Tantangan Memotret #NATURE (tentang alam) Hari ke #1

Tantangan hari #1 untuk tema NATURE. Selama 7 hari berturut2, saya akan posting foto2 bertema NATURE atau ALAM. Ini postingan pertama, hamparan sawah menghijau dengan latar gunung kelabu dan langit biru bersaput awan. Lokasi di perjalanan menuju Soreang Kab. Bandung, menggunakan kamera iPhone 4S dengan panorama mode. Sambil ngojeg, sambil foto-foto #TukangOjegMacamApaaahh??? 😆 – with Dwie, Risna, Dedeh, Lia, and noviani

View on Path

Tantangan Memotret #BIRU Hari ke #3

Tantangan hari ke #3 bertema #BIRU. Lampu-lampu sorot menghiasi panggung konser KLa Project, beberapa waktu lalu di Trans Studio Bandung. Mayoritas dihadiri oleh fans dan pecinta musik dari rentang zona 90an. Seru, bernostal-gila bersama….. – with Risna

View on Path

Tantangan Memotret #BIRU hari ke #2

Tantangan hari ke #2, masih bertema #BIRU. Foto ini diambil di pesawat pada perjalanan menuju Bali. Berangkat dari Bandung pk. 5.45 wib, maka di perjalanan mendapati pemandangan yang masih endol gurindol takendol-kendol. Ini sekitar jam 6.30-an wib. Saya selalu terpesona dengan view dari udara, atau pemandangan dari ketinggian…. – with Risna

View on Path

Tantangan Memotret #BIRU Hari ke #1

Menjawab tantangan yang dilemparkan Bu Dokter Isnen, yaitu memposting karya foto bertema #BIRU selama 1 minggu berturut-turut. Postingan #1 berjudul BUNGA TELANG. Bunga pekarangan rumah merambat yang bisa dipakai sebagai pewarna makanan alami. Difoto menggunakan kamera gadget Samsung Galaxy Tab 8 inchi, dengan fungsi macro mode. – with Juan, Dwie, and Risna

View on Path

Wisata Air Terjun Maribaya Lembang

image

Maribaya, sudah lama menjadi objek wisata alam yang sangat terkenal terletak di Kecamatan Lembang. Berjarak 5 km sebelah timur Lembang dan kira-kira 15 km dari Kota Bandung. Sempat beberapa waktu di tutup dan melakukan pembenahan dan renovasi. Kini, Maribaya telah berganti penampilan. Namanya pun berubah menjadi Natural Hot Spring Resort & Waterfall.

image

image

Seperti apa perubahan Maribaya yang sekarang?? Lebih kekinian. Contoh, untuk tiket masuk, sudah menerapkan sistem digital. Tiket berbentuk seperti ATM, yang diakses di pintu masuk yang dijaga oleh petugas. Arsitektur dan landsekap-nya pun lebih cantik dan menarik. Fasilitas lainnya seperti kolam rendam air panas, amphitheater untuk pertunjukan kesenian, kafe dan resto, foodcourt, sky bridge, dll. Bandingkan dengan sebelum renovasi, cuma ada penjual makanan seadanya dengan tenda biru dan gelar tikar, dan pengamen hilir mudik menyambangi pengunjung dengan agak memaksa.  Sekarang, sdh tidak ada lagi….

image

image

Harga tiket masuk 35ribu, katanya sih bonus air mineral. Tapi saya tidak ambil air mineralnya karena kurang mendapat informasi dimana saya bisa menukarnya. Harga tiket 35rb adalah masuk ke lokasi Maribaya saja. Jika berminat berendam, terapi ikan, arena permainan, ketangkasan, mini zoo dll, dikenakan tarif berbayar lagi. Lalu, yang menjadi catatan penting adalah : di pintu masuk tertera tulisan : pemeriksaan tas (DILARANG MEMBAWA MAKANAN DAN MINUMAN DARI LUAR). Artinya, kita memang diharuskan membeli makanan dan minuman di kafe dan resto yang ada di dalam objek wisata.

image

WOT BATU, Gallery Batu Karya Seniman Sunaryo

image

WOT Batu, sejatinya adalah sebuah ruang terbuka yang menampilkan karya seniman terkenal Sunaryo. Terletak di kawasan Bukit Dago Pakar, tidak jauh dari gallery Selasar Sunaryo–gallery yang sudah terlebih dahulu terkenal di kawasan yang sama. Wot Batu, berada di ketinggian kota Bandung dan dikeliling oleh pegunungan yang indah dipandang mata.

Masuk ke Wot Batu, berarti kita akan menikmati sebuah suasana karya seni yang tidak bisa didefinisikan nilainya. Maka, harga tiket masuk seharga 50ribu rupiah per orang (umum) dan 30ribu rupiah (pelajar & mahasiswa) bukanlah sebuah ukuran mahal atau murah. Akan tetapi lebih mengarah pada apresiasi karya seni tinggi sang kreator, dimana seorang seniman seperti Sunaryo merefleksikan tatanan kehidupan beserta elemen-elemen alam menjadi sebuah karya seni sangat tinggi. Ada ikatan filosofi sangat kuat setiap karyanya.

Dipandu oleh seorang perempuan cantik-yang dengan ramah akan membantu menjelaskan dengan detail setiap bentuk batu yang ada disana. Tentu saja, karena sebagai orang awam, kita tidak pernah tau makna dibalik bentuk artistik yang tersaji. Disanalah fungsinya pemandu, yang menerangkan, menjelaskan dan membawa kita ke sebuah ruang bawah tanah gelap gulita untuk menyaksikan pemutaran video awal mula terjadinya kehidupan: BIG BANG!

Video berdurasi sekitar 4 menit yang menggambarkan terjadinya Big Bang, di putar di sebuah ruangan kecil dibawah tanah, gelap gulita. Video di refleksikan pada sebuah batu bulat dengan pencahayaan artistik yang sangat minimalist. Video menceritakan bagaimana awal mula terjadinya alam semesta dengan sebuah ledakan yang luar biasa, hingga terbentuk galaksi-galaksi–salah satunya galaxy yang kita tempati yaitu Bima Sakti. Bumi, hanya sebagian keciiiilll dari galaxy kita. Sound effect-nya bikin bulu kuduk merinding. Konon, sound effek tersebut direkam dari pergerakan bebatuan di dalam perut bumi dan pergeseran saat proses pembuatan batu-batu di galery ini. Luar Biasa!!

Tentu, yang paling menakjubkan dari bentuk2 karya seni ini adalah : tumpukan bebatuan di atas tepian kolam. Penataan yang sedemikian artistik dengan latar belakang pegunungan, memiliki kesan magis mendalam. Ternyata, bentuk artistik tersebut maknanya adalah refleksi alam kematian. Akan ada suatu waktu dimana kehidupan berakhir. Kita akan memasuki alam yang baru setelah kita meninggal. Alam kematian…..

Ada banyak cerita menarik dari sang seniman. Beliau menceritakan, bahwa setiap batu yang akan digunakan memiliki energi yang berbeda di setiap perletakannya. Memiliki cerita, bahwa darimana masing-masing bebatuan tersebut berasal. Memiliki cerita, bagaimana bentuk artistik bisa tercipta begini…..bisa tercipta begitu…. dan semuanya bukan kebetulan. Ada peran Sang Pencipta yang ikut menentukan setiap tatanan……

Kunjungan ke Wot Batu berakhir disebuah tempat nyaman berdinding kaca, untuk beristirahat. Pemandu menyajikan minuman dingin (refreshment). Minuman dingin berwarna ungu dengan rasa herbal dalam gelas kecil, dinikmati sambil menyaksikan video proses pembuatan galery tersebut. Walaupun pendampingan dengan pemandu berakhir, kita masih bisa menikmati ruang terbuka untuk berfoto2 dan mengabadikan setiap bentuk artistik yang ada disana.

Oh ya pengunjung tidak diperkenankan membawa kamera propfessional atau DSLR ya, hanya kamera handphone saja.

image

Menyempatkan berfoto bersama pemilik dan sang kreator Wot Batu : Pak Sunaryo (tengah berkacamata)

Wot Batu

image

Established in 2015, Wot Batu is a configuration of stones conceptually and harmoniously laid out and planted in about 2000 square meter open space. Sunaryo created Wot Batu to be a spiritual bridge : the balance between the human soul and physical manifestations of life, and also to bring awareness on human existence in an infinite dimension of nature.

Sulitnya Mencari Pekerjaan

Iya, sulit sekali yaaaa……terutama bagi saya yang tidak memiliki pendidikan formal, tidak memiliki keahlian khusus, tidak memiliki modal untuk wirausaha, dan selalu di jegal dengan umur. Jadi, kalo cari pekerjaan formal, usia menjadi kendala….

Disaat orang lain bergegas berkompetisi dengan MEA, saya malah terdepak dari perusahaan tempat saya bekerja, duh…. Lalu, apa yang bisa saya lakukan?? Berdiam diri dan meratapi nasib juga bukan solusi. Selepas diberhentikan dari sebuah perusahaan outsourcing security, saya harus berfikir jernih. Membenci perusahaan dan menyesali–itu juga tidak menghasilkan apapun, selain menimbun kedengkian…. Bagaimana saya bisa lolos dari jerat kehidupan yang semakin sulit ini dan bisa menyelesaikan kewajiban2 setiap bulannya?

Awalnya, terpikirlah untuk membuat usaha jasa. Sebuah jasa menata dan membuat taman. Kenapa pilihannya menata taman?? Karena pada saat itu, saya sedang getol2nya menata dan mempercantik pekarangan rumah. Berbekal pengalaman tersebut, dan berbekal foto2 pekarangan rumah sendiri, saya pun berharap ada yang tertarik untuk dibuatkan taman atau dipercantik pekarangannya. Dengan gencar, saya pun mulai promosi di berbagai media. Menjalani selama 1 bulan, ternyata….ini bukanlah usaha yang cocok buat saya. Saya tidak mahir mencangkul, saya juga tidak ahli menembok manakala ada bagian2 yang harus di tembok dengan adukan semen dan bata. Tenaga saya juga terkuras habis, dan saya nyaris kecapaian saat melaksanakan pekerjaan ini.

image

Saya pun banting stir. Dulu, saya pernah bergerak bidang ojeg online atau kurir online, dengan nama IWAKO. Jaaauuuhh, sebelum ada Gojek atau GrabOjek atau OKJek atau apalah apalah itu namanya. Dulu, usaha ini sempat terhenti karena tertarik bekerja di perusahaan orang lain. Ah, ternyata berjuang di bidang ini pun tidak mudah. IWAKO harus bersaing dengan perusahaan raksasa seperti GOJEK. Masih untung, ada beberapa teman yang setia menggunakan jasa IWAKO, ada yang abodemen membayar rutin per bulan (antar ke kantor setiap pagi), ada juga yang sesekali atau saat membutuhkan saja.

image

Pada perjalanannya, saya sebagai IWAKO menawarkan jasa untuk keliling kota Bandung, baik menggunakan roda 2 ataupun dengan roda 4 (mobil). Lebih mirip menjadi seorang pemandu wisata. Pernah mendapatkan tamu dari luar kota, dan saya sebagai pemandu wisata berkeliling Bandung Utara, Bandung Selatan, sampe belanja2 di Pasar Baru. Menyenangkan, tapi hal itu cuma terjadi saat musim liburan saja. Diluar itu, sepiiii…..

Duuuh, sulit sekali ya….bahkan untuk bertahan hidup sekalipun. Saya bertahan menjalankan IWAKO, sesekali menjadi pemandu wisata. Doakan ya teman2, semoga usaha ini dipermudah…dan lancaaarr. Untuk sementara, hanya ini yang bisa saya lakukan….

Taman Bunga Begonia, Lembang

Sebetulnya, saya agak enggan memposting kunjungan saya ke Taman Begonia Lembang. Yang namanya taman bunga, identik dengan perempuan… Dan, bagaimana bisa saya “tersesat” sampai ke Taman Begonia(n) ini…..

Jadi, awalnya saya dan teman2 bermaksud menyusuri jalan Dago, melalui Jl. Dago Giri dan tujuannya saat itu adalah Saung Mang Engking, Lembang. Karena datangnya kepagian dan belum waktunya makan siang, jadi kami mencari tempat singgahan, minimal sampe jam makan siang. Dan yang terdekat dari sana adalah Taman Begonia. Jadilah, kami masuk, hanya sekedar iseng apa sih Taman Begonia ini?? Tampaknya masih baru…

Setelah parkir, kami membayar tiket di depan pintu masuk seharga 10ribu rupiah. Tiket tersebut bisa ditukarkan dengan 1 buah es potong. Lumayan. Dengan agak canggung, saya memasuki taman yang di dominasi hamparan bunga begonia berwarna merah jambu. Disediakan topi anyaman untuk mengurangi panas yang menyengat. Saya mulai menelusuri, setiap depa yang nampak di depan mata. Taman sudah ramai dengan pengunjung-yang saya pun heran-dari mana pengunjung tahu ada taman baru ini….

Taman Bunga Begonia, separti taman pada umumnya…dipenuhi bunga yang di tata dengan baik. Hanya saja, karena (mungkin) lahan ini bekas ladang petani, jadi tidak ada satupun pohon besar yang menaungi. Alhasil, datang ke taman ini sekitar jam 10an adalah waktu yang kurang tepat. Panaaaassss. Ada beberapa saung di sediakan untuk berteduh, duduk santai sambil menikmati ‘panasnya’ taman ini. Hembusan bayu, udara Lembang yang sejuk, sedikit menolong suasana. Saya menukarkan sobekan tiket masuk dengan 1 buah es potong rasa buah yang rasanya lumayan, saat terik menyengat.

Mencoba berfoto2 di taman ini. Atuh da apa aku maaahh…setiap berfoto tampak sedang merem karena cuaca terik, sehingga wajah kita terbawa meringis saat difoto. Yah, karena taman ini masih baru, cukup oke lah. Tapi, entahlah beberapa bulan ke depan saat begonia sedang tidak berbunga….karena kebiasaan taman bunga, bagusnya di awal2 doang, yang mana bunga tersebut sedang bermekaran. Manakala bunga sedang gak musim, taman menjadi kurang menarik.

Kurang lebih 1 jam saya dan teman2 berada di taman ini, selebihnya saya melipir ke sebuah kedai Tahu Sumedang, yang gencar beriklan dengan nama TAHU SUMEDANG RENYAH. Kedai ini tak jauh dari Taman Bunga Begonia, kira 100 meter arah terminal Lembang. Setelah mencoba rasa tahu yang–yah enaak, tapi tetap aja tahu–kami pun meluncur ke Kedai Mang Engking untuk bersantap siang disana.

*ini juga tersimpan di draft, dan sudah setahun lalu mengendap–lalu skrg saya posting–tentu saja sudah tidak up to date*

Hihihi, postingan yang ngambang, tanpa ending yang jelas….tanpa foto2 pula….

Hasil Foto2 dari Atas Bandros

Kalo orang lain pengen selfie saat naik Bis Bandros, maka saya berbeda. Saya ingin memotret apa yang saya lihat, apa yang saya jumpai, apa yang kita lewati saat melintas dengan bis tingkat 2 berwarna merah tersebut. Hasilnya bagus atau tidak, tak masalah…dibilang objek fotonya terlalu umum, juga tak menjadi soal. Memotret dari ketinggian saat Bis Bandros sedang berjalan, adalah sesuatu yang menarik.

Yang belum tahu rute Bis Bandros, melewati jalan mana saja, silahkan ikuti foto2 berikut ya. Start dari Taman Cibeunying, Bis bergerak mengarah ke jalan Citarum, dan berikut ini beberapa ratus meter sebelum berbelok ke Jl. Diponegoro.

image

Saat melintas Jl. Diponegoro, depan RRI Bandung, jalanan masih lengang dan sepi… ada kabel rendah membantang, yang membuat kami harus merunduk.

image

Di Jalan Diponegoro, objek foto yang wajib dibidik adalah Gedong Sate. Nah, melintas beberapa detik di depan Gedung yang menjadi ikon kota Bandung, bisakah mendapatkan momen?? 😆

image

Jawabannya adalah BISA!!

Dari Gedong Sate, bis meluncur ke Jalan Dago. Tidak ada yang spesifik sepanjang Dukomsel sampai dengan BIP, hanya saja jalan yang biasanya padat dengan kendaraan, sabtu pagi teras lengang. Itulah salah satu alasan saya memilih naik Bandros hari sabtu pagi : bebas macet!

image

Selepas Jl. Dago, disambung Jalan Merdeka. Ada gedung baru, menjulang di depan BIP. Sebuah kondotel : kondominium-hotel,  baru nan cantik. Berbanding terbalik dengan gedung jadul di sebelahnya yakni Panti Karya.

image

Masih di Jl. Merdeka kita akan melewati Balai Kota. Yang terbaru di Jalan Merdeka adalah Taman Vanda. Taman ini baru saja selesai dikerjakan untuk menghiasi acara KAA. Walaupun tidak terkejar waktunya (saat KAA, taman ini belum rampung 100%).

image

Sayang, saat melintas taman ini, air mancur-nya lagi gak jalan. Untungnya, taman dengan latar gedung BI ini masih fotogenic, sehingga tetap terlihat ‘geulis’ hehehe…

image

Ini adalah Gereja Katderal yang legendaris. Bangunan vintage ini tetap indah dan anggun. Sayang, saya tidak mendapat gambar yang lebih baik dari atas bandros. Kecepatan bis melintas, tidak bisa berbanding dengan ketepatan, dari mana saya harus memotret gereja cantik tersebut….

image

Masih di Jl. Merdeka, ini adalah hotel Panghegar, tepat disamping rel kereta Api.

Kemudian, Bandros mengarah ke Lembong, lalu ke kanan yaitu Lengkong. Dan yang menarik buat saya adalah Hotel Preanger. Walaupun hotel ini terlihat megah dan modern, tapi tidak ‘menganggu’ bangunan aslinya yang dibiarkan retro dan menjadi salah satu heritage kota Bandung.

image

Nah, dari dari sini, Bis Bandros berbelok ke kanan, yaitu jalan Asia Afrika. Bersyukur, karena dipersimpangan lain sedang lampu merah, maka saat Bis Bandros melintas, jalan Asia Afrika tampak lengang dan indah.

image

Jalan ini masih cantik paska perayaan KAA. Pot bunga yang berjejer rapi di sepanjang jalan, bola batu yang bertuliskan nama2 negara peserta KAA, kursi besi berwarna tembaga semakin menguatkan retrospective jalan ini. Sedaaapppp…

image

Melewati hotel Homan….

image

Masih ada sisa-sisa nuansa KAA

image

Mencoba membidik gedung Huis Van de Vries…

Terus semakin ke barat, maka memotret pun menjadi semakin bergairah, tercabik antara ingin mengambil dengan angel yang beda tetapi Bis Bandros terlampau melaju dengan cepat walaupun sebenarnya gak cepat2 amat sih, tapi tetap aja serasa gak keburu, fiuuhh.

image

Sempat menjadi pusat perhatian saat melewati segerombolan anak TK yang sedang mengunjungi museum KAA di Gedung Merdeka lalu kami pun dadah dadah dari Bandros….😂

image

Melewati 2 Menara “Two Towers” yang menjadi ikon alun-alun Bandung….

Dan masih sempat memotret gedung SWARHA yang cukup legend…

image

Dari sini, bis belok ke kanan, Jl. Banceuy. Saya sudah tidak memperhatikan penjelasan tour guide, *disebelah kanan kita adalah penjara Presiden Soekarno blah..blah…blah….*

Masuk ke jalan Braga, saya benar2 tidak sempat memotret Gedung Bank BJB, karena tepat di belokan tersebut ada kabel semerawut yang sangat-sangat rendah, sehingga kami semua harus kembali merunduuuukkkk….

image

Yang istimewa di Jl. Braga adalah sepanjang jalan tersebut tidak ada kabel listrik yang membentang. Kami, dipersilahkan untuk selfie sukaesih, karena di jalan ini Bus Bandros melelaju dengan sangat pelan….

image

Coba perhatikan, jalan yang sarat dengan nostalgia orang2 Belanda, dengan bangunan yang serba retro, vintage semakin sempurna dengan tidak adanya kabel yang membentang…. suka deh…

image

Memandang langit Braga…

Dari Braga, Bis Bandros berbelok ke kanan, yaitu jalan Lembong (lagi). Nah disini saya sudah wanti-wanti, akan membidik taman di pertigaan Jl. Veteran, yaitu taman yang ada patung Adjat Sudradjat, pemain Persib yang sohor tahun 80-an. Oke, saya pun bersiap….

image

Tadaaaa….hehehe obsesi yang terlaksana…

Oke, Bis Bandros melaju ke Jl. Veteran, lalu ke jalan Sunda dan sekitarnya. Sebetulnya saya sempat memotret rumah tempo doeloe di sekitar Gor Saparua Bandung. Rumah tersebut disebut terkenal dengan sebutan Rumah Kentang, yang mana jika kita melewati rumah tersebut dan mendapati bau kentang, maka konon sedang ada penampakan. Sayangnya, pada saat memotret rumah tersebut hasilnya “blur”. 😕

Memasuki jalan, Riau dan Bis Bandros jelang kembali ke Taman Cibeunying. Sebelum tiba di Taman Cibeunying, seluruh awak dan penumpang Bis Bandros diajak menyanyikan lagu Halo-halo Bandung, yang disambut dengan antusias.

Demikian reportase (dan pamer foto)-yang berkepanjangan. Beneran, ini reportasenya kepanjangan…. sori ya temanz, semoga niat saya “ngabibita” naik Bandros, berkeliling Bandung di akhir pekan ini benar-benar menjadi pelatuk, sehingga kalian benar2 pengen keliling seperti saya….. *harapan yang rada maksa* 😆