Wisata Air Terjun Maribaya Lembang

image

Maribaya, sudah lama menjadi objek wisata alam yang sangat terkenal terletak di Kecamatan Lembang. Berjarak 5 km sebelah timur Lembang dan kira-kira 15 km dari Kota Bandung. Sempat beberapa waktu di tutup dan melakukan pembenahan dan renovasi. Kini, Maribaya telah berganti penampilan. Namanya pun berubah menjadi Natural Hot Spring Resort & Waterfall.

image

image

Seperti apa perubahan Maribaya yang sekarang?? Lebih kekinian. Contoh, untuk tiket masuk, sudah menerapkan sistem digital. Tiket berbentuk seperti ATM, yang diakses di pintu masuk yang dijaga oleh petugas. Arsitektur dan landsekap-nya pun lebih cantik dan menarik. Fasilitas lainnya seperti kolam rendam air panas, amphitheater untuk pertunjukan kesenian, kafe dan resto, foodcourt, sky bridge, dll. Bandingkan dengan sebelum renovasi, cuma ada penjual makanan seadanya dengan tenda biru dan gelar tikar, dan pengamen hilir mudik menyambangi pengunjung dengan agak memaksa.  Sekarang, sdh tidak ada lagi….

image

image

Harga tiket masuk 35ribu, katanya sih bonus air mineral. Tapi saya tidak ambil air mineralnya karena kurang mendapat informasi dimana saya bisa menukarnya. Harga tiket 35rb adalah masuk ke lokasi Maribaya saja. Jika berminat berendam, terapi ikan, arena permainan, ketangkasan, mini zoo dll, dikenakan tarif berbayar lagi. Lalu, yang menjadi catatan penting adalah : di pintu masuk tertera tulisan : pemeriksaan tas (DILARANG MEMBAWA MAKANAN DAN MINUMAN DARI LUAR). Artinya, kita memang diharuskan membeli makanan dan minuman di kafe dan resto yang ada di dalam objek wisata.

image

Iklan

WOT BATU, Gallery Batu Karya Seniman Sunaryo

image

WOT Batu, sejatinya adalah sebuah ruang terbuka yang menampilkan karya seniman terkenal Sunaryo. Terletak di kawasan Bukit Dago Pakar, tidak jauh dari gallery Selasar Sunaryo–gallery yang sudah terlebih dahulu terkenal di kawasan yang sama. Wot Batu, berada di ketinggian kota Bandung dan dikeliling oleh pegunungan yang indah dipandang mata.

Masuk ke Wot Batu, berarti kita akan menikmati sebuah suasana karya seni yang tidak bisa didefinisikan nilainya. Maka, harga tiket masuk seharga 50ribu rupiah per orang (umum) dan 30ribu rupiah (pelajar & mahasiswa) bukanlah sebuah ukuran mahal atau murah. Akan tetapi lebih mengarah pada apresiasi karya seni tinggi sang kreator, dimana seorang seniman seperti Sunaryo merefleksikan tatanan kehidupan beserta elemen-elemen alam menjadi sebuah karya seni sangat tinggi. Ada ikatan filosofi sangat kuat setiap karyanya.

Dipandu oleh seorang perempuan cantik-yang dengan ramah akan membantu menjelaskan dengan detail setiap bentuk batu yang ada disana. Tentu saja, karena sebagai orang awam, kita tidak pernah tau makna dibalik bentuk artistik yang tersaji. Disanalah fungsinya pemandu, yang menerangkan, menjelaskan dan membawa kita ke sebuah ruang bawah tanah gelap gulita untuk menyaksikan pemutaran video awal mula terjadinya kehidupan: BIG BANG!

Video berdurasi sekitar 4 menit yang menggambarkan terjadinya Big Bang, di putar di sebuah ruangan kecil dibawah tanah, gelap gulita. Video di refleksikan pada sebuah batu bulat dengan pencahayaan artistik yang sangat minimalist. Video menceritakan bagaimana awal mula terjadinya alam semesta dengan sebuah ledakan yang luar biasa, hingga terbentuk galaksi-galaksi–salah satunya galaxy yang kita tempati yaitu Bima Sakti. Bumi, hanya sebagian keciiiilll dari galaxy kita. Sound effect-nya bikin bulu kuduk merinding. Konon, sound effek tersebut direkam dari pergerakan bebatuan di dalam perut bumi dan pergeseran saat proses pembuatan batu-batu di galery ini. Luar Biasa!!

Tentu, yang paling menakjubkan dari bentuk2 karya seni ini adalah : tumpukan bebatuan di atas tepian kolam. Penataan yang sedemikian artistik dengan latar belakang pegunungan, memiliki kesan magis mendalam. Ternyata, bentuk artistik tersebut maknanya adalah refleksi alam kematian. Akan ada suatu waktu dimana kehidupan berakhir. Kita akan memasuki alam yang baru setelah kita meninggal. Alam kematian…..

Ada banyak cerita menarik dari sang seniman. Beliau menceritakan, bahwa setiap batu yang akan digunakan memiliki energi yang berbeda di setiap perletakannya. Memiliki cerita, bahwa darimana masing-masing bebatuan tersebut berasal. Memiliki cerita, bagaimana bentuk artistik bisa tercipta begini…..bisa tercipta begitu…. dan semuanya bukan kebetulan. Ada peran Sang Pencipta yang ikut menentukan setiap tatanan……

Kunjungan ke Wot Batu berakhir disebuah tempat nyaman berdinding kaca, untuk beristirahat. Pemandu menyajikan minuman dingin (refreshment). Minuman dingin berwarna ungu dengan rasa herbal dalam gelas kecil, dinikmati sambil menyaksikan video proses pembuatan galery tersebut. Walaupun pendampingan dengan pemandu berakhir, kita masih bisa menikmati ruang terbuka untuk berfoto2 dan mengabadikan setiap bentuk artistik yang ada disana.

Oh ya pengunjung tidak diperkenankan membawa kamera propfessional atau DSLR ya, hanya kamera handphone saja.

image

Menyempatkan berfoto bersama pemilik dan sang kreator Wot Batu : Pak Sunaryo (tengah berkacamata)

Kado Tahun Baru 2016, untuk warga Bandung

Yap, awal tahun 2016 yang lalu, Ridwan Kamil menghadiahkan dua ruang terbuka publik yang bisa dinikmati warga Bandung. Yang pertama adalah Teras Cikapundung, berlokasi di Babakan Siliwangi. Lalu, yang kedua adalah Taman Revitalisasi Sungai Cikapayang, berlokasi Jl. Merdeka, sepanjang tepian anak sungai Cikapayang di samping Balaikota, persis!!
image

Yang pertama saya kunjungi adalah Taman Revitalisasi Sungai Cikapayang. Dulu, sepanjang lereng sungai ini hanya trotoar licin biasa. Trotoar kecil yang kalo orang berpapasan harus mengalah salah satunya. Iya…trotoar kecil dengan pembatas pipa besi sebaagai penghalang antara trotoar dan sungai.
image

Sekarang, sepanjang Jl. Merdeka ini, trotoar tersebut disulap menjadi pedestrian icon kota modern. Trotoar dari batu alam yang luas, lengkap dengan kursi2 untuk duduk2 dan lampu jalan yang serasi. Dilengkapi dengan papan informasi terkait Revitalisasi Sungai Cikapayang. Anak sungai Cikapayang, menjadi proyek percontohan, dimana sungai ada proses penyaringan air sungai, sehingga air yang mengalir setelah proses penyaringan tersebut, menjadi air yang bersih. Trotoarnya menjadi luas, dengan hijau pepohonan dan bebatuan. Tentu ini menjadi tempat yang menyenangkan. Baik untuk sekedar duduk menikmati suasana pagi ataupun sore hari…Saya pun demikian, duduk santai menikmati pagi, sambil berjemur.
image

Berjalan-sore ke arah selatan, ke sebelah bawah….mengitari jalan ini sungguh menyenangkan. Bisa berjalan ber3 atau ber4 tanpa harus berdesakan, seru aja! Apalagi dengan disediakan kursi2 untuk duduk2. Aaaahhh, semakin menyempurnakan acara jalan2 sorenya. Trus, sudah selesai?? Belum, pedestrian ini menyambung terus hingga ke sebelah selatan (pas di belokan depan BI — seberang Taman Vanda.). Dibelokan ini, ada area yang lebih luas. Ornamen batu menjulang mengingatkan saya pada film animasi Brave, bedanya : batu2 menjulang disini dibuat ‘funky’ disorot lampu2 led berwarna warni.
image

Masih di sekitar taman Sungai Cikapayang, tepatnya di sebrang SD Banjarsari. Sebuah area terbuka yang asik buat ngadem. Ada sebuah pohon karet/beringin tua…dengan surai2 menjulur ke bawah. Di akun instagram Pak Walikota–Ridwan Kamil, ada postingan Pak Wali sedang gelayutan di sulur pohon. Ini menjadi seru, karena akhirnya banyak ikut2 glayutan dan berfoto disini.

Hyuuukkk, jalan2 ke Taman Kota yang ada di Bandung…..seru looh…..
image
*postingan yang terlambat karena ini adalah tulisan awal tahun baru yang tersimpan di draft dan belum sempat di posting*

Wisata Keliling Kota Bandung

Hyuuuk, Wisata Keliling Kota Bandung

image

● Mau ke Bandung Utara? Kita ke Dusun Bambu, lanjut Tangkuban Perahu, pulangnya sekalian ke Floating Market, dan jangan lewatkan Farm House-yang terkenal dengan rumah hobbit-nya dan melipir ke Rumah Mode (kalo mau belanja ke FO) dan makan malam di Iga Bakar Pak Jangkung di Jl. Cipaganti

● Atau mau ke Bandung Selatan? Ke Kawah Putih (siapkan jaket atau baju tebal, karena disini hawanya dingiiiiinn), lanjut ke Danau Situ Patengaan, yang sepanjang jalan pemandangan terhampar kebun teh — nyeberang  pake perahu ke Pulau Batu Cinta dan menikmati pemandangan disana–Tak lupa pulangnya mampir ke sentra sepatu Cibaduyut dan jajan batagor di sekitaran jalan kopo.

● Mau di Bandung kota?? Boleh juga. Ke Taman Balaikota, lanjut ke Taman Revitalisasi Sungai Cikapayang, Trus ke Taman Vanda…..berjalan kaki ke Braga (berfoto2 disana), Gedung Merdeka, lanjut ke Taman Alun2 yang terkenal dengan rumput sintetis-nya. Makan siang di Warung Nasi Khas Sunda yang sambel-nya pedas aduhai…. lanjut ke Taman Teras Cikapundung, jajan lumpia basah enak di sekitaran Ganesa, trus ke Gedong Sate (berfoto2 disana). Dan kalo belum pernah ke Masjid Pusdai, bisa sekalian sholat Maghrib disana.

● Atau mau Wisata Museum? Kita bisa ke Museum Pos yang ada patung2 diorama dan aneka perangko2 langka, lanjut ke Museum Geologi (satu2nya museum fosil2 dan bebatuan mineral di Indonesia). Berlanjut ke Museum KAA di Gedung Merdeka. Pernah ke Museum Nike Ardilla?? Naaahh, bagi yang belum pernah bisa coba kunjungi kesana….melihat2 peninggalan dan memorabilia sang legenda cantik NIKE ARDILLA.

● Mencoba Wisata Kuliner? Ini lebih asyik….
Dari mulai sarapan pagi di Kupat Tahu Gempol, atau roti bakar di Roti Gempol. Jajan Seblak basah pedas di pinggiran jalan, icip2 kue cubit green tea di sekitaran Cisangkuy sambil nyeruput yoghurt. Makan siang Nasi Timbel di sekitaran Istiqomah atau mau coba masakan sunda Ibu Imas di Kebon Kelapa?? Yang racikan sambilnya endooolll!!  Atau mau mih Kocok & Sop Kaki “Mang Dadeng” di Jl. Banteng?? Nah, jangan lupa
sop buah Mang Ewok di belakang Gedong Sate. Lanjut jajan Lumpia basah enak di Jalan Ganesa. Hayuukk saya siap mengantaaar…dan siap di traktir tentunya. Gak nolaaakkk.
Mau pake motor (kalo wisata taman kota), tentu bisa.
Mau pake mobil (rame2 bareng keluarga/teman), bisa pake Xenia atau Avanza. Mobilnya ber AC lengkap dengan sopir maksimal 6 Orang.
Mau menjajal semuanya, boleeehh…hayukk aahhh.
Sesuaikan saja dengan kebutuhan….
Bonusnya saya fotoin deh…. hehehe

Tinggal kontak saja
RIDWAN SPEKTRA
via WA di 083820100971
atau via BBM : 765348FF

Semoga saya bisa membantu teman2 yang ingin berwisata di kota Bandung….lengkap dengan foto2 bagus yang bisa dipajang di instagram dan facebook.

Hasil Foto2 dari Atas Bandros

Kalo orang lain pengen selfie saat naik Bis Bandros, maka saya berbeda. Saya ingin memotret apa yang saya lihat, apa yang saya jumpai, apa yang kita lewati saat melintas dengan bis tingkat 2 berwarna merah tersebut. Hasilnya bagus atau tidak, tak masalah…dibilang objek fotonya terlalu umum, juga tak menjadi soal. Memotret dari ketinggian saat Bis Bandros sedang berjalan, adalah sesuatu yang menarik.

Yang belum tahu rute Bis Bandros, melewati jalan mana saja, silahkan ikuti foto2 berikut ya. Start dari Taman Cibeunying, Bis bergerak mengarah ke jalan Citarum, dan berikut ini beberapa ratus meter sebelum berbelok ke Jl. Diponegoro.

image

Saat melintas Jl. Diponegoro, depan RRI Bandung, jalanan masih lengang dan sepi… ada kabel rendah membantang, yang membuat kami harus merunduk.

image

Di Jalan Diponegoro, objek foto yang wajib dibidik adalah Gedong Sate. Nah, melintas beberapa detik di depan Gedung yang menjadi ikon kota Bandung, bisakah mendapatkan momen?? 😆

image

Jawabannya adalah BISA!!

Dari Gedong Sate, bis meluncur ke Jalan Dago. Tidak ada yang spesifik sepanjang Dukomsel sampai dengan BIP, hanya saja jalan yang biasanya padat dengan kendaraan, sabtu pagi teras lengang. Itulah salah satu alasan saya memilih naik Bandros hari sabtu pagi : bebas macet!

image

Selepas Jl. Dago, disambung Jalan Merdeka. Ada gedung baru, menjulang di depan BIP. Sebuah kondotel : kondominium-hotel,  baru nan cantik. Berbanding terbalik dengan gedung jadul di sebelahnya yakni Panti Karya.

image

Masih di Jl. Merdeka kita akan melewati Balai Kota. Yang terbaru di Jalan Merdeka adalah Taman Vanda. Taman ini baru saja selesai dikerjakan untuk menghiasi acara KAA. Walaupun tidak terkejar waktunya (saat KAA, taman ini belum rampung 100%).

image

Sayang, saat melintas taman ini, air mancur-nya lagi gak jalan. Untungnya, taman dengan latar gedung BI ini masih fotogenic, sehingga tetap terlihat ‘geulis’ hehehe…

image

Ini adalah Gereja Katderal yang legendaris. Bangunan vintage ini tetap indah dan anggun. Sayang, saya tidak mendapat gambar yang lebih baik dari atas bandros. Kecepatan bis melintas, tidak bisa berbanding dengan ketepatan, dari mana saya harus memotret gereja cantik tersebut….

image

Masih di Jl. Merdeka, ini adalah hotel Panghegar, tepat disamping rel kereta Api.

Kemudian, Bandros mengarah ke Lembong, lalu ke kanan yaitu Lengkong. Dan yang menarik buat saya adalah Hotel Preanger. Walaupun hotel ini terlihat megah dan modern, tapi tidak ‘menganggu’ bangunan aslinya yang dibiarkan retro dan menjadi salah satu heritage kota Bandung.

image

Nah, dari dari sini, Bis Bandros berbelok ke kanan, yaitu jalan Asia Afrika. Bersyukur, karena dipersimpangan lain sedang lampu merah, maka saat Bis Bandros melintas, jalan Asia Afrika tampak lengang dan indah.

image

Jalan ini masih cantik paska perayaan KAA. Pot bunga yang berjejer rapi di sepanjang jalan, bola batu yang bertuliskan nama2 negara peserta KAA, kursi besi berwarna tembaga semakin menguatkan retrospective jalan ini. Sedaaapppp…

image

Melewati hotel Homan….

image

Masih ada sisa-sisa nuansa KAA

image

Mencoba membidik gedung Huis Van de Vries…

Terus semakin ke barat, maka memotret pun menjadi semakin bergairah, tercabik antara ingin mengambil dengan angel yang beda tetapi Bis Bandros terlampau melaju dengan cepat walaupun sebenarnya gak cepat2 amat sih, tapi tetap aja serasa gak keburu, fiuuhh.

image

Sempat menjadi pusat perhatian saat melewati segerombolan anak TK yang sedang mengunjungi museum KAA di Gedung Merdeka lalu kami pun dadah dadah dari Bandros….😂

image

Melewati 2 Menara “Two Towers” yang menjadi ikon alun-alun Bandung….

Dan masih sempat memotret gedung SWARHA yang cukup legend…

image

Dari sini, bis belok ke kanan, Jl. Banceuy. Saya sudah tidak memperhatikan penjelasan tour guide, *disebelah kanan kita adalah penjara Presiden Soekarno blah..blah…blah….*

Masuk ke jalan Braga, saya benar2 tidak sempat memotret Gedung Bank BJB, karena tepat di belokan tersebut ada kabel semerawut yang sangat-sangat rendah, sehingga kami semua harus kembali merunduuuukkkk….

image

Yang istimewa di Jl. Braga adalah sepanjang jalan tersebut tidak ada kabel listrik yang membentang. Kami, dipersilahkan untuk selfie sukaesih, karena di jalan ini Bus Bandros melelaju dengan sangat pelan….

image

Coba perhatikan, jalan yang sarat dengan nostalgia orang2 Belanda, dengan bangunan yang serba retro, vintage semakin sempurna dengan tidak adanya kabel yang membentang…. suka deh…

image

Memandang langit Braga…

Dari Braga, Bis Bandros berbelok ke kanan, yaitu jalan Lembong (lagi). Nah disini saya sudah wanti-wanti, akan membidik taman di pertigaan Jl. Veteran, yaitu taman yang ada patung Adjat Sudradjat, pemain Persib yang sohor tahun 80-an. Oke, saya pun bersiap….

image

Tadaaaa….hehehe obsesi yang terlaksana…

Oke, Bis Bandros melaju ke Jl. Veteran, lalu ke jalan Sunda dan sekitarnya. Sebetulnya saya sempat memotret rumah tempo doeloe di sekitar Gor Saparua Bandung. Rumah tersebut disebut terkenal dengan sebutan Rumah Kentang, yang mana jika kita melewati rumah tersebut dan mendapati bau kentang, maka konon sedang ada penampakan. Sayangnya, pada saat memotret rumah tersebut hasilnya “blur”. 😕

Memasuki jalan, Riau dan Bis Bandros jelang kembali ke Taman Cibeunying. Sebelum tiba di Taman Cibeunying, seluruh awak dan penumpang Bis Bandros diajak menyanyikan lagu Halo-halo Bandung, yang disambut dengan antusias.

Demikian reportase (dan pamer foto)-yang berkepanjangan. Beneran, ini reportasenya kepanjangan…. sori ya temanz, semoga niat saya “ngabibita” naik Bandros, berkeliling Bandung di akhir pekan ini benar-benar menjadi pelatuk, sehingga kalian benar2 pengen keliling seperti saya….. *harapan yang rada maksa* 😆

Keindahan Senja

Ada banyak orang, yang beruntung bisa menyaksikan keindahan langit senja. Sebagian mungkin tidak peduli. Sebagian lain, mungkin mengabadikannya. Ada juga yang sengaja menunggu senja baik di pantai maupun di pegunungan. Trus, kalo yang mengejar senja?? Ada! Saya dan rombongan termasuk yang pernah mengejar senja, khawatir sunset yang hanya beberapa menit itu terlewatkan.

Berikut ini, pengalaman saya menyaksikan keindahan langit senja yang sempat saya capture.
image

Ini adalah senja di langit borneo. Beberapa saat sebelum mendarat di Kalimantan, saya mendapat suguhan sebuah pemandangan luar biasa indah. Sunset dari angkasa dengan pemandangan yang amat sangat luas, tanpa batas…
image

Saya berada di Masjid Unisba, mau sholat maghrib. Pada saat saya mengcapture gambar ini, saya takjub dengan permukaan awan seperti kabut yang berwarna merah, sementar nun jauh di sebelah barat, langit tanpa awan berwarna keperakan. Shiluet hotel Novotel terlihat jelas dari arah Jl. Tamansari.

image

Kalo yang ini, saya berada di ketinggian kawasan Dago, tepatnya di Bukit Dago Pakar. Saya berada di parkiran sebuah kafe yang tidak terhalang pembatas, sehingga pemandangan ke arah matahari tenggelam bisa di capture dengan leluasa.

image

Ini di sebuah tempat, yang beken di tahun 2014 kemarin. Yap, ini di Dulang! Saya mendapat pemandangan misty berkabut sesaat setelah hujan gerimis. Awan bergumpal bagian tengah tampak seperti celah terbuka dan berwarna keperakan terpantul semburat sisa2 sinar matahari yang akan tenggelam. Beruntung, menjelang sunset, langit kembali clear, beniiing.

image

Pelangi indah ini saya dapatkan menjelang tahun baru 2015 di Jl. Jakarta Antapani, arah Arcamanik. Jadi, saat itu saya baru pulang dari Kircon dan sempat berteduh karena hujan. Saya selalu senang melihat pelangi, apalgi kalo warnanya tebal-tidak bias atau pucat. Pelangi yang saya lihat ini melengkung setengah lingkaran, seakan membelah langit. Kereen!

Sedikit Yang Tersisa di Bandung

image

Sudah sering saya melewati jalan Asia Afrika, gedung ini selalu luput dari perhatian. Biasanya, kita lebih tersedot untuk memilih Gedung Merdeka, Savoy Homman, ataupun Gedung Huis Van de Vries sebagai objek foto.

Saya pernah mencoba membidik gedung ini dari seberang jalan-samping Masjid Raya, blm pernah melihatnya utuh, seindah dan seanggun ini. Saya belum mencari tahu nama gedung ini, tapi saya bangga ada instansi perbankan yang menggunakan dan merawat cagar budaya ini, seperti halnya Huis Van de Vries.

Semoga, bangunan-bangunan arsitektur art deco yang memiliki nuansa heritage, ada unsur historis, tetap dipertahankan sebagai cagar budaya. Semoga menjadi cermin, bahwa kita adalah masyarakat yang menghargai eksistensi masa silam. Semoga….

~6 Februari 2014~

Museum Geologi

Dari Stasiun Hall Bandung, motor saya melaju arah Jl. Diponogoro. Waktu menunjukan setengah sepuluhan-masih pagi, masih banyak waktu. Target saya berikutnya adalah Museum Geologi. Sudah lama sekali saya tidak berkunjung ke Museum Geologi. Seingat saya, terakhir kunjungan ke Museum adalah waktu sekolah, jaman masih SMA. Ya ampuuun, lama sekaliiii….

Sudah diperkirakan bahwa saya akan menemui kemacetan pasar minggu kagetan, di seputaran Gedong Sate-Gasibu. Saya harus memutar arah hingga ke Jl. Citarum. Tapi tetap, saya mentok di jalan Diponogoro, dan pasrah dengan pasar tumpah yang hanya seminggu sekali itu.

Memasuki Gedung Museum Geologi, ternyata sudah ramai pengunjung, terutama anak-anak sekolah. Saya tidak membuang waktu, langsung menuju loket penjualan tiket. Yap, ternyata tiketnya cuma Rp. 3000 saja. Tiket sudah di tangan, dan mari kita jelajahi museum ini….

image

Begitu melewati pemeriksaan karcis, saya langsung masuk dan  mengambil arah kanan. Sebuah ruangan besar seperti aula, dengan atap tinggi, yang dipenuhi dengan kerangka binatang purba. Kerangka tersebut telah menjadi fosil dan di rekontruksi seperti aslinya.

Sebuah kerangka dinosaurus, jenis T-Rex terlihat menjulang. Dengan background lukisan yang menggambarkan kehidupan dinosaurus pada masa itu, fosil tersebut ‘mengilustrasikan’ betapa mengerikan hewan purba pemakan daging tersebut.

image

Yang menarik lainnya adalah fosil dari kerangka  gajah purba. Ini mengingatkan saya pada Manny, tokoh gajah purba yang ada di film animasi Ice Age. Gadingnya yang mencuat, sangat mudah dikenali kalo itu adalah gajah. Ada pula fosil2 lain seperti kudanil dan banteng, dengan.keterangan cukup detail.

image

Pada bagian lain, terdapat informasi tentang sejarah awal kehidupan, gunung-gunung merapi di Indonesia, lempeng bumi dan sejarah Kota Bandung, yang mana pada masa purba merupakan lautan. Ini dibuktikan dengan temuan fosil-fosil binatang laut seperti kerang raksasa di pegunungan kapur Padalarang Kabupaten Bandung.

image

Fosil kerang sebesar jolang-bak air buat mandi bayi-dan fosil-fosil binatang laut lain yang berusia jutaan tahun, tertata rapi. Penataan lighting yang cukup baik membuat tampilan kerang ini terlihat menawan.

Di bagian ruangan lain, terdapat sejarah asal muasal manusia. Ada berbagai fosil-tengkorak manusia-baik yang ditemukan di Indonesia maupun di luar negeri. Fosil-fosil tersebut merupakan cikal bakal sejarah manusia pada masa sekarang.

image

Puas dengan benda purbakala, saya melanjutkan ke lantai atas. Yuuukk…ke atas….

Di ruangan ini diklasifikasi menjadi Pertambangan Mineral & Energi, Pemanfaatan Batuan & Mineral, Eksplorasi & Eksploitasi, Mineral dalam Kehidupan Sehari-hari, Bahan Galian Komoditas Nasional, Gempa Bumi & Gerakan Tanah, Bahaya & Manfaat Gunung Api, dan Air & Lingkungan.

Begitulah kira-kira, kalimat-kalimat ilmiah yang terpampang disana. Saya tidak peduli dengan itu-dengan nama-nama batuan yang sulit diucapkan dan sulit untuk diingat-ingat. Saya lebih tertarik mengamati bongkah-bongkah batuan dan mineral yang ada disana.

Ruangan disini sepertinya sengaja dibuat redup. Setiap pajangan batuan atau mineral,yang terlindung kaca, diperkuat dengan lighting yang mendukung. Hasilnya, memang luar biasa. Sebongkah bijih emas, berkilau tertempa lampu sorot. Saya terpaku disitu beberapa saat sambil bergumam dalam hati “Oooh, iniiii….tho bahan baku emas” terjebak antara terpana merasa kagum 🙂

image

Pada bagian lain pajangan, saya lagi2 terpesona dengan keindahan bongkahan batu2 mulia. Dipajang pada sebuah piringan bercahaya yang berputar pelan, sehingga kita bisa melihat seluruh permukaan batu-batu mulia itu. Sebongkah batu mineral mentah, disandingkan dengan butiran batu yang sudah diasah dalam berbagai ukuran. Lampu sorot menjadikan batuan tersebut benar2 terlihat mahal. Safir, ruby, dan giok adalah sedikit batuan mulia yang sempat saya ingat. Bagus sekalii…

image

Waktu sudah semakin siang, dan saya rasa ini cukup. Menjadi turis dan berwisata di kota sendiri, ternyata menyenangkan. Biaya yang dikeluarkan tidak mahal, tapi mendapat banyak inspirasi dan pencerahan.

image

Sebelum pulang, saya menyempatkan menginjakkan kaki di Taman Bebatuan. Taman ini berada di depan Museum, tepatnya sebelah timur. Tampaknya taman ini masih baru-perasaan dulu tidak ada. Taman ini kereeen. Setiap batu dibuat dengan formasi yang menarik diberi petunjuk : misalnya batu granit, batu konglomerat dan lainnya.

image

Tadinya masih mau duduk-duduk, atau sekedar melihat kolam ikan yang ada di taman itu. Tapi sepertinya tidak memungkinkan. Saya sudah konfirmasi kehadiran pada sebuah acara gathering di sebuah restoran ala Jepang-all you can eat- Asyik Dihari Minggu #3. Yihaaa….!!

#…dan sepeda motor pun melaju ke arah Dago….

***

Monumen Purwa Aswa Purba

Bila ada waktu luang, saya lebih suka keliling kota Bandung. Ngapain aja?? Tak jelas, tapi kadang saya hanya berputar2, menyusuri jalan, memperhatikan keadaan sekitar, atau mencari hal2 yang-menurutku-unik. Pernah ke pasar loak Cihapit, atau di Pasar barang bekas Astana Anyar, dan memperhatikan prilaku penjual-pembeli barang bekas yang ada disana.

Kali ini, saya tidak ingin ke pasar loak. Sebenarnya, di minggu pagi yang cerah ini, saya ingin ke Taman Hutan Raya Djuanda, atau biasa disebut Dago Pakar. Karena sepeda motor saya kondisinya tidak memungkinkan, saya pun mengurungkan niat, dan-seperti biasa-saya memutuskan berkeliling mengitari kota Bandung.

Tak perlu menunggu lama, tetiba saya ingin pergi ke jalan Pasirkaliki. Yaaa…benar, saya ingin berdiri di jembatan itu, memperhatikan dan menunggu kereta api yang lewat di bawahnya. Yuk, Berangkaaatt….

Menuju jalan Pasirkaliki, saya mampir di sebuah patung harimau yang terletak antara pertigaan jalan Wastukancana.Entah patung apa namanya, konon lambang Batalyon Siliwangi. Persisnya apa saya juga tidak tahu karena saya tidak menemukan keterangan apapun disana…..

image

Tiba di jalan Pasirkaliki, saya berdiri di jembatan-setelah memarkir sepeda motor di tempat aman. Memandang ke arah timur, tampak Stasiun Bandung. Terhampar rangkaian rel kereta api yang  begitu banyak dan njelimet. Gerbong-gerbong yang terparkir tampak.dari kejauhan. Sebuah kereta api panjang, nampak siap diberangkatkan, suara mesinnya menderu-pelan, terdengar sayup.

image

Walaupun yang melintas baru lokomotifnya saja, itu pun sudah membuat saya senang. Suara ‘klakson’nya yang memekak cukup menarik perhatian pengguna jalan. Beberapa sepeda motor yang membonceng anaknya tampak menepi, dan ikut turun dan melihat kereta melaju. Wajah anak-anak kecil itu tampak bergairah. Salah satunya menunjuk2 gerbong kereta.

image

Saya masih berdiri di jembatan itu, ketika kereta api panjang yang sejak tadi mesinnya dinyalakan tiba-tiba ‘berteriak nyaring’ dengan bunyi teeeet panjang. Bergerak perlahan menuju barat-arah Jakarta-itu berarti kereta api itu akan melintas tepat dibawah jembatan dimana saya sedang berdiri. Saya memperhatikan dengan sabar, dan tidak mau kehilangan momen saat kereta api tersebut melintas pelan, menembus bawah jembatan hingga menjauh, dan pergi menjauh hingga akhirnya hilang dari pandangan. Dan saya bahagia.

Puas melihat kereta api, saya langsung menuju Stasiun Hall kota Bandung. Saya hendak memotret lokomotif kereta api kuno yang terpajang di depan stasiun hall tersebut.

image

Lokomotif itu masih terpajang dengan gagah. Cat-nya nampak masih cerah, seperti baru dipoles menyambut hari lebaran. Di bagian bawah kereta tertera tulisan Monumen Purwa Aswa Purba. Harus mencari tahu, apa artinya ya….

image

Dimata saya, lokomotif merah-hitam itu masih menyimpan pesonanya. Masih mengagumkan, seperti saya sering melihatnya waktu kecil dulu. Semoga Lokomotif itu tetap terjaga, terawat dan bisa mempertahankan kegagahannya hingga generasi anak saya, atau bahkan cucu saya kelak. Mari kita lanjutkan jalan-jalan di minggu pagi ini….

#Menyalakan mesin sepeda motor, dan berlalu…

Melipir di Sabtu Pagi

image

Sabtu Pagi….
Ini adalah akhir pekan, tapi saya tetap bergegas pagi-pagi, seperti biasanya. Tidak ada rencana apapun yang terbingkai pagi ini. Tapi langit yang cerah begitu menggoda untuk melipir sebentar saja, sebelum ‘mangkal’ ditempat yang biasa 🙂

Sepanjang laju sepeda motor, mood mulai terbangun. Gedong Sate, Taman Dago, Jalan Layang Pasupati, sepertinya menarik buat jadi ‘artikel fotografi’ edisi kali ini. Berbekal kamera henpon yang sudah low-batt, dan selalu mecolok ke power bank, semoga saya bisa menangkap objek dengan baik. Cuuuzz ah, bismillah….

Gedong Sate, Gasibu
Saya selalu tertarik dengan cagar budaya yang bernuansa vintage. Gedung Sate, adalah salah satunya. Sayangnya, sekarang ini sudah agak kesulitan jika kita ingin berfoto-atau memfoto gedung sate. Yep, PKL Tajiir-PKL yang jualan pake mobil-yang membuka lapaknya TEPAT di depan Gedong Sate (biasanya jualan Susu Murni, Busana, Sepatu dll), benar2 mengganggu pemandangan. Beruntuuung, sungguh beruntung… Pagi ini Gedong Sate sedang ada acara -entah acaranya apa-dan saya mendapati Gedung Sate bersiiiih dari PKL, bersiiih dari parkiran-dan saya sendiri bingung, dimana saya bisa parkir motor. Tampak satpol PP bersiaga di tepian jalan. Aaahh, betapa menyenangkan. Saya bisa sangat leluasa mengambil foto ‘tepat’ di depan Gedong Sate.  Yihaaa….
Setelah mendapat parkir agak jauh disebelah utara, saya mulai menikmati pemandangan sekitar Lapangan Gasibu. Sekelompok anak SMA PGII tampak sedang berolah raga adu lari, bersorak riuh rendah. Sementara seorang siswa diantaranya memegang stop watch dan berteriak ” duabelaaass”, dan saya melintasi gerombolan tersebut dengan tatapan ‘saya ikutan dooong’.

image

Kemudian saya berdiri tepat di bawah tiang bendera yang ada di lapangan Gasibu, tak ada apapun yang menghalangi pandangan ke arah Gedong Sate yang tetap anggun dan megah seperti tak lekang olah zaman. Hal sederhana tersebut (berdiri dibawah tiang bendera menatap Gedong Sate) ternyata membahagiakan. Apalagi kalo menatap sate segede gedong ya #Preeett!

image

Tampak pula segerombol orang  sedang melakukan sesi pemotretan pre-wedding di tangga Gasibu sebelah selatan, dengan background Gedong Sate. Kru-nya tampak sibuk, ada yang mengarahkan gaya, ada juga yang memegang-buat aku mirip nyiru atau nampan besar mengilap-dihadapkan pada sepasang calon pengantin berbaju putih-putih berwajah wajah kikuk.

image

Saya menyebrangi jalan yang mulai padat kendaraan, berdiri didepan pagar yang dihalangi orange cone dan mulai mencari angle yang pas dalam membuat mahakarya ‘artikel’ ini dan membiarkan satpam yang mengawasi dari jauh dengan pandangan curiga….

image

Taman Cikapayang  D  A G O
Selanjutnya, sepeda motor mengarah ke Taman Cikapayang. Ruang terbuka hijau yang didesain oleh Ridwan Kamil-sekarang menjadi Walikota Bandung-adalah salah satu RTH favorit di Bandung.

image

Taman dengan huruf-huruf besar berwarna warni D A G O, serasi menghias sekaligus identitas taman ini. Pada saat saya kesana sudah ada beberapa orang dari komunitas gowes yang sedang ngaso disana. Biasanya kalo sore, banyak  orang sekedar nongkrong, atau foto-foto di huruf D-A-G-O-nya. Biasanya ada juga komunitas skateboard yang berlatih-beraksi disini.

image

Jalan Layang Pasupati
Oke, selesai dari Taman Cikapayang, saya meluncur ke jalan layang Pasupati. Tak jelas, apa yang saya mau disini. Hanya sekedar ingin memandang ke arah selatan jembatan dan melongokan kepala kebawahnya untuk melihat kepadatan rumah-rumah penduduk yang tampak pabalatak dan tampak rapat nyaris tanpa celah. Wowow….

image

Dari kejauhan, tampak Hotel Novotel, Gedung BRI Alun-alun dan ‘Two Tower’ menara Masjid Raya Bandung. Sebenarnya, saya masih ingin melanjutkan ke Braga atau Jl. Asia-Afrika (yang kalo sabtu pagi, jalannya lowong dan enak buat motret bangunan vintage). Tapi sepertinya, waktu tidak memungkinkan dan saya harus segera bekerja. Petualangan membuat ‘artikel fotografi’ nya, dilanjutkan  esok, atau lain waktu kali yaaa….

***