Wisata Sendiri : Menelusuri Cigending sampe Ke Lembang (Bag 2 Selesai)

Jalanan berbatu yang saya tempuh sangat sepi dan berkelok-kelok sekitar 1 kilometer cukup membuat saya cemas. Bahagia rasanya saat berpapasan dengan pengendara sepeda motor lain. Lebih bahagia lagi saat melihat beberapa orang penduduk sedang merapikan hasil kebun seperti sayuran dan kol. Itu pertanda, ada perkampungan di sekitar sini. Saya tidak sendiri, ada makhluk lain di sekitar sini 😆.

Sampailah saya di sebuah jalan turunan yang menikung membentuk huruf U. Kebetulan ada petunjuk arah di tikungan tersebut.

image

Ujungberung ke kanan 11km sedangkan ke kiri arah lembang 18km. Yessss, agak sedikit lega, walaupun masih harus menempuh18km. Kebayang kan, Cigending sampe sini saja, yang jalannya bagus beraspal mulus, ternyata 11km, dan itu sudah terasa jauh. Nah ke Lembang masih 18km lagi, oh my God! Kalo jalannya bagus, jarak segitu sebetulnya itu bukanlah masalah. Tapi kita kan tidak pernah tau, seperti apa jalan yang akan dilewati nanti….

Tetiba saya mendengar serombongan 3 atau 4 sepeda motor dari belakang saya. *di tempat sepi gini 3 atau 4 sepeda motor serasa rombongan 😆 Assiiikk, ada temen. Sekelompok anak2 muda berboncengan yang sepertinya pencinta alam, dengan ransel2 besar yang sepertinya mau kemping. Tapi yang satunya bukan. Satunya lagi adalah seperti tukang ojek yang membonceng muatan sambil membawa pikulan baso tahu (atau cilok). Woooowww, menerjang medan begini rupa, sambil ngabonceng tukang cilok?? JUARAAAA!!

image

image

image

Tak mau tertinggal dengan rombongan kecil itu, saya pun jaga jarak agar beriringan dengan mereka. Beberapa kali saya melihat tukang ojeg itu seperti ngagaléong oleng. Hmmm, kepikiran… berapa bayarannya narik ojeg ke sini…  Sayangnya, setelah sekitar 2 kilo meter beriringan, sayapun kembali sendirian. Mereka-termasuk-ojeg yang membonceng tukang cilok-berbelok ke Wisata Perkebunan Kina BUKIT UNGGUL dengan medan makin terjal — menanjak. Good luck ya Mang, semoga usahanya lancar disana. Sedangkan saya lurus, dengan medan agak menurun dan jalanan mulai membaik.

image

Kembali menyusuri jalan sendirian. Yang membuat senang adalah sepanjang jalan–dan sejauh mata memandang, samping kanan-kiri jalan ditumbuhi tanaman perdu dengan bunga berwarna ungu. Wouw, seperti di film epik. Keren. Sangat Alami. Sambil melaju pelan, saya mendapati dua orang yang mungkin suami istri sedang botram dipinggiran jalan. Ah, mereka tampak sedang piknik yang membuka bekalnya di tengah perjalanan. Saya masih terus melaju. Ujung mata, saya melihat seseorang sedang duduk dibawah pohon sebelah kanan. Tetapi begitu saya menoleh, ternyata tidak ada. Tidak ada orang dibawah pohon yang baru saja saya lewati. Merinding. Bulu kuduk saya sontak berdiri. Saya tidak bisa menambah kecepatan motor tapi saya ingin segera menjumpai perkampungan….pengen segera meninggalkan hutan ini….

image

Bahagia itu adalah ketika dari jauh, melihat ke arah bawah ada papan hijau penunjuk arah. Disebelah kiri tampak pemukiman warga walaupun rumahnya renggang. Ada beberapa sepeda motor berjejer yang sepertinya tukang ojeg. Suara anjing saling menyalak, menguatkan bahwa hutan sudah berakhir dan memasuki perkampungan. Seorang pengendara sepeda motor tampak sedang bertanya arah menuju ujung berung pada salah seorang tukang ojek yang di jawab oleh tukang ojeg “sanes tebih deui A, jauuuhh. Dan saya hanya bisa tersenyum dan berkata dalam hati “mangga cobian akaaaang* 😝

image

Plong rasanya memasuki jalan aspal lagi. Walaupun dikiri lembah dengan pemandangan indah, di sebelah kanan tebing dan hutan lembab. Air dari sisian tebing sampe moncer ke jalanan dan membuat jalanan licin dan berlumpur. Pengendara motor mulai banyak. Begitu juga yang gerak jalan menuju arah hutan kina. Suasana mulai seperti desa yang terpencil. Saya bahkan merasa sudah ada di Lembang, tapi entah bagian sebelah mana. Kemudian, saya mendapati penjual bensin eceran, saya mencoba menepi untuk mengisi bensin-yang ternyata-masih cukup. Membeli 1 liter bensin sambil bertanya pada Teteh penjual bensin, sebarapa jauh menuju Lembang. Ternyata, menuju Lembang itu hanya tinggal setengah jam, dengan medan datar. Begitu kata si Teteh.

Benar saja, saya mendapati alamat pinggiran jalan bertuliskan Jl. Maribaya Timur, Cibodas Lembang. Yihaaa. Saya merasa kembali ke peradaban. Pemandangan sudah bukan tujuan lagi. Sekarang adalah saatnya mencari jalan pulang. Motor terus melaju tanpa khawatir tersesat yang apalah apalah, gimana gitu. Apalagi setelah di depan Burgundy ada plang penunjuk arah : –>> Lembang, –>> Maribaya, <<— Dago Giri. Aahh, tentu saja saya pilih arah menuju Jalan Dago Giri.

Di jalan Dago Giri ini, banyak kendaraan plat B yang mengambil arah pintas menuju Lembang. Saya sebaliknya, menuju arah turun. Sampai saya melihat lembah sebelah kanan–yang dari kejauhan terlihat tepian bukitnya. Dan saya tahu, itu adalah jejeran kedai timbel Punclut. Yess. Bahkan, tak lama kemudian saya melewati kafe terkenal Lawang Wangi. Alhamdulillah, 5menit lagi saya akan menjumpai kemacetan jalan cagak Dago kemudian terminal Dago, berlanjut ke Simpang Dago, lalu saya pun pulang kembali ke arah Ujungberung.

Alhamdulillah…..

4 thoughts on “Wisata Sendiri : Menelusuri Cigending sampe Ke Lembang (Bag 2 Selesai)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s