Tantangan Memotret #BIRU Hari ke #3

Tantangan hari ke #3 bertema #BIRU. Lampu-lampu sorot menghiasi panggung konser KLa Project, beberapa waktu lalu di Trans Studio Bandung. Mayoritas dihadiri oleh fans dan pecinta musik dari rentang zona 90an. Seru, bernostal-gila bersama….. – with Risna

View on Path

Iklan

IWAKO Bdg, Antar – Jemput, Ojeg dan Kurir

image

Om….Tante…. berbagi info niiii…
Untuk kebutuhan antar jemput, ojeg dan kurir…. gunakan jasa IWAKO Bdg. Bisa carter juga sesuai kebutuhan….

Kado Tahun Baru 2016, untuk warga Bandung

Yap, awal tahun 2016 yang lalu, Ridwan Kamil menghadiahkan dua ruang terbuka publik yang bisa dinikmati warga Bandung. Yang pertama adalah Teras Cikapundung, berlokasi di Babakan Siliwangi. Lalu, yang kedua adalah Taman Revitalisasi Sungai Cikapayang, berlokasi Jl. Merdeka, sepanjang tepian anak sungai Cikapayang di samping Balaikota, persis!!
image

Yang pertama saya kunjungi adalah Taman Revitalisasi Sungai Cikapayang. Dulu, sepanjang lereng sungai ini hanya trotoar licin biasa. Trotoar kecil yang kalo orang berpapasan harus mengalah salah satunya. Iya…trotoar kecil dengan pembatas pipa besi sebaagai penghalang antara trotoar dan sungai.
image

Sekarang, sepanjang Jl. Merdeka ini, trotoar tersebut disulap menjadi pedestrian icon kota modern. Trotoar dari batu alam yang luas, lengkap dengan kursi2 untuk duduk2 dan lampu jalan yang serasi. Dilengkapi dengan papan informasi terkait Revitalisasi Sungai Cikapayang. Anak sungai Cikapayang, menjadi proyek percontohan, dimana sungai ada proses penyaringan air sungai, sehingga air yang mengalir setelah proses penyaringan tersebut, menjadi air yang bersih. Trotoarnya menjadi luas, dengan hijau pepohonan dan bebatuan. Tentu ini menjadi tempat yang menyenangkan. Baik untuk sekedar duduk menikmati suasana pagi ataupun sore hari…Saya pun demikian, duduk santai menikmati pagi, sambil berjemur.
image

Berjalan-sore ke arah selatan, ke sebelah bawah….mengitari jalan ini sungguh menyenangkan. Bisa berjalan ber3 atau ber4 tanpa harus berdesakan, seru aja! Apalagi dengan disediakan kursi2 untuk duduk2. Aaaahhh, semakin menyempurnakan acara jalan2 sorenya. Trus, sudah selesai?? Belum, pedestrian ini menyambung terus hingga ke sebelah selatan (pas di belokan depan BI — seberang Taman Vanda.). Dibelokan ini, ada area yang lebih luas. Ornamen batu menjulang mengingatkan saya pada film animasi Brave, bedanya : batu2 menjulang disini dibuat ‘funky’ disorot lampu2 led berwarna warni.
image

Masih di sekitar taman Sungai Cikapayang, tepatnya di sebrang SD Banjarsari. Sebuah area terbuka yang asik buat ngadem. Ada sebuah pohon karet/beringin tua…dengan surai2 menjulur ke bawah. Di akun instagram Pak Walikota–Ridwan Kamil, ada postingan Pak Wali sedang gelayutan di sulur pohon. Ini menjadi seru, karena akhirnya banyak ikut2 glayutan dan berfoto disini.

Hyuuukkk, jalan2 ke Taman Kota yang ada di Bandung…..seru looh…..
image
*postingan yang terlambat karena ini adalah tulisan awal tahun baru yang tersimpan di draft dan belum sempat di posting*

Konser Symphonesia, keren sih tapiiiiii……

image

Hari sabtu lalu, tanggal 7 NopemberĀ  2015, seorang sahabat mengajak nonton sebuah pertunjukan musik bertajuk SYMPHONESIA. Acara pertunjukan musik yang digagas oleh Mahasiswa UNPAD jurusan HI. Pertunjukan musik ini sudah rutin digelar sejak tahun 2018. Biasanya menampilkan sejumlah musisi papan atas, atau musisi yang sedang hits. Nah, untuk pertunjukan kali ini, Symphonesia menampilkan Once feat Piyu Padi, Maliq & D’Esentials, Bara Suara, The SIGIT, White Shoes & The Couple Company dan lain-lain.

Melihat sederet musisi yang akan tampil, rasanya sayang jika dilewatkan. Apalagi penawaran menonton GRATIS, karena teman yang mengajak merupakan MD di sebuah radio swasta yang media partner. Oke syiiiippp, saya pun menyatakan OK!

Apa daya, menjelang tanggal 7, pekerjaan kantor cukup menumpuk. Bahkan, hari sabtu saya harus mengikuti apel pagi dan meeting bersama user sampai dengan jam 11, dilanjut dengan pertemuan intern sampai dengan jam 14. Suasana hujan saat itu membuat saya merasa nyaman leyeh2 di sofa kantor hingga nyaris tertidur. Kalo bukan karena sudah berjanji OK–mau nonton konser, rasanya enggan body ini bergeser sedikitpun dari empuknya sofa. Tapi janji adalah janji. Maka, jam 17.00, saya meluncur menuju SABUGA.

Saat masuk ke gedung pertunjukan, band yang sedang tampil saat itu adalah The SIGIT. Yang saya tau, The SIGIT adalah band indie label beraliran metal. Kemampuan musikalitasnya luar biasa dan sudah di akui di mancanegara. Mendengarkan musik metal dari The SIGIT, sangat asyik. Saya antusias menyimak performa, walaupun saya tidak hafal lagu2 mereka. Saya memuji sound engineer-nya yang bisa mensetting audio sedemikian rupa. Instrumen yang dimunculkan begitu detail dan jernih. Bahkan, saya merasa nyaman mendengarkan musik cadas dengan audio yang “santun”, tanpa memekakan telinga. Kereeeeennn!!!

Penampil berikutnya setelah The SIGIT adalah White Shoes & The Couple Company. Tidak banyak lagu yang saya tau dari band unik yang mengusung konsep retro ini. Vokalisnya berbusana ala penyanyi Ida Royani (biduan tahun 70an), minimalis. Musiknya, ya retro dengan sedikit balutan pop jazz dengan skill yahuud. Selain lagu Senandung, ada lagu berjudul MALU-MALU KUCING, yang dinyanyikan dengan ekspresif dan dinamis. Lagu jadul yang–dinyanyikan dengan sangat menarik. Begitu juga saat band ini menyajikan lagu berbahasa sunda CANGKURILEUNG. Musikalitas White Shoes & The Couple Company sangat teruji disini. Mengemas lagu daerah, menjadi sesuatu yang layak mendapat apresiasi. Sangat bagus….

Kenyamanan audio yang saya bilang “santun” tidak terjadi pada penampilan sesudahnya. Setelah White Shoes & The Couple Company, band yang berikutnya tampil adalah : BARA SUARA. Entahlah, settingan seperti apa yang dilakukan oleh sound engineer-nya. Yang jelas, saat band ini tampil, audio yang muncul tidak sebagus kedua band sebelumnya. Setiap cabikan gitar, terasa menyakitkan telinga. Begitu pun suara vocal yang muncul dari mic, terdengar sember. Kacau niiihh!! Pertunjukan musik menjadi tidak asik. Di lagu pertama, Bara Suara menampilkan performa yang secara panggung-sangat meyakinkan dan percaya diri. Lagunya semacam eksperimental pada jaman Kantata Takwa di tahun 90an. Rancak, dengan 2 backing vocal sexy yang ikut meliuk-liuk. Sayang seribu sayang, audio yang buruk, suara mic yang sember ditambah lagu2 baru yang belum populer membuat Band Bara Suara menjadi band penghantar tidur yang paling pas. Lagu ke 2…. ke 3 dan seterusnya, saya TERTIDUR. Hingga menjelang lagu terakhir, barulah saya sedikit terbangun dan berharap bahwa saya terbangun dari mimpi buruk. Ternyata tidak….diakhir penampilannya, Bara Suara masih menggelegar dengan audio yang gahar yang tidak ramah.

Kecewa dengan sound di penampilan Bara Suara–yang kalo sound-nya bagus, pasti Bara Suara saya acungi jempoool–saya masih berharap di penampilan Maliq & D’Essentials. Band sekaliber MALIQ, pasti ada sound engineer yang bisa ‘meracik sound’ menjadi lebih CLING. Apalagi hampir setengah jam jeda–menjelang Maliq naik panggung–cukuplah membuat saya berharap ada perbaikan sound menjadi kembali jernih. Sampai tibalah waktunya dua MC centil yang wak wek wok dan nampak sudah kehabisan ide untuk mengisi jeda, memanggil grup band Maliq yang disambut dengan tepuk tangan dan teriakan gegap gempita.

Intro lagu Setapak Sriwedari pun mengalun disambut histeria. Saya masih mengkerutkan kening. Ya Allah, apa telinga saya salah?? Audio-nya malah makin paraaaaahh. Suaranya instrumennya mendem dan saya tidak bisa menangkap suara vocal dengan jelas. Oh my God! Ini sungguh mengecewakan. Tidak biasanya saya menonton penampilan Maliq dengan sangat tidak antusias. Beberapa lagu dari Maliq membuat saya mengantuk dan saya masih manyun. Tiba di sebuah lagu berjudul Funk Flow, dimana Indah sebagai vokalis cewek, mendapat porsi yang lebih banyak. Sayang bangeeeet, suara Indah tidak sebagus biasanya. Lebih mirip suara chipmunk. Wooww….menakjubkan!!! Padahal lagu Funk Flow asik dinikmati karena sangat dinamis dan dibawakan atraktif.

Akhirnya batas toleransi kuping saya habis sudah. Manakala Maliq membawakan lagu dengan gimik dangdut berjudul Drama Romantika dengan suara yang–ya Alloh tolongin Baim–saya pun bergegas pulang. Penonton di barisan festival masih berjoget dan tidak peduli dengan audio yang gak karu-karuan. Melintasi kursi2 penonton sambil tak lupa mengucapkan punten….puntenn numpang lewat, saya mendapat beberapa penonton lain yang tertidur di kursinya masing-masing.

Yah, tadinya saya masih mau menunggu penampilan Once feat Piyu Padi. Tapi, saya kurang yakin dengan hasil akhir audio-nya. Dugaan saya, pasti tidak jauh beda. Saya pulang dengan sedikit ketidakpuasan. Kalo saja saya mengeluarkan uang sebesar150rb atau 200rb rupiah untuk duduk atau berdiri di festival pertunjukan ini, pasti saya akan sangat kecewa. Satu hal yang saya heran : kenapa saat The SIGIT tampil, suara sound yang terdengar begitu harmony, begitu nyaman dikuping, sekalipun musiknya metal. Audio-yang muncul begitu santun. Distorsi gitar terasa tajam tapi tidak bikin pekak. Begitupun saat White Shoes &The Couple Company tampil, suaranya sangat CLING dan menawan. Hmmm…heran…hmmm ya sudah lah……