Curhat Sebelum Tidur

Jadi, ceritanya tadi siang, saya ikut berbaur dengan bapak-bapak di komplek perumahan untuk bekerja bakti. Minggu lalu, saya cuma ikut bantu2 sedikit. Kemarin, saya juga cuma bantu ngecat, itupun sebentar karena saya sedang sakit kepala. Trus kabuuurr…

Nah, minggu pagi….leher saya masih terasa sakit dan pegal + kepala saya masih berat dan pening. Daripada seharian tidak efektif, saya memaksakan minum obat sakit kepala, lalu tidur. Agak sore, terbangun karena suara2 (yang nampaknya) di depan rumah banyak orang (duuh, curiga sedang melanjutkan kerja bakti).

Saya intip dari balik jendela kamar. Benar saja!! Mereka tampak sedang menimbun lahan dengan tanah urugan yang selama ini di kerjakan, untuk menjadi RTH (Ruang Terbuka Hijau). Posisinya persis di depan rumah–seberang jalan. Duh, kalo sampe gak keluar rumah, asa teung-teuingeun. Kalo keluar, dan ikut berbaur saya masih agak…… (tanpa pikir panjang, saya menyambar Panadol Merah–ups maaf sebut merk–menelan obat favorit tersebut). Sesaat, saya langsung melesat keluar, dan ikut bergabung dengan bapak-bapak….

Belum tau, apa yang bisa saya kerjakan, yang penting ikut gabung aja dulu.. Saya sempat balik kanan, dan ikut menyumbang soft drink 1,5 liter yang selama ini jadi pajangan kulkas. Lalu kembali memperhatikan situasi….*sambil berkata dalam hati : lha masa tanaman lidah mertua di jadikan pager begitu, apa indahnya?? Malah nutupin pemandangan di belakangnya. Kalo mau juga, tanaman lidah mertua itu di belakang, karena termasuk tanaman tinggi yang…..—seolah saya tau sedang memikirkan taman tersebut—Pak RT langsung menyapa saya….Naaahh, Pak Ridwan mangga…. lahan ini dibuat cantik terserah Pak Ridwan. Kalo ada ide2, atau bagusnya lahan ini digimanain, mangga…..saya serahkan pada ahlinya.

Apaaa??? Diserahkan pada ahlinya??? Kela….kela…..belum sempat mencerna, bapak2 yang lain langsung setuju dan menanyakan : bagusnya di gimanain nih Pak Ridwan?? Perlu bahan apa saja Pak Ridwan?? Tanamannya kalo pake yang ada saja gimana Pak Ridwan?? *krik….krik…..kriiikk* heniiiing——😯

Kagok borontok niiih pikir saya, langsung saja saya minta bantuan memindahkan tanaman lidah mertua–yang langsung dikerjakan sama Pak Nandang yang baik. Sementara seorang bapak lain ada yang menyela nampak tidak setuju. Saya ambil beberapa tanaman di halaman rumah yang — di buang sayang, menambahkan tanaman merambat, dan lain sebagainya. Saya juga instruksikan bahwa saya perlu beberapa batu bulat besar sebagai ornamen taman, dan saya jelaskan bahwa nanti disebelah sini pake ornamen gentong, disebelah sini pake batu, blah blah blah. Tanpa di komando lebih lanjut, saya mendapat bantuan beberapa tanaman yang diperlukan. Sebagian “merampok” dari rumah2 yang tanamannya tidak terurus atau sedang kuriak direnovasi. Batu ini, terpakai tidak Pak Ridwan?? Tanya pak Vicky yang dengan semangat menggotong dan menempatkan batu tersebut sesuai instruksi saya. Tanaman ini bisa kepake Pak Ridwan?? Kalo ini?? Mereka menyerahkan beberapa tanaman dan membiarkan dan mempercayakan saya menatanya.

Hasilnya, tadaaaa…..!!! Taman mungil sederhana, sudah mulai berbentuk. Kalo saja semuanya tumbuh sesuai rencana, maka taman ini akan lucu, gak kalah dengan taman2 di RTH komplek real estate atau komplek2 elit lainnya. Alhamdulillah, ada sedikit bahagia bisa ikut berpartisipasi–yang walaupun saya sedang sakit kepala, dan sumbangsih tenaga ini tidaklah seberapa, namun ada kepuasan tersendiri. Apalagi lokasinya tepat seberang rumah. Jadi, dari teras rumah pun saya bisa menikmati taman kecil ini.

Masih perlu di uji, apakah dalam seminggu ini tanaman2 tersebut tumbuh atau tidak (mudah2an sih tumbuuuuuuhh). Kalopun tidak, ya perlu mencari tanaman yang tepat untuk di tanam dan harus berbesar hati, seperti celetukan seorang ibu yang tidak terbiasa dengan tanaman hias dengan enteng nyeletuk : mending oge pelakan kacang!!

Well, kita lihat ya Bu….kalo dalam 2 minggu tanaman yang saya tanam ini tidak tumbuh, mangga sama ibu dipelakan cengek sama kacang, biar ibu bisa panen!!! Weeekkkss!

Iklan

Konser Symphonesia, keren sih tapiiiiii……

image

Hari sabtu lalu, tanggal 7 Nopember¬† 2015, seorang sahabat mengajak nonton sebuah pertunjukan musik bertajuk SYMPHONESIA. Acara pertunjukan musik yang digagas oleh Mahasiswa UNPAD jurusan HI. Pertunjukan musik ini sudah rutin digelar sejak tahun 2018. Biasanya menampilkan sejumlah musisi papan atas, atau musisi yang sedang hits. Nah, untuk pertunjukan kali ini, Symphonesia menampilkan Once feat Piyu Padi, Maliq & D’Esentials, Bara Suara, The SIGIT, White Shoes & The Couple Company dan lain-lain.

Melihat sederet musisi yang akan tampil, rasanya sayang jika dilewatkan. Apalagi penawaran menonton GRATIS, karena teman yang mengajak merupakan MD di sebuah radio swasta yang media partner. Oke syiiiippp, saya pun menyatakan OK!

Apa daya, menjelang tanggal 7, pekerjaan kantor cukup menumpuk. Bahkan, hari sabtu saya harus mengikuti apel pagi dan meeting bersama user sampai dengan jam 11, dilanjut dengan pertemuan intern sampai dengan jam 14. Suasana hujan saat itu membuat saya merasa nyaman leyeh2 di sofa kantor hingga nyaris tertidur. Kalo bukan karena sudah berjanji OK–mau nonton konser, rasanya enggan body ini bergeser sedikitpun dari empuknya sofa. Tapi janji adalah janji. Maka, jam 17.00, saya meluncur menuju SABUGA.

Saat masuk ke gedung pertunjukan, band yang sedang tampil saat itu adalah The SIGIT. Yang saya tau, The SIGIT adalah band indie label beraliran metal. Kemampuan musikalitasnya luar biasa dan sudah di akui di mancanegara. Mendengarkan musik metal dari The SIGIT, sangat asyik. Saya antusias menyimak performa, walaupun saya tidak hafal lagu2 mereka. Saya memuji sound engineer-nya yang bisa mensetting audio sedemikian rupa. Instrumen yang dimunculkan begitu detail dan jernih. Bahkan, saya merasa nyaman mendengarkan musik cadas dengan audio yang “santun”, tanpa memekakan telinga. Kereeeeennn!!!

Penampil berikutnya setelah The SIGIT adalah White Shoes & The Couple Company. Tidak banyak lagu yang saya tau dari band unik yang mengusung konsep retro ini. Vokalisnya berbusana ala penyanyi Ida Royani (biduan tahun 70an), minimalis. Musiknya, ya retro dengan sedikit balutan pop jazz dengan skill yahuud. Selain lagu Senandung, ada lagu berjudul MALU-MALU KUCING, yang dinyanyikan dengan ekspresif dan dinamis. Lagu jadul yang–dinyanyikan dengan sangat menarik. Begitu juga saat band ini menyajikan lagu berbahasa sunda CANGKURILEUNG. Musikalitas White Shoes & The Couple Company sangat teruji disini. Mengemas lagu daerah, menjadi sesuatu yang layak mendapat apresiasi. Sangat bagus….

Kenyamanan audio yang saya bilang “santun” tidak terjadi pada penampilan sesudahnya. Setelah White Shoes & The Couple Company, band yang berikutnya tampil adalah : BARA SUARA. Entahlah, settingan seperti apa yang dilakukan oleh sound engineer-nya. Yang jelas, saat band ini tampil, audio yang muncul tidak sebagus kedua band sebelumnya. Setiap cabikan gitar, terasa menyakitkan telinga. Begitu pun suara vocal yang muncul dari mic, terdengar sember. Kacau niiihh!! Pertunjukan musik menjadi tidak asik. Di lagu pertama, Bara Suara menampilkan performa yang secara panggung-sangat meyakinkan dan percaya diri. Lagunya semacam eksperimental pada jaman Kantata Takwa di tahun 90an. Rancak, dengan 2 backing vocal sexy yang ikut meliuk-liuk. Sayang seribu sayang, audio yang buruk, suara mic yang sember ditambah lagu2 baru yang belum populer membuat Band Bara Suara menjadi band penghantar tidur yang paling pas. Lagu ke 2…. ke 3 dan seterusnya, saya TERTIDUR. Hingga menjelang lagu terakhir, barulah saya sedikit terbangun dan berharap bahwa saya terbangun dari mimpi buruk. Ternyata tidak….diakhir penampilannya, Bara Suara masih menggelegar dengan audio yang gahar yang tidak ramah.

Kecewa dengan sound di penampilan Bara Suara–yang kalo sound-nya bagus, pasti Bara Suara saya acungi jempoool–saya masih berharap di penampilan Maliq & D’Essentials. Band sekaliber MALIQ, pasti ada sound engineer yang bisa ‘meracik sound’ menjadi lebih CLING. Apalagi hampir setengah jam jeda–menjelang Maliq naik panggung–cukuplah membuat saya berharap ada perbaikan sound menjadi kembali jernih. Sampai tibalah waktunya dua MC centil yang wak wek wok dan nampak sudah kehabisan ide untuk mengisi jeda, memanggil grup band Maliq yang disambut dengan tepuk tangan dan teriakan gegap gempita.

Intro lagu Setapak Sriwedari pun mengalun disambut histeria. Saya masih mengkerutkan kening. Ya Allah, apa telinga saya salah?? Audio-nya malah makin paraaaaahh. Suaranya instrumennya mendem dan saya tidak bisa menangkap suara vocal dengan jelas. Oh my God! Ini sungguh mengecewakan. Tidak biasanya saya menonton penampilan Maliq dengan sangat tidak antusias. Beberapa lagu dari Maliq membuat saya mengantuk dan saya masih manyun. Tiba di sebuah lagu berjudul Funk Flow, dimana Indah sebagai vokalis cewek, mendapat porsi yang lebih banyak. Sayang bangeeeet, suara Indah tidak sebagus biasanya. Lebih mirip suara chipmunk. Wooww….menakjubkan!!! Padahal lagu Funk Flow asik dinikmati karena sangat dinamis dan dibawakan atraktif.

Akhirnya batas toleransi kuping saya habis sudah. Manakala Maliq membawakan lagu dengan gimik dangdut berjudul Drama Romantika dengan suara yang–ya Alloh tolongin Baim–saya pun bergegas pulang. Penonton di barisan festival masih berjoget dan tidak peduli dengan audio yang gak karu-karuan. Melintasi kursi2 penonton sambil tak lupa mengucapkan punten….puntenn numpang lewat, saya mendapat beberapa penonton lain yang tertidur di kursinya masing-masing.

Yah, tadinya saya masih mau menunggu penampilan Once feat Piyu Padi. Tapi, saya kurang yakin dengan hasil akhir audio-nya. Dugaan saya, pasti tidak jauh beda. Saya pulang dengan sedikit ketidakpuasan. Kalo saja saya mengeluarkan uang sebesar150rb atau 200rb rupiah untuk duduk atau berdiri di festival pertunjukan ini, pasti saya akan sangat kecewa. Satu hal yang saya heran : kenapa saat The SIGIT tampil, suara sound yang terdengar begitu harmony, begitu nyaman dikuping, sekalipun musiknya metal. Audio-yang muncul begitu santun. Distorsi gitar terasa tajam tapi tidak bikin pekak. Begitupun saat White Shoes &The Couple Company tampil, suaranya sangat CLING dan menawan. Hmmm…heran…hmmm ya sudah lah……