Mie Ayam Kampung, Enaknya Gak Kampungan.

Biarpun resep mie ayam ini dari kampung, tapi rasanya gak kampungan. Rasanya ningraaaattt…..

Kenapa rasanya enak dan ningrat? Karena semua bahan-bahan diolah dari bahan baku berkualitas. Tanpa pengawet. Mie-nya dibikin sendiri bukan mie dari pasar. Demikian pula dengan pangsitnya, dioleh dan goreng sendiri. Terjamin kualitas minyaknya. Semuanya olahan rumahan.

Mie ayam ini sedikit berbeda. Ada taburan daun bawang dan kacang sangrai. Jadi, rasanya tidak monoton. Ada kreeezz…. kreezznya gituuu.

Silahkan coba Mie Ayam Kampung dengan rasa ningrat di Jl. Palasari (menumpang di Cafe D’Duren). Harganya Rp. 15.000 per porsi. 

Ditunggu yaaahh…..

Iklan

Wisata Air Terjun Maribaya Lembang

image

Maribaya, sudah lama menjadi objek wisata alam yang sangat terkenal terletak di Kecamatan Lembang. Berjarak 5 km sebelah timur Lembang dan kira-kira 15 km dari Kota Bandung. Sempat beberapa waktu di tutup dan melakukan pembenahan dan renovasi. Kini, Maribaya telah berganti penampilan. Namanya pun berubah menjadi Natural Hot Spring Resort & Waterfall.

image

image

Seperti apa perubahan Maribaya yang sekarang?? Lebih kekinian. Contoh, untuk tiket masuk, sudah menerapkan sistem digital. Tiket berbentuk seperti ATM, yang diakses di pintu masuk yang dijaga oleh petugas. Arsitektur dan landsekap-nya pun lebih cantik dan menarik. Fasilitas lainnya seperti kolam rendam air panas, amphitheater untuk pertunjukan kesenian, kafe dan resto, foodcourt, sky bridge, dll. Bandingkan dengan sebelum renovasi, cuma ada penjual makanan seadanya dengan tenda biru dan gelar tikar, dan pengamen hilir mudik menyambangi pengunjung dengan agak memaksa.  Sekarang, sdh tidak ada lagi….

image

image

Harga tiket masuk 35ribu, katanya sih bonus air mineral. Tapi saya tidak ambil air mineralnya karena kurang mendapat informasi dimana saya bisa menukarnya. Harga tiket 35rb adalah masuk ke lokasi Maribaya saja. Jika berminat berendam, terapi ikan, arena permainan, ketangkasan, mini zoo dll, dikenakan tarif berbayar lagi. Lalu, yang menjadi catatan penting adalah : di pintu masuk tertera tulisan : pemeriksaan tas (DILARANG MEMBAWA MAKANAN DAN MINUMAN DARI LUAR). Artinya, kita memang diharuskan membeli makanan dan minuman di kafe dan resto yang ada di dalam objek wisata.

image

WOT BATU, Gallery Batu Karya Seniman Sunaryo

image

WOT Batu, sejatinya adalah sebuah ruang terbuka yang menampilkan karya seniman terkenal Sunaryo. Terletak di kawasan Bukit Dago Pakar, tidak jauh dari gallery Selasar Sunaryo–gallery yang sudah terlebih dahulu terkenal di kawasan yang sama. Wot Batu, berada di ketinggian kota Bandung dan dikeliling oleh pegunungan yang indah dipandang mata.

Masuk ke Wot Batu, berarti kita akan menikmati sebuah suasana karya seni yang tidak bisa didefinisikan nilainya. Maka, harga tiket masuk seharga 50ribu rupiah per orang (umum) dan 30ribu rupiah (pelajar & mahasiswa) bukanlah sebuah ukuran mahal atau murah. Akan tetapi lebih mengarah pada apresiasi karya seni tinggi sang kreator, dimana seorang seniman seperti Sunaryo merefleksikan tatanan kehidupan beserta elemen-elemen alam menjadi sebuah karya seni sangat tinggi. Ada ikatan filosofi sangat kuat setiap karyanya.

Dipandu oleh seorang perempuan cantik-yang dengan ramah akan membantu menjelaskan dengan detail setiap bentuk batu yang ada disana. Tentu saja, karena sebagai orang awam, kita tidak pernah tau makna dibalik bentuk artistik yang tersaji. Disanalah fungsinya pemandu, yang menerangkan, menjelaskan dan membawa kita ke sebuah ruang bawah tanah gelap gulita untuk menyaksikan pemutaran video awal mula terjadinya kehidupan: BIG BANG!

Video berdurasi sekitar 4 menit yang menggambarkan terjadinya Big Bang, di putar di sebuah ruangan kecil dibawah tanah, gelap gulita. Video di refleksikan pada sebuah batu bulat dengan pencahayaan artistik yang sangat minimalist. Video menceritakan bagaimana awal mula terjadinya alam semesta dengan sebuah ledakan yang luar biasa, hingga terbentuk galaksi-galaksi–salah satunya galaxy yang kita tempati yaitu Bima Sakti. Bumi, hanya sebagian keciiiilll dari galaxy kita. Sound effect-nya bikin bulu kuduk merinding. Konon, sound effek tersebut direkam dari pergerakan bebatuan di dalam perut bumi dan pergeseran saat proses pembuatan batu-batu di galery ini. Luar Biasa!!

Tentu, yang paling menakjubkan dari bentuk2 karya seni ini adalah : tumpukan bebatuan di atas tepian kolam. Penataan yang sedemikian artistik dengan latar belakang pegunungan, memiliki kesan magis mendalam. Ternyata, bentuk artistik tersebut maknanya adalah refleksi alam kematian. Akan ada suatu waktu dimana kehidupan berakhir. Kita akan memasuki alam yang baru setelah kita meninggal. Alam kematian…..

Ada banyak cerita menarik dari sang seniman. Beliau menceritakan, bahwa setiap batu yang akan digunakan memiliki energi yang berbeda di setiap perletakannya. Memiliki cerita, bahwa darimana masing-masing bebatuan tersebut berasal. Memiliki cerita, bagaimana bentuk artistik bisa tercipta begini…..bisa tercipta begitu…. dan semuanya bukan kebetulan. Ada peran Sang Pencipta yang ikut menentukan setiap tatanan……

Kunjungan ke Wot Batu berakhir disebuah tempat nyaman berdinding kaca, untuk beristirahat. Pemandu menyajikan minuman dingin (refreshment). Minuman dingin berwarna ungu dengan rasa herbal dalam gelas kecil, dinikmati sambil menyaksikan video proses pembuatan galery tersebut. Walaupun pendampingan dengan pemandu berakhir, kita masih bisa menikmati ruang terbuka untuk berfoto2 dan mengabadikan setiap bentuk artistik yang ada disana.

Oh ya pengunjung tidak diperkenankan membawa kamera propfessional atau DSLR ya, hanya kamera handphone saja.

image

Menyempatkan berfoto bersama pemilik dan sang kreator Wot Batu : Pak Sunaryo (tengah berkacamata)

Kado Tahun Baru 2016, untuk warga Bandung

Yap, awal tahun 2016 yang lalu, Ridwan Kamil menghadiahkan dua ruang terbuka publik yang bisa dinikmati warga Bandung. Yang pertama adalah Teras Cikapundung, berlokasi di Babakan Siliwangi. Lalu, yang kedua adalah Taman Revitalisasi Sungai Cikapayang, berlokasi Jl. Merdeka, sepanjang tepian anak sungai Cikapayang di samping Balaikota, persis!!
image

Yang pertama saya kunjungi adalah Taman Revitalisasi Sungai Cikapayang. Dulu, sepanjang lereng sungai ini hanya trotoar licin biasa. Trotoar kecil yang kalo orang berpapasan harus mengalah salah satunya. Iya…trotoar kecil dengan pembatas pipa besi sebaagai penghalang antara trotoar dan sungai.
image

Sekarang, sepanjang Jl. Merdeka ini, trotoar tersebut disulap menjadi pedestrian icon kota modern. Trotoar dari batu alam yang luas, lengkap dengan kursi2 untuk duduk2 dan lampu jalan yang serasi. Dilengkapi dengan papan informasi terkait Revitalisasi Sungai Cikapayang. Anak sungai Cikapayang, menjadi proyek percontohan, dimana sungai ada proses penyaringan air sungai, sehingga air yang mengalir setelah proses penyaringan tersebut, menjadi air yang bersih. Trotoarnya menjadi luas, dengan hijau pepohonan dan bebatuan. Tentu ini menjadi tempat yang menyenangkan. Baik untuk sekedar duduk menikmati suasana pagi ataupun sore hari…Saya pun demikian, duduk santai menikmati pagi, sambil berjemur.
image

Berjalan-sore ke arah selatan, ke sebelah bawah….mengitari jalan ini sungguh menyenangkan. Bisa berjalan ber3 atau ber4 tanpa harus berdesakan, seru aja! Apalagi dengan disediakan kursi2 untuk duduk2. Aaaahhh, semakin menyempurnakan acara jalan2 sorenya. Trus, sudah selesai?? Belum, pedestrian ini menyambung terus hingga ke sebelah selatan (pas di belokan depan BI — seberang Taman Vanda.). Dibelokan ini, ada area yang lebih luas. Ornamen batu menjulang mengingatkan saya pada film animasi Brave, bedanya : batu2 menjulang disini dibuat ‘funky’ disorot lampu2 led berwarna warni.
image

Masih di sekitar taman Sungai Cikapayang, tepatnya di sebrang SD Banjarsari. Sebuah area terbuka yang asik buat ngadem. Ada sebuah pohon karet/beringin tua…dengan surai2 menjulur ke bawah. Di akun instagram Pak Walikota–Ridwan Kamil, ada postingan Pak Wali sedang gelayutan di sulur pohon. Ini menjadi seru, karena akhirnya banyak ikut2 glayutan dan berfoto disini.

Hyuuukkk, jalan2 ke Taman Kota yang ada di Bandung…..seru looh…..
image
*postingan yang terlambat karena ini adalah tulisan awal tahun baru yang tersimpan di draft dan belum sempat di posting*

IWAKO, terbangun dari mati suri…

image

Jadi, sebenarnya IWAKO Bdg, sudah ada jauuuuuhh sebelum ada go*ek ataupun OKj*g, GrabOj#k, dan sebagainya. IWAKO, sudah ada di pertengahan tahun 2014, terinspirasi dari BdgTaxiBike–yang lebih dulu merintis bisnis ini. Karena ada satu dan lain hal, maka IWAKO sempat vakum, dan mati suri.

Sampai akhirnya pada awal tahun 2016, IWAKO hadir kembali. Masih dengan nomor kontak yang sama, pin BBM yang sama, armada yang sama, yaitu Shogun 125 warna biru dan rider yang sama, si eta pokokna mah….

Untuk kebutuhan transportasi kendaraan roda 4, untuk keliling Bandung bersama teman atau keluarga, IWAKO siap membantu. Tersedia Avanza ataupun Xenia dengan harga kompetitif. Untuk perjalanan lebih nyaman, tersedia pula Kijang Innova. Sedangkan untuk muatan lebih banyak, kami sediakan kendaraan HIACE yang bisa memuat hingga 12orang.

_______________________

IWAKO Bdg
Telp/WA 0838-20100971
Pin BBM : 765348FF

_______________________

Nomor kontaknya boleh banget disimpan, siapa tahu sekali waktu Anda memerlukannya.

Hasil Foto2 dari Atas Bandros

Kalo orang lain pengen selfie saat naik Bis Bandros, maka saya berbeda. Saya ingin memotret apa yang saya lihat, apa yang saya jumpai, apa yang kita lewati saat melintas dengan bis tingkat 2 berwarna merah tersebut. Hasilnya bagus atau tidak, tak masalah…dibilang objek fotonya terlalu umum, juga tak menjadi soal. Memotret dari ketinggian saat Bis Bandros sedang berjalan, adalah sesuatu yang menarik.

Yang belum tahu rute Bis Bandros, melewati jalan mana saja, silahkan ikuti foto2 berikut ya. Start dari Taman Cibeunying, Bis bergerak mengarah ke jalan Citarum, dan berikut ini beberapa ratus meter sebelum berbelok ke Jl. Diponegoro.

image

Saat melintas Jl. Diponegoro, depan RRI Bandung, jalanan masih lengang dan sepi… ada kabel rendah membantang, yang membuat kami harus merunduk.

image

Di Jalan Diponegoro, objek foto yang wajib dibidik adalah Gedong Sate. Nah, melintas beberapa detik di depan Gedung yang menjadi ikon kota Bandung, bisakah mendapatkan momen?? 😆

image

Jawabannya adalah BISA!!

Dari Gedong Sate, bis meluncur ke Jalan Dago. Tidak ada yang spesifik sepanjang Dukomsel sampai dengan BIP, hanya saja jalan yang biasanya padat dengan kendaraan, sabtu pagi teras lengang. Itulah salah satu alasan saya memilih naik Bandros hari sabtu pagi : bebas macet!

image

Selepas Jl. Dago, disambung Jalan Merdeka. Ada gedung baru, menjulang di depan BIP. Sebuah kondotel : kondominium-hotel,  baru nan cantik. Berbanding terbalik dengan gedung jadul di sebelahnya yakni Panti Karya.

image

Masih di Jl. Merdeka kita akan melewati Balai Kota. Yang terbaru di Jalan Merdeka adalah Taman Vanda. Taman ini baru saja selesai dikerjakan untuk menghiasi acara KAA. Walaupun tidak terkejar waktunya (saat KAA, taman ini belum rampung 100%).

image

Sayang, saat melintas taman ini, air mancur-nya lagi gak jalan. Untungnya, taman dengan latar gedung BI ini masih fotogenic, sehingga tetap terlihat ‘geulis’ hehehe…

image

Ini adalah Gereja Katderal yang legendaris. Bangunan vintage ini tetap indah dan anggun. Sayang, saya tidak mendapat gambar yang lebih baik dari atas bandros. Kecepatan bis melintas, tidak bisa berbanding dengan ketepatan, dari mana saya harus memotret gereja cantik tersebut….

image

Masih di Jl. Merdeka, ini adalah hotel Panghegar, tepat disamping rel kereta Api.

Kemudian, Bandros mengarah ke Lembong, lalu ke kanan yaitu Lengkong. Dan yang menarik buat saya adalah Hotel Preanger. Walaupun hotel ini terlihat megah dan modern, tapi tidak ‘menganggu’ bangunan aslinya yang dibiarkan retro dan menjadi salah satu heritage kota Bandung.

image

Nah, dari dari sini, Bis Bandros berbelok ke kanan, yaitu jalan Asia Afrika. Bersyukur, karena dipersimpangan lain sedang lampu merah, maka saat Bis Bandros melintas, jalan Asia Afrika tampak lengang dan indah.

image

Jalan ini masih cantik paska perayaan KAA. Pot bunga yang berjejer rapi di sepanjang jalan, bola batu yang bertuliskan nama2 negara peserta KAA, kursi besi berwarna tembaga semakin menguatkan retrospective jalan ini. Sedaaapppp…

image

Melewati hotel Homan….

image

Masih ada sisa-sisa nuansa KAA

image

Mencoba membidik gedung Huis Van de Vries…

Terus semakin ke barat, maka memotret pun menjadi semakin bergairah, tercabik antara ingin mengambil dengan angel yang beda tetapi Bis Bandros terlampau melaju dengan cepat walaupun sebenarnya gak cepat2 amat sih, tapi tetap aja serasa gak keburu, fiuuhh.

image

Sempat menjadi pusat perhatian saat melewati segerombolan anak TK yang sedang mengunjungi museum KAA di Gedung Merdeka lalu kami pun dadah dadah dari Bandros….😂

image

Melewati 2 Menara “Two Towers” yang menjadi ikon alun-alun Bandung….

Dan masih sempat memotret gedung SWARHA yang cukup legend…

image

Dari sini, bis belok ke kanan, Jl. Banceuy. Saya sudah tidak memperhatikan penjelasan tour guide, *disebelah kanan kita adalah penjara Presiden Soekarno blah..blah…blah….*

Masuk ke jalan Braga, saya benar2 tidak sempat memotret Gedung Bank BJB, karena tepat di belokan tersebut ada kabel semerawut yang sangat-sangat rendah, sehingga kami semua harus kembali merunduuuukkkk….

image

Yang istimewa di Jl. Braga adalah sepanjang jalan tersebut tidak ada kabel listrik yang membentang. Kami, dipersilahkan untuk selfie sukaesih, karena di jalan ini Bus Bandros melelaju dengan sangat pelan….

image

Coba perhatikan, jalan yang sarat dengan nostalgia orang2 Belanda, dengan bangunan yang serba retro, vintage semakin sempurna dengan tidak adanya kabel yang membentang…. suka deh…

image

Memandang langit Braga…

Dari Braga, Bis Bandros berbelok ke kanan, yaitu jalan Lembong (lagi). Nah disini saya sudah wanti-wanti, akan membidik taman di pertigaan Jl. Veteran, yaitu taman yang ada patung Adjat Sudradjat, pemain Persib yang sohor tahun 80-an. Oke, saya pun bersiap….

image

Tadaaaa….hehehe obsesi yang terlaksana…

Oke, Bis Bandros melaju ke Jl. Veteran, lalu ke jalan Sunda dan sekitarnya. Sebetulnya saya sempat memotret rumah tempo doeloe di sekitar Gor Saparua Bandung. Rumah tersebut disebut terkenal dengan sebutan Rumah Kentang, yang mana jika kita melewati rumah tersebut dan mendapati bau kentang, maka konon sedang ada penampakan. Sayangnya, pada saat memotret rumah tersebut hasilnya “blur”. 😕

Memasuki jalan, Riau dan Bis Bandros jelang kembali ke Taman Cibeunying. Sebelum tiba di Taman Cibeunying, seluruh awak dan penumpang Bis Bandros diajak menyanyikan lagu Halo-halo Bandung, yang disambut dengan antusias.

Demikian reportase (dan pamer foto)-yang berkepanjangan. Beneran, ini reportasenya kepanjangan…. sori ya temanz, semoga niat saya “ngabibita” naik Bandros, berkeliling Bandung di akhir pekan ini benar-benar menjadi pelatuk, sehingga kalian benar2 pengen keliling seperti saya….. *harapan yang rada maksa* 😆

Wisata Sendiri : Menelusuri Cigending sampe Ke Lembang (Bag 2 Selesai)

Jalanan berbatu yang saya tempuh sangat sepi dan berkelok-kelok sekitar 1 kilometer cukup membuat saya cemas. Bahagia rasanya saat berpapasan dengan pengendara sepeda motor lain. Lebih bahagia lagi saat melihat beberapa orang penduduk sedang merapikan hasil kebun seperti sayuran dan kol. Itu pertanda, ada perkampungan di sekitar sini. Saya tidak sendiri, ada makhluk lain di sekitar sini 😆.

Sampailah saya di sebuah jalan turunan yang menikung membentuk huruf U. Kebetulan ada petunjuk arah di tikungan tersebut.

image

Ujungberung ke kanan 11km sedangkan ke kiri arah lembang 18km. Yessss, agak sedikit lega, walaupun masih harus menempuh18km. Kebayang kan, Cigending sampe sini saja, yang jalannya bagus beraspal mulus, ternyata 11km, dan itu sudah terasa jauh. Nah ke Lembang masih 18km lagi, oh my God! Kalo jalannya bagus, jarak segitu sebetulnya itu bukanlah masalah. Tapi kita kan tidak pernah tau, seperti apa jalan yang akan dilewati nanti….

Tetiba saya mendengar serombongan 3 atau 4 sepeda motor dari belakang saya. *di tempat sepi gini 3 atau 4 sepeda motor serasa rombongan 😆 Assiiikk, ada temen. Sekelompok anak2 muda berboncengan yang sepertinya pencinta alam, dengan ransel2 besar yang sepertinya mau kemping. Tapi yang satunya bukan. Satunya lagi adalah seperti tukang ojek yang membonceng muatan sambil membawa pikulan baso tahu (atau cilok). Woooowww, menerjang medan begini rupa, sambil ngabonceng tukang cilok?? JUARAAAA!!

image

image

image

Tak mau tertinggal dengan rombongan kecil itu, saya pun jaga jarak agar beriringan dengan mereka. Beberapa kali saya melihat tukang ojeg itu seperti ngagaléong oleng. Hmmm, kepikiran… berapa bayarannya narik ojeg ke sini…  Sayangnya, setelah sekitar 2 kilo meter beriringan, sayapun kembali sendirian. Mereka-termasuk-ojeg yang membonceng tukang cilok-berbelok ke Wisata Perkebunan Kina BUKIT UNGGUL dengan medan makin terjal — menanjak. Good luck ya Mang, semoga usahanya lancar disana. Sedangkan saya lurus, dengan medan agak menurun dan jalanan mulai membaik.

image

Kembali menyusuri jalan sendirian. Yang membuat senang adalah sepanjang jalan–dan sejauh mata memandang, samping kanan-kiri jalan ditumbuhi tanaman perdu dengan bunga berwarna ungu. Wouw, seperti di film epik. Keren. Sangat Alami. Sambil melaju pelan, saya mendapati dua orang yang mungkin suami istri sedang botram dipinggiran jalan. Ah, mereka tampak sedang piknik yang membuka bekalnya di tengah perjalanan. Saya masih terus melaju. Ujung mata, saya melihat seseorang sedang duduk dibawah pohon sebelah kanan. Tetapi begitu saya menoleh, ternyata tidak ada. Tidak ada orang dibawah pohon yang baru saja saya lewati. Merinding. Bulu kuduk saya sontak berdiri. Saya tidak bisa menambah kecepatan motor tapi saya ingin segera menjumpai perkampungan….pengen segera meninggalkan hutan ini….

image

Bahagia itu adalah ketika dari jauh, melihat ke arah bawah ada papan hijau penunjuk arah. Disebelah kiri tampak pemukiman warga walaupun rumahnya renggang. Ada beberapa sepeda motor berjejer yang sepertinya tukang ojeg. Suara anjing saling menyalak, menguatkan bahwa hutan sudah berakhir dan memasuki perkampungan. Seorang pengendara sepeda motor tampak sedang bertanya arah menuju ujung berung pada salah seorang tukang ojek yang di jawab oleh tukang ojeg “sanes tebih deui A, jauuuhh. Dan saya hanya bisa tersenyum dan berkata dalam hati “mangga cobian akaaaang* 😝

image

Plong rasanya memasuki jalan aspal lagi. Walaupun dikiri lembah dengan pemandangan indah, di sebelah kanan tebing dan hutan lembab. Air dari sisian tebing sampe moncer ke jalanan dan membuat jalanan licin dan berlumpur. Pengendara motor mulai banyak. Begitu juga yang gerak jalan menuju arah hutan kina. Suasana mulai seperti desa yang terpencil. Saya bahkan merasa sudah ada di Lembang, tapi entah bagian sebelah mana. Kemudian, saya mendapati penjual bensin eceran, saya mencoba menepi untuk mengisi bensin-yang ternyata-masih cukup. Membeli 1 liter bensin sambil bertanya pada Teteh penjual bensin, sebarapa jauh menuju Lembang. Ternyata, menuju Lembang itu hanya tinggal setengah jam, dengan medan datar. Begitu kata si Teteh.

Benar saja, saya mendapati alamat pinggiran jalan bertuliskan Jl. Maribaya Timur, Cibodas Lembang. Yihaaa. Saya merasa kembali ke peradaban. Pemandangan sudah bukan tujuan lagi. Sekarang adalah saatnya mencari jalan pulang. Motor terus melaju tanpa khawatir tersesat yang apalah apalah, gimana gitu. Apalagi setelah di depan Burgundy ada plang penunjuk arah : –>> Lembang, –>> Maribaya, <<— Dago Giri. Aahh, tentu saja saya pilih arah menuju Jalan Dago Giri.

Di jalan Dago Giri ini, banyak kendaraan plat B yang mengambil arah pintas menuju Lembang. Saya sebaliknya, menuju arah turun. Sampai saya melihat lembah sebelah kanan–yang dari kejauhan terlihat tepian bukitnya. Dan saya tahu, itu adalah jejeran kedai timbel Punclut. Yess. Bahkan, tak lama kemudian saya melewati kafe terkenal Lawang Wangi. Alhamdulillah, 5menit lagi saya akan menjumpai kemacetan jalan cagak Dago kemudian terminal Dago, berlanjut ke Simpang Dago, lalu saya pun pulang kembali ke arah Ujungberung.

Alhamdulillah…..

Wisata Sendiri : Menelusuri Jalan Cigending sampai Ke Lembang (Bag 1)

Bosan mager di rumah, hari ini saya memilih berpetualang #WisataSendiri. Kali ini target saya adalah : Menelusuri Jl. Raya Cigending – Ujungberung, Bandung. Sebelumnya, saya pernah dapat info bahwa kalo diteruskan menelusurinya, maka kita akan sampai ke Lembang. Nah, sedikit penasaran maka pagi tadi saya beranikan diri untuk menyisir jalan yang setiap hari di lewati, tapi tidak pernah lebih jauh dari komplek rumah saya yaitu Griya Winaya. Selepas sarapan Kupat Tahu enak di Jl. Cagak Cinangka, saya meluruskan niat.

Bismillah…. saya mulai melaju dengan motor shogun kesayangan, tanpa menoleh ke kanan dimana ada pos satpam dan gapura bertuliskan Komplek GRIYA WINAYA. Saya mantap, menuju “jalan lurus” yang kemudian menanjak dan berbelok ke arah kanan. Menanjak…dan terus menanjak…pantas saja disebut Tanjakan Panjang. Tapi jalanan bagus, dibeton…jadi motor bisa melaju dengan nyaman. Setelah dirasa-rasa lebih dari 3 kilometer, jalanan mulai sepi. Rumah penduduk mulai jarang. Yang ada sawah-sawah berundak mengikuti kontur pegunungan, dengan latar gunung-gunung dihiasi awan tipis. Sayangnya walaupun langit cerah, cuaca tidak benar2 clear, sehingga pemandangan indah di depan mata terasa kurang beniiiiiing.

Seperti biasa, saya menepi dan memarkir motor di tempat yang aman. Berdiri memandang alam dan sekitarnya. Saya selalu takjub dan bahagia saat melihat keindahan alam seperti ini….

image

Andaikan cuaca lebih bersahabat dan mengijinkan saya melihat keindahan lekuk gunung itu… Hmmmm…..puas memandang lukisan Tuhan, saya lanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan kali ini, saya dimanjakan oleh alam yang menyuguhkan pemandangan indah.

Setelah melewati sawah, ladang dan perkebunan warga, berikutnya adalah hutan pinus. Walaupun tidak terlalu rapat, dan masih renggang, tapi dari kejauhan saya melihat lekukan2 gunung bergerigi yang mendeskripsikan kalo itu hutan pinus. Well, saya menjumpai mobil-mobil yang beristirahat setelah “melepas” sepeda gunungnya. Mereka beristirahat di sebuah kedai minum-yang ternyata saya tidak menemukan ada kedai lagi sejauh berkilo-kilometer di depan.

image

image

Oke….awan tampak sudah berwarna abu-abu. Saya hanya berharap tidak hujan di petualangan kali ini. Betapa repotnya kalo sampe hujan. Selain khawatir kabut turun, saya pun bingung karena tidak ada tempat buat neduh…. Dengan sedikit was-was, saya melanjutan perjalanan….

Hutan pinus sudah mulai rapat….sangat rapat bahkan. Udara mulai terasa lebih dingin. Angin berhembus sangat segar….. sejauh mata memandang, hanya hutan pinus saja. Saya jarang berpapasan dengan pengendara motor lain. Tapi, ada beberapa mobil bak terbuka membawa sepeda gunung-sepertinya hendak berwisata sepeda melintas hutan pinus.

image

Jalanan tampak sepi, dengan hutan pinus sebelah kanan. Hutan pinus ini sangat rapat…. sedangkan sebelah kiri tidak terlalu rapat.

image

Beginilah medan yang ditempuh, jalan bagus dan mulus. Hanya saja sepi. Sepi sepi sendiri aku benci, pecahkan saja gelasnya biar ramai *melantur*, sampai saya ragu-antara melanjutkan perjalanan atau balik kembali ke Ujungberung….

Banyak pemandangan bagus dan indah. Tetapi, perasaan saya masih tercabik antara menyenangkan dan khawatir kehabisan bensin, karena saya belum bisa memprediksi, sejauh mana kira2 saya bisa sampai ke Lembang. Tak lama setelah melewati perkampungan kecil saya sedikit bernafas lega. Kembali melipir pingiran jalan untuk mencari informasi, dimanakah saya berada. Hutan yang ada menghampar di hadapan sudah bukan lagi pinus, tapi hutan kina.

image

Pemandangan yang menghampar dibawah sana, tak berbeda jauh dengan pmandangan di Tebing Keraton. Ujung pohon pinus yang lancip, membentuk gerigi yang indah berpadu dengan hutan kina.

image

…dan begini keterangannya :

image

Oouuuwwww…..ternyata saya memasuki area Wisata Kebun Kina milik PT. Perkebunan Negara VIII. Ya….ya… Lalu, Lembangnya sebelah mana, entahlah…..pastinya masih jauh. Karena belum ada tanda atau penunjuk arah yang menunjuk ke Lembang. Tidak boleh putus asa, tidak boleh ragu, harus mantap melanjutkan petualangan ini. Beberapa puluh meter setelah melanjutkan perjalanan, saya harus menerima kenyataan bahwa kali ini jalanan yang dilalui tidak seindah yang tadi. Jalanan berbatu, sedikit terjal dan licin-yang sepertinya-kalo tidak hati2 motor akan mudah tergelincir. Ya Alloh, jangan sampe motor saya mendadak kempes ban atau bocor ditempat terpencil dengan medan seperti ini….

Kira-kira sejauh apa ya jalanan berbatu ini…..

*bersambung*