Tantangan Memotret #BIRU Hari ke #1

Menjawab tantangan yang dilemparkan Bu Dokter Isnen, yaitu memposting karya foto bertema #BIRU selama 1 minggu berturut-turut. Postingan #1 berjudul BUNGA TELANG. Bunga pekarangan rumah merambat yang bisa dipakai sebagai pewarna makanan alami. Difoto menggunakan kamera gadget Samsung Galaxy Tab 8 inchi, dengan fungsi macro mode. – with Juan, Dwie, and Risna

View on Path

Wisata Air Terjun Maribaya Lembang

image

Maribaya, sudah lama menjadi objek wisata alam yang sangat terkenal terletak di Kecamatan Lembang. Berjarak 5 km sebelah timur Lembang dan kira-kira 15 km dari Kota Bandung. Sempat beberapa waktu di tutup dan melakukan pembenahan dan renovasi. Kini, Maribaya telah berganti penampilan. Namanya pun berubah menjadi Natural Hot Spring Resort & Waterfall.

image

image

Seperti apa perubahan Maribaya yang sekarang?? Lebih kekinian. Contoh, untuk tiket masuk, sudah menerapkan sistem digital. Tiket berbentuk seperti ATM, yang diakses di pintu masuk yang dijaga oleh petugas. Arsitektur dan landsekap-nya pun lebih cantik dan menarik. Fasilitas lainnya seperti kolam rendam air panas, amphitheater untuk pertunjukan kesenian, kafe dan resto, foodcourt, sky bridge, dll. Bandingkan dengan sebelum renovasi, cuma ada penjual makanan seadanya dengan tenda biru dan gelar tikar, dan pengamen hilir mudik menyambangi pengunjung dengan agak memaksa.  Sekarang, sdh tidak ada lagi….

image

image

Harga tiket masuk 35ribu, katanya sih bonus air mineral. Tapi saya tidak ambil air mineralnya karena kurang mendapat informasi dimana saya bisa menukarnya. Harga tiket 35rb adalah masuk ke lokasi Maribaya saja. Jika berminat berendam, terapi ikan, arena permainan, ketangkasan, mini zoo dll, dikenakan tarif berbayar lagi. Lalu, yang menjadi catatan penting adalah : di pintu masuk tertera tulisan : pemeriksaan tas (DILARANG MEMBAWA MAKANAN DAN MINUMAN DARI LUAR). Artinya, kita memang diharuskan membeli makanan dan minuman di kafe dan resto yang ada di dalam objek wisata.

image

WOT BATU, Gallery Batu Karya Seniman Sunaryo

image

WOT Batu, sejatinya adalah sebuah ruang terbuka yang menampilkan karya seniman terkenal Sunaryo. Terletak di kawasan Bukit Dago Pakar, tidak jauh dari gallery Selasar Sunaryo–gallery yang sudah terlebih dahulu terkenal di kawasan yang sama. Wot Batu, berada di ketinggian kota Bandung dan dikeliling oleh pegunungan yang indah dipandang mata.

Masuk ke Wot Batu, berarti kita akan menikmati sebuah suasana karya seni yang tidak bisa didefinisikan nilainya. Maka, harga tiket masuk seharga 50ribu rupiah per orang (umum) dan 30ribu rupiah (pelajar & mahasiswa) bukanlah sebuah ukuran mahal atau murah. Akan tetapi lebih mengarah pada apresiasi karya seni tinggi sang kreator, dimana seorang seniman seperti Sunaryo merefleksikan tatanan kehidupan beserta elemen-elemen alam menjadi sebuah karya seni sangat tinggi. Ada ikatan filosofi sangat kuat setiap karyanya.

Dipandu oleh seorang perempuan cantik-yang dengan ramah akan membantu menjelaskan dengan detail setiap bentuk batu yang ada disana. Tentu saja, karena sebagai orang awam, kita tidak pernah tau makna dibalik bentuk artistik yang tersaji. Disanalah fungsinya pemandu, yang menerangkan, menjelaskan dan membawa kita ke sebuah ruang bawah tanah gelap gulita untuk menyaksikan pemutaran video awal mula terjadinya kehidupan: BIG BANG!

Video berdurasi sekitar 4 menit yang menggambarkan terjadinya Big Bang, di putar di sebuah ruangan kecil dibawah tanah, gelap gulita. Video di refleksikan pada sebuah batu bulat dengan pencahayaan artistik yang sangat minimalist. Video menceritakan bagaimana awal mula terjadinya alam semesta dengan sebuah ledakan yang luar biasa, hingga terbentuk galaksi-galaksi–salah satunya galaxy yang kita tempati yaitu Bima Sakti. Bumi, hanya sebagian keciiiilll dari galaxy kita. Sound effect-nya bikin bulu kuduk merinding. Konon, sound effek tersebut direkam dari pergerakan bebatuan di dalam perut bumi dan pergeseran saat proses pembuatan batu-batu di galery ini. Luar Biasa!!

Tentu, yang paling menakjubkan dari bentuk2 karya seni ini adalah : tumpukan bebatuan di atas tepian kolam. Penataan yang sedemikian artistik dengan latar belakang pegunungan, memiliki kesan magis mendalam. Ternyata, bentuk artistik tersebut maknanya adalah refleksi alam kematian. Akan ada suatu waktu dimana kehidupan berakhir. Kita akan memasuki alam yang baru setelah kita meninggal. Alam kematian…..

Ada banyak cerita menarik dari sang seniman. Beliau menceritakan, bahwa setiap batu yang akan digunakan memiliki energi yang berbeda di setiap perletakannya. Memiliki cerita, bahwa darimana masing-masing bebatuan tersebut berasal. Memiliki cerita, bagaimana bentuk artistik bisa tercipta begini…..bisa tercipta begitu…. dan semuanya bukan kebetulan. Ada peran Sang Pencipta yang ikut menentukan setiap tatanan……

Kunjungan ke Wot Batu berakhir disebuah tempat nyaman berdinding kaca, untuk beristirahat. Pemandu menyajikan minuman dingin (refreshment). Minuman dingin berwarna ungu dengan rasa herbal dalam gelas kecil, dinikmati sambil menyaksikan video proses pembuatan galery tersebut. Walaupun pendampingan dengan pemandu berakhir, kita masih bisa menikmati ruang terbuka untuk berfoto2 dan mengabadikan setiap bentuk artistik yang ada disana.

Oh ya pengunjung tidak diperkenankan membawa kamera propfessional atau DSLR ya, hanya kamera handphone saja.

image

Menyempatkan berfoto bersama pemilik dan sang kreator Wot Batu : Pak Sunaryo (tengah berkacamata)

Project Gardening, yang pertama di Pesona Regency

image

Ini adalah project pertama saya di bidang gardening. Menata dan membuat taman di pekarangan rumah di kawasan kluster Pesona Regency–di kawasan Bandung timur.

Sebelumnya, saya sempat survey terlebih dahulu. Hal ini akan memudahkan untuk mengambil langkah termudah, hal apa yang bisa saya lakukan. Ide apa yang bisa saya terapkan, dan dicocokan dengan keinginan pemilik rumah.

Alhamdulillah, pemilik rumah menyerahkan sepenuhnya kepada saya untuk berkreasi sebebasnya. Dengan konsep “taman minimalis”, seperti yang diharapkan Ibu Tuti–pemilik rumah, jadilah taman seperti tampak di atas.

Di minggu kedua dan bulan pertama, saya masih memantau taman tersebut. Saya berikan maintenance dan memastikan bahwa tanaman tumbuh dengan semestinya. Rumput2 dan tanaman yang jabrik sempat dirapikan. Ini merupakan bagian dari service yang saya berikan.

Taman Bunga Begonia, Lembang

Sebetulnya, saya agak enggan memposting kunjungan saya ke Taman Begonia Lembang. Yang namanya taman bunga, identik dengan perempuan… Dan, bagaimana bisa saya “tersesat” sampai ke Taman Begonia(n) ini…..

Jadi, awalnya saya dan teman2 bermaksud menyusuri jalan Dago, melalui Jl. Dago Giri dan tujuannya saat itu adalah Saung Mang Engking, Lembang. Karena datangnya kepagian dan belum waktunya makan siang, jadi kami mencari tempat singgahan, minimal sampe jam makan siang. Dan yang terdekat dari sana adalah Taman Begonia. Jadilah, kami masuk, hanya sekedar iseng apa sih Taman Begonia ini?? Tampaknya masih baru…

Setelah parkir, kami membayar tiket di depan pintu masuk seharga 10ribu rupiah. Tiket tersebut bisa ditukarkan dengan 1 buah es potong. Lumayan. Dengan agak canggung, saya memasuki taman yang di dominasi hamparan bunga begonia berwarna merah jambu. Disediakan topi anyaman untuk mengurangi panas yang menyengat. Saya mulai menelusuri, setiap depa yang nampak di depan mata. Taman sudah ramai dengan pengunjung-yang saya pun heran-dari mana pengunjung tahu ada taman baru ini….

Taman Bunga Begonia, separti taman pada umumnya…dipenuhi bunga yang di tata dengan baik. Hanya saja, karena (mungkin) lahan ini bekas ladang petani, jadi tidak ada satupun pohon besar yang menaungi. Alhasil, datang ke taman ini sekitar jam 10an adalah waktu yang kurang tepat. Panaaaassss. Ada beberapa saung di sediakan untuk berteduh, duduk santai sambil menikmati ‘panasnya’ taman ini. Hembusan bayu, udara Lembang yang sejuk, sedikit menolong suasana. Saya menukarkan sobekan tiket masuk dengan 1 buah es potong rasa buah yang rasanya lumayan, saat terik menyengat.

Mencoba berfoto2 di taman ini. Atuh da apa aku maaahh…setiap berfoto tampak sedang merem karena cuaca terik, sehingga wajah kita terbawa meringis saat difoto. Yah, karena taman ini masih baru, cukup oke lah. Tapi, entahlah beberapa bulan ke depan saat begonia sedang tidak berbunga….karena kebiasaan taman bunga, bagusnya di awal2 doang, yang mana bunga tersebut sedang bermekaran. Manakala bunga sedang gak musim, taman menjadi kurang menarik.

Kurang lebih 1 jam saya dan teman2 berada di taman ini, selebihnya saya melipir ke sebuah kedai Tahu Sumedang, yang gencar beriklan dengan nama TAHU SUMEDANG RENYAH. Kedai ini tak jauh dari Taman Bunga Begonia, kira 100 meter arah terminal Lembang. Setelah mencoba rasa tahu yang–yah enaak, tapi tetap aja tahu–kami pun meluncur ke Kedai Mang Engking untuk bersantap siang disana.

*ini juga tersimpan di draft, dan sudah setahun lalu mengendap–lalu skrg saya posting–tentu saja sudah tidak up to date*

Hihihi, postingan yang ngambang, tanpa ending yang jelas….tanpa foto2 pula….

Wisata Keliling Kota Bandung

Hyuuuk, Wisata Keliling Kota Bandung

image

● Mau ke Bandung Utara? Kita ke Dusun Bambu, lanjut Tangkuban Perahu, pulangnya sekalian ke Floating Market, dan jangan lewatkan Farm House-yang terkenal dengan rumah hobbit-nya dan melipir ke Rumah Mode (kalo mau belanja ke FO) dan makan malam di Iga Bakar Pak Jangkung di Jl. Cipaganti

● Atau mau ke Bandung Selatan? Ke Kawah Putih (siapkan jaket atau baju tebal, karena disini hawanya dingiiiiinn), lanjut ke Danau Situ Patengaan, yang sepanjang jalan pemandangan terhampar kebun teh — nyeberang  pake perahu ke Pulau Batu Cinta dan menikmati pemandangan disana–Tak lupa pulangnya mampir ke sentra sepatu Cibaduyut dan jajan batagor di sekitaran jalan kopo.

● Mau di Bandung kota?? Boleh juga. Ke Taman Balaikota, lanjut ke Taman Revitalisasi Sungai Cikapayang, Trus ke Taman Vanda…..berjalan kaki ke Braga (berfoto2 disana), Gedung Merdeka, lanjut ke Taman Alun2 yang terkenal dengan rumput sintetis-nya. Makan siang di Warung Nasi Khas Sunda yang sambel-nya pedas aduhai…. lanjut ke Taman Teras Cikapundung, jajan lumpia basah enak di sekitaran Ganesa, trus ke Gedong Sate (berfoto2 disana). Dan kalo belum pernah ke Masjid Pusdai, bisa sekalian sholat Maghrib disana.

● Atau mau Wisata Museum? Kita bisa ke Museum Pos yang ada patung2 diorama dan aneka perangko2 langka, lanjut ke Museum Geologi (satu2nya museum fosil2 dan bebatuan mineral di Indonesia). Berlanjut ke Museum KAA di Gedung Merdeka. Pernah ke Museum Nike Ardilla?? Naaahh, bagi yang belum pernah bisa coba kunjungi kesana….melihat2 peninggalan dan memorabilia sang legenda cantik NIKE ARDILLA.

● Mencoba Wisata Kuliner? Ini lebih asyik….
Dari mulai sarapan pagi di Kupat Tahu Gempol, atau roti bakar di Roti Gempol. Jajan Seblak basah pedas di pinggiran jalan, icip2 kue cubit green tea di sekitaran Cisangkuy sambil nyeruput yoghurt. Makan siang Nasi Timbel di sekitaran Istiqomah atau mau coba masakan sunda Ibu Imas di Kebon Kelapa?? Yang racikan sambilnya endooolll!!  Atau mau mih Kocok & Sop Kaki “Mang Dadeng” di Jl. Banteng?? Nah, jangan lupa
sop buah Mang Ewok di belakang Gedong Sate. Lanjut jajan Lumpia basah enak di Jalan Ganesa. Hayuukk saya siap mengantaaar…dan siap di traktir tentunya. Gak nolaaakkk.
Mau pake motor (kalo wisata taman kota), tentu bisa.
Mau pake mobil (rame2 bareng keluarga/teman), bisa pake Xenia atau Avanza. Mobilnya ber AC lengkap dengan sopir maksimal 6 Orang.
Mau menjajal semuanya, boleeehh…hayukk aahhh.
Sesuaikan saja dengan kebutuhan….
Bonusnya saya fotoin deh…. hehehe

Tinggal kontak saja
RIDWAN SPEKTRA
via WA di 083820100971
atau via BBM : 765348FF

Semoga saya bisa membantu teman2 yang ingin berwisata di kota Bandung….lengkap dengan foto2 bagus yang bisa dipajang di instagram dan facebook.

Wisata Sendiri : Menelusuri Cigending sampe Ke Lembang (Bag 2 Selesai)

Jalanan berbatu yang saya tempuh sangat sepi dan berkelok-kelok sekitar 1 kilometer cukup membuat saya cemas. Bahagia rasanya saat berpapasan dengan pengendara sepeda motor lain. Lebih bahagia lagi saat melihat beberapa orang penduduk sedang merapikan hasil kebun seperti sayuran dan kol. Itu pertanda, ada perkampungan di sekitar sini. Saya tidak sendiri, ada makhluk lain di sekitar sini 😆.

Sampailah saya di sebuah jalan turunan yang menikung membentuk huruf U. Kebetulan ada petunjuk arah di tikungan tersebut.

image

Ujungberung ke kanan 11km sedangkan ke kiri arah lembang 18km. Yessss, agak sedikit lega, walaupun masih harus menempuh18km. Kebayang kan, Cigending sampe sini saja, yang jalannya bagus beraspal mulus, ternyata 11km, dan itu sudah terasa jauh. Nah ke Lembang masih 18km lagi, oh my God! Kalo jalannya bagus, jarak segitu sebetulnya itu bukanlah masalah. Tapi kita kan tidak pernah tau, seperti apa jalan yang akan dilewati nanti….

Tetiba saya mendengar serombongan 3 atau 4 sepeda motor dari belakang saya. *di tempat sepi gini 3 atau 4 sepeda motor serasa rombongan 😆 Assiiikk, ada temen. Sekelompok anak2 muda berboncengan yang sepertinya pencinta alam, dengan ransel2 besar yang sepertinya mau kemping. Tapi yang satunya bukan. Satunya lagi adalah seperti tukang ojek yang membonceng muatan sambil membawa pikulan baso tahu (atau cilok). Woooowww, menerjang medan begini rupa, sambil ngabonceng tukang cilok?? JUARAAAA!!

image

image

image

Tak mau tertinggal dengan rombongan kecil itu, saya pun jaga jarak agar beriringan dengan mereka. Beberapa kali saya melihat tukang ojeg itu seperti ngagaléong oleng. Hmmm, kepikiran… berapa bayarannya narik ojeg ke sini…  Sayangnya, setelah sekitar 2 kilo meter beriringan, sayapun kembali sendirian. Mereka-termasuk-ojeg yang membonceng tukang cilok-berbelok ke Wisata Perkebunan Kina BUKIT UNGGUL dengan medan makin terjal — menanjak. Good luck ya Mang, semoga usahanya lancar disana. Sedangkan saya lurus, dengan medan agak menurun dan jalanan mulai membaik.

image

Kembali menyusuri jalan sendirian. Yang membuat senang adalah sepanjang jalan–dan sejauh mata memandang, samping kanan-kiri jalan ditumbuhi tanaman perdu dengan bunga berwarna ungu. Wouw, seperti di film epik. Keren. Sangat Alami. Sambil melaju pelan, saya mendapati dua orang yang mungkin suami istri sedang botram dipinggiran jalan. Ah, mereka tampak sedang piknik yang membuka bekalnya di tengah perjalanan. Saya masih terus melaju. Ujung mata, saya melihat seseorang sedang duduk dibawah pohon sebelah kanan. Tetapi begitu saya menoleh, ternyata tidak ada. Tidak ada orang dibawah pohon yang baru saja saya lewati. Merinding. Bulu kuduk saya sontak berdiri. Saya tidak bisa menambah kecepatan motor tapi saya ingin segera menjumpai perkampungan….pengen segera meninggalkan hutan ini….

image

Bahagia itu adalah ketika dari jauh, melihat ke arah bawah ada papan hijau penunjuk arah. Disebelah kiri tampak pemukiman warga walaupun rumahnya renggang. Ada beberapa sepeda motor berjejer yang sepertinya tukang ojeg. Suara anjing saling menyalak, menguatkan bahwa hutan sudah berakhir dan memasuki perkampungan. Seorang pengendara sepeda motor tampak sedang bertanya arah menuju ujung berung pada salah seorang tukang ojek yang di jawab oleh tukang ojeg “sanes tebih deui A, jauuuhh. Dan saya hanya bisa tersenyum dan berkata dalam hati “mangga cobian akaaaang* 😝

image

Plong rasanya memasuki jalan aspal lagi. Walaupun dikiri lembah dengan pemandangan indah, di sebelah kanan tebing dan hutan lembab. Air dari sisian tebing sampe moncer ke jalanan dan membuat jalanan licin dan berlumpur. Pengendara motor mulai banyak. Begitu juga yang gerak jalan menuju arah hutan kina. Suasana mulai seperti desa yang terpencil. Saya bahkan merasa sudah ada di Lembang, tapi entah bagian sebelah mana. Kemudian, saya mendapati penjual bensin eceran, saya mencoba menepi untuk mengisi bensin-yang ternyata-masih cukup. Membeli 1 liter bensin sambil bertanya pada Teteh penjual bensin, sebarapa jauh menuju Lembang. Ternyata, menuju Lembang itu hanya tinggal setengah jam, dengan medan datar. Begitu kata si Teteh.

Benar saja, saya mendapati alamat pinggiran jalan bertuliskan Jl. Maribaya Timur, Cibodas Lembang. Yihaaa. Saya merasa kembali ke peradaban. Pemandangan sudah bukan tujuan lagi. Sekarang adalah saatnya mencari jalan pulang. Motor terus melaju tanpa khawatir tersesat yang apalah apalah, gimana gitu. Apalagi setelah di depan Burgundy ada plang penunjuk arah : –>> Lembang, –>> Maribaya, <<— Dago Giri. Aahh, tentu saja saya pilih arah menuju Jalan Dago Giri.

Di jalan Dago Giri ini, banyak kendaraan plat B yang mengambil arah pintas menuju Lembang. Saya sebaliknya, menuju arah turun. Sampai saya melihat lembah sebelah kanan–yang dari kejauhan terlihat tepian bukitnya. Dan saya tahu, itu adalah jejeran kedai timbel Punclut. Yess. Bahkan, tak lama kemudian saya melewati kafe terkenal Lawang Wangi. Alhamdulillah, 5menit lagi saya akan menjumpai kemacetan jalan cagak Dago kemudian terminal Dago, berlanjut ke Simpang Dago, lalu saya pun pulang kembali ke arah Ujungberung.

Alhamdulillah…..

Wisata Sendiri : Menelusuri Jalan Cigending sampai Ke Lembang (Bag 1)

Bosan mager di rumah, hari ini saya memilih berpetualang #WisataSendiri. Kali ini target saya adalah : Menelusuri Jl. Raya Cigending – Ujungberung, Bandung. Sebelumnya, saya pernah dapat info bahwa kalo diteruskan menelusurinya, maka kita akan sampai ke Lembang. Nah, sedikit penasaran maka pagi tadi saya beranikan diri untuk menyisir jalan yang setiap hari di lewati, tapi tidak pernah lebih jauh dari komplek rumah saya yaitu Griya Winaya. Selepas sarapan Kupat Tahu enak di Jl. Cagak Cinangka, saya meluruskan niat.

Bismillah…. saya mulai melaju dengan motor shogun kesayangan, tanpa menoleh ke kanan dimana ada pos satpam dan gapura bertuliskan Komplek GRIYA WINAYA. Saya mantap, menuju “jalan lurus” yang kemudian menanjak dan berbelok ke arah kanan. Menanjak…dan terus menanjak…pantas saja disebut Tanjakan Panjang. Tapi jalanan bagus, dibeton…jadi motor bisa melaju dengan nyaman. Setelah dirasa-rasa lebih dari 3 kilometer, jalanan mulai sepi. Rumah penduduk mulai jarang. Yang ada sawah-sawah berundak mengikuti kontur pegunungan, dengan latar gunung-gunung dihiasi awan tipis. Sayangnya walaupun langit cerah, cuaca tidak benar2 clear, sehingga pemandangan indah di depan mata terasa kurang beniiiiiing.

Seperti biasa, saya menepi dan memarkir motor di tempat yang aman. Berdiri memandang alam dan sekitarnya. Saya selalu takjub dan bahagia saat melihat keindahan alam seperti ini….

image

Andaikan cuaca lebih bersahabat dan mengijinkan saya melihat keindahan lekuk gunung itu… Hmmmm…..puas memandang lukisan Tuhan, saya lanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan kali ini, saya dimanjakan oleh alam yang menyuguhkan pemandangan indah.

Setelah melewati sawah, ladang dan perkebunan warga, berikutnya adalah hutan pinus. Walaupun tidak terlalu rapat, dan masih renggang, tapi dari kejauhan saya melihat lekukan2 gunung bergerigi yang mendeskripsikan kalo itu hutan pinus. Well, saya menjumpai mobil-mobil yang beristirahat setelah “melepas” sepeda gunungnya. Mereka beristirahat di sebuah kedai minum-yang ternyata saya tidak menemukan ada kedai lagi sejauh berkilo-kilometer di depan.

image

image

Oke….awan tampak sudah berwarna abu-abu. Saya hanya berharap tidak hujan di petualangan kali ini. Betapa repotnya kalo sampe hujan. Selain khawatir kabut turun, saya pun bingung karena tidak ada tempat buat neduh…. Dengan sedikit was-was, saya melanjutan perjalanan….

Hutan pinus sudah mulai rapat….sangat rapat bahkan. Udara mulai terasa lebih dingin. Angin berhembus sangat segar….. sejauh mata memandang, hanya hutan pinus saja. Saya jarang berpapasan dengan pengendara motor lain. Tapi, ada beberapa mobil bak terbuka membawa sepeda gunung-sepertinya hendak berwisata sepeda melintas hutan pinus.

image

Jalanan tampak sepi, dengan hutan pinus sebelah kanan. Hutan pinus ini sangat rapat…. sedangkan sebelah kiri tidak terlalu rapat.

image

Beginilah medan yang ditempuh, jalan bagus dan mulus. Hanya saja sepi. Sepi sepi sendiri aku benci, pecahkan saja gelasnya biar ramai *melantur*, sampai saya ragu-antara melanjutkan perjalanan atau balik kembali ke Ujungberung….

Banyak pemandangan bagus dan indah. Tetapi, perasaan saya masih tercabik antara menyenangkan dan khawatir kehabisan bensin, karena saya belum bisa memprediksi, sejauh mana kira2 saya bisa sampai ke Lembang. Tak lama setelah melewati perkampungan kecil saya sedikit bernafas lega. Kembali melipir pingiran jalan untuk mencari informasi, dimanakah saya berada. Hutan yang ada menghampar di hadapan sudah bukan lagi pinus, tapi hutan kina.

image

Pemandangan yang menghampar dibawah sana, tak berbeda jauh dengan pmandangan di Tebing Keraton. Ujung pohon pinus yang lancip, membentuk gerigi yang indah berpadu dengan hutan kina.

image

…dan begini keterangannya :

image

Oouuuwwww…..ternyata saya memasuki area Wisata Kebun Kina milik PT. Perkebunan Negara VIII. Ya….ya… Lalu, Lembangnya sebelah mana, entahlah…..pastinya masih jauh. Karena belum ada tanda atau penunjuk arah yang menunjuk ke Lembang. Tidak boleh putus asa, tidak boleh ragu, harus mantap melanjutkan petualangan ini. Beberapa puluh meter setelah melanjutkan perjalanan, saya harus menerima kenyataan bahwa kali ini jalanan yang dilalui tidak seindah yang tadi. Jalanan berbatu, sedikit terjal dan licin-yang sepertinya-kalo tidak hati2 motor akan mudah tergelincir. Ya Alloh, jangan sampe motor saya mendadak kempes ban atau bocor ditempat terpencil dengan medan seperti ini….

Kira-kira sejauh apa ya jalanan berbatu ini…..

*bersambung*

Keindahan Senja

Ada banyak orang, yang beruntung bisa menyaksikan keindahan langit senja. Sebagian mungkin tidak peduli. Sebagian lain, mungkin mengabadikannya. Ada juga yang sengaja menunggu senja baik di pantai maupun di pegunungan. Trus, kalo yang mengejar senja?? Ada! Saya dan rombongan termasuk yang pernah mengejar senja, khawatir sunset yang hanya beberapa menit itu terlewatkan.

Berikut ini, pengalaman saya menyaksikan keindahan langit senja yang sempat saya capture.
image

Ini adalah senja di langit borneo. Beberapa saat sebelum mendarat di Kalimantan, saya mendapat suguhan sebuah pemandangan luar biasa indah. Sunset dari angkasa dengan pemandangan yang amat sangat luas, tanpa batas…
image

Saya berada di Masjid Unisba, mau sholat maghrib. Pada saat saya mengcapture gambar ini, saya takjub dengan permukaan awan seperti kabut yang berwarna merah, sementar nun jauh di sebelah barat, langit tanpa awan berwarna keperakan. Shiluet hotel Novotel terlihat jelas dari arah Jl. Tamansari.

image

Kalo yang ini, saya berada di ketinggian kawasan Dago, tepatnya di Bukit Dago Pakar. Saya berada di parkiran sebuah kafe yang tidak terhalang pembatas, sehingga pemandangan ke arah matahari tenggelam bisa di capture dengan leluasa.

image

Ini di sebuah tempat, yang beken di tahun 2014 kemarin. Yap, ini di Dulang! Saya mendapat pemandangan misty berkabut sesaat setelah hujan gerimis. Awan bergumpal bagian tengah tampak seperti celah terbuka dan berwarna keperakan terpantul semburat sisa2 sinar matahari yang akan tenggelam. Beruntung, menjelang sunset, langit kembali clear, beniiing.

image

Pelangi indah ini saya dapatkan menjelang tahun baru 2015 di Jl. Jakarta Antapani, arah Arcamanik. Jadi, saat itu saya baru pulang dari Kircon dan sempat berteduh karena hujan. Saya selalu senang melihat pelangi, apalgi kalo warnanya tebal-tidak bias atau pucat. Pelangi yang saya lihat ini melengkung setengah lingkaran, seakan membelah langit. Kereen!

Melipir ke Taman Musik Centrum

image
Pernah berkunjung ke Taman Musik Centrum?? Sebuah ruang publik yang didedikasikan untuk kegiatan musik, seni dan olah raga. Ini merupakan salah satu taman tematik yang digagas oleh Bapak Ridwan Kamil, Walikota Bandung-melengkapi taman-taman tematik yang lain seperti Taman Pustaka Bunga, Taman Jombo, Taman Fotografi (Taman Cempaka) dan yang lainnya. Taman ini letaknya di jalan Belitung, disamping SMA N 3 dan 5.

image

Memasuki taman ini di siang hari, saya mendapati sebuah ruang publik yang menyenangkan. Beberapa pemuda tampak asik melakukan sesi pemotretan di depan sebuah plat besi baja berbentuk gitar-menyerupai gitar raksasa. Rupanya, gitar raksasa ini merupakan ikon di tempat ini. Menyapu pandangan ke tempat lain, saya mendapat. Berbagai patung besi bercat merah yang semuanya bernuansa musik atau sedang memainkan alat musik.

image
image
Duduk-duduk disini sangat menyenangkan…hawanya sejuuukkk… sedikit berisik dengan bunyi “Turaés”-nyanyian alam yang katanya sih pertanda musim kemarau akan segera tiba. Saya memilih tempat duduk sayap kiri taman. Ada semacam gazebo kecil lengkap dengan steker-colokan kalo kita mau sambil nge-charge. Saya tidak sempat mencoba-apakah ada arus listriknya atau tidak. Saya hanya mencoba mencari koneksi Wifi Bandung Juara-yang sayangnya-tidak ditemukan disini. Kalo ada, pastinnya saya sudah menemukan sejumlah orang yang membuka laptop disini. 😀 😀 😀

image
image

Sejatinya yang namanya Taman Musik, maka taman ini dipersiapkan untuk pertunjukan musik dan kesenian. Coba perhatikan tempat duduk yang mengelilingi taman ini, dibuat berundak-undak dan dicat warna-warni. Bahwasanya setiap penonton bisa melihat dengan jelas ke arah panggung pementasan, dari segala arah. Panggung-nya sendiri berada di tengah lapangan berbentuk bundar, dengan permukaan agak naik (tapi tidak terlalu tinggi juga) jadi, tetap nyaman.

Mungkin, suatu hari nanti saya kudu datang ke Taman Musik Centrum ini, disaat ada pertunjukkan atau showcase. Cuuzz aahh…nanti kalo ada lagi, mau nonton aaahhh….