Tantangan Memotret #BIRU Hari ke #3

Tantangan hari ke #3 bertema #BIRU. Lampu-lampu sorot menghiasi panggung konser KLa Project, beberapa waktu lalu di Trans Studio Bandung. Mayoritas dihadiri oleh fans dan pecinta musik dari rentang zona 90an. Seru, bernostal-gila bersama….. – with Risna

View on Path

Seperti Dikejar Dosa, Duet Kamasean & Syaharani : SEDAAAP!!

image

Sebuah kejutan menarik baru saja dilemparkan oleh perusahaan rekaman Target Pop. Kejutan berupa singgel terbaru yang diputar serentak pada 15 April 2016 di 250 radio di seluruh Indonesia. Sebuah komposisi puitis karya Seno Hardjo yang dilantunkan oleh dua vokalis berbeda generasi, berbeda karakter dan berbeda genre musik. Judulnya adalah Seperti Dikejar Dosa satu komposisi unik, berhasil bawakan oleh Kamasean dan Syaharani dengan harmoni nyaris sempurna. Tidak ada yang sempurna, karena sempurna hanya milik Andra & The Backbone.

Seperti Dikejar Dosa, sejatinya merupakan project ego seorang produser dan penulis lagu Seno M. Hardjo. Sebuah karya bermuatan idealisme tingkat tinggi, bersisian dengan balutan musik kekinian racikan arranjer muda Aldi Nada Permana. Bait demi bait lagu, berhasil dibawakan oleh dua penyanyi Kamasean dan Syaharani dengan penghayatan yang PAS. Benar-benar pas, tidak berlebihan tapi enak didengar. Kehadiran Syaharani dengan karakter vokal sedikit serak menambah komposisi lagu ini menjadi makin sedap. Vokal sexy-nya yang terbiasa berada di zona jazz, kali ini harus kompromi dengan vokal Kamasean dalam balutan musik pop. Lalu, keduanya berpadu, berbagi bait, membaurkan nada, dan memolesnya dengan improvisasi. Kolaborasi pun menggulir. Keduanya saling menutupi-melengkapi-memperindah lagu ini dan menjadi klimaks dari sebuah karya, yang akhirnya ingin didengarkan lagi….lagi….dan lagi….

Singgel ini rencananya akan menjadi salah satu pengisi album Born To Be A Singer. Nantinya, selain Kamasean yang berduet dengan Syaharani, akan ada penyanyi muda lainnya seperti Richard Chriss, si Ganteng bersuara kece Fadil Muhammad, pianis jebolan NEZ Academy Barsena Bestandi dan satu penyanyi wanita yang masih dirahasiakan.

Can hardly wait….

Wisata Air Terjun Maribaya Lembang

image

Maribaya, sudah lama menjadi objek wisata alam yang sangat terkenal terletak di Kecamatan Lembang. Berjarak 5 km sebelah timur Lembang dan kira-kira 15 km dari Kota Bandung. Sempat beberapa waktu di tutup dan melakukan pembenahan dan renovasi. Kini, Maribaya telah berganti penampilan. Namanya pun berubah menjadi Natural Hot Spring Resort & Waterfall.

image

image

Seperti apa perubahan Maribaya yang sekarang?? Lebih kekinian. Contoh, untuk tiket masuk, sudah menerapkan sistem digital. Tiket berbentuk seperti ATM, yang diakses di pintu masuk yang dijaga oleh petugas. Arsitektur dan landsekap-nya pun lebih cantik dan menarik. Fasilitas lainnya seperti kolam rendam air panas, amphitheater untuk pertunjukan kesenian, kafe dan resto, foodcourt, sky bridge, dll. Bandingkan dengan sebelum renovasi, cuma ada penjual makanan seadanya dengan tenda biru dan gelar tikar, dan pengamen hilir mudik menyambangi pengunjung dengan agak memaksa.  Sekarang, sdh tidak ada lagi….

image

image

Harga tiket masuk 35ribu, katanya sih bonus air mineral. Tapi saya tidak ambil air mineralnya karena kurang mendapat informasi dimana saya bisa menukarnya. Harga tiket 35rb adalah masuk ke lokasi Maribaya saja. Jika berminat berendam, terapi ikan, arena permainan, ketangkasan, mini zoo dll, dikenakan tarif berbayar lagi. Lalu, yang menjadi catatan penting adalah : di pintu masuk tertera tulisan : pemeriksaan tas (DILARANG MEMBAWA MAKANAN DAN MINUMAN DARI LUAR). Artinya, kita memang diharuskan membeli makanan dan minuman di kafe dan resto yang ada di dalam objek wisata.

image

WOT BATU, Gallery Batu Karya Seniman Sunaryo

image

WOT Batu, sejatinya adalah sebuah ruang terbuka yang menampilkan karya seniman terkenal Sunaryo. Terletak di kawasan Bukit Dago Pakar, tidak jauh dari gallery Selasar Sunaryo–gallery yang sudah terlebih dahulu terkenal di kawasan yang sama. Wot Batu, berada di ketinggian kota Bandung dan dikeliling oleh pegunungan yang indah dipandang mata.

Masuk ke Wot Batu, berarti kita akan menikmati sebuah suasana karya seni yang tidak bisa didefinisikan nilainya. Maka, harga tiket masuk seharga 50ribu rupiah per orang (umum) dan 30ribu rupiah (pelajar & mahasiswa) bukanlah sebuah ukuran mahal atau murah. Akan tetapi lebih mengarah pada apresiasi karya seni tinggi sang kreator, dimana seorang seniman seperti Sunaryo merefleksikan tatanan kehidupan beserta elemen-elemen alam menjadi sebuah karya seni sangat tinggi. Ada ikatan filosofi sangat kuat setiap karyanya.

Dipandu oleh seorang perempuan cantik-yang dengan ramah akan membantu menjelaskan dengan detail setiap bentuk batu yang ada disana. Tentu saja, karena sebagai orang awam, kita tidak pernah tau makna dibalik bentuk artistik yang tersaji. Disanalah fungsinya pemandu, yang menerangkan, menjelaskan dan membawa kita ke sebuah ruang bawah tanah gelap gulita untuk menyaksikan pemutaran video awal mula terjadinya kehidupan: BIG BANG!

Video berdurasi sekitar 4 menit yang menggambarkan terjadinya Big Bang, di putar di sebuah ruangan kecil dibawah tanah, gelap gulita. Video di refleksikan pada sebuah batu bulat dengan pencahayaan artistik yang sangat minimalist. Video menceritakan bagaimana awal mula terjadinya alam semesta dengan sebuah ledakan yang luar biasa, hingga terbentuk galaksi-galaksi–salah satunya galaxy yang kita tempati yaitu Bima Sakti. Bumi, hanya sebagian keciiiilll dari galaxy kita. Sound effect-nya bikin bulu kuduk merinding. Konon, sound effek tersebut direkam dari pergerakan bebatuan di dalam perut bumi dan pergeseran saat proses pembuatan batu-batu di galery ini. Luar Biasa!!

Tentu, yang paling menakjubkan dari bentuk2 karya seni ini adalah : tumpukan bebatuan di atas tepian kolam. Penataan yang sedemikian artistik dengan latar belakang pegunungan, memiliki kesan magis mendalam. Ternyata, bentuk artistik tersebut maknanya adalah refleksi alam kematian. Akan ada suatu waktu dimana kehidupan berakhir. Kita akan memasuki alam yang baru setelah kita meninggal. Alam kematian…..

Ada banyak cerita menarik dari sang seniman. Beliau menceritakan, bahwa setiap batu yang akan digunakan memiliki energi yang berbeda di setiap perletakannya. Memiliki cerita, bahwa darimana masing-masing bebatuan tersebut berasal. Memiliki cerita, bagaimana bentuk artistik bisa tercipta begini…..bisa tercipta begitu…. dan semuanya bukan kebetulan. Ada peran Sang Pencipta yang ikut menentukan setiap tatanan……

Kunjungan ke Wot Batu berakhir disebuah tempat nyaman berdinding kaca, untuk beristirahat. Pemandu menyajikan minuman dingin (refreshment). Minuman dingin berwarna ungu dengan rasa herbal dalam gelas kecil, dinikmati sambil menyaksikan video proses pembuatan galery tersebut. Walaupun pendampingan dengan pemandu berakhir, kita masih bisa menikmati ruang terbuka untuk berfoto2 dan mengabadikan setiap bentuk artistik yang ada disana.

Oh ya pengunjung tidak diperkenankan membawa kamera propfessional atau DSLR ya, hanya kamera handphone saja.

image

Menyempatkan berfoto bersama pemilik dan sang kreator Wot Batu : Pak Sunaryo (tengah berkacamata)

Promo Bulan April & Mei di Grand Hotel Panghegar Bandung

Promo yang dimaksud adalah launching menu-menu baru di Restoran Pakuan dan Kafe Paseban yang ada di Hotel Panghegar. Menu atau jenis makanan yang diperkenalkan itu, misalnya Black Angus Ribbs — all you can eat seharga 139ribu++ di Restoran Pakuan. Promo berlaku setiap hari jumat-sabtu.

Ada juga promo menu baru seperti Banana Escape. Ini semacam dessert musiman–bahan utama buah disesuaikan dengan musim. Untuk bulan april ini, Paseban Cafe membandrol Banana Escape seharga 38ribu++. Ada pula Bandrek + Surabi Duren. Ini paket menu yang cocok buat duduk sambil menikmati sore santai. Sepaket Bandrek & Surabi Duren ini dibandrol 40ribu++

Tidak sampai disitu, Hotel Panghegar juga menawarkan menu baru Pizza Mania, bagi penyuka makanan Italia. Paseban Kafe menawarkan berbagai varian pizza seperti Tuna Delight, Satay Pizza, Marinara calzone dan Hawaiian Pizza. Aneka pizza tersebut dibandrol mulai 75ribu++.

Yang menarik adalah menu GIANT BURGER & HOTDOG. Sesuai namanya, burger dan hot dog ini berkuran super jumbo. Salah satu Chef memperagakan cara pembuatan hot dog ini, dan burger ini. Bila berminat, burger yang ini bisa dicicipi dengan merogoh kocek sebesar 85ribu++. Uniknya burger ini bisa menjadi sajian pengganti kue ultah. Tinggal ditambah lilin, dan bisa dinikmati oleh 5 hingga 6 orang.

image

–Chef Restoran Pakuan mempresentasikan Giant Burger & Hotdog–

Menurut Restina, selaku PR & Humas Hotel Panghegar masih program lain yang akan berlangsung selama bulan April dan Mei adalah Paket Business Lunch di Restoran Pakuan. Paket makan siang lengkap ini dibandrol 70ribu++. Paket makan siang ini berlaku antara jam 12 siang hingga jam 3 sore.

Masih ada lagi, yaitu BBQ Night. Bagi penyuka Barbeque ini diharapkan bisa memuaskan selera. Paket BBQ Night ini bisa dinikmati sepuasnya seharga 150ribu nett. Promo berlaku setiap hari Jumat dan Sabtu mulai pukul 18.00 hingga pukul 21.00 WIB.

image

–Sepotong hotdog, dari Giant Hot Dog, yang saya nikmati, rasanya hmmmm yuummiii–

image

–Sejumlah sajian di Paseban Kafe / Pakuan Restoran yang bisa dinikmati–

Kado Tahun Baru 2016, untuk warga Bandung

Yap, awal tahun 2016 yang lalu, Ridwan Kamil menghadiahkan dua ruang terbuka publik yang bisa dinikmati warga Bandung. Yang pertama adalah Teras Cikapundung, berlokasi di Babakan Siliwangi. Lalu, yang kedua adalah Taman Revitalisasi Sungai Cikapayang, berlokasi Jl. Merdeka, sepanjang tepian anak sungai Cikapayang di samping Balaikota, persis!!
image

Yang pertama saya kunjungi adalah Taman Revitalisasi Sungai Cikapayang. Dulu, sepanjang lereng sungai ini hanya trotoar licin biasa. Trotoar kecil yang kalo orang berpapasan harus mengalah salah satunya. Iya…trotoar kecil dengan pembatas pipa besi sebaagai penghalang antara trotoar dan sungai.
image

Sekarang, sepanjang Jl. Merdeka ini, trotoar tersebut disulap menjadi pedestrian icon kota modern. Trotoar dari batu alam yang luas, lengkap dengan kursi2 untuk duduk2 dan lampu jalan yang serasi. Dilengkapi dengan papan informasi terkait Revitalisasi Sungai Cikapayang. Anak sungai Cikapayang, menjadi proyek percontohan, dimana sungai ada proses penyaringan air sungai, sehingga air yang mengalir setelah proses penyaringan tersebut, menjadi air yang bersih. Trotoarnya menjadi luas, dengan hijau pepohonan dan bebatuan. Tentu ini menjadi tempat yang menyenangkan. Baik untuk sekedar duduk menikmati suasana pagi ataupun sore hari…Saya pun demikian, duduk santai menikmati pagi, sambil berjemur.
image

Berjalan-sore ke arah selatan, ke sebelah bawah….mengitari jalan ini sungguh menyenangkan. Bisa berjalan ber3 atau ber4 tanpa harus berdesakan, seru aja! Apalagi dengan disediakan kursi2 untuk duduk2. Aaaahhh, semakin menyempurnakan acara jalan2 sorenya. Trus, sudah selesai?? Belum, pedestrian ini menyambung terus hingga ke sebelah selatan (pas di belokan depan BI — seberang Taman Vanda.). Dibelokan ini, ada area yang lebih luas. Ornamen batu menjulang mengingatkan saya pada film animasi Brave, bedanya : batu2 menjulang disini dibuat ‘funky’ disorot lampu2 led berwarna warni.
image

Masih di sekitar taman Sungai Cikapayang, tepatnya di sebrang SD Banjarsari. Sebuah area terbuka yang asik buat ngadem. Ada sebuah pohon karet/beringin tua…dengan surai2 menjulur ke bawah. Di akun instagram Pak Walikota–Ridwan Kamil, ada postingan Pak Wali sedang gelayutan di sulur pohon. Ini menjadi seru, karena akhirnya banyak ikut2 glayutan dan berfoto disini.

Hyuuukkk, jalan2 ke Taman Kota yang ada di Bandung…..seru looh…..
image
*postingan yang terlambat karena ini adalah tulisan awal tahun baru yang tersimpan di draft dan belum sempat di posting*

Konser Symphonesia, keren sih tapiiiiii……

image

Hari sabtu lalu, tanggal 7 Nopember  2015, seorang sahabat mengajak nonton sebuah pertunjukan musik bertajuk SYMPHONESIA. Acara pertunjukan musik yang digagas oleh Mahasiswa UNPAD jurusan HI. Pertunjukan musik ini sudah rutin digelar sejak tahun 2018. Biasanya menampilkan sejumlah musisi papan atas, atau musisi yang sedang hits. Nah, untuk pertunjukan kali ini, Symphonesia menampilkan Once feat Piyu Padi, Maliq & D’Esentials, Bara Suara, The SIGIT, White Shoes & The Couple Company dan lain-lain.

Melihat sederet musisi yang akan tampil, rasanya sayang jika dilewatkan. Apalagi penawaran menonton GRATIS, karena teman yang mengajak merupakan MD di sebuah radio swasta yang media partner. Oke syiiiippp, saya pun menyatakan OK!

Apa daya, menjelang tanggal 7, pekerjaan kantor cukup menumpuk. Bahkan, hari sabtu saya harus mengikuti apel pagi dan meeting bersama user sampai dengan jam 11, dilanjut dengan pertemuan intern sampai dengan jam 14. Suasana hujan saat itu membuat saya merasa nyaman leyeh2 di sofa kantor hingga nyaris tertidur. Kalo bukan karena sudah berjanji OK–mau nonton konser, rasanya enggan body ini bergeser sedikitpun dari empuknya sofa. Tapi janji adalah janji. Maka, jam 17.00, saya meluncur menuju SABUGA.

Saat masuk ke gedung pertunjukan, band yang sedang tampil saat itu adalah The SIGIT. Yang saya tau, The SIGIT adalah band indie label beraliran metal. Kemampuan musikalitasnya luar biasa dan sudah di akui di mancanegara. Mendengarkan musik metal dari The SIGIT, sangat asyik. Saya antusias menyimak performa, walaupun saya tidak hafal lagu2 mereka. Saya memuji sound engineer-nya yang bisa mensetting audio sedemikian rupa. Instrumen yang dimunculkan begitu detail dan jernih. Bahkan, saya merasa nyaman mendengarkan musik cadas dengan audio yang “santun”, tanpa memekakan telinga. Kereeeeennn!!!

Penampil berikutnya setelah The SIGIT adalah White Shoes & The Couple Company. Tidak banyak lagu yang saya tau dari band unik yang mengusung konsep retro ini. Vokalisnya berbusana ala penyanyi Ida Royani (biduan tahun 70an), minimalis. Musiknya, ya retro dengan sedikit balutan pop jazz dengan skill yahuud. Selain lagu Senandung, ada lagu berjudul MALU-MALU KUCING, yang dinyanyikan dengan ekspresif dan dinamis. Lagu jadul yang–dinyanyikan dengan sangat menarik. Begitu juga saat band ini menyajikan lagu berbahasa sunda CANGKURILEUNG. Musikalitas White Shoes & The Couple Company sangat teruji disini. Mengemas lagu daerah, menjadi sesuatu yang layak mendapat apresiasi. Sangat bagus….

Kenyamanan audio yang saya bilang “santun” tidak terjadi pada penampilan sesudahnya. Setelah White Shoes & The Couple Company, band yang berikutnya tampil adalah : BARA SUARA. Entahlah, settingan seperti apa yang dilakukan oleh sound engineer-nya. Yang jelas, saat band ini tampil, audio yang muncul tidak sebagus kedua band sebelumnya. Setiap cabikan gitar, terasa menyakitkan telinga. Begitu pun suara vocal yang muncul dari mic, terdengar sember. Kacau niiihh!! Pertunjukan musik menjadi tidak asik. Di lagu pertama, Bara Suara menampilkan performa yang secara panggung-sangat meyakinkan dan percaya diri. Lagunya semacam eksperimental pada jaman Kantata Takwa di tahun 90an. Rancak, dengan 2 backing vocal sexy yang ikut meliuk-liuk. Sayang seribu sayang, audio yang buruk, suara mic yang sember ditambah lagu2 baru yang belum populer membuat Band Bara Suara menjadi band penghantar tidur yang paling pas. Lagu ke 2…. ke 3 dan seterusnya, saya TERTIDUR. Hingga menjelang lagu terakhir, barulah saya sedikit terbangun dan berharap bahwa saya terbangun dari mimpi buruk. Ternyata tidak….diakhir penampilannya, Bara Suara masih menggelegar dengan audio yang gahar yang tidak ramah.

Kecewa dengan sound di penampilan Bara Suara–yang kalo sound-nya bagus, pasti Bara Suara saya acungi jempoool–saya masih berharap di penampilan Maliq & D’Essentials. Band sekaliber MALIQ, pasti ada sound engineer yang bisa ‘meracik sound’ menjadi lebih CLING. Apalagi hampir setengah jam jeda–menjelang Maliq naik panggung–cukuplah membuat saya berharap ada perbaikan sound menjadi kembali jernih. Sampai tibalah waktunya dua MC centil yang wak wek wok dan nampak sudah kehabisan ide untuk mengisi jeda, memanggil grup band Maliq yang disambut dengan tepuk tangan dan teriakan gegap gempita.

Intro lagu Setapak Sriwedari pun mengalun disambut histeria. Saya masih mengkerutkan kening. Ya Allah, apa telinga saya salah?? Audio-nya malah makin paraaaaahh. Suaranya instrumennya mendem dan saya tidak bisa menangkap suara vocal dengan jelas. Oh my God! Ini sungguh mengecewakan. Tidak biasanya saya menonton penampilan Maliq dengan sangat tidak antusias. Beberapa lagu dari Maliq membuat saya mengantuk dan saya masih manyun. Tiba di sebuah lagu berjudul Funk Flow, dimana Indah sebagai vokalis cewek, mendapat porsi yang lebih banyak. Sayang bangeeeet, suara Indah tidak sebagus biasanya. Lebih mirip suara chipmunk. Wooww….menakjubkan!!! Padahal lagu Funk Flow asik dinikmati karena sangat dinamis dan dibawakan atraktif.

Akhirnya batas toleransi kuping saya habis sudah. Manakala Maliq membawakan lagu dengan gimik dangdut berjudul Drama Romantika dengan suara yang–ya Alloh tolongin Baim–saya pun bergegas pulang. Penonton di barisan festival masih berjoget dan tidak peduli dengan audio yang gak karu-karuan. Melintasi kursi2 penonton sambil tak lupa mengucapkan punten….puntenn numpang lewat, saya mendapat beberapa penonton lain yang tertidur di kursinya masing-masing.

Yah, tadinya saya masih mau menunggu penampilan Once feat Piyu Padi. Tapi, saya kurang yakin dengan hasil akhir audio-nya. Dugaan saya, pasti tidak jauh beda. Saya pulang dengan sedikit ketidakpuasan. Kalo saja saya mengeluarkan uang sebesar150rb atau 200rb rupiah untuk duduk atau berdiri di festival pertunjukan ini, pasti saya akan sangat kecewa. Satu hal yang saya heran : kenapa saat The SIGIT tampil, suara sound yang terdengar begitu harmony, begitu nyaman dikuping, sekalipun musiknya metal. Audio-yang muncul begitu santun. Distorsi gitar terasa tajam tapi tidak bikin pekak. Begitupun saat White Shoes &The Couple Company tampil, suaranya sangat CLING dan menawan. Hmmm…heran…hmmm ya sudah lah……

Review Album The Great Composers : James F. Sundah & Oddie Agam

seno-m-hardjo-presents-th

Tahun 90an, merupakan tahun keemasan peradaban musik dunia, termasuk Indonesia. Pada jamannya, musisi seperti James F. Sundah dan Oddie Agam mencuat dengan karya-karya yang memukau. Adalah Seno M. Hardjo, produser musik dari Target Pop, berdedikasi, mencoba mengkangkat kembali karya-karya terbaik anak negeri. Lewat persembahannya, Bung Seno tampak sengaja berbagi panggung dengan vokalis-vokalis muda berbakat. Dari sekian banyak nama di album ini, beberapa nama adalah benar2 baru di industri musik tanah air. Tetapi, talenta, musikalitas, dan kemampuan anak-anak muda yang terlibat dalam album ini pantas mendapat apresiasi. Album ini berhasil menyulap setiap komposisi lagu-lagu yang kece pada jamannya, menjadi sesuatu yang berbeda, sesuatu yang baru dengan karakter dan kualitas yang jempolan. Yuks, kita bongkar….lagu apa dan lagu mana saja yang menyuguhkan ‘sensasi’ saat menikmati karya masterpiece anak negeri…..

IRONI (Yovie Nuno)
Yovie Nuno, mengemas lagu ini dengan khas ala mereka. Tanpa harmoni vokal yang berlebih, dengan arransemen musik sedikit orkestra. Lydia & Imaniar adalah penyanyi aslinya. Lagu ini, sempat dinyanyikan ulang oleh beberapa musisi lain, termasuk Moluccas–grup vokal R&B asal Maluku. Tapi dinyanyikan oleh dua vokalis pria dari grup Yovie Nuno menjadi sedikit spesial. Sepertinya Yovie Widianto cukup berperan dalam mengarsiteki lagu ini. Keren….

ANTARA ANYER DAN JAKARTA (Mytha & Karina)
Lagu yang awalnya dinyanyikan Atiek CB, namun lebih populer setelah dibawakan oleh penyanyi Malaysia Sheila Madjid. Lagu ini yang tak lekang di makan jaman. Dinyanyikan dengan indah oleh pendatang baru Mytha dan Karina. Saya tidak tau siapa mereka. Dua vokalis bersuara bening yang berbagi harmoni vokal, membelah lagu ini menjadi pop bernuansa R&B yang manis yang enak dan empuk…musik yang kekinian, harmoni vokal yang tidak berlebihan….keceee deh pokoknya…..

SEPTEMBER CERIA (Maruli Tampubolon)
Coba mendengarkan lagu ini dengan saksama. Pejamkan mata lalu rasakan. Pasti, yang terbayang di kepala, penyanyinya adalah Afgan. Tapi ternyata, bukan. Ini adalah musisi muda bernama Maruli Tampubolon. Sebagai orang awam, saya belum tau siapa musisi ini. Seno M. Hardjo selaku produser tentu sudah melihat bakat luar biasa pada anak muda berdarah batak ini. Orkestra yang mengiringi vokal hebat Maruli, menjadikan lagu ini makin berkesan grande dan mahal. Berhasil keluar dari penyanyi aslinya yaitu Vina Panduwinata, Maruli tampaknya akan menjadi calon bintang. Penyanyi masa depan!

CINTAMU (Fatin)
Lagu balada ini populer banget pada jamannya. Dinyanyikan oleh vokalis bersuara merdu Yana Julio. Kini, dinyanyikan ulang oleh Fatin. Sempat ragu, ‘trik’ apa yang akan ditempuh oleh penyanyi belia jebolan XFactor ini dalam menaklukan melodi notasinya. Namun, sepertinya gadis berhijab ini tahu betul karakter vokalnya yang unik, sedikit serak serta cengkok khas yang mungkin tidak bisa ditiru penyanyi lain. Dengan aransemen musik pop masa kini, dan teknik vokal yang semakin baik Fatin berhasil membuat lagu ini fresh. Keraguan saya pada Fatin membawakan karya ini berbalik 180 derajat. Lagu ini bahkan oke dijadikan single berikutnya…..

MEMORI (Richard Chriss)
Richard Chriss pernah berkontribusi di Album Seno Hardjo yang lain (Dian PP dan Fariz RM). Kini, Bung Seno memberi kesempatan lagi kepada Richard untuk berkontribusi di album ini. Dengan balutan Orkhestra, Richard membawakan lagu yang dulu sangat-sangat populer oleh Ruth Sahanaya. Jangan bandingan antara Ruth dan Richard, karena akan ada banyak perbedaan. Tapi, lihatlah hasilnya….menurut saya Richard berhasil mengemas lagu ini dengan sangat keren. Richard tetap bisa membawa ‘ruh’ lagu ini, mengaduk2 perasaan. Arransemen musiknya dan arransemen vokalnya rapih, saya suka. Ada sedikit nada tinggi di refrein laguini ditambah  dengan backing vokal sebagai pemanis, membuat lagu ini klimaks. Cucok!

AKU CINTA PADAMU (Eros Tjokro)
Siapa Eros Tjokro?? Entahlah, saya pun masih belum tau karya2nya. Tapi, bukan tanpa alasan jika Bung Seno selaku produser ‘berbagi panggung’ kepada penyanyi muda ini. Eros kebagian membawakan lagu Aku Cinta Padamu yang dulu dibawakan Itang Yunaz. Lagu ini, pernah dinyanyikan ulang oleh Sheila Madjid dengan tempo yang sama : slow pop manis. Berbeda dengan pendahulunya, Eros menyanyikan dengan format nge-beat. Musik seperti ini mengingatkan pada Shandy Sondoro, yang berada di wilayah musik groove. Saya masih menunggu ada karya2 lain dari seorang Eros Tjokro.

LILIN LILIN KECIL – (Virzha)
Inilah lagu yang diluar ekspektasi saya. Saya mengira lagu ini akan dinyanyikan dengan khidmat, manakala sang Maestro–Chrisye membawakan dengan sangat sempurna. Ternyata, dari intro lagu sudah terasa bahwa lagu ini akan ngerock. Distorsi gitar sudah menyalak sejak awal. Virzha membawakan lagu ini seolah ingin menunjukkan kekuatan vokalnya. Hmm…terlepas dari itu, saya lebih suka jika lagu ini dikemas dengan orkestrasi dengan vokal yang biasa, tapi khidmat. Kembali ke soal selera, tapi, buat saya lagu ‘gagal’ merayu telinga saya….

BEGITULAH CINTA– (Vadi Akbar & Kanya Pinandita)
Ada versi Vina Panduwinata & Harvey Malaiholo, ada versi Sheila Madjid dan Harvey. Keduanya bagus, keduanya keren. Bagaimana versi ketiga ini?? Sama : bagus, kereeenn. Saya hanya penikmat musik, bukan pengamat musik. Maka, saya tidak pernah tau siapa Vadi Akbar dan Kanya Pinandita sebelumnya, atau karya musik mereka. Tak jadi soal, yang jelas kolaborasi ini cukup nge-blend. Musik yang dibuat lebih medium-beat, balutan pop dengan sedikit sentuhan R&B masa kini. Hmm, saya lebih suka versi Sheila Madjid & Harvey karena ‘nuansa romantisnya’ lebih dapat!

ASTAGA – Monkey Boots
Astagaaaa, saya tidak menyangka! Iya, saya tidak menyangka lagu dengan tempo cepat ini dibuat versi reggae-ska. Saya pernah mendengar versi rock-ska, dengan tempo ya sama. Tapi, memoles lagi ini menjadi kemasan reggae, adalah sebuah kejutan. Kenapa?? Karena saya tidak tau, siapa itu Monkey Boots (dan saya tidak mencari tahu atau googling). Jadi, pas dengar track ASTAGA ini di awal2 seperti disuguhi surprise. Astagaaaa, jadi lagunya diginiin…serasa pengen santai kayak dipantai….bergoyang-goyang dengan topi woll kupluk kuning-merah-hijau dengan rambut gimbal…astagaaa…..

WOW!! – ( R a n )
Grup musik RAN, tidak perlu bersusah payah untuk mengubah lagu ini menjadi gimana-gimana atau menjadi asing dikuping. RAN dengan musiknya yang khas, menggiring lagu ini tetap oke dan easy listening. Tidak ada improvisasi yang ‘nyelekit’ dengan nada2 yang tidak jauh berbeda dengan versi aslinya. Tapi bisa menunjukan bahwa lagu ini adalah RAN banget. Lagu ini tetap asyik di dengar….

ARTI KEHIDUPAN – (Maria Calista)
Saya harus menambah wawasan saya soal musik dan pendatang baru di kancah musik negeri ini. Adalah Maria Calista–penyanyi baru yang dipercaya menyanyikan lagu yang di era 90an populer oleh Mus Mujiono. Pasti akan berbeda dengan versi aslinya yang lebih terasa folk dan jazz. Maria Calista membawa lagu ini di ranah pop manis dengan balutan feminim. Iya, lagu ini jadi berubah menjadi lagu ballads yang memiliki bobot galau”. Pas buat  yang lagi butuh soundtrack pacaran…

YANG TERBAIK – (Nania)
Pasti sulit menyanyikan lagu yang pernah dibawakan oleh sang Diva Walaupun tidak perlu dibandingkan, tapi harus saya akui bahwa Ruth Sahanaya adalah satu dari sedikit penyanyi yang memiliki ARTIKULASI yang jelas. Berbeda dengan Uthe, Nania, membawakan lagu ini dengan sedikit sentuhan swing–soft jazzy–.yang lebih sederhana. Tidak banyak ornamen atau improvisasi. Lebih minimalis dan simpel.

The Great Composers-CD

Saya selalu bergairah jika mengapresiasi sebuah karya musik cover, terlebih lagu yang dicover adalah era 90an. Ini adalah sebuah penghargaan yang luar biasa dari seorang Seno M. Hardjo, kepada komposer James F. Sundah dan Oddie Agam. Masih banyak karya2 mereka yang bisa diangkat untuk mendapat apresiasi. Sukses untuk Bung Seno, yang peduli dan berjuang mengangkat karya2 emas dari musisi2 lawas. Adalah sebuah penghargaan manakala sebuah karya mendapat apresiasi dari publik musik tanah air. CD fisik bisa didapatkan di setiap Gerai KFC. Sedangkan jika Anda lebih suka versi digital, anda bisa membelinya di iTunes.

Mari, kita hargai karya Musik Indonesia!!

Hasil Foto2 dari Atas Bandros

Kalo orang lain pengen selfie saat naik Bis Bandros, maka saya berbeda. Saya ingin memotret apa yang saya lihat, apa yang saya jumpai, apa yang kita lewati saat melintas dengan bis tingkat 2 berwarna merah tersebut. Hasilnya bagus atau tidak, tak masalah…dibilang objek fotonya terlalu umum, juga tak menjadi soal. Memotret dari ketinggian saat Bis Bandros sedang berjalan, adalah sesuatu yang menarik.

Yang belum tahu rute Bis Bandros, melewati jalan mana saja, silahkan ikuti foto2 berikut ya. Start dari Taman Cibeunying, Bis bergerak mengarah ke jalan Citarum, dan berikut ini beberapa ratus meter sebelum berbelok ke Jl. Diponegoro.

image

Saat melintas Jl. Diponegoro, depan RRI Bandung, jalanan masih lengang dan sepi… ada kabel rendah membantang, yang membuat kami harus merunduk.

image

Di Jalan Diponegoro, objek foto yang wajib dibidik adalah Gedong Sate. Nah, melintas beberapa detik di depan Gedung yang menjadi ikon kota Bandung, bisakah mendapatkan momen?? 😆

image

Jawabannya adalah BISA!!

Dari Gedong Sate, bis meluncur ke Jalan Dago. Tidak ada yang spesifik sepanjang Dukomsel sampai dengan BIP, hanya saja jalan yang biasanya padat dengan kendaraan, sabtu pagi teras lengang. Itulah salah satu alasan saya memilih naik Bandros hari sabtu pagi : bebas macet!

image

Selepas Jl. Dago, disambung Jalan Merdeka. Ada gedung baru, menjulang di depan BIP. Sebuah kondotel : kondominium-hotel,  baru nan cantik. Berbanding terbalik dengan gedung jadul di sebelahnya yakni Panti Karya.

image

Masih di Jl. Merdeka kita akan melewati Balai Kota. Yang terbaru di Jalan Merdeka adalah Taman Vanda. Taman ini baru saja selesai dikerjakan untuk menghiasi acara KAA. Walaupun tidak terkejar waktunya (saat KAA, taman ini belum rampung 100%).

image

Sayang, saat melintas taman ini, air mancur-nya lagi gak jalan. Untungnya, taman dengan latar gedung BI ini masih fotogenic, sehingga tetap terlihat ‘geulis’ hehehe…

image

Ini adalah Gereja Katderal yang legendaris. Bangunan vintage ini tetap indah dan anggun. Sayang, saya tidak mendapat gambar yang lebih baik dari atas bandros. Kecepatan bis melintas, tidak bisa berbanding dengan ketepatan, dari mana saya harus memotret gereja cantik tersebut….

image

Masih di Jl. Merdeka, ini adalah hotel Panghegar, tepat disamping rel kereta Api.

Kemudian, Bandros mengarah ke Lembong, lalu ke kanan yaitu Lengkong. Dan yang menarik buat saya adalah Hotel Preanger. Walaupun hotel ini terlihat megah dan modern, tapi tidak ‘menganggu’ bangunan aslinya yang dibiarkan retro dan menjadi salah satu heritage kota Bandung.

image

Nah, dari dari sini, Bis Bandros berbelok ke kanan, yaitu jalan Asia Afrika. Bersyukur, karena dipersimpangan lain sedang lampu merah, maka saat Bis Bandros melintas, jalan Asia Afrika tampak lengang dan indah.

image

Jalan ini masih cantik paska perayaan KAA. Pot bunga yang berjejer rapi di sepanjang jalan, bola batu yang bertuliskan nama2 negara peserta KAA, kursi besi berwarna tembaga semakin menguatkan retrospective jalan ini. Sedaaapppp…

image

Melewati hotel Homan….

image

Masih ada sisa-sisa nuansa KAA

image

Mencoba membidik gedung Huis Van de Vries…

Terus semakin ke barat, maka memotret pun menjadi semakin bergairah, tercabik antara ingin mengambil dengan angel yang beda tetapi Bis Bandros terlampau melaju dengan cepat walaupun sebenarnya gak cepat2 amat sih, tapi tetap aja serasa gak keburu, fiuuhh.

image

Sempat menjadi pusat perhatian saat melewati segerombolan anak TK yang sedang mengunjungi museum KAA di Gedung Merdeka lalu kami pun dadah dadah dari Bandros….😂

image

Melewati 2 Menara “Two Towers” yang menjadi ikon alun-alun Bandung….

Dan masih sempat memotret gedung SWARHA yang cukup legend…

image

Dari sini, bis belok ke kanan, Jl. Banceuy. Saya sudah tidak memperhatikan penjelasan tour guide, *disebelah kanan kita adalah penjara Presiden Soekarno blah..blah…blah….*

Masuk ke jalan Braga, saya benar2 tidak sempat memotret Gedung Bank BJB, karena tepat di belokan tersebut ada kabel semerawut yang sangat-sangat rendah, sehingga kami semua harus kembali merunduuuukkkk….

image

Yang istimewa di Jl. Braga adalah sepanjang jalan tersebut tidak ada kabel listrik yang membentang. Kami, dipersilahkan untuk selfie sukaesih, karena di jalan ini Bus Bandros melelaju dengan sangat pelan….

image

Coba perhatikan, jalan yang sarat dengan nostalgia orang2 Belanda, dengan bangunan yang serba retro, vintage semakin sempurna dengan tidak adanya kabel yang membentang…. suka deh…

image

Memandang langit Braga…

Dari Braga, Bis Bandros berbelok ke kanan, yaitu jalan Lembong (lagi). Nah disini saya sudah wanti-wanti, akan membidik taman di pertigaan Jl. Veteran, yaitu taman yang ada patung Adjat Sudradjat, pemain Persib yang sohor tahun 80-an. Oke, saya pun bersiap….

image

Tadaaaa….hehehe obsesi yang terlaksana…

Oke, Bis Bandros melaju ke Jl. Veteran, lalu ke jalan Sunda dan sekitarnya. Sebetulnya saya sempat memotret rumah tempo doeloe di sekitar Gor Saparua Bandung. Rumah tersebut disebut terkenal dengan sebutan Rumah Kentang, yang mana jika kita melewati rumah tersebut dan mendapati bau kentang, maka konon sedang ada penampakan. Sayangnya, pada saat memotret rumah tersebut hasilnya “blur”. 😕

Memasuki jalan, Riau dan Bis Bandros jelang kembali ke Taman Cibeunying. Sebelum tiba di Taman Cibeunying, seluruh awak dan penumpang Bis Bandros diajak menyanyikan lagu Halo-halo Bandung, yang disambut dengan antusias.

Demikian reportase (dan pamer foto)-yang berkepanjangan. Beneran, ini reportasenya kepanjangan…. sori ya temanz, semoga niat saya “ngabibita” naik Bandros, berkeliling Bandung di akhir pekan ini benar-benar menjadi pelatuk, sehingga kalian benar2 pengen keliling seperti saya….. *harapan yang rada maksa* 😆

Mengisi Akhir Pekan #3 : Taman Super Hero, Taman Favorit di Bandung!

Kenapa saya sebut sebagai taman favorit?? Sepanjang hari senin sampai dengan hari sabtu, Taman Super Hero ini selalu penuh. Ramai. Hari Minggu, lebih ramai lagi. Penuuuhh bahkan untuk mendapatkan parkir motor saja susah.

Walikota Bandung, Ridwan Kamil berhasil membuat taman tematik yang sukses menjadi identitas kota Bandung. Dari sekian banyak taman kota ada, tercatat seperti Taman Kandaga Puspa, Pet Park, Cibeunying Park, Taman Lansia, Taman Film, Taman Jomblo, Taman Fotografi, Taman Musik, Taman Fitnes, dan masih banyak lagi. Sebagian taman-taman itu ramai saat tertentu atau manakala saat baru peresmian, ada even atau saat akhir pekan. Tapi, berbeda dengan Taman Super Hero (dan Taman Alun2 Kota Bandung, yang terkenal dengan rumput sintetisnya). Sejak diresmikan beberapa waktu lalu, taman ini selalu penuh dikunjungi warga yang ingin menikmati kesejukan kota sambil mengasuh anak2nya.
image

Apa yang membuat Taman Superhero ini menarik masyarkat?? Yap, sesuai namanya SUPER HERO, maka di taman ini ada patung2 super hero terkenal seperti Superman, Batman, Spiderman, Flash, bahkan Robot Gatot Kaca! Dan seperti taman-taman khususnya untuk anak-anak, di taman ini ada ayunan, prosotan dan permainan khas untuk anak-anak. Kalo dulu, warga harus ke taman bermain untuk bisa main ayunan dan prosotan, dikenakan tarif tiket. Nah, di Taman Super Hero, Pak Walikota memberikan semuanya untuk warga Bandung, gratiiiisss.

image

Dibandingkan dengan tokoh Superman, Batman atau The Flash, Spiderman, merupakan tokoh paling favorit anak. Hampir setiap anak, pasti berfoto dengan tokoh manusia laba-laba tersebut.

image

Bahkan, tempat ini menjadi kreaifitas yang menghasilkan uang. Ada seorang yang berkostum robot dan kostum Spiderman. Saya jadi kepikiran untuk mengisi hari libur dengan berkostum super hero lain, dan ikut mendulang rejeki disana…kira2 tokoh super hero apa yaaa…..wkwkwkw

image

Hahahaha, baik Spriderman maupun si robot memberikan 3 gaya pose potret. Kalo si Robot Hijau, memberikan foto yang naratif. Diawali dengan persahabatan, lalu pertarungan, dan diakhiri dengan kekalahan sang Robot. Sedangkan Spiderman memilih memberikan pose-pose khas Spiderman. Dan untuk berpose dengan orang berkostum tersebut, tarifnya adalah kencleng se-ikhlasnya.

image

image

Berbeda dengan anak-anak perempuan. Mereka lebih suka main ayunan dan prosotan. Ayunan disini cukup banyak. Begitupun tempat duduk yang disediakan di taman ini, cukup banyak. Saya mendapati beberapa orang tua, yang tampak botram, membuka bekal dan timbel-nya ditaman ini. Duh jadi kabita untuk botram juga…
image

Tapi, seperti biasa. Untuk urusan kebersihan, warga kita memang belum bisa disamakan dengan negara lain. Negera kita lebih primitif kalo masalah kebersihan. Saya mendapati sampah berserakan. Kebiasaan buruk yang susah diubah. Bahkan, hanya untuk membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan pun masih tidak bisa. Bagaimana jika tidak disediakan tempat sampah…
image

Tuh kan, hanya tinggal membuka tutup tempat sampah saja, dan memasukan sampah bekas sendiri ke dalamnya, warga kita masih tidak mau. Tidak disiplin. Itu sebabnya, untuk urusan “penampilan wajah kota” negara kita tidak akan bisa bersaing, baik dengan negara tetangga seperti Malaysia maupun negara lain yang lebih maju.

Lalu, saya pun meninggalkan taman ini….dan melanjutkan piknik ini ke Taman Alun2 Bandung, yang terkenal dengan rumput sintetisnya….

*Meluncur ke Alun-alun Kota Bandung*