Bahagia itu (kadang) memang sederhana

Cukup lama saya tidak meng-update dan tidak memposting apapun ke blog. Entahlah, awalnya saya pikir pekerjaanku yang sekarang sangat menyita waktu. Tapi kembali saya berbalik pikir, masa iya sibuk sampe segitunya–lha orang yang lebih sibuk dari saya pun masih bisa memposting dengan teratur, posting sesuatu yang bermanfaat, berbagi pengalaman….

Sejak awal tahun 2015, ada banyak kejadian yang menarik di Kota Bandung. Dulu, saya selalu ingin hadir di acara seremonial. Mencoba menuangkan gambar dari foto2 yang saya bidik ala kadarnya dari smartphone, mengola kata demi kata hingga bisa melaporkan kejadian baik di jumpa pers penyanyi anu, konser musik penyanyi itu–atau menceritakan situasi taman kota yang baru saja dibuka, misalnya.

Tetapi sekarang?? Saya acuh tak acuh dengan moment2 yang–kalo dulu saya kecewa jika melewatkannya. Bahkan, momen akbar sekelas Konferensi Asia Afrika pun tidak sanggup mengeluarkan si katak dalam tempurungnya. Bukan cuma blog, saya juga sudah jarang berkicau di twitter. Sekedar mengucap selamat pagi, me RT atau mem-favorit twit2 bagus, udah jarang. PATH?? Aplikasi sosial yang katanya sedang happening pun, sudah lama saya tinggalkan. Yang ada dibenak saya adalah “membosankan!”

Lalu, mau sampai kapan, kejenuhan ini memenuhi kepala?? Mau sampai dimana terseret-seret dengan rasa bosan ini?? Adalah wajar jika kita merasa jenuh, atau bosan….itu pernah terjadi juga beberapa waktu lalu. Tapi kalo jeda-nya kelamaan, pasti ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang salah, yang saya pun tidak tau itu apa. Hebatnya, si faktor pembeku ini, berhasil membekukan ide, kreativitas, inisiatif, keingintahuan, ambisi dan hal2 lainnya.

Sadar atau tidak sadar, seperti terjadi pembodohan dalam kepala saya. Entahlah, hanya saja saya merasa bodoh. Otak saya merasa tumpul. Pola pikir saya jadi seperti sempit, wawasan saya nampak tidak bertambah. Otak saya tertutup, seperti terkungkung… *muncul pikiran membandel : emang dengan menulis di blog, otak menjadi lebih pintar?? Pola pikir menjadi lebih terbuka?? Aktif di medsos, bisa lebih cerdas?? Eksis di twitter, wawasan bisa menjadi lebih luas, begitu? #PikiranTetapMembandel #SementaraNuraniMemberontak

Saya sudah jauh dari buku. Ini pun menjadi salah satu faktor, bahwa saya tertinggal banyak dari orang lain yang membaca buku, alias saya BODOH! Target saya membeli-minimal-1 buku setiap bulan-masih menjadi wacana dikepala. Belum terealisasikan. Datang ke taman bacaan seperti Zoe (Zona Edutainment) pun belum sanggup membuat saya kembali menyukai buku. Aneh kaaann??

Adalah satu keberuntungan, manakala sebuah pelatuk ditembakan memecah kebekuan pikiran. Pelatuk itu datang dari niat mengajak keponakan saya untuk menyantap makan malam di sebuah tempat makan di Braga. Sesudah acara makan, saya dan dua keponakan berjalan menyusuri Braga. Kota Bandung yang bersolek menjelang Konferensi Asia Afrika, masih masih menampilkan sisa-sisa kecantikannya dari polesan ide kreatif Pak Walikota Ridwan Kamil. Menyusuri suasana vintage jalan Braga di malam hari….menikmati keanggunan gedung-gedung bernuansa retro dengan permainan tata cahaya yang membuat gedung di sekitar Asia Afrika itu nampak elok dan elegan.

Saya pun memotret. Saya membidik keponakan saya yang tampil narsis dan antusias pengen di foto disana dan disini. Dua jam saya berkeliling disekitar Braga-Asia Afrika-Cikapundung. Selama dua jam pula, saya lupa kalau dikantor sedang banyak pekerjaan. Saya lupa, dengan berbagai persoalan. Dua jam, saya melupakan permasalahan dan masuk ke sebuah gelombang antusias yang dinamakan “suka”. Padahal, yang saya lakukan hanyalah memotret yang hasilnya pun “ya gitu deh”. Entahlah pencampuran kimia apa yang terjadi dalam diri saya. Yang saya tahu, dua jam berlalu dan saya bahagia. Cuma memotret pake smartphone, jeprat jepret objek yang menurut saya bagus, haslinya “ya gitu deh” bisa menjadikan bahagia?? Iya. Saya bahagia.

Efeknya?? Saya ingin mendatangi lagi Braga dan sekitarnya pada siang hari. Untuk apa??? Untuk memotret. Tak perduli hasil fotonya seperti apa, yang jelas, saya ingin bahagia….saya ingin mengulang rasa senang pada saat asik memotret. Faktanya, pada saat itu saya berbahagia. Efek lainnya?? Saya ingin menuliskan pengalaman, ingin berbbagi senang, berbagi ilmu, berbagi sedih….

Hush, blog bukanlah diary atau buku harian, yang semuanya di ceritakan, semua keluh kesah ditulis. Tapi minimal, minat dan inisiatif untuk kembali menulis itu tetiba muncul lagi. Muncul begitu saja, sesaat setelah saya memotret. Sederhana….iya, sesederhana itu… PR saya adalah bagaimana mempertahankan agar minat yang sdh muncul ke permukaan, tidak kembali tenggelam dan menjadi beku yang menjadikan saya kembali jahiliyah. Wheeww…

image

5 thoughts on “Bahagia itu (kadang) memang sederhana

  1. Saya malah lagi berusaha ga beli buku A’ Iwan, karena tumpukan buku di rumah masih menggunung dan masih tersampul plastik ><

      1. aku yang berusaha konstan nulis English Friday a Iwan *yah walaupun submitnya suka telat juga sih*. Sisanya mah kalau lagi mood dan ada yang pengen dibagi.
        aku juga lagi berusaha sih baca buku, jadilah bukunya dibawa-bawa terus biar ingat dibaca😀

      2. Asik banget bisa kayak gitu…untuk memancing minat baca, saya beli koran tiap hari, eeeeh belum berhasil Ra. Saya coba beli tabloid gadget -yg ini rada mending, saya baca 2/3 isinya. Kalo soal sharing, menulis, sdg saya pancing2 supaya bisa konstan. Ira sdh sgt bagus bisa submit secara teratur (yg english-nya, tiap jum’at-misalnya). Saya mau contoh konsistennya Ira 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s