Sulitnya Mencari Pekerjaan

Iya, sulit sekali yaaaa……terutama bagi saya yang tidak memiliki pendidikan formal, tidak memiliki keahlian khusus, tidak memiliki modal untuk wirausaha, dan selalu di jegal dengan umur. Jadi, kalo cari pekerjaan formal, usia menjadi kendala….

Disaat orang lain bergegas berkompetisi dengan MEA, saya malah terdepak dari perusahaan tempat saya bekerja, duh…. Lalu, apa yang bisa saya lakukan?? Berdiam diri dan meratapi nasib juga bukan solusi. Selepas diberhentikan dari sebuah perusahaan outsourcing security, saya harus berfikir jernih. Membenci perusahaan dan menyesali–itu juga tidak menghasilkan apapun, selain menimbun kedengkian…. Bagaimana saya bisa lolos dari jerat kehidupan yang semakin sulit ini dan bisa menyelesaikan kewajiban2 setiap bulannya?

Awalnya, terpikirlah untuk membuat usaha jasa. Sebuah jasa menata dan membuat taman. Kenapa pilihannya menata taman?? Karena pada saat itu, saya sedang getol2nya menata dan mempercantik pekarangan rumah. Berbekal pengalaman tersebut, dan berbekal foto2 pekarangan rumah sendiri, saya pun berharap ada yang tertarik untuk dibuatkan taman atau dipercantik pekarangannya. Dengan gencar, saya pun mulai promosi di berbagai media. Menjalani selama 1 bulan, ternyata….ini bukanlah usaha yang cocok buat saya. Saya tidak mahir mencangkul, saya juga tidak ahli menembok manakala ada bagian2 yang harus di tembok dengan adukan semen dan bata. Tenaga saya juga terkuras habis, dan saya nyaris kecapaian saat melaksanakan pekerjaan ini.

image

Saya pun banting stir. Dulu, saya pernah bergerak bidang ojeg online atau kurir online, dengan nama IWAKO. Jaaauuuhh, sebelum ada Gojek atau GrabOjek atau OKJek atau apalah apalah itu namanya. Dulu, usaha ini sempat terhenti karena tertarik bekerja di perusahaan orang lain. Ah, ternyata berjuang di bidang ini pun tidak mudah. IWAKO harus bersaing dengan perusahaan raksasa seperti GOJEK. Masih untung, ada beberapa teman yang setia menggunakan jasa IWAKO, ada yang abodemen membayar rutin per bulan (antar ke kantor setiap pagi), ada juga yang sesekali atau saat membutuhkan saja.

image

Pada perjalanannya, saya sebagai IWAKO menawarkan jasa untuk keliling kota Bandung, baik menggunakan roda 2 ataupun dengan roda 4 (mobil). Lebih mirip menjadi seorang pemandu wisata. Pernah mendapatkan tamu dari luar kota, dan saya sebagai pemandu wisata berkeliling Bandung Utara, Bandung Selatan, sampe belanja2 di Pasar Baru. Menyenangkan, tapi hal itu cuma terjadi saat musim liburan saja. Diluar itu, sepiiii…..

Duuuh, sulit sekali ya….bahkan untuk bertahan hidup sekalipun. Saya bertahan menjalankan IWAKO, sesekali menjadi pemandu wisata. Doakan ya teman2, semoga usaha ini dipermudah…dan lancaaarr. Untuk sementara, hanya ini yang bisa saya lakukan….

Iklan

Alhamdulillah, terima kasih iDEA

image

Datang ke rumah jam 9 malam, saya dikejutkan oleh sebuah kiriman yang dititipkan oleh TIKI ke tetangga depan rumah. Hmmm, tidak merasa belanja online, saya berfikir keras…bingkisan apa yang menghampiri saya kali ini. Disampulnya tertulis nama dan alamat saya dengan benar. Ada tulisan iDEA End Year Story.

Whaaaattt??

Apakah saya salah satu pemenangnya?? Lalu saya ingat, menjelang akhir tahun 2015, dibulan Desember, saya pernah submit sebuah cerita/sharing pengalaman tentang rumah serta harapan2 saya terhadap iDEA Online–portal berita yang banyak menginspirasi dengan konten seputar rumah, desain interior, eksterior.

Jadilah dengan antusias saya melacak jejak kebenarannya (karena saya tidak mendapat konfirmasi sebelumnya–atau mungkin ada konfirm tapi saya gak ngeuh). Saya mengunjungi website dan melihat2 barangkali ada pengumuman pemenang. Ternyata benar, saya termasuk sepuluh orang yang beruntung mendapatkan hadiah berupa merchandise dan voucher belanja di Ace Hardware.

Alhamdulillah, terima kasih iDEA.

Konser Symphonesia, keren sih tapiiiiii……

image

Hari sabtu lalu, tanggal 7 Nopember  2015, seorang sahabat mengajak nonton sebuah pertunjukan musik bertajuk SYMPHONESIA. Acara pertunjukan musik yang digagas oleh Mahasiswa UNPAD jurusan HI. Pertunjukan musik ini sudah rutin digelar sejak tahun 2018. Biasanya menampilkan sejumlah musisi papan atas, atau musisi yang sedang hits. Nah, untuk pertunjukan kali ini, Symphonesia menampilkan Once feat Piyu Padi, Maliq & D’Esentials, Bara Suara, The SIGIT, White Shoes & The Couple Company dan lain-lain.

Melihat sederet musisi yang akan tampil, rasanya sayang jika dilewatkan. Apalagi penawaran menonton GRATIS, karena teman yang mengajak merupakan MD di sebuah radio swasta yang media partner. Oke syiiiippp, saya pun menyatakan OK!

Apa daya, menjelang tanggal 7, pekerjaan kantor cukup menumpuk. Bahkan, hari sabtu saya harus mengikuti apel pagi dan meeting bersama user sampai dengan jam 11, dilanjut dengan pertemuan intern sampai dengan jam 14. Suasana hujan saat itu membuat saya merasa nyaman leyeh2 di sofa kantor hingga nyaris tertidur. Kalo bukan karena sudah berjanji OK–mau nonton konser, rasanya enggan body ini bergeser sedikitpun dari empuknya sofa. Tapi janji adalah janji. Maka, jam 17.00, saya meluncur menuju SABUGA.

Saat masuk ke gedung pertunjukan, band yang sedang tampil saat itu adalah The SIGIT. Yang saya tau, The SIGIT adalah band indie label beraliran metal. Kemampuan musikalitasnya luar biasa dan sudah di akui di mancanegara. Mendengarkan musik metal dari The SIGIT, sangat asyik. Saya antusias menyimak performa, walaupun saya tidak hafal lagu2 mereka. Saya memuji sound engineer-nya yang bisa mensetting audio sedemikian rupa. Instrumen yang dimunculkan begitu detail dan jernih. Bahkan, saya merasa nyaman mendengarkan musik cadas dengan audio yang “santun”, tanpa memekakan telinga. Kereeeeennn!!!

Penampil berikutnya setelah The SIGIT adalah White Shoes & The Couple Company. Tidak banyak lagu yang saya tau dari band unik yang mengusung konsep retro ini. Vokalisnya berbusana ala penyanyi Ida Royani (biduan tahun 70an), minimalis. Musiknya, ya retro dengan sedikit balutan pop jazz dengan skill yahuud. Selain lagu Senandung, ada lagu berjudul MALU-MALU KUCING, yang dinyanyikan dengan ekspresif dan dinamis. Lagu jadul yang–dinyanyikan dengan sangat menarik. Begitu juga saat band ini menyajikan lagu berbahasa sunda CANGKURILEUNG. Musikalitas White Shoes & The Couple Company sangat teruji disini. Mengemas lagu daerah, menjadi sesuatu yang layak mendapat apresiasi. Sangat bagus….

Kenyamanan audio yang saya bilang “santun” tidak terjadi pada penampilan sesudahnya. Setelah White Shoes & The Couple Company, band yang berikutnya tampil adalah : BARA SUARA. Entahlah, settingan seperti apa yang dilakukan oleh sound engineer-nya. Yang jelas, saat band ini tampil, audio yang muncul tidak sebagus kedua band sebelumnya. Setiap cabikan gitar, terasa menyakitkan telinga. Begitu pun suara vocal yang muncul dari mic, terdengar sember. Kacau niiihh!! Pertunjukan musik menjadi tidak asik. Di lagu pertama, Bara Suara menampilkan performa yang secara panggung-sangat meyakinkan dan percaya diri. Lagunya semacam eksperimental pada jaman Kantata Takwa di tahun 90an. Rancak, dengan 2 backing vocal sexy yang ikut meliuk-liuk. Sayang seribu sayang, audio yang buruk, suara mic yang sember ditambah lagu2 baru yang belum populer membuat Band Bara Suara menjadi band penghantar tidur yang paling pas. Lagu ke 2…. ke 3 dan seterusnya, saya TERTIDUR. Hingga menjelang lagu terakhir, barulah saya sedikit terbangun dan berharap bahwa saya terbangun dari mimpi buruk. Ternyata tidak….diakhir penampilannya, Bara Suara masih menggelegar dengan audio yang gahar yang tidak ramah.

Kecewa dengan sound di penampilan Bara Suara–yang kalo sound-nya bagus, pasti Bara Suara saya acungi jempoool–saya masih berharap di penampilan Maliq & D’Essentials. Band sekaliber MALIQ, pasti ada sound engineer yang bisa ‘meracik sound’ menjadi lebih CLING. Apalagi hampir setengah jam jeda–menjelang Maliq naik panggung–cukuplah membuat saya berharap ada perbaikan sound menjadi kembali jernih. Sampai tibalah waktunya dua MC centil yang wak wek wok dan nampak sudah kehabisan ide untuk mengisi jeda, memanggil grup band Maliq yang disambut dengan tepuk tangan dan teriakan gegap gempita.

Intro lagu Setapak Sriwedari pun mengalun disambut histeria. Saya masih mengkerutkan kening. Ya Allah, apa telinga saya salah?? Audio-nya malah makin paraaaaahh. Suaranya instrumennya mendem dan saya tidak bisa menangkap suara vocal dengan jelas. Oh my God! Ini sungguh mengecewakan. Tidak biasanya saya menonton penampilan Maliq dengan sangat tidak antusias. Beberapa lagu dari Maliq membuat saya mengantuk dan saya masih manyun. Tiba di sebuah lagu berjudul Funk Flow, dimana Indah sebagai vokalis cewek, mendapat porsi yang lebih banyak. Sayang bangeeeet, suara Indah tidak sebagus biasanya. Lebih mirip suara chipmunk. Wooww….menakjubkan!!! Padahal lagu Funk Flow asik dinikmati karena sangat dinamis dan dibawakan atraktif.

Akhirnya batas toleransi kuping saya habis sudah. Manakala Maliq membawakan lagu dengan gimik dangdut berjudul Drama Romantika dengan suara yang–ya Alloh tolongin Baim–saya pun bergegas pulang. Penonton di barisan festival masih berjoget dan tidak peduli dengan audio yang gak karu-karuan. Melintasi kursi2 penonton sambil tak lupa mengucapkan punten….puntenn numpang lewat, saya mendapat beberapa penonton lain yang tertidur di kursinya masing-masing.

Yah, tadinya saya masih mau menunggu penampilan Once feat Piyu Padi. Tapi, saya kurang yakin dengan hasil akhir audio-nya. Dugaan saya, pasti tidak jauh beda. Saya pulang dengan sedikit ketidakpuasan. Kalo saja saya mengeluarkan uang sebesar150rb atau 200rb rupiah untuk duduk atau berdiri di festival pertunjukan ini, pasti saya akan sangat kecewa. Satu hal yang saya heran : kenapa saat The SIGIT tampil, suara sound yang terdengar begitu harmony, begitu nyaman dikuping, sekalipun musiknya metal. Audio-yang muncul begitu santun. Distorsi gitar terasa tajam tapi tidak bikin pekak. Begitupun saat White Shoes &The Couple Company tampil, suaranya sangat CLING dan menawan. Hmmm…heran…hmmm ya sudah lah……

Hasil Foto2 dari Atas Bandros

Kalo orang lain pengen selfie saat naik Bis Bandros, maka saya berbeda. Saya ingin memotret apa yang saya lihat, apa yang saya jumpai, apa yang kita lewati saat melintas dengan bis tingkat 2 berwarna merah tersebut. Hasilnya bagus atau tidak, tak masalah…dibilang objek fotonya terlalu umum, juga tak menjadi soal. Memotret dari ketinggian saat Bis Bandros sedang berjalan, adalah sesuatu yang menarik.

Yang belum tahu rute Bis Bandros, melewati jalan mana saja, silahkan ikuti foto2 berikut ya. Start dari Taman Cibeunying, Bis bergerak mengarah ke jalan Citarum, dan berikut ini beberapa ratus meter sebelum berbelok ke Jl. Diponegoro.

image

Saat melintas Jl. Diponegoro, depan RRI Bandung, jalanan masih lengang dan sepi… ada kabel rendah membantang, yang membuat kami harus merunduk.

image

Di Jalan Diponegoro, objek foto yang wajib dibidik adalah Gedong Sate. Nah, melintas beberapa detik di depan Gedung yang menjadi ikon kota Bandung, bisakah mendapatkan momen?? 😆

image

Jawabannya adalah BISA!!

Dari Gedong Sate, bis meluncur ke Jalan Dago. Tidak ada yang spesifik sepanjang Dukomsel sampai dengan BIP, hanya saja jalan yang biasanya padat dengan kendaraan, sabtu pagi teras lengang. Itulah salah satu alasan saya memilih naik Bandros hari sabtu pagi : bebas macet!

image

Selepas Jl. Dago, disambung Jalan Merdeka. Ada gedung baru, menjulang di depan BIP. Sebuah kondotel : kondominium-hotel,  baru nan cantik. Berbanding terbalik dengan gedung jadul di sebelahnya yakni Panti Karya.

image

Masih di Jl. Merdeka kita akan melewati Balai Kota. Yang terbaru di Jalan Merdeka adalah Taman Vanda. Taman ini baru saja selesai dikerjakan untuk menghiasi acara KAA. Walaupun tidak terkejar waktunya (saat KAA, taman ini belum rampung 100%).

image

Sayang, saat melintas taman ini, air mancur-nya lagi gak jalan. Untungnya, taman dengan latar gedung BI ini masih fotogenic, sehingga tetap terlihat ‘geulis’ hehehe…

image

Ini adalah Gereja Katderal yang legendaris. Bangunan vintage ini tetap indah dan anggun. Sayang, saya tidak mendapat gambar yang lebih baik dari atas bandros. Kecepatan bis melintas, tidak bisa berbanding dengan ketepatan, dari mana saya harus memotret gereja cantik tersebut….

image

Masih di Jl. Merdeka, ini adalah hotel Panghegar, tepat disamping rel kereta Api.

Kemudian, Bandros mengarah ke Lembong, lalu ke kanan yaitu Lengkong. Dan yang menarik buat saya adalah Hotel Preanger. Walaupun hotel ini terlihat megah dan modern, tapi tidak ‘menganggu’ bangunan aslinya yang dibiarkan retro dan menjadi salah satu heritage kota Bandung.

image

Nah, dari dari sini, Bis Bandros berbelok ke kanan, yaitu jalan Asia Afrika. Bersyukur, karena dipersimpangan lain sedang lampu merah, maka saat Bis Bandros melintas, jalan Asia Afrika tampak lengang dan indah.

image

Jalan ini masih cantik paska perayaan KAA. Pot bunga yang berjejer rapi di sepanjang jalan, bola batu yang bertuliskan nama2 negara peserta KAA, kursi besi berwarna tembaga semakin menguatkan retrospective jalan ini. Sedaaapppp…

image

Melewati hotel Homan….

image

Masih ada sisa-sisa nuansa KAA

image

Mencoba membidik gedung Huis Van de Vries…

Terus semakin ke barat, maka memotret pun menjadi semakin bergairah, tercabik antara ingin mengambil dengan angel yang beda tetapi Bis Bandros terlampau melaju dengan cepat walaupun sebenarnya gak cepat2 amat sih, tapi tetap aja serasa gak keburu, fiuuhh.

image

Sempat menjadi pusat perhatian saat melewati segerombolan anak TK yang sedang mengunjungi museum KAA di Gedung Merdeka lalu kami pun dadah dadah dari Bandros….😂

image

Melewati 2 Menara “Two Towers” yang menjadi ikon alun-alun Bandung….

Dan masih sempat memotret gedung SWARHA yang cukup legend…

image

Dari sini, bis belok ke kanan, Jl. Banceuy. Saya sudah tidak memperhatikan penjelasan tour guide, *disebelah kanan kita adalah penjara Presiden Soekarno blah..blah…blah….*

Masuk ke jalan Braga, saya benar2 tidak sempat memotret Gedung Bank BJB, karena tepat di belokan tersebut ada kabel semerawut yang sangat-sangat rendah, sehingga kami semua harus kembali merunduuuukkkk….

image

Yang istimewa di Jl. Braga adalah sepanjang jalan tersebut tidak ada kabel listrik yang membentang. Kami, dipersilahkan untuk selfie sukaesih, karena di jalan ini Bus Bandros melelaju dengan sangat pelan….

image

Coba perhatikan, jalan yang sarat dengan nostalgia orang2 Belanda, dengan bangunan yang serba retro, vintage semakin sempurna dengan tidak adanya kabel yang membentang…. suka deh…

image

Memandang langit Braga…

Dari Braga, Bis Bandros berbelok ke kanan, yaitu jalan Lembong (lagi). Nah disini saya sudah wanti-wanti, akan membidik taman di pertigaan Jl. Veteran, yaitu taman yang ada patung Adjat Sudradjat, pemain Persib yang sohor tahun 80-an. Oke, saya pun bersiap….

image

Tadaaaa….hehehe obsesi yang terlaksana…

Oke, Bis Bandros melaju ke Jl. Veteran, lalu ke jalan Sunda dan sekitarnya. Sebetulnya saya sempat memotret rumah tempo doeloe di sekitar Gor Saparua Bandung. Rumah tersebut disebut terkenal dengan sebutan Rumah Kentang, yang mana jika kita melewati rumah tersebut dan mendapati bau kentang, maka konon sedang ada penampakan. Sayangnya, pada saat memotret rumah tersebut hasilnya “blur”. 😕

Memasuki jalan, Riau dan Bis Bandros jelang kembali ke Taman Cibeunying. Sebelum tiba di Taman Cibeunying, seluruh awak dan penumpang Bis Bandros diajak menyanyikan lagu Halo-halo Bandung, yang disambut dengan antusias.

Demikian reportase (dan pamer foto)-yang berkepanjangan. Beneran, ini reportasenya kepanjangan…. sori ya temanz, semoga niat saya “ngabibita” naik Bandros, berkeliling Bandung di akhir pekan ini benar-benar menjadi pelatuk, sehingga kalian benar2 pengen keliling seperti saya….. *harapan yang rada maksa* 😆

Dasar, Bangkoooong….!!!

Maksudnya sih mau pake sepatu yang sudah agak lama gak dipakai. Ternyata, di dlm sepatu tangan tangan meraba sesuatu yang enyoy2, kasaaarrr dan agak dingin. Sontak saya menarik tangan dari dalam sepatu. Trus si sepatu di ketruk2… pluukk! Ternyata bangkong badaaagg!! Deuuhh, ngaget2in si bangkong teh… #SsyyuuuhhSshhyyyuuhhh #GebahBangkong

*) Bangkong = Kodok (bahasa Sunda)

View on Path

Sopir Taksi Langka di Jakarta

Beberapa hari lalu, teman saya yang yang tinggal Yogyakarta dinas ke Jakarta. Dalam perjalanan di Jakarta, teman saya ini menggunakan Taksi Express dengan sopir anak muda, dengan logat jawa yang medok dan tidak tau arah. Alih-alih beristirahat dan tidur di taksi, teman saya malah sibuk menunjukkan arah kemana tujuan yang dimaksud. Setelah teman saya kembali ke Jogja, barulah ingat bahwa BBnya tertinggal di Taksi Express yang di Jakarta itu…

BB itu ada di tangan sopir taksi-yang belakangan diketahui namanya Mas Ajib. Dia mengamankan dan menyimpan BB tersebut. Menurut Mas Ajib, suatu saat yang punya BB pasti akan menghubungi dan mengambil kembali BBnya, dan Mas Ajib bermaksud mengembalikan. Jadilah teman saya yang di Jogja itu janjian dengan Mas Ajib. Agak susah, harus via SMS karena hape-nya Mas Ajib adalah hape jadul yang sdh tidak bisa berfungsi, sudah tidak bisa dipake nelpon, cuma smsan aja.

Jadilah saya dan teman saya Yayatz, berada di Lobby FX Plaza ini untuk menemui Mas Ajib, Sopir Taksi Express yang bermaksud mengembalikan BB. Agak lama saya menunggu di FX Plaza, karena Mas Ajib sedang mengantarkan penumpang…baru sekitar jam 2 siang kami bisa bertemu, itu pun dengan janjian yang alot via sms, karena kedua belah pihak tidak bisa merinci dgn detail posisinya masing. Yaaa, agak susah kalo via sms hehehe…

Ternyata, Mas Ajib itu masih muda sekali. Kelahiran tahun 1990, asal dari Jepara. Bekerja di Taksi Express baru 3 minggu (panteeeess) Sangaaat lugu, dan belum hapal jalan2 di Jakarta. Saat kami bertemu-dan kami mau sedikit mengobrol dulu sebentar-kami membawanya ke salah satu tempat makan di FX. Dia kikuk bukan main. Sambil malu2, Mas Ajib bilang dengan logat jawa ‘saya mbelum pernah masuk ke tempat-tempat kayak giniiii’. Pun saat saya persilahkan pesan makanan, dia manut saja. Minta kami yang pesankan, karena dia gak tau menu2 yang ada dalam daftar… Benar2 lugu…

image

Ponsel BBnya diserahkan sambil dipersilahkan diperiksa dulu, bahwa katanya dia tidak mengutak atik BB tersebut, kecuali menerima panggilan dari pemiliknya (dari teman saya yang Jogja, yg menghubungi kemrin). Kami tidak memeriksa dengan detail. Dengan tampilan dan kenyataan seperti Mas Ajib, saya yakin dan percaya bahwa BB pasti cuma disimpan doang sampe baterenya abis… Sebelum kami berpisah pulang, kami menyampaikan ‘titipan’ dari teman saya pemilik BB. Mas Ajib hanya bengong, terus meneriman titipan kami tanpa menghitungnya, dan langsung memasukan kedalam saku sambil membungkuk mengucapkan terima kasih. Salah, kami yang berterima kasih karena Mas Ajib mengembalikan BB yang maha penting ini. Semoga bisa buat beli hape baru yang bisa buat nelpon, jadi nanti gak  cuma smsan aja ya Mas Ajib…

Kami minta diantar ke pool travel citiTrans terdekat yaitu di SCBD Square (yang sesuai dugaan, pasti Mas Ajib gak tau alamat yang di maksud). Tapi dengan sopan, Mas Ajib mau mangantarkan dan ‘ayo kita cari saja alamat itu’. Dan begitu di nyampe di basement FX, Mas Ajib lupa, dimana memarkir taksinya. Kami menyasar setiap dinding parkiran, naik turun lantai basement, yang tampakanya malah makin membingungkan Mas Ajib. Hadeuuuhh. Akhirnya kami ke luar gedung FX, dan melakukan napak tilas…dari mana awalnya Mas Ajib masuk ke gedung ini, trus menyusuri… alhamdulillah, akhirnya ketemu… ck ck ck..hadeuh… Mas Ajib….memang Ajib! Sepertinya, Mas Ajib adalah sedikit dari manusia langka yang ada di Jakarta…

image

Ceurita Hari Ini (Ceu Hani)

Seru itu adalah ngejar kereta api yang 5 menit lagi mau berangkat, sementara saya masih di loket penjualan tiket di Gambir. Perjuangan itu adalah berlari sebisanya dari pemeriksaan tiket menuju 2 lantai diatasnya dan melompati eskalator tiga2 sekaligus. Mengacung2kan tiket sambil berteriak jalur satu-jalur satu… sambil seseledek. Kalo sdh begitu, saya lupa dengan perut. Buktinya, saya masih bisa lari, walaupun bari ngosh ngosh-an 😀 😀 #KisahHariKamis – with Yayatz

View on Path

Prosesi Akad Nikah Keponakan

Hari ini, sabtu 5 April 2014…hari dimana saya duduk bersimpuh…menunduk dengan khidmat. Keponakan saya, tampak cantik dan anggun dengan kebaya brokat kebaya berwarna putih bersanding dengan seorang lelaki yang siap melaksanakan sumpah ijab kabul. Ayat suci berkumandang menjadi pembuka prosesi akad nikah. Mata saya mulai menghangat…. Saya memalingkan wajah, dan berusaha fokus, bahwa kehadiran saya duduk disana adalah untuk menjadi saksi mement penting ini.

image

Bola mata saya menyapu pandangan, di samping kanan saya, ada Pak Didin-tetangga sebelah rumah yang sudah kami anggap orang tua kami sendiri. Beliaulah yang berperan sangat “luar biasa” hingga bisa terlaksananya akad nikah yang sederhana ini. Disamping Pak Didin, tampak Ceuceu-kakak saya, Ibu dari keponakan saya, Yulissa. Sementara di samping kiri saya, Pak penghulu bersiap dengan kelengkapan administrasi yang terhampar di meja, di hadapan kami. Disamping kiri Pak Penghulu, duduk bersila keponakan saya yang laki-laki Akang Hari-dialah yang menjadi wali nikah pagi ini, mewakili almarum ayahandanya-Pak Yusmanar, yang telah meninggalkan kami setahun lalu.

Suasana heniiiing dan khidmat. Saya menyaksikan, bagaimana Akang Hari dibimbing membaca niat, pelan dan tidak dimenggunakan microphone. Begitupun ijab kabul disampaikan dengan khidmat, pelan tanpa microphone -mungkin maksudnya untuk menghindari rasa gugup yang berelebihan…hingga akhirnya saya sebagai dan saksi yang lain mengucapkan kata ‘sah!’ dengan mantap.

Akhirnyaaa…pernihkahan itu terlaksana juga… Pernikahan keponakan saya yang pertama- dimana proses untuk bisa menuju akad nikah ini sangat panjang, melelahkan berliku. Saya menyapu pandangan kepada mempelai pengantin. Ayahanda mempelai pria, tdk bisa hadir ke Bandung karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan. Sementara ayah Yulissa sudah meninggal setahun yang lalu karena diabetes. Saya kembali menunduk. Sesaat setelah ijab kabul, ada pesan2 dan amanat2 singkat dari Pak Penghulu…. saya tidak terlalu menyimak, saya hanya bisa menahan keharuan… Almarhum Pak Iyus-kakak ipar saya membayang di pelupuk mata, seolah ada disana turut menyaksikan. Saya tidak bisa lagi menahan air mata, saya sudah menahan untuk tidak menangis. Namun akhirnya saya terisak-isak juga saya tahu ini memalukan, dan dilihat oleh semua tamu yang hadir, tapi saya benar2 tidak bisa menguasai sisi sentimentil ini

Sebagai orang tua tunggal, beban Ceuceu sudah berkurang satu. Minimal, tanggung jawab sebagai orang tua, membesarkan hingga menikahkan, sudah terlaksana. Drama kehidupan dua anak manusia, baru saja dimulai. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan rahmah. Selamat menempuh hidup baru, Yulissa – Fredy Goneszales, semoga Alloh memberikan jalan, dan kemudahan bagi perjalanan hidup kalian. Salam dan doa dari Mang Iwan….

image

Pengalaman pertama, mengangkasa ke Surabaya

Tanggal 11 Maret, juga merupakan hari yang bersejarah buat saya. Hari dimana untuk pertama kalinya saya naik pesawat terbang. Selasa, 11 Maret saya mendapat tugas untuk pembuktian dokumen lelang ke Surabaya. Nah, jadilah saya berangkat dari Bandung menggunakan pesawat Lion Air jam 6.10 pagi. Sejak subuh, jam 4.30 pagi, saya sudah meluncur menuju bandara. Setelah check in, dan membayar airport tax, saya pun duduk di ruang tunggu. Dengan sekoper besar berisi dokumen kontrak asli, saya berlagak jaim di Bandara. Walaupun agak deg2 an (maklum, pertama kali di Bandara, sendirian pula) tapi berusaha agar tidak terlalu celingukan sih…

Begitu pintu pemeriksaan tiket dibuka, dan kami dipersilahkan masuk, gairah saya mulai memuncak. Tidak sabar rasanya untuk melihat, pesawat mana yang akan saya tumpangi. Saya bergegas menuju burung besi berwarna putih dengan motif merah terang “Lion Air” yang sudah menunggu di keremangan pagi. Saya masuk pesawat dari arah pintu depan, dengan ucapan selamat pagi dari seorang pramugara ganteng yang berjaga didekat pintu masuk. Saya mulai mencari nomor kursi yang sesuai, yaitu 25A. Menelusuri sepanjang kabin. Aahh, disini ternyata, hampir pas ditengah2 dengan posisi disamping jendela, persis! Setelah menyimpan koper di bagasi kabin, saya duduk, dan mulai menikmati setiap jengkal interior pesawat, menyapu pandangan ke segala arah, dan memandang ke arah luar dimana pesawat2 lain yang tengah di parkir. Begitu pesawat mulai bergerak pelan, saya berdoa. Ada gairah, ada senang, ada syukur ada cemas, bercampur aduk jadi satu. Saat perlahan pesawat mengangkasa, saya tidak bisa menggambarkan perasaan saya…

image

Sepanjang perjalanan selama 1 jam 15 menit perasaan saya campur aduk. Saya sudah menahan diri, untuk tidak memotret, khawatir nampak katrok dan ketahuan banget kalo saya baru pertama naik pesawat. Tapi, akhirnya saya menyerah pada situasi. Tidak mungkin saya membiarkan lolos pemandangan indah diangkasa, saat pagi cerah begini. Beberapa kali saya memotret gumpalan2 awan yang berpadu dengan langit biru, diterangi cahaya matahari pagi.  Sayap pesawat yang tepat berada di depan mata, menjadi objek yang begitu menarik selama pesawat mengangkasa. Setelah 1 jam mengangkasa, kemudian pesawat mendarat dengan sempurna di Bandara Surabaya. Alhamdulillah, puji syukur… Yap, tanpa membuang waktu lama, fokus saya mulai berbeda… sekarang saatnya bekerjaaaaa… !

image

Pertama kali, Nonton Tulus di 1 Million Dream

Nonton Konser  Tulus di 1 MillionDreams
Belum hilang euphoria menonton Mocca, saya mendapat ‘hadiah’ lain, yaitu menonton konser Tulus di Eldorado secara gratiiiss! Acara ini berjudul 1 MillionDreams, yang di sponsori oleh salah satu provider, di Indonesia. Ini adalah kali pertama saya menonton pertunjukan Tulus, yang beberapa minggu sebelumnya merelease album yang sangat cerdas, Gajah. Tampil dengan formasi band lengkap, Tulus berhasil menyihir ratusan Teman Tulus-sebutan friend base Tulus- yang tidak sabar menunggu sejak siang.

Sejenak, saya takjub dengan suasana di tempat konser, yang dihadiri oleh remaja belasan tahun. Jika saya mengamati lagu2 Tulus dari album sebelumnya, maka jenis musik yang diusung adalah jenis musik jazz & ballads – yang saya kira rentang penggemarnya berumur 25 tahunan. Tapi ternyata dugaan saya saya meleset, karena faktanya : Tulus malah sering manggung di pensi SMA dan SMP. Terbukti,bremaja2 belasan tahun itu hapal di luar kepala lagu2 seperti yang dendangkan Tulus, seperti Diorama, Cinta Sebentar dan Jatuh Cinta, Tuan dan Nona Kesepian, Teman Hidup dan sudah pasti Sewindu. Suara penonton bergaung seolah ingin mengambil alih saat Tulus menyanyikan lagu2 yang-sebenarnya tidak berada dalam range usianya.  Lagu Sepatu, Baru, Gajah dan Jangan Cintai Apa Adanya diperkenalkan juga di konser tersebut. Konser gratis berdurasi sejam itu rasanya terlalu sebentar. Tulus menjadi sosok penyanyi solo pria bersahaja yang bergerliya di jalur indie, Kehadirannya benar2 mendobrak kejenuhan musik tanah air saat ini. Sukses buat Tulus!!

image