah. Tapi kita kan tidak pernah tau, seperti apa jalan yang akan dilewati nanti….

Tetiba saya mendengar serombongan 3 atau 4 sepeda motor dari belakang saya. *di tempat sepi gini 3 atau 4 sepeda motor serasa rombongan 😆 Assiiikk, ada temen. Sekelompok anak2 muda berboncengan yang sepertinya pencinta alam, dengan ransel2 besar yang sepertinya mau kemping. Tapi yang satunya bukan. Satunya lagi adalah seperti tukang ojek yang membonceng muatan sambil membawa pikulan baso tahu (atau cilok). Woooowww, menerjang medan begini rupa, sambil ngabonceng tukang cilok?? JUARAAAA!!

image

image

image

Tak mau tertinggal dengan rombongan kecil itu, saya pun jaga jarak agar beriringan dengan mereka. Beberapa kali saya melihat tukang ojeg itu seperti ngagal√©ong oleng. Hmmm, kepikiran… berapa bayarannya narik ojeg ke sini…¬† Sayangnya, setelah sekitar 2 kilo meter beriringan, sayapun kembali sendirian. Mereka-termasuk-ojeg yang membonceng tukang cilok-berbelok ke Wisata Perkebunan Kina BUKIT UNGGUL dengan medan makin terjal — menanjak. Good luck ya Mang, semoga usahanya lancar disana. Sedangkan saya lurus, dengan medan agak menurun dan jalanan mulai membaik.

image

Kembali menyusuri jalan sendirian. Yang membuat senang adalah sepanjang jalan–dan sejauh mata memandang, samping kanan-kiri jalan ditumbuhi tanaman perdu dengan bunga berwarna ungu. Wouw, seperti di film epik. Keren. Sangat Alami. Sambil melaju pelan, saya mendapati dua orang yang mungkin suami istri sedang botram dipinggiran jalan. Ah, mereka tampak sedang piknik yang membuka bekalnya di tengah perjalanan. Saya masih terus melaju. Ujung mata, saya melihat seseorang sedang duduk dibawah pohon sebelah kanan. Tetapi begitu saya menoleh, ternyata tidak ada. Tidak ada orang dibawah pohon yang baru saja saya lewati. Merinding. Bulu kuduk saya sontak berdiri. Saya tidak bisa menambah kecepatan motor tapi saya ingin segera menjumpai perkampungan….pengen segera meninggalkan hutan ini….

image

Bahagia itu adalah ketika dari jauh, melihat ke arah bawah ada papan hijau penunjuk arah. Disebelah kiri tampak pemukiman warga walaupun rumahnya renggang. Ada beberapa sepeda motor berjejer yang sepertinya tukang ojeg. Suara anjing saling menyalak, menguatkan bahwa hutan sudah berakhir dan memasuki perkampungan. Seorang pengendara sepeda motor tampak sedang bertanya arah menuju ujung berung pada salah seorang tukang ojek yang di jawab oleh tukang ojeg “sanes tebih deui A, jauuuhh. Dan saya hanya bisa tersenyum dan berkata dalam hati “mangga cobian akaaaang* 😝

image

Plong rasanya memasuki jalan aspal lagi. Walaupun dikiri lembah dengan pemandangan indah, di sebelah kanan tebing dan hutan lembab. Air dari sisian tebing sampe moncer ke jalanan dan membuat jalanan licin dan berlumpur. Pengendara motor mulai banyak. Begitu juga yang gerak jalan menuju arah hutan kina. Suasana mulai seperti desa yang terpencil. Saya bahkan merasa sudah ada di Lembang, tapi entah bagian sebelah mana. Kemudian, saya mendapati penjual bensin eceran, saya mencoba menepi untuk mengisi bensin-yang ternyata-masih cukup. Membeli 1 liter bensin sambil bertanya pada Teteh penjual bensin, sebarapa jauh menuju Lembang. Ternyata, menuju Lembang itu hanya tinggal setengah jam, dengan medan datar. Begitu kata si Teteh.

Benar saja, saya mendapati alamat pinggiran jalan bertuliskan Jl. Maribaya Timur, Cibodas Lembang. Yihaaa. Saya merasa kembali ke peradaban. Pemandangan sudah bukan tujuan lagi. Sekarang adalah saatnya mencari jalan pulang. Motor terus melaju tanpa khawatir tersesat yang apalah apalah, gimana gitu. Apalagi setelah di depan Burgundy ada plang penunjuk arah : –>> Lembang, –>> Maribaya, <<— Dago Giri. Aahh, tentu saja saya pilih arah menuju Jalan Dago Giri.

Di jalan Dago Giri ini, banyak kendaraan plat B yang mengambil arah pintas menuju Lembang. Saya sebaliknya, menuju arah turun. Sampai saya melihat lembah sebelah kanan–yang dari kejauhan terlihat tepian bukitnya. Dan saya tahu, itu adalah jejeran kedai timbel Punclut. Yess. Bahkan, tak lama kemudian saya melewati kafe terkenal Lawang Wangi. Alhamdulillah, 5menit lagi saya akan menjumpai kemacetan jalan cagak Dago kemudian terminal Dago, berlanjut ke Simpang Dago, lalu saya pun pulang kembali ke arah Ujungberung.

Alhamdulillah…..

BE3 & Lusy : Project Yang Ditunggu oleh Fans

Yap, benar!! Ini adalah “AB Three” Kini, mereka kembali untuk sebuah eksistensi di dunia musik Indonesia. Grup yang memiliki harmoni vokal paling keren dengan koreografi ciamik pada masa itu, kembali hadir dan mencoba menjajal pasar musik tanah air dengan sebuah kejutan. Mereka, Widi, Nola dan Chynthia membuat sebuah project musik bersama Lusy Rahmawati.
image

Berganti nama menjadi Be3, rasanya trio vokal ini belumlah menemukan hoki-nya. Mapan dalam pertunjukan panggung off air, tapi belum berhasil dalam mengemas sebuah single atau album. Adalah sebuah kejutan manakala terbetik kabar bahwa Lusy, merapat kembali ke grup vokal yang sempat membesarkan namanya selama 7 tahun. Melalui akun instagramnya, Nola sedikit demi sedikit membocorkan project kerjasamanya bersama Lusy. Hal ini mendapat respon yang sangat positif dari Be Friends-sebutan untuk fans AB Three. Bahkan sebagian dari komentar yang bermunculan adalah keinginan publik untuk melihat mereka bernyanyi ber-empat dalam satu kesatuan utuh.

Akhirnya, project itu resmi di launching dengan nama Be3 & Lusy ditandai dengan single berjudul PERTAMA ciptaan Bebi Romeo. Sebuah merk baru Be3 & Lusy, mulai di perkenalkan kepada publik melalui akun instagram resmi @Be3_Official. Nola pun tampak gencar memposting foto2 kerja sama yang hasilnya sangat ditunggu oleh Be Friends. Bahkan Lusy pun mulai membuka akun instagram dan mulai mempublikasi proses kreatif melalui foto-foto di akun pribadinya.
image

Belum diketahui, seperti apa hasilnya single PERTAMA yang soft launching-nya dikabarkan hari ini 17-5-2015. Tapi, kehadiran Lusy kembali ke Be3 adalah nyawa yang membuat Be3 menjadi “hidup”. Proses kreatif yang ditunjukan pada postingan akun instagram, terlihat bagaimana mereka berempat berlatih harmoni vokal, berlatih koreo hingga proses pemotretan patut ditunggu hasilnya.
image

Pastinya tidak berlebihan bila publik mengharapkan sesuatu yang baru dari Be3 & Lusy. Sesuatu yang fresh dan mendobrak paradigma girl band saat ini yang bikin tepok jidat manakala tampil secara live. Kehadiran Be3 & Lusy dalam “kemasan baru” ini diharapkan memberikan harmoni yang lebih spesial, seperti misal koreo yang biasa dibawakan bertiga menjadi berempat. Lagu yang biasa dinyanyikan bertiga dipecah menjadi berempat, baik pada lagu baru maupun lagu lama yang diarransemen ulang.
image

Pada saat formasi Widi-Lusy-Nola, harmoni vokalnya terasa pas dengan alto, mezzo sopran dan sopran. Sedangkan bersama Cynthia harmoninya menjadi alto-alto-sopran. Jika digabungkan dengan Lusy, maka akan luar biasa, karena 2 vokal alto berharmoni dengan 1 vokal mezzo dan 1 sopran. Be3 & Lusy diharapkan memberi angin segar karena single PERTAMA mereka belum secara resmi diluncurkan. Tentunya Be Friends tanah air berharap bisa mendapatkan album utuh, bukan sekedar single, karena album adalah bukti nyata totalitas sebuah karya musik.

Good luck Be3 & Lusy….
image

Foto-foto : instagram @Be3_Official, @Nola_Be3

Wisata Sendiri : Menelusuri Jalan Cigending sampai Ke Lembang (Bag 1)

Bosan mager di rumah, hari ini saya memilih berpetualang #WisataSendiri. Kali ini target saya adalah : Menelusuri Jl. Raya Cigending – Ujungberung, Bandung. Sebelumnya, saya pernah dapat info bahwa kalo diteruskan menelusurinya, maka kita akan sampai ke Lembang. Nah, sedikit penasaran maka pagi tadi saya beranikan diri untuk menyisir jalan yang setiap hari di lewati, tapi tidak pernah lebih jauh dari komplek rumah saya yaitu Griya Winaya. Selepas sarapan Kupat Tahu enak di Jl. Cagak Cinangka, saya meluruskan niat.

Bismillah…. saya mulai melaju dengan motor shogun kesayangan, tanpa menoleh ke kanan dimana ada pos satpam dan gapura bertuliskan Komplek GRIYA WINAYA. Saya mantap, menuju “jalan lurus” yang kemudian menanjak dan berbelok ke arah kanan. Menanjak…dan terus menanjak…pantas saja disebut Tanjakan Panjang. Tapi jalanan bagus, dibeton…jadi motor bisa melaju dengan nyaman. Setelah dirasa-rasa lebih dari 3 kilometer, jalanan mulai sepi. Rumah penduduk mulai jarang. Yang ada sawah-sawah berundak mengikuti kontur pegunungan, dengan latar gunung-gunung dihiasi awan tipis. Sayangnya walaupun langit cerah, cuaca tidak benar2 clear, sehingga pemandangan indah di depan mata terasa kurang beniiiiiing.

Seperti biasa, saya menepi dan memarkir motor di tempat yang aman. Berdiri memandang alam dan sekitarnya. Saya selalu takjub dan bahagia saat melihat keindahan alam seperti ini….

image

Andaikan cuaca lebih bersahabat dan mengijinkan saya melihat keindahan lekuk gunung itu… Hmmmm…..puas memandang lukisan Tuhan, saya lanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan kali ini, saya dimanjakan oleh alam yang menyuguhkan pemandangan indah.

Setelah melewati sawah, ladang dan perkebunan warga, berikutnya adalah hutan pinus. Walaupun tidak terlalu rapat, dan masih renggang, tapi dari kejauhan saya melihat lekukan2 gunung bergerigi yang mendeskripsikan kalo itu hutan pinus. Well, saya menjumpai mobil-mobil yang beristirahat setelah “melepas” sepeda gunungnya. Mereka beristirahat di sebuah kedai minum-yang ternyata saya tidak menemukan ada kedai lagi sejauh berkilo-kilometer di depan.

image

image

Oke….awan tampak sudah berwarna abu-abu. Saya hanya berharap tidak hujan di petualangan kali ini. Betapa repotnya kalo sampe hujan. Selain khawatir kabut turun, saya pun bingung karena tidak ada tempat buat neduh…. Dengan sedikit was-was, saya melanjutan perjalanan….

Hutan pinus sudah mulai rapat….sangat rapat bahkan. Udara mulai terasa lebih dingin. Angin berhembus sangat segar….. sejauh mata memandang, hanya hutan pinus saja. Saya jarang berpapasan dengan pengendara motor lain. Tapi, ada beberapa mobil bak terbuka membawa sepeda gunung-sepertinya hendak berwisata sepeda melintas hutan pinus.

image

Jalanan tampak sepi, dengan hutan pinus sebelah kanan. Hutan pinus ini sangat rapat…. sedangkan sebelah kiri tidak terlalu rapat.

image

Beginilah medan yang ditempuh, jalan bagus dan mulus. Hanya saja sepi. Sepi sepi sendiri aku benci, pecahkan saja gelasnya biar ramai *melantur*, sampai saya ragu-antara melanjutkan perjalanan atau balik kembali ke Ujungberung….

Banyak pemandangan bagus dan indah. Tetapi, perasaan saya masih tercabik antara menyenangkan dan khawatir kehabisan bensin, karena saya belum bisa memprediksi, sejauh mana kira2 saya bisa sampai ke Lembang. Tak lama setelah melewati perkampungan kecil saya sedikit bernafas lega. Kembali melipir pingiran jalan untuk mencari informasi, dimanakah saya berada. Hutan yang ada menghampar di hadapan sudah bukan lagi pinus, tapi hutan kina.

image

Pemandangan yang menghampar dibawah sana, tak berbeda jauh dengan pmandangan di Tebing Keraton. Ujung pohon pinus yang lancip, membentuk gerigi yang indah berpadu dengan hutan kina.

image

…dan begini keterangannya :

image

Oouuuwwww…..ternyata saya memasuki area Wisata Kebun Kina milik PT. Perkebunan Negara VIII. Ya….ya… Lalu, Lembangnya sebelah mana, entahlah…..pastinya masih jauh. Karena belum ada tanda atau penunjuk arah yang menunjuk ke Lembang. Tidak boleh putus asa, tidak boleh ragu, harus mantap melanjutkan petualangan ini. Beberapa puluh meter setelah melanjutkan perjalanan, saya harus menerima kenyataan bahwa kali ini jalanan yang dilalui tidak seindah yang tadi. Jalanan berbatu, sedikit terjal dan licin-yang sepertinya-kalo tidak hati2 motor akan mudah tergelincir. Ya Alloh, jangan sampe motor saya mendadak kempes ban atau bocor ditempat terpencil dengan medan seperti ini….

Kira-kira sejauh apa ya jalanan berbatu ini…..

*bersambung*

Keindahan Senja

Ada banyak orang, yang beruntung bisa menyaksikan keindahan langit senja. Sebagian mungkin tidak peduli. Sebagian lain, mungkin mengabadikannya. Ada juga yang sengaja menunggu senja baik di pantai maupun di pegunungan. Trus, kalo yang mengejar senja?? Ada! Saya dan rombongan termasuk yang pernah mengejar senja, khawatir sunset yang hanya beberapa menit itu terlewatkan.

Berikut ini, pengalaman saya menyaksikan keindahan langit senja yang sempat saya capture.
image

Ini adalah senja di langit borneo. Beberapa saat sebelum mendarat di Kalimantan, saya mendapat suguhan sebuah pemandangan luar biasa indah. Sunset dari angkasa dengan pemandangan yang amat sangat luas, tanpa batas…
image

Saya berada di Masjid Unisba, mau sholat maghrib. Pada saat saya mengcapture gambar ini, saya takjub dengan permukaan awan seperti kabut yang berwarna merah, sementar nun jauh di sebelah barat, langit tanpa awan berwarna keperakan. Shiluet hotel Novotel terlihat jelas dari arah Jl. Tamansari.

image

Kalo yang ini, saya berada di ketinggian kawasan Dago, tepatnya di Bukit Dago Pakar. Saya berada di parkiran sebuah kafe yang tidak terhalang pembatas, sehingga pemandangan ke arah matahari tenggelam bisa di capture dengan leluasa.

image

Ini di sebuah tempat, yang beken di tahun 2014 kemarin. Yap, ini di Dulang! Saya mendapat pemandangan misty berkabut sesaat setelah hujan gerimis. Awan bergumpal bagian tengah tampak seperti celah terbuka dan berwarna keperakan terpantul semburat sisa2 sinar matahari yang akan tenggelam. Beruntung, menjelang sunset, langit kembali clear, beniiing.

image

Pelangi indah ini saya dapatkan menjelang tahun baru 2015 di Jl. Jakarta Antapani, arah Arcamanik. Jadi, saat itu saya baru pulang dari Kircon dan sempat berteduh karena hujan. Saya selalu senang melihat pelangi, apalgi kalo warnanya tebal-tidak bias atau pucat. Pelangi yang saya lihat ini melengkung setengah lingkaran, seakan membelah langit. Kereen!