Stage Bus Jazz Tour 2016 Ciwalk : Teza Sumendra, kereeenn!!!

image

Publik kota Bandung, boleh jadi merasa dimanjakan dengan sejumlah pertunjukan musik yang digelar di kota kembang. Setelah minggu lalu Stage Bus Jazz hadir di Jl. Braga dengan penampil Yura Yunita dan Barry Likumahuwa, kali ini acara yang di sponsori oleh MLD Spot digelar mall di kawasan Cihampelas atau Ciwalk. Bintang tamu andalan untuk edisi kali ini adalah Sierra Soetedjo dan Teza Sumendra.

image

Setiap ada acara musik, hati selalu antusias untuk bisa hadir menyaksikan.

image

Foto : MLD Spot

Acara yang dimulai sejak pukul 15.00wib ini sempat terhenti karena hujan. Beruntung, menjelang malam hari, hujan berhenti dan acara berlanjut dengan meriah. Penampilan DJ Irham & Tradisi, Kata Kita dan hiburan magical street serta stand up comedy dihadirkan lebih awal memeriahkan panggung sebelum penampil utama mentas.

image

Sedikit berbeda dengan dekorasi Stage Bus Jazz sebelumnya, dekor kali ini dihiasi dengan lampion benderang menggantung di setiap pohon pinus Ciwalk. Ada juga dekorasi sejumlah foto acara Stage Bus Jazz disetiap kota, yang di rangkum dalam frame glow in the dark. Foto2 tersebut dipamerkan sekaligus menunjukan kesuksesan MLD SPOTmenggelar acara di berbagai kota.

image

Menjelang pukul 20.00wib, penyanyi cantik SIERRA SOETEDJO naik ke pentas. Membawakan sejumlah singgel yang saya pun masih asing mendengarnya. Walaupun begitu, suasana tetap asyik mengingat Sierra cukup komunikatif dan mengajak penonton bernyanyi bersama. Bersuara bening, menjangkau nada-nada tinggi, penyanyi yang yang piawai skecth vokal ini seringkali unjuk kebolehan di setiap lagunya. Padadap subiduw biduw paripapaaww nainaninaninania….. *ala ala Tompi gitu deh*

image

Terakhir, sebagai penutup….nama TEZA SUMENDRA pun di panggil, disambut teriakan grupies, yang meringsek hingga ke bibir panggung. Fans2 yang sebagian besar cewek2 menjerit histeris. Ahhhh, rupanya Teza memiliki kelebihan, ada sesuatu dalam diri seorang Teza Sumendra sampai disambut histeris begitu rupa, yang nyata-nyata Teza belum naik ke atas panggung 😅😅😅

Saya masih memicingkan mata dan menunggu Teza muncul di Panggung…

Sebuah intro…dari lagu….Hang Up (interlude) mulai mengalu….dan tak lama kemudian Teza muncul dipanggung disambut histeria bak superstar! Wuiiiiihh…. dengan gayanya yang santai sedikit tengil, berbahasa inggris cas cis cuuz, Teza cukup percaya diri tampil di acara Stage Bus Jazz ini. Bermodal vokal super duper keren, dengan timbre yang unik, sedikit serak jarang dipunyai vokalis pria pada umumnya. Suara Teza, agak mirip Brian Mc Knight, tapi tapi serak2nya kadang mirip Brian Adam. Jika di Indonesia ada Sandy Sondoro yang vokalnya berkarakter, Teza juga!!

image

Lagu demi lagu dipersembahkan Teza dengan tepukan meriah. Tidak perlu tau sedang menyanyikan lagu apa, karena komposisi musik jazz yang dibawakan Teza & Band sudah cukup nge-groove. Sangat asyik dinikmati. Nuansa soul pada warna vokal menyatu dengan musiknya. Sekalipun begitu, Teza tampak tidak percaya diri saat beeduet dengan Sierra Sutedjo, dimana ada bagian Sketch Battle Vokal–dan vokal Sierra tampak jago meliuk ber padadap subiduw dam dama dubiduw….

image

Satu-satunya singgel berbahasa Indonesia yang ada di Album Teza Sumendra berjudul Satu Rasa di bawakan juga disini. Teza cukup komunikatif dan menghibur. Tidak sah rasanya jika Teza manggung tidak membawakan lagu I WANT YOU, LOVE. Sebuah singgel yang videonya dibintangi oleh Tarra Basro. Video dengan genre 21+ alias parental advisory. Bagaimana tidak, video ini hot dengan adegan2 antara Tarra Basro dan Teza Sumendra. Lagu ini disambut koor penonton barisan depan yang umumnya cewek. Setiap Teza menyodorkan mic untuk mengajak nyanyi bersama, disambut jeritan….dengan gemas Teza pun berteriak “heh nyanyi….bukan jerit-jerit!”. Hahahhaa Penampilan Teza ditutup dengan lagu Girlfriend, masih dari kantung albumnya Teza.

image

Foto : MLD Spot

Sama seperti pertunjukan MLD Spot sebelumnya di Braga, acara di Ciwalk ini sukses. Publik di kota Bandung mengapresiasi musik dengan sangat baik. Itulah kenapa, Bandung selalu dijadikan acuan barometer musik. Kalo sudah sukses tampil di Bandung, jangan khawatir tampil di kota lain. Sebaliknya, jika di kota lain sukses, di Bandung belum tentu, bahkan bisa jadi gagal, dan itu sudah sering terjadi.

Bravo MLD Spot, maju terus bersama musik Indonesia….

Iklan

IWAKO, terbangun dari mati suri…

image

Jadi, sebenarnya IWAKO Bdg, sudah ada jauuuuuhh sebelum ada go*ek ataupun OKj*g, GrabOj#k, dan sebagainya. IWAKO, sudah ada di pertengahan tahun 2014, terinspirasi dari BdgTaxiBike–yang lebih dulu merintis bisnis ini. Karena ada satu dan lain hal, maka IWAKO sempat vakum, dan mati suri.

Sampai akhirnya pada awal tahun 2016, IWAKO hadir kembali. Masih dengan nomor kontak yang sama, pin BBM yang sama, armada yang sama, yaitu Shogun 125 warna biru dan rider yang sama, si eta pokokna mah….

Untuk kebutuhan transportasi kendaraan roda 4, untuk keliling Bandung bersama teman atau keluarga, IWAKO siap membantu. Tersedia Avanza ataupun Xenia dengan harga kompetitif. Untuk perjalanan lebih nyaman, tersedia pula Kijang Innova. Sedangkan untuk muatan lebih banyak, kami sediakan kendaraan HIACE yang bisa memuat hingga 12orang.

_______________________

IWAKO Bdg
Telp/WA 0838-20100971
Pin BBM : 765348FF

_______________________

Nomor kontaknya boleh banget disimpan, siapa tahu sekali waktu Anda memerlukannya.

Mengisi Akhir Pekan #3 : Taman Super Hero, Taman Favorit di Bandung!

Kenapa saya sebut sebagai taman favorit?? Sepanjang hari senin sampai dengan hari sabtu, Taman Super Hero ini selalu penuh. Ramai. Hari Minggu, lebih ramai lagi. Penuuuhh bahkan untuk mendapatkan parkir motor saja susah.

Walikota Bandung, Ridwan Kamil berhasil membuat taman tematik yang sukses menjadi identitas kota Bandung. Dari sekian banyak taman kota ada, tercatat seperti Taman Kandaga Puspa, Pet Park, Cibeunying Park, Taman Lansia, Taman Film, Taman Jomblo, Taman Fotografi, Taman Musik, Taman Fitnes, dan masih banyak lagi. Sebagian taman-taman itu ramai saat tertentu atau manakala saat baru peresmian, ada even atau saat akhir pekan. Tapi, berbeda dengan Taman Super Hero (dan Taman Alun2 Kota Bandung, yang terkenal dengan rumput sintetisnya). Sejak diresmikan beberapa waktu lalu, taman ini selalu penuh dikunjungi warga yang ingin menikmati kesejukan kota sambil mengasuh anak2nya.
image

Apa yang membuat Taman Superhero ini menarik masyarkat?? Yap, sesuai namanya SUPER HERO, maka di taman ini ada patung2 super hero terkenal seperti Superman, Batman, Spiderman, Flash, bahkan Robot Gatot Kaca! Dan seperti taman-taman khususnya untuk anak-anak, di taman ini ada ayunan, prosotan dan permainan khas untuk anak-anak. Kalo dulu, warga harus ke taman bermain untuk bisa main ayunan dan prosotan, dikenakan tarif tiket. Nah, di Taman Super Hero, Pak Walikota memberikan semuanya untuk warga Bandung, gratiiiisss.

image

Dibandingkan dengan tokoh Superman, Batman atau The Flash, Spiderman, merupakan tokoh paling favorit anak. Hampir setiap anak, pasti berfoto dengan tokoh manusia laba-laba tersebut.

image

Bahkan, tempat ini menjadi kreaifitas yang menghasilkan uang. Ada seorang yang berkostum robot dan kostum Spiderman. Saya jadi kepikiran untuk mengisi hari libur dengan berkostum super hero lain, dan ikut mendulang rejeki disana…kira2 tokoh super hero apa yaaa…..wkwkwkw

image

Hahahaha, baik Spriderman maupun si robot memberikan 3 gaya pose potret. Kalo si Robot Hijau, memberikan foto yang naratif. Diawali dengan persahabatan, lalu pertarungan, dan diakhiri dengan kekalahan sang Robot. Sedangkan Spiderman memilih memberikan pose-pose khas Spiderman. Dan untuk berpose dengan orang berkostum tersebut, tarifnya adalah kencleng se-ikhlasnya.

image

image

Berbeda dengan anak-anak perempuan. Mereka lebih suka main ayunan dan prosotan. Ayunan disini cukup banyak. Begitupun tempat duduk yang disediakan di taman ini, cukup banyak. Saya mendapati beberapa orang tua, yang tampak botram, membuka bekal dan timbel-nya ditaman ini. Duh jadi kabita untuk botram juga…
image

Tapi, seperti biasa. Untuk urusan kebersihan, warga kita memang belum bisa disamakan dengan negara lain. Negera kita lebih primitif kalo masalah kebersihan. Saya mendapati sampah berserakan. Kebiasaan buruk yang susah diubah. Bahkan, hanya untuk membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan pun masih tidak bisa. Bagaimana jika tidak disediakan tempat sampah…
image

Tuh kan, hanya tinggal membuka tutup tempat sampah saja, dan memasukan sampah bekas sendiri ke dalamnya, warga kita masih tidak mau. Tidak disiplin. Itu sebabnya, untuk urusan “penampilan wajah kota” negara kita tidak akan bisa bersaing, baik dengan negara tetangga seperti Malaysia maupun negara lain yang lebih maju.

Lalu, saya pun meninggalkan taman ini….dan melanjutkan piknik ini ke Taman Alun2 Bandung, yang terkenal dengan rumput sintetisnya….

*Meluncur ke Alun-alun Kota Bandung*

Wisata Sendiri ke Curug Batu Templek

Siang ini saya ber #WisataSendiri. Sepulang dari tugas kantor, waktu saya kosong. Mau pulang ke rumah juga ngapain, paling2 tidur atau nyuci *pekerjaan paling males dikerjakan 😆*. Setelah saya melipir ke kedai lotek Ma Engkoy di sekitar Cikadut, saya memutuskan menuju Curug Batu Templek di kawasan Jl. Pasir Impun, tidak jauh dari Cikadut.

Sebelumnya, saya mengajak beberapa teman untuk wisata hunting foto, atau wisata murah meriah. Tapi, kurang mendapat respon mengingat teman2 lebih suka wisata kuliner, dan menjajal makanan2 baru (waduuuhh, kalo lagi tongpess begini, wisata kulinernya skip dulu 😥). Maka, saya pun meluncur ke menuju jalan Pasir Impun. Saya belum tau, dimana tepatnya Curug Batu Témplék ini, tapi karena niatnya juga jalan2 jadi seketemunya saja. Kalo ketemu syukuuuur…kalo gak ketemu ya nanyaaaa….malu bertanya, cek via GPS dooong.

Nah, setelah melewati jalan besar Pasir Impun Atas, jalan beton pun berakhir. Berikutnya memasuki jalan aspal yang beberapa bagian renjul dan berlubang, ada beberapa tanjakan tapi tidak terlalu curam. Masih oke lah dilalui motor. Pemandangan di sekitar sini sdh mulai indah. Pegunungan nampak jelas di pelupuk mata. Pada bagian yang lain, hamparan kota Bandung terlihat “terpampang nyata”. Alhamdulillah, cuaca sedang bagus, jadi pemandangan nampak clear, beniiiing. Dari kejauhan Stadion GBLA yang seperti donat abu-abu, ada bangunan seperti wafer berdiri-yang saya terka  itu adalah apartemen menjulang di sekitar Soekarno Hatta yang sebelum Gede Bage itu. Ada bangunan2 lain yang membuat saya menerka-nerka….

Inilah pemandangan yang sempat saya lewati menjelang sampai ke Curug.

image

image

image

Sampailah saya di suatu jalan yang mulai agak sepi. Halah…curiga saya kesasar 😆. Setelah nanya pada penduduk sekitar—beneran nanya penduduk gak pake liat GPS loh— ternyata saya sudah dekat dengan curug. Tapi, curug yang pertama sudah kelewat. Yang ini curug yang kedua, begitu menurut si Bapak penunjuk arah. Oke laaah, kalo gitu saya kunjungi dulu Curug yang ini saya sebut Batu Templek 2 (Padahal si Bapak sudah sebutkan nama curug-nya, tapi lupa 😆).

Memasuki jalan kecil yang tadi ditunjuk sama si Bapak, saya ragu-ragu. Sebuah turunan sempit dengan satu sisi sebelahnya gawir dengan batu-batuan terjal. Seperempat jalan, saya menyesal…seharusnya motor saya parkir saja di atas, dimana saya tadi bertanya sama si Bapak penunjuk jalan. Kagok gak bisa balik lagi saya terus meluncur pelan dan berhati-hati. Saya yakin, kalo musim hujan, jalan tersebut pasti sangat-sangat licin. Well, akhirnya tak berapa lama saya menemukan Curug Batu Templek 2. Tadaaaaa……

image

image

Sudah ada beberapa motor juga yang terparkir di depan curug. Ada yang sedang berselfie ria, ada juga yang sekedar duduk-duduk saja dan yang ekstrem-dan ini nampaknya oke-adalah yang memanjat batu dan bertengger disana sambil ‘say cheeee’ 😆. Sementara pada bagian yang lain, terdengar suara batu yang sedang di pecahkan. Oh ya, mengingat ini adalah tempat penambangan batu templek (batu pipih), jadi memang bukan objek wisata komersial. Entahlah kedepannya, kalo diminati pengunjung bisa saja menjadi komersil-seperti halnya Tebing Keraton-yang pada awalnya tidak berbayar dan bukan tempat yang menjadi destinasi wisata.

Selesai mengambil beberapa gambar, saya kembali naik keatas dengan agak susah payah. Terima kasih, motor tua-ku yang akhirnya sukses membawa saya naik kembali ke jalan raya-walau sedikit ampul-ampulan. Dari Curug Batu Templek 2, saya kembali menyusur jalan arah pulang. Pelan dan santai saja, sambil memperhatikan jalan dengan saksama, bagaimana bisa curug yang saya maksud itu bisa “terlewati” begitu saja. Setelah melewati sekitar 300 meter, terdengar suara air. Ah, takut terlewat sayapun menepi dan berjalan mencari sumber suara. Ah, benar saja, tepat dibawah sana adalah Curug Batu Templek yang saya maksud.

Saya mencari “gang” dimana akses masuknya. Menemukan sebuah turunan, saya berjalan kaki menyusuri turunan terjal berbatu. Beberapa kali berpapasan dengan pekerja pikul pengangkut batu. Aaahh, sudah dekat…agak bersemangat walaupun masih gak yakin, separah ini kah akses menuju Curug yang lagi ramai di perbincangan di medsos via @infobdg ini??

Saya memotret batu menjulang, yang menurut saya bentuknya seperti pamatuk burung yang patah. Hehehe, imajinasi yang berlebihan….
image

Berpapasan dengan pekerja kuli angkut batu templek. Ya ampuuun hebatnya pekerja ini. Bembawa beban batu, naik ke atas…ke pinggiran jalan raya, dimana mereka menata batu2 tersebut disana. Yang saya rasa saat kembali ke atas, cukuplah membuat saya ngos ngosan….
image

Betapa antusiasnya saya melihat tebing menjulang dihadapan saya. Walaupun air terjunnya keruh, tapi setidaknya saya sudah menemukan si Curug Batu Templek ini. Tapiiiii….tapiiii…. bentar, sepertinya saya salah ambil posisi. Saya salah akses masuk. Dari tempat saya berdiri, saya melihat ke arah bawah dengan leluasa. Lembah raksasa dengan dinding batu. Kalo selama ini kita melihat miniatur air terjun bendinding batu di sebuah taman atau restoran, maka yang ada di hadapan saya adalah miniatur dari sebuah mahakarya Sang Pencipta. Ya, Dinding batu beneran. Dari tempat pertambangan batu templek tersebut, tidak ada akses ke tempat lebih bawah-dimana saya melihat orang2 sedang berfoto2 beramai-ramai.
image

image

Positif!! Saya salah akses masuk. Ini mah pertambangan batu templek. Setelah puas memotret lembah yang menakjubkan ini, saya pun segera naik ke atas, ke tepian jalan raya. Ngos ngosan pasti. Tapi semakin bergairah. Baru saja saya salah akses masuk ke curug dan sebelumnya kesasar hingga menemukan curug lain, tapi saya sudah menemukan 2 titik tempat fotografi yang tak terduga. Menyenangkaaaan.

Akhirnya, saya menemukan akses masuk menuju Curug Batu Templek. Setelah memarkir motor, saya menyusuri turunan yang-sepertinya ini lebih baik daripada akses curug yang pertama tadi. Akses jalan sdh disemen, karena ternyata di sekitar curug ada pemukiman warga.

Inilah foto Curug Batu Templek yang airny keruh bagaikan air bajigur.
image

image

image

image

Indah siiihh….tapi sayang, airnya sedang keruuuuhh….(teuteup bagian air keruh-nya saya kecewa). Tapi setidaknya saya sudah menemukan tempatnya. Cuuuzzz ah, pokoknya minggu depan harus kesini lagi, siapa tahu airnya sudah jernih….. *siul-siul sambil pulang*

Betutu Lalah, Rasa Bali Otentik di Kawasan Priangan

Bila ingin mencicipi hidangan atau masakan khas Bali, gak usah jauh2 datang ke Bali. Kita bisa datang ke sebuah resto yang menyajikan hidangan Bali dengan rasa rempah-rempah yang otentik. Adalah Betutu Lalah, sebuah restoran kecil di Jl. Cihampelas Bandung, tepatnya disamping kedai Baso Semar.

image

Disini, lidah kita akan dimanjakan dengan hidangan khas ala bali. Ada Ayam Betutu, Bebek Betutu, Nasi Campur Bali, Sambal Mattah, Sate Pusut atau Sate Lilit, dan lain2nya. Desain interior resto dilengkapi dengan lukisan-lukisan dan ornamen2 khas bali. Musik gamelan khas bali, mengalun pelan dan lembut, menambah suasana menjadi lebih eksotis.

image

Ayam Betutu yang disajikan disini, menurut saya enak. Dagingnya empuk, bumbu rempahnya meresap dan ukurannya cukup untuk menambah nasi 1 porsi lagi. Disajikan dengan kuah terpisah, kuah kuning ini seperti kuah kari atau gulai dengan aroma khas. Ada tetelan daging, irisan serai dan bayam. Rasanya legit, enak! Sedangkan untuk sayurannya, Lalap adalah paduan yang pas. Lalap yang dimaksud disini adalah potongan kacang panjang muda, yang dipotong melintang, dimasak dengan santan. Lagi-lagi, sayuran ini juga enak. Bila sebelumnya kurang suka tumis kacang panjang, insha Alloh, kalo mencicipi masakan kacang panjang ini, pasti jadi suka, karena menggunakan kacang panjang muda yang empuk dan lembut saat digigit. Hmmmm lezzaaattt.

image

Sedangkan Nasi Campur Bali, adalah sepaket nasi lengkap dengan lauk pauknya, yang tentu saja khas Bali. Nasi Putih, dilengkapi dengan dendeng sapi, lalap, telur bumbu bali, sate lilit, rempeyek dan sambal mattah. Porsi ini cukup lengkap dan memuaskan. Tapi buat saya, tetap harus nambah nasi 1 atau 1/2 porsi lagi hehehe.

Setiap hidangan disini, dilengkapi dengan sambal mattah, yaitu sambal yang terdiri dari irisan bawang merah mentah, cengek, garam dan bumbu yang disiram dengan minyak sayur. Rasanya enak, dicocol nasi. Bahkan, saya sampe minta tambahan sambal mattah-nya, dan diberi seporsi lagi….(saya gak ngecek di bill, apakah ditambahkan ke bill atau tidak-tapi siapa peduli, kalo rasanya enak dan bikin makan tambah nikmat).

image

Disini, ada juga sate ayam. Soal bumbunya, saya tidak merasa ada yang aneh, mirip sate2 pada umumnya. Yang jelas, ayamnya empuk (tanpa lemak) dan bumbu kacangnya juga enak. Saya kira akan ada rasa ‘bali’-nya, atau penambahan rempah apa gituh, yang asing di lidah. Ternyata tidak, mirip sate pada umumnya, dan satenya enak.

Jadi, buat yang suka hidangan berempah khas Bali, gak usah jauh2 datang Bali, kesini saja. Rasanya lezat, harganya terjangkau (walaupun berbicara harga mah relatif, tapi menurut saya masih standarlah). Dan pramusajinya mengatakan hidangan disini halal, nah itu yang penting!

Lagu BANDUNG persembahan dari MOCCA

image

Kota Bandung, bagi grup band Mocca, bukan sekedar kota yang membesarkan karir bermusik mereka. Tapi kota ini adalah cinta dan inspirasi. Kota Bandung dikenal melahirkan banyak musisi hebat di Indonesia. Di Kota Bandung inilah Mocca meniti karir dari panggung-panggung kecil hingga sekarang dikenal di mancanegara. Bandung punya tempat istimewa di hati para personil Mocca yang lama tinggal di kota ini.

image

Keistimewaan akan kenangan dengan Kota Bandung inilah yang menginspirasi Mocca untuk menciptakan sebuah lagu tentang kota kesayangannya ini. Lagu “Bandung” menggambarkan suasana Bandung yang telah banyak menyimpan kenangan khusus buat Mocca.

“Lagu ‘Bandung’ ini sebenarnya sudah lama saya tulis. Mungkin sekitar selesai album Colours. Ide awalnya sederhana, saya ingin punya lagu tentang kota sendiri, seperti halnya Frank Sinatra dengan lagu ‘New York, New York’ dan ‘Chicago’ atau lagunya Alicia Keys yang berjudul ‘New York’,” ujar Riko Prayitno, gitaris Mocca.

Pengerjaan lagu “Bandung” dimulai saat Riko pindah ke Jakarta. Pengerjaan pun berlangsung cepat karena dua personil Mocca lainnya, Indra Massad (drum) dan Toma Pratama (bass), berdomisili di kota yang sama. Setelah materi lagu selesai kemudian dikirim ke Arina Epiphania (vokal) yang tinggal di Amerika untuk mengisi lirik dan vokal. Pengerjaan jarak jauh dan lintas kota membuat lagu “Bandung” akhirnya selesai.

Rencananya lagu “Bandung” akan dirilis dalam rangka Ulang Tahun Bandung yang ke-204 pada 25 September 2014. Lagu ini juga menjadi lagu resmi kampanye “Friendly Bandung” sebagai salah satu bentuk city branding yang mendapat pengukuhan resmi dari Walikota Bandung Ridwan Kamil. Lagu “Bandung” merupakan “kado” terindah yang diberikan Mocca kepada Kota Bandung.

image

“Lagu ini diharapkan memberi informasi buat orang yang tertarik mengetahui tentang Bandung dan bisa menjadi hiburan buat yang mendengarnya. Pada intinya, lagu ini menjadi milik kita semua, tak sekedar untuk warga Kota Bandung,” jelas Riko.

Lagu “Bandung” murni merupakan kecintaan dan dedikasi Mocca terhadap Kota Bandung tanpa embel-embel untuk dijadikan pencitraan dan kampanye politik. Harapannya bahwa lagu ini bisa menjadi kebanggaan yang dihasilkan dari seorang warga yang terinspirasi oleh kotanya sendiri. Lagu ini menjadi bentuk simbiosis mutualisme antara kota dan warganya.

“ Perlu digaris bawahi kami tidak pernah berpikir ke arah sana, pencitraan atau apalah itu. Ketika kita sama-sama bergerak ke arah yang positif, dan mendapatkan tenaga yang lebih banyak, harusnya direspon dengan energi positif juga. Lagu ‘Bandung’ ini lambat laun jadi tumbuh. Banyak harapan-harapan yang hinggap di lagu ini. Tidak hanya sekedar kumpulan nada yang dimainkan oleh sebuah band tapi diharapkan menjadi kebanggaan kita semua,” papar Riko mewakili aspirasi teman-teman satu bandnya tersebut.
image

Video Mocca berjudul Bandung dengan kualitas HD 1080, bisa dilihat DISINI!

Sumber asli : mymocca.com

Melipir ke Taman Musik Centrum

image
Pernah berkunjung ke Taman Musik Centrum?? Sebuah ruang publik yang didedikasikan untuk kegiatan musik, seni dan olah raga. Ini merupakan salah satu taman tematik yang digagas oleh Bapak Ridwan Kamil, Walikota Bandung-melengkapi taman-taman tematik yang lain seperti Taman Pustaka Bunga, Taman Jombo, Taman Fotografi (Taman Cempaka) dan yang lainnya. Taman ini letaknya di jalan Belitung, disamping SMA N 3 dan 5.

image

Memasuki taman ini di siang hari, saya mendapati sebuah ruang publik yang menyenangkan. Beberapa pemuda tampak asik melakukan sesi pemotretan di depan sebuah plat besi baja berbentuk gitar-menyerupai gitar raksasa. Rupanya, gitar raksasa ini merupakan ikon di tempat ini. Menyapu pandangan ke tempat lain, saya mendapat. Berbagai patung besi bercat merah yang semuanya bernuansa musik atau sedang memainkan alat musik.

image
image
Duduk-duduk disini sangat menyenangkan…hawanya sejuuukkk… sedikit berisik dengan bunyi “Turaés”-nyanyian alam yang katanya sih pertanda musim kemarau akan segera tiba. Saya memilih tempat duduk sayap kiri taman. Ada semacam gazebo kecil lengkap dengan steker-colokan kalo kita mau sambil nge-charge. Saya tidak sempat mencoba-apakah ada arus listriknya atau tidak. Saya hanya mencoba mencari koneksi Wifi Bandung Juara-yang sayangnya-tidak ditemukan disini. Kalo ada, pastinnya saya sudah menemukan sejumlah orang yang membuka laptop disini. 😀 😀 😀

image
image

Sejatinya yang namanya Taman Musik, maka taman ini dipersiapkan untuk pertunjukan musik dan kesenian. Coba perhatikan tempat duduk yang mengelilingi taman ini, dibuat berundak-undak dan dicat warna-warni. Bahwasanya setiap penonton bisa melihat dengan jelas ke arah panggung pementasan, dari segala arah. Panggung-nya sendiri berada di tengah lapangan berbentuk bundar, dengan permukaan agak naik (tapi tidak terlalu tinggi juga) jadi, tetap nyaman.

Mungkin, suatu hari nanti saya kudu datang ke Taman Musik Centrum ini, disaat ada pertunjukkan atau showcase. Cuuzz aahh…nanti kalo ada lagi, mau nonton aaahhh….

Berteduh di Tempat yang Tepat

Sore ini, dalam perjalanan menuju pulang…saya kehujanan di sekitar Cikadut. Awalnya sih cuma gerimis, tapi semakin ke timur, hujan semakin deras. Jadilah saya menepi dan berteduh di daerah Sukaasih di sebuah bengkel yang sudah tutup. Disampingnya tampak penjual kue balok. Yap, penjual kue balok ini sepertinya belum terlalu lama, karena setiap hari lewat jalan ini, baru beberapa hari saja saya lewat.

image

Ada dua pembeli yang sedang duduk sambil menikmati kue sambil mengobrol. Tampak dua orang lain hanya berdiri saja menunggu pesanannya dibungkus. Saya mulai tertarik dengan kue vintage khas parahyangan ini. Saya mulai mendekat dan pesan untuk dimakan ditempat. Si bapak penjualnya dengan ramah menunjukan kue balok yang berjejer pada sebuah kotak anyaman, untuk diambil saja langsung jika mau dimakan di tempat. Saya mengambil 2, dialasi kertas nasi. Wooowww, masih hangat…dan aromanya haruuummm. Pantas saja, kue balok dimasaknya menggunakan arang…

image

Menikmati kue balok, cocoknya dengan teh tawar panas. Benar saja, Bapak penjualnya langsung membuatkan segelas teh panas agak pahit, sambil berujar bahwa kue balok cocoknya dengan ini. Waaaahh, rezekiii…kehujanan, kedinginan, berteduh…disuguhi segelas teh tawar panas-agak pahit-lengkap dengan kue baloknya. Helllaaawww… Alhamdulillah bangeeett… Kue balok nan lezat ini harganya seribu rupiah. Kalo beli yang setengah mateng, pemukaan bagiannya masih leleh gitu, enaaaakk… cobain deh…!

image

(Beneran kaaaan, kue Balok…bukan kue cubiiit… :p )

Bandung, Malam Hari Pun Berkilau…

Beberapa waktu lalu, saya memposting artikel tentang beberapa taman kota di Bandung. Upaya pemerintah kota dalam membenahi dan mempercantik Kota Bandung, terlihat sangat serius dan sedikit demi sedikit mulai terlihat hasilnya. Selain taman kota, yang terlihat cantik di siang hari, Pemerintah Kota Bandung juga mempercantik Jalan Layang Pasupati dan Gedong Sate, dengan lampu sorot berwarna.

Lampu sorot berwarna-warni ‘ditembakkan’ pada pilar utama dan tiang2 penyangga-yang selama ini menjadi ikon Jalan Layang Pasupati. Hasilnya, pilar dan tiang-tiang yang membentuk segitiga itu tampak indah dan glamour. Perpaduan warna-warna yang dimunculkan sungguh menarik. Dilihat dari jarak jauh ataupun dari jarak dekat, tetap saja indah…

image

Saat berwarna merah…dan beberapa detik kemudian berubah warna menjadi hijau, biru dan perpaduan harmoninya sungguh indah menawan…

image

image

Semoga kota Bandung bisa semakin meningkatkan keindahan kotanya. Alhamdulillah, sekarang di sepanjang jalan layang Pasupati ini, ada beberapa petugas polisi yang berjaga. Diharapkan ini dapat memberikan rasa aman kepada pengguna jalan (terutama malam hari) dan menghindari penggunaan jalan layang sebagai sarana kebut2an. Semoga kedepannya bisa semakin baik lagi.

#LatePost #MateriYangTertunda

Berkunjung ke Dusun Bambu – Lembang

Beberapa minggu lalu, saya dan teman2 berkesempatan mengunjungi tempat yang lagi nge-hits banget di Bandung. Nama tempatnya Dusun Bambu Family Leisure Park. Hampir setiap akhir pekan, lini masa di jejaring sosial selalu di penuhi dengan postingan foto di tempat ini. Bertempat di Jl. Kolonel Masturi, kami mengambil jalur melalui jl. Cihanjuang. Tinggal lurus terus, sampe mentok (Advent School), trus belok ke kiri…lurus… Nyampe deeehh…

image
Pemandangan dari Parkiran Motor

Masuk ke tempat ini membayar tiket seharga 10ribu per kepala. Jika kita bawa kendaraan roda 2, maka dikenakan tarif parkir 5ribu. Tempat parkirnya (khusunya buat motor) masih ala kadarnya. Hanya lahan kosong yang masih ditumbuhi rerumput disana-sini. Mungkin karena masih soft opening. Saya berharap untuk kedepannya tempat parkir sepeda motor bisa lebih layak.

image
Menara Bambu
Dari parkiran, kami langsung menuju satu spot khusus. Tempat dimana kita menunggu kendaraan yang akan mengantarkan kita ke kawasan Purbasari, Purbararang, dan Lutung Kasarung. Disini, ada menara Bambu yang disusun sedemikian rupa, cukup menarik perhatian. (Buat saya sangat menarik perhatian kamera :p). Dari sini pun, sebenarnya kita bisa jalan kaki menuju kawasan yang saya sebut di atas. Tapi, karena pengen mencoba pake mobil wisata (semacam mobil pick up yang dihiasi dengan tudung dan kain berwarna-warni-layaknya di tempat wisata) maka, kami tetap menunggu giliran jemput.

image

Sambil menunggu giliran jemput, kita disuguhkan pemandangan yang bikin adem. Sawah yang terhampar dengan pancuran kecil, bebek2 yang berenang dan berlari kesana kemari. Rumah saung atau gubuk2 kayu, nampak dari kejauhan menjadi ornamen yang cantik. Bahkan, ada sapi yang sedang merumput… Landscape yang sangat pas, cukup indah di pandang mata. By the way, jemputan sudah datang. Yuk, kita naik… cuuuuzzz, meluncuuurrr….

image

image

image

Pemandangan dari kawasan Purbasari

Beneeer kaaan, jaraknya cukup dekat, tapi memang agak sedikit menanjak. Hmm…begitu tiba, kami langsung bergegas ke Danau. Dari kejauhan pun, danau ini memperlihatkan kecantikannya. Ada semacam cottage ditepi danau…beberapa pengunjung ada menyewa sampan, melintas dipermukaan danau membuat airnya beriak-riak. Whuuu..tongsis mana tongsis… tak sabar ingin segera tampil eksis 😀 😀

image

image

Kami beringsut ke tempat lain. Ada taman dengan bunga2 berwarna warni, sungai kecil dengan batu2 alam yang asri. Naaah, air sungai yang meluncur dari bukit2 itu nantinya bermuara ke danau tadi. Yuk, kita lihat sekitar sungai dan taman…

***foto***

Hmm…setelah berfoto2, kami melihat ada semacam dermaga kayu berbentuk bundar di tepian sungai bagian yang lain. Ada beberapa yang sedang berfoto disana. Ternyata, dari tempat bundar ini pemandangannya sangat indah. Kami pun menunggu giliran untuk dapat berfoto. Bersyukur, kami datang lebih pagi, jadi bisa bebas bergaya dan berekspresi tanpa banyak orang yang mengamati… tongsis mana tongsis… #Teuteup!

image

Whuuu, beneran deh disini kita bergaya abis2an, sampe pooolll. Bahkan, temen saya yang berpose sambil tiduran. Ada yang terlentang…ada juga yang tetap malu2 bergaya alhasil malah mirip ikan pesut yang terdampar di danau tropis… upss!!

image

Selesai berfoto-foto di sekitar tepian danau, kami menuju bukit, dan menyusuri sungai berbatu yang meliuk berkelok. Sebenarnya, saya ingin terus ke bukit (sekedar pengen tau, ada ada disana, dan pemandangan dari atas seperti apa). Tapi teman-teman lebih memilih berbelok ke tempat makan. Baiklah. Sambil menuju tempat makan, kami melintasi permainan ketangkasan yang disediakan buat pengunjung, seperti sepeda, memanah, paint ball dan lain-lain.

Memasuki tempat makan yang seperti foodcourt, benar-benar membingungkan. Bingung memilih! Sangat banyak sekali pilihan makanannya dari mulai soto, bubur, roti bakar, hot dog, burger, gulali, dan seabreg makanan camilan lain seperti mpek-mpek, batagor dan gado-gado. Saya memilih seporsi gado-gado seharga 32 ribu dengan porsi mentuuuung Eduuunn. Cara transaksi di sini menggunakan voucher, seperti uang kertas di permainan monopoli. Tapi jangan khawatir, kalo sisa, uang tersebut bisa di refund di pos yang sudah disediakan.

image

Dari tempat makan, saya sempat mengitari sebentar sebelum melanjutkan ke wilayah Lutung Kasarung. Ada ayunan, prosotan dan cungkedang-cungkeding yang semuanya terbuat dari kayu. ada juga kayu yang disusun membundar, cocok buat difoto. Sayang, saat saya berfoto disana, teman saya kurang pandai ambil objeknya, cuma asal jepret doang…

Kami melanjutkan ke Lutung kasarung. Disini ada tempat buat leyeh2, atau duduk2 santai. Yang unik, tempat ini ditutupi dengan ranting-ranting hingga membentuk bulat telur seperti sarang burung. Wilayah ini rupanya cukup menarik perhatian pengunjung. Jembatan satu-satunya akses menjadi penuh sesak, berhimpitan, bersenggolan dengan pengunjung dari arah berlawanan. Bahkan terjadi “kemacetan” saat ada yang berfoto sekedar mengabadikan moment berlatar belakang sarang burung. Sayang sekali, semua sarang burung itu penuuuhh, sudah terisi. Dan tampaknya, orang2 di dalam sarang burung itu masih betah berlama-lama. Jadi percuma saja kita menunggu dapat giliran bersantai disana…

image

Akhirnya, kami memutuskan pulang. Bebeda dengan pergi, saat pulang kami tidak menungu jemputan-tapi memilih berjalan kaki saja menyusuri jalan. Melewati sawah dan menyusuri ‘galengan’ sambil melihat-lihat. Yaaaa, sempat befoto2 juga sebentar (walaupun panaaaasss), sebelum akhirnya kamipun pulang…

image