Wisata Sendiri ke Curug Batu Templek

Siang ini saya ber #WisataSendiri. Sepulang dari tugas kantor, waktu saya kosong. Mau pulang ke rumah juga ngapain, paling2 tidur atau nyuci *pekerjaan paling males dikerjakan 😆*. Setelah saya melipir ke kedai lotek Ma Engkoy di sekitar Cikadut, saya memutuskan menuju Curug Batu Templek di kawasan Jl. Pasir Impun, tidak jauh dari Cikadut.

Sebelumnya, saya mengajak beberapa teman untuk wisata hunting foto, atau wisata murah meriah. Tapi, kurang mendapat respon mengingat teman2 lebih suka wisata kuliner, dan menjajal makanan2 baru (waduuuhh, kalo lagi tongpess begini, wisata kulinernya skip dulu 😥). Maka, saya pun meluncur ke menuju jalan Pasir Impun. Saya belum tau, dimana tepatnya Curug Batu Témplék ini, tapi karena niatnya juga jalan2 jadi seketemunya saja. Kalo ketemu syukuuuur…kalo gak ketemu ya nanyaaaa….malu bertanya, cek via GPS dooong.

Nah, setelah melewati jalan besar Pasir Impun Atas, jalan beton pun berakhir. Berikutnya memasuki jalan aspal yang beberapa bagian renjul dan berlubang, ada beberapa tanjakan tapi tidak terlalu curam. Masih oke lah dilalui motor. Pemandangan di sekitar sini sdh mulai indah. Pegunungan nampak jelas di pelupuk mata. Pada bagian yang lain, hamparan kota Bandung terlihat “terpampang nyata”. Alhamdulillah, cuaca sedang bagus, jadi pemandangan nampak clear, beniiiing. Dari kejauhan Stadion GBLA yang seperti donat abu-abu, ada bangunan seperti wafer berdiri-yang saya terka  itu adalah apartemen menjulang di sekitar Soekarno Hatta yang sebelum Gede Bage itu. Ada bangunan2 lain yang membuat saya menerka-nerka….

Inilah pemandangan yang sempat saya lewati menjelang sampai ke Curug.

image

image

image

Sampailah saya di suatu jalan yang mulai agak sepi. Halah…curiga saya kesasar 😆. Setelah nanya pada penduduk sekitar—beneran nanya penduduk gak pake liat GPS loh— ternyata saya sudah dekat dengan curug. Tapi, curug yang pertama sudah kelewat. Yang ini curug yang kedua, begitu menurut si Bapak penunjuk arah. Oke laaah, kalo gitu saya kunjungi dulu Curug yang ini saya sebut Batu Templek 2 (Padahal si Bapak sudah sebutkan nama curug-nya, tapi lupa 😆).

Memasuki jalan kecil yang tadi ditunjuk sama si Bapak, saya ragu-ragu. Sebuah turunan sempit dengan satu sisi sebelahnya gawir dengan batu-batuan terjal. Seperempat jalan, saya menyesal…seharusnya motor saya parkir saja di atas, dimana saya tadi bertanya sama si Bapak penunjuk jalan. Kagok gak bisa balik lagi saya terus meluncur pelan dan berhati-hati. Saya yakin, kalo musim hujan, jalan tersebut pasti sangat-sangat licin. Well, akhirnya tak berapa lama saya menemukan Curug Batu Templek 2. Tadaaaaa……

image

image

Sudah ada beberapa motor juga yang terparkir di depan curug. Ada yang sedang berselfie ria, ada juga yang sekedar duduk-duduk saja dan yang ekstrem-dan ini nampaknya oke-adalah yang memanjat batu dan bertengger disana sambil ‘say cheeee’ 😆. Sementara pada bagian yang lain, terdengar suara batu yang sedang di pecahkan. Oh ya, mengingat ini adalah tempat penambangan batu templek (batu pipih), jadi memang bukan objek wisata komersial. Entahlah kedepannya, kalo diminati pengunjung bisa saja menjadi komersil-seperti halnya Tebing Keraton-yang pada awalnya tidak berbayar dan bukan tempat yang menjadi destinasi wisata.

Selesai mengambil beberapa gambar, saya kembali naik keatas dengan agak susah payah. Terima kasih, motor tua-ku yang akhirnya sukses membawa saya naik kembali ke jalan raya-walau sedikit ampul-ampulan. Dari Curug Batu Templek 2, saya kembali menyusur jalan arah pulang. Pelan dan santai saja, sambil memperhatikan jalan dengan saksama, bagaimana bisa curug yang saya maksud itu bisa “terlewati” begitu saja. Setelah melewati sekitar 300 meter, terdengar suara air. Ah, takut terlewat sayapun menepi dan berjalan mencari sumber suara. Ah, benar saja, tepat dibawah sana adalah Curug Batu Templek yang saya maksud.

Saya mencari “gang” dimana akses masuknya. Menemukan sebuah turunan, saya berjalan kaki menyusuri turunan terjal berbatu. Beberapa kali berpapasan dengan pekerja pikul pengangkut batu. Aaahh, sudah dekat…agak bersemangat walaupun masih gak yakin, separah ini kah akses menuju Curug yang lagi ramai di perbincangan di medsos via @infobdg ini??

Saya memotret batu menjulang, yang menurut saya bentuknya seperti pamatuk burung yang patah. Hehehe, imajinasi yang berlebihan….
image

Berpapasan dengan pekerja kuli angkut batu templek. Ya ampuuun hebatnya pekerja ini. Bembawa beban batu, naik ke atas…ke pinggiran jalan raya, dimana mereka menata batu2 tersebut disana. Yang saya rasa saat kembali ke atas, cukuplah membuat saya ngos ngosan….
image

Betapa antusiasnya saya melihat tebing menjulang dihadapan saya. Walaupun air terjunnya keruh, tapi setidaknya saya sudah menemukan si Curug Batu Templek ini. Tapiiiii….tapiiii…. bentar, sepertinya saya salah ambil posisi. Saya salah akses masuk. Dari tempat saya berdiri, saya melihat ke arah bawah dengan leluasa. Lembah raksasa dengan dinding batu. Kalo selama ini kita melihat miniatur air terjun bendinding batu di sebuah taman atau restoran, maka yang ada di hadapan saya adalah miniatur dari sebuah mahakarya Sang Pencipta. Ya, Dinding batu beneran. Dari tempat pertambangan batu templek tersebut, tidak ada akses ke tempat lebih bawah-dimana saya melihat orang2 sedang berfoto2 beramai-ramai.
image

image

Positif!! Saya salah akses masuk. Ini mah pertambangan batu templek. Setelah puas memotret lembah yang menakjubkan ini, saya pun segera naik ke atas, ke tepian jalan raya. Ngos ngosan pasti. Tapi semakin bergairah. Baru saja saya salah akses masuk ke curug dan sebelumnya kesasar hingga menemukan curug lain, tapi saya sudah menemukan 2 titik tempat fotografi yang tak terduga. Menyenangkaaaan.

Akhirnya, saya menemukan akses masuk menuju Curug Batu Templek. Setelah memarkir motor, saya menyusuri turunan yang-sepertinya ini lebih baik daripada akses curug yang pertama tadi. Akses jalan sdh disemen, karena ternyata di sekitar curug ada pemukiman warga.

Inilah foto Curug Batu Templek yang airny keruh bagaikan air bajigur.
image

image

image

image

Indah siiihh….tapi sayang, airnya sedang keruuuuhh….(teuteup bagian air keruh-nya saya kecewa). Tapi setidaknya saya sudah menemukan tempatnya. Cuuuzzz ah, pokoknya minggu depan harus kesini lagi, siapa tahu airnya sudah jernih….. *siul-siul sambil pulang*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s